Mengapa Langsung Iqamah? | rumahfiqih.com

Mengapa Langsung Iqamah?

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Wed 2 April 2014 05:00 | 11365 views

Bagikan via

Perkara shalat memang menarik untuk terus diperbincangkan, terlebih karena shalat adalah ibadah ritual pertama yang akan ditanyakan nanti dihadapan Allah SWT. Jjika baik shalatnya mudah-mudahan ibadah yang lainnya juga baik, jika buruk shalatnya kemana harap hendak dipanjatkan?

Shalat berjamaah menjadi cara terbaik untuk kita tempuh agar kualitas shalat kita semakin baik. Shalat berjamaah bahkan sampai pada level 27 kali lipat dibanding shalat sendirian. Dan masjid adalah tempat yang paling baik untuk berjamaah, khususnya  bagi laki-laki yang tidak dalam keadaan sakit, tidak dalam perjalanan, serta tidak ada alasan syar’i lainnya.

Belum lagi keberadaan masjid diseputar kita sudah sangat cukup, hampir di setiap komplek perumahan ada masjidnya, pun begitu dengan perkantoran, sekolahan, pasar dan tempat-tempat umum lainnya.

Keberadaan masjidnya bukan hanya untuk dihiasi dengan ukiran-ukiran yang indah, bukan juga hanya dipakai untuk shalat dua hari raya, tapi keberadaannya untuk dipakai setiap hari pada setiap shalat lima waktu, juga bisa dipakai untuk aktivitas yang bermanfaat lainnya.

Miris rasanya jika masjid hanya penuh pada dua hari raya saja, lalu hari-hari lainnya sepi, hanya ada beberapa gelintir orang saja. Apalagi jika shalat subuh, tidak hanya didesa, di perkotaan pun sepi, padahal masjidnya banyak, dan tidak terlalu jauh dari kediaman warga.

Panggilan Adzan

Karena tempatnya di masjid, maka adzan adalah cara terbaik untuk memanggil jamaah agar hadir ke masjid guna melaksanakan shalat berjamaah. Setiap kali adzan berkumandang, setiap itu kita diingatkan bahwa waktu shalat sudah masuk. Dan mari segera menjawab panggilannya dengan segera pergi ke masjid, meninggalkan sebentar aktivitas yang sedang dilakukan.

Mereka yang dipanggil untuk shalat tentunya dalam keadaan yang beragam, ada yang sedang tidur, ada juga yang sedang makan, ada yang sedang menyetir kendaraanya, ada juga yang sedang berjualan, ada yang masih dikamar mandi, ada yang sedang belajar, ada juga yang sedang mengantri ke kamar mandi, dan ragam kegiatan lainnya.

Berangkat dari kenyataan seperti inilah maka ulama menganggap perlu adanya jedah waktu yang pas antara adzan dan iqamah pada setiap shalat fardhu. Hal ini sesuai dengan maksud dari adzan itu sendiri, dimana tujuannya adalah memanggil dan menyeru masyarakat sekitar agar hadir ke masjid. Itu artinya, setelah adzan kita harus menungggu mereka sebentar hingga mereka kumpul dimasjid.

Jika mereka yang kita panggil sedang makan, kiranya kita memberikan jedah waktu hingga dia selesai makannya, jika mereka yang kita panggil belum dalam keadaan berwudhu, kiranya kita memberikan jedah waktu agar dia cukup untuk berwudhu, jika panggilan subuh dan mereka yang dipanggil dalam keadaan junub, kiranya jangan dulu iqamah sampai mereka diberikan watu yang cukup untuk mandi, dan seperti itu seterusnya.

Untuk itulah Rasulullah SAW pada waktu itu mengingatkan Bilal akan hal ini:

يا بلال اجعل بين أذانك وإقامتك نفساً، يفرغ الآكل من طعامه في مهل، ويقضي المتوضئ حاجته في مهل

“Wahai Bilal, berilah jedah waktu antara adzan da iqamahmu, agar yang sedang makan bisa menyelesaikan makannya, dan yang sedang wudhu bisa menyelesaikan segala hajatnya. (HR. Ahmad)

Juga Sabda Rasulullah SAW berikut:

اجعل بين أذانك وإقامتك ما يفرغ الآكل من أكله، والشارب من شربه، والمعتصر إذا دخل لقضاء حاجته، ولا تقوموا حتى تروني

“Wahai, Bilal, berilah waktu jeadah antara adzan dan iqamahmu untuk mereka agar menyelesaikan makannya, dan menyelesaikan minumnya, juga untuk mereka agar yang sedang buang hajat menyelesaikannya, dan janganlah kalian iqamah kecuali setelah melihatku” (HR. Tirmidzi)

Belum lagi ditambah dengan kenyataan bahwa ada anjuran untuk melaksanakan shalat sunnah antara adzan dan iqamah, jika langsung shalat rasanya terlalu terburu-buru dengan tidak memberikan jedah untuk mereka yang ingin melaksanakan shalat sunnah.

Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim:

بين كل أذانين صلاة، بين كل أذانين صلاة، بين كل أذانين صلاة" قال في الثالثة "لمن شاء"

“Diantara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat, diantara dua adzan ada shalat, dan kali ketiganya Rasul bersabda: bagi siapa yang mau mengerjakannya”

Sunnah Qabiliyah dan Ba’diyah

Keberadaan shalat yang dimaksud dalam hadits diatas berkisar antara shalat sunnah yang hukumnya sunnah muakkadah dan shalat yang nilainya hanya sebatas sunnah biasa.

Jumhur ulama’ menilai bahwa jumlah shalat sunnah muakkadah yang dimaksud hanya 10 reka’at; Dua reka’at sebelum sholat zuhur, dua reka’at sesudahnya, dua reka’at setelah sholat maghrib, dua reka’at setelah sholat isya’ dan dua reka’at sebelum sholat subuh.

Inilah 10 reka’at yang sangat dianjurkan versi sebagian besar ulama’, mereka melandaskan hal ini atas hadits Ibnu Umar:

Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma berkata,”Aku memelihara dari Nabi SAW sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Dzhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shubuh. Dua rakaat sebelum shubuh itu termasuk waktu-waktu dimana Rasulullah SAW tidak ditemui, namun Hafshah radhiyallahuanha menyebutkan padaku bahwa bila muadzdzin mengumandangkan adzan saat terbit fajar, beliau SAW shalat dua rakaat. (HR. Bukhari)

Akan tetapi Imam Abu Hanifah menambahkan bahwa sholat sebelum zuhur itu 4 rekaat, sehingga menjadi 12 reka’at, bukan 10 eka’at. Beliau berlandaskan hadits Aisyah:

Dari Aisyah radhiyallahuanha dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda,”Orang yang selalu menjaga dua belas rakat maka Allah SWT akan bangunkan untuknya rumah di dalam surga. Empat rakaat sebelum Dzhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR. An-Nasai dan At-Tirmizy)

Sedangkan untuk shalat sunnah yang sifatnya biasa-biasa saja (bukan sunnah muakkadah), seperti dua atau empat reka’at sebelum sholat ashar, berdasarkan hadits:

Allah SWT menyayangi seseorang yang shalat empat rakaat sebelum shalat Ashar. (HR Abu Daud)

Dua reka’at sebelum sholat maghrib, sepertii hadits Nabi:

“Shalatlah kalian sebelum Maghrib (beliau mengulangnya tiga kali). Diakhirnya beliau bersabda,"Bagi siapa saja yang mau melaksanakannya". Beliau takut hal tersebut dijadikan oleh orang-orang sebagai sunnah. (HR. Bukhari No. 1183)

Dan dua reka’at sebelum sholat isya’, berlandaskan keumuman hadits:

“Diantara adzan dan iqomah ada shalat, diantara adzan dan iqomah ada shalat (kemudian dikali ketiga beliau berkata:) bagi siapa yang mau” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Ada Shalat Sebelum Maghrib?

Terkadang ada yang beralasan bahwa mereka langsung iqamah karena berkeyakinan tidak ada shalat sunnah sebelum shalat maghrib. Hal ini tentunya tidak bisa dibenarkan begitu saja, karena dalam kenyataannya justru ada perintah dari Rasullah SAW:

فعن عبد الله بن مغفل رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "صلوا قبل المغرب، صلوا قبل المغرب" ثم قال في الثالثة: "لمن شاء..."

Dari Abdullah bin Mughaffal ra berkata: Rasulullah SAW bersada: “Shalatlah kalian sebelum Maghrib (beliau mengulanginya tiga kali). Diakhirnya beliau bersabda,"Bagi siapa saja yang mau melaksanakannya".

Bahkan dalam riwayat Ibnu Hibban menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendri melaksankannya:

 وفي رواية ابن حبان أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى قبل المغرب ركعتين".

Imam Muslim menguatkan:


وفي مسلم عن أنس رضي الله عنه قال: "كنا نصلي ركعتين بعد غروب الشمس، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يرانا، فلم يأمرنا ولم ينهنا

Dari Anas ra, berkata: Dulu kami shalat dua rekaat setelah terbenamnya matahari, dan Rasulullah SAW pada waktu melihat kami, dan beliau hanya diam, tidak memerintahkan dan tidak juga melarang.

Atas dasar inilah, dalam madzahab Syafi’i shalat sunnah dua raka’at sebelum maghrib dinilai ada, dan hukumya adalah sunnah, walau bukan termasuk sunnah yang sangat dianjurkan (muakkadah)

Shalat Qabliyah Isya’

Namun sebaliknya ada sebagian masjid yang tidak langsung iqamah setelah adzan shalat isya’, dengan keyakinan bahwa ada shalat sunnah sebelum shalat isya’. Padahal jika kita mau jujur, keberadaan shalat sunnah sebelum isya itu sama hukumnya dengan shalat sunnah sebelum maghrib, dua-duanya dihukumi sunnah yang bukan muakkadah.

Untuk mereka yang sudah berada dimasjid kiranya bisa menunggu jamaah yang belum datang dengan melaksanakan shalat-shalat sunnah yang ada, jikapun tetap berkeyakinan bahwa tidak ada shalat sunnah sebelum shalat magrib atau isya kiranya bisa diisi dengan aktivitas dzikir lainnya.

Jangan sampai hanya dengan keyakinan tidak ada shalat sunnah qabliyah, dengan serta-merta itu diajadikan alasan untuk langsung iqamah setelah adzan. Padahal dari dulu Rasulullah SAW sudah mengingatkan kepada Bilal dan keapada siapa saja yang menjadi muadzin untuk tetap memberikan jedah waktu bagi jamaah agar bisa hadir ke masjid, setelah mereka berkumpul barulah shalat berjamaah dimulai.

Waktu Jedah

Sebenarnya otoritas iqamah itu ada pada imam, itupun jika seandainya di masjid tersebut ada imam tetap, hal ini sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW perintahkan kepada Bilal selaku muadzin untuk tidak iqamah kecuali setelah melihat Rasulullah SAW datang.

Dan memang dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW biasanya melaksanakan shalat sunnah dirumahnya, barulah setelah melihat jamaah di masjid sudah banyak berkumpul beliau keluar dari rumahnya menuju masjid yang tidak jauh berada disebelah rumah beliau untuk mengimamai shalat berjamaah.

Namun, jikapun harus disepakti waktu jedahnya para ulama menilai boleh-boleh saja. Dalam hal ini para ulama madzhab  memberikan jawabannya masing-masing:

Al-Kasani dalam Al-Bada’i' wa As-Shana’i' menjelaskan bahwa dalam madzhab Abi Hanifah waktu jedah untuk adzan subuh selama durasi membaca 20 ayat Al-Quran dengan bacaan tartil, untuk shalat zuhur jedah waktunya sebatas mengerjakan empat raka’at shalat sunnah, pada setiap rekaatnya selama membaca 10 ayat, sedang untuk adzan ashar waktunya cukup untuk mengerjakan shalat sunnah dua raka’at, pada setiap rakaatnya selama membaca 10 ayat, dan waktu jedah untuk adzan magrib selama mebaca 3 ayat, dan waktu jedah untuk adzan isyak seperti waktu jedah untuk adzan zuhur. 

Menurut madzhab Syafi’i seperti yang dijelaskan dalam Al-Majmu’ bahwa waktu jedah antara adzan dan iqamah sifatnya flexibel saja, sebatas jamaah sudah bisa berkumpul dimasjid, maka itu sudah cukup.

Sedangkan menurut pendapat dari kalangan Hanabilah bahwa waktu jedah itu harus diberikan cukup untuk berwudhu dan melaksanakan dua rakaat shalat sunnah, hal ini seperti yang ditulis oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni.

Tidak ada ketentuan khsusus dalam masalah batasan waktu jedah antara adzan dan iqamah ini, karenanya masalah ini sifatnya sangat flexibel sekali, dan menurut hemat penulis tidak masalah juga batasan waktu itu disepakati berdasarkan menit, misalnya saja waktu iqamah pada shalat subuh adalah 15 menit setelah adzan, untuk zuhur 15 menit juga, ashar 10 menit, maghrib 5 menit, dan isyak 10 menit.

Jika sudah seperti ini kadang muncul pertanyaan dalam hati: Mengapa langsung iqamah ya? Heem…

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 4.215 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 5.988 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 5.251 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 6.994 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 3.809 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 1.364 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 2.023 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 2.035 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 2.268 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.546 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 2.051 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.554 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 2.494 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 3.010 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.744 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.663 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 2.301 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.559 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.809 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 2.178 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.989 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 4.499 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 4.426 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.522 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 5.308 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.382 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 3.140 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 3.279 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.456 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 5.471 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.581 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.551 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 5.304 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.766 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 11.365 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 5.251 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.788 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.902 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 5.191 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 8.259 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.497 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.538 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.984 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.814 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.542 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 4.414 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 9.061 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 5.185 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 14.505 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.454 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.884 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.827 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 4.192 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.792 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.922 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.962 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 4.290 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.569 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.947 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.499 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.821 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.892 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Galih Maulana, Lc10 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan