Jika Dhaif Suatu Hadits | rumahfiqih.com

Jika Dhaif Suatu Hadits

Hanif Luthfi, Lc Wed 2 April 2014 22:32 | 4233 views

Bagikan via

Jika disuruh memilih antara sehat dan sakit, pasti sehatlah yang dipilih. Jika diminta memilih antara baik dan buruk, pasti memilih yang baik. Itulah fithrah manusia.

Begitu juga jika disuruh memilih antara hadits shahih dan hadits dhaif, pasti yang dipilih adalah hadits shahih. Hampir semua umat islam ingin menjalankan agamanya dengan benar, didasari dari dalil yang kuat dari al-Qur’an dan Hadits yang shahih.

Hadits yang shahih memang menjadi salah satu modal dalam penetapan suatu hukum Islam. Para ulama ahli hadits telah berusaha menjaga agama ini agar agama Islam tetap orisinal, yaitu dengan memilih mana hadits yang memang berasal dari Nabi, dan membuang hadits yang disinyalir maudhu’/ palsu bukan dari Rasul.

Lantas Bagaimana dengan Hadits Dhaif?

Hadits maudhu’ itu palsu, sedangkan hadits dhaif itu lemah. Palsu itu karena berbohong, sedangkan lemah belum tentu karena bohong. Makanya, hadits dhaif tidaklah satu tingkatan. Ada hadits yang lemahnya ringan, ada pula yang berat.

Latah Hadits Dhaif

Semangat memurnikan ajaran islam tentu sangatlah baik, terlebih ketika umat islam sudah begitu jauh dari zaman kenabian. Tetapi kadang semangat itu tidak dibarengi dengan keilmuan yang mumpuni. Semagat pemurnian itu ibarat anti virus komputer. Anti virus yang baik adalah anti virus yang bisa membedakan mana itu virus beneran dan membahayakan komputer, mana yang sepertinya virus padahal bukan.

Sekarang ini, hadits dhaif sepertinya tidak hanya menjadi konsumsi mujtahid saja. Banyak kita dengar perkataan disekeliling kita, “Bukankah itu haditsnya dhaif?”.

Kita sebenarnya cukup gembira, karena umat islam sudah tidak lagi hanya taklid, tetapi sudah ada usaha untuk menjadi muttabi’ [meminjam istilah kalangan yang membedakan antara muqallid dan muttabi’].

Sayangnya, ada beberapa hal penting yang kurang dipahami terkait hadits dhaif ini. Seolah jika suatu hadits sudah dhaif, maka langsung dibuang saja.

Penilaian Hadits Shahih atau Dhaif Adalah Produk Ijtihad

Penetapan penilaian shahih dan dhaif suatu hadits adalah hasil dari sebuah usaha ijtihadi. Maka, pasal pertama dari suatu usaha ijtihadi adalah ijtihad harus dilakukan oleh mujtahid yang mumpuni. Penilaian terhadap suatu hadits harus dilakukan oleh seorang ahli hadits yang diakui kemampuan ijtihadnya dalam ilmu hadits.

Pasal keduanya, produk ijtihad bisa jadi benar dan mungkin saja salah. Pasal ketiga, karena sifatnya ijtihadi, maka bisa jadi hasil ijtihad seorang mujtahid itu berbeda dengan hasil ijtihad mujtahid yang lain. Makanya, banyak kita temui perbedaan penetapan shahih atau dhaif suatu hadits. Pasal keempat, bagi seorang muqallid, tidak sepantasnya memaksakan hasil ijtihad mujtahid yang ia ikuti kepada muqallid yang lain.

Pada pasal keempat ini, banyak kita jumpai saat-saat ini. Seorang yang sebenarnya masih muqallid, terkesan memaksakan penilaian suatu hadits orang yang mereka ikuti kepada orang lain. Inilah latahnya orang awam terkait hadits dhaif.

Jawaban Pertanyaan Jika Lemah Suatu Hadits

Sebaliknya, banyak ustadz juga yang latah ketika mendapat pertanyaan; “Bukankah itu haditsnya dhaif, ustadz?”.

Ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu, biasanya ustadz latah dalam menjawab. Jawaban diplomatis yang biasa dipakai adalah adanya khilaf diantara ulama, dalam hukum berhujjah dengan hadits dhaif, terlebih dalam fadhail a’mal.

Padahal seharusnya itu jawaban terakhir. Ketika ditanya seperti itu, selayaknya ada beberapa pertanyaan yang selayaknya kita ajukan terlebih dahulu. Pertanyaan itu adalah 4W: WHO, WHEN, WHY, WHERE.

WHO: Hadits Dhaif

Suatu ketika saya pernah ditanya, “Saat sujud yang lebih rajih didahulukan tangan dahulu atau lutut dahulu?”

Saya jawab, “Silahkan pilih diantara keduanya. Asal tidak kepalanya dahulu saja”

“Tapi kalo tidak salah, hadits yang menjelaskan lutut dahulu itu haditsnya lemah, ustadz. Jadi yang lebih benar itu tangannya dahulu?”

Ulama memang khilaf terkait mana yang turun dahulu saat sujud, keduanya silahkan dipilih mana yang sekiranya nyaman.

Ada satu hadits yang dianggap lemah oleh beberapa ahli hadits, hadits itu adalah hadits Wa’il bin Hujr:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد يضع ركبتيه قبل يديه ، وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه . رواه أبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجة والدارقطني

Saya melihat Rasullullah ketika sujud, beliau turun dengan dua lututnya sebelum tangannya, ketika naik beliau mengangkat tangannya dahulu sebelum lututnya. [HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah dan Daraquthni]

Hadits ini dianggap lemah oleh Nashiruddin al-Albani dalam kitab Irwa’ al-Ghalil, hal. 2/75 dan Imam Baihaqi dalam Sunannya, hal. 2/101. Maka mereka berpendapat bahwa yang lebih rajih adalah mendahulukan tangan dahulu. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Auza’i.

Tetapi hadits itu oleh ulama’ lain dinilai tidak lemah. Madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad dalam salah satu riwayatnya memilih lebih mendahulukan lutut, inilah yang diamalkan oleh kebanyakan ahli ilmu [Abu Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, hal. 2/57]. Pendapat ini dipilih juga oleh, Ibnu Qayyim (w. 751 H), Bin Baz, dan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Maka, ketika kita mendapat suatu hadits dinilai dhaif, yang menjadi pertanyaan pertamanya adalah siapakah yang menghukumi dhaif hadits itu?

Memang ada beberapa hadits yang oleh ulama disepakati keshahihannya, ada juga hadits yang disepakati kedhaifannya. Tetapi ada juga hadits yang menjadi perbedaan diantara para ulama terkait shahih dan dhaifnya. Jika sekali waktu ada yang bilang, “Itu haditsnya dhaif”, maka bertanyalah: “Siapakah yang mendhaifkannya”. waallahua'lam bisshawab

Untuk pertanyaan 4 W selanjutnya, insyaAllah kita lanjutkan ditulisan berikutnya.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.881 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 3.782 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 5.562 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.915 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 6.565 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.375 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 771 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.663 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.595 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.224 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 2.957 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.072 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 4.911 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.578 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.785 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.860 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.620 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.568 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.610 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.879 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.910 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.092 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.373 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.768 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.792 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.748 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.164 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.654 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.268 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.164 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.553 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.492 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.590 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.867 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.710 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.130 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.149 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.233 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.391 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.357 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.718 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.328 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.082 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.667 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.242 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.570 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.303 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.849 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.536 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.719 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.366 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.521 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.522 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.924 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.174 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 4.935 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.234 views