Islam Bukan Agama Bonsai | rumahfiqih.com

Islam Bukan Agama Bonsai

Ali Shodiqin, Lc Wed 9 April 2014 06:23 | 5795 views

Bagikan via

Di zaman sekarang, banyak orang yang menggilai sesuatu yang mini alias bonsai. Pohon yang besar dijadikan bonsai. Bunga-bunga yang ukurannya agak besar juga dijadikan bonsai. Bahkan bunga yang digunakan untuk menghiasi kuburan juga dijadikan bonsai. Memang sesuatu yang tadinya besar kemudian dijadikan bonsai memiliki nilai materi yang cukup besar dan menggiurkan.

Namun apa jadinya jika agama yang dijadikan bonsai? Memang permintaan konsumen terhadap bonsai ini sangat tinggi, terlebih yang dijadikan bonsai adalah agama. Ketika agama sudah berhasil dibonsaikan maka hal tersebut menjadi komoditas ekspor yang nilainya sangat menjanjikan. Terlebih ketika diekspor kepada pelanggan kafir yang ada di negara Amerika dan sekutunya.

Tidak heran karena prospek yang sangat menjanjikan inilah banyak umat islam yang berlomba-lomba untuk membonsaikan agama islam. Di antara mereka memang ada yang secara terang-terangan membonsaikan agama islam, sehingga produk bonsai agama islam ini hanya pantas digunakan untuk menghiasi masjid-masjid saja.

Sebagian umat islam yang lain sebetulnya tidak berniat menjadikan islam sebagai agama bonsai. Tetapi eksperimen mereka yang kurang tepat dalam meniru dan meneladani Nabi SAW terkadang tanpa mereka sadari menjadikan agama islam sebagai agama bonsai.

Produk bonsai agama ini sangat digemari Amerika dan antek-anteknya. Tidak peduli apakah bonsai agama islam ini adalah produk kelompok pertama atau produk kelompok kedua. Buat mereka yang penting bonsai agama islam.

Perintah Untuk Meneladani Nabi SAW

Salah satu tujuan Allah SWT mengutus para rasulnya bukan dari jenis malaikat melainkan dari jenis manusia adalah agar semua umat manusia bisa meniru dan meneladaninya. Rasulullah SAW adalah manusia terbaik, bahkan beliau adalah makhluk yang paling mulia sejagad raya.

Beliau manusia nyata bukan fiktif. Beliau juga manusia biasa bukan dari jenis malaikat. Kehidupan beliau menghiasai berbagai macam aspek kehidupan yang setiap orang bisa mencontohnya. Semua sisi kehidupan beliau tercatat secara detail dan terpercaya. Bahkan dari mulai beliau lahir sampai beliau wafat semuanya berisi kebaikan. Itulah yang menjadikan Allah SWT memerintahkan umatnya untuk meneladaninya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS.al-Ahzab: 21)

Namun untuk meneladani Rasulullah SAW kita harus meneladani dengan cara yang benar. Tidak hanya asal meneladani yang terkadang hanya bermodal alasan cinta dan ittiba’ kepada Rasulullah SAW kita malah memposisikan diri kita sejajar dengan Rasulullah SAW.

Cara Rasulullah SAW Membangun Umat Islam

Rasulullah SAW membangun pondasi umat ini dengan pondasi aqidah dan keyakinan yang benar dan kuat. Kenapa harus demikian? Karena dari pondasi inilah yang akan menentukan kekuatan bangunan yang ada di atasnya.

Ketika kita membaca sejarah perjalanan hidup beliau dalam berbagai kitab sirah nabawiyah akan kita dapati bahwa masa perjuangan beliau di Makkah adalah 13 tahun. Lebih lama 3 tahun dari masa perjuangan beliau di Madinah yang hanya 10 tahun.

Urgensi Aqidah Yang Benar

Tidak diragukan lagi bahwa masalah aqidah adalah masalah yang sangat urgen dalam agama islam. Bahkan pada periode dakwah di Makkah kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an yang turun juga berkaitan dengan masalah aqidah.

Pada periode Makkah ini masalah ibadah masih sangat sedikit dibahas. Hanya pokok-pokok ibadah saja yang sudah diwajibkan dan itupun masih bersifat umum. Baru pada periode Madinah ayat-ayat tentang hukum dan ibadah baru turun dan dijelaskan secara detail.

Itulah cara Rasulullah SAW dalam membangun umat ini. Bahkan tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi umat islam yang Allah SWT perintahkan untuk meneladaninya.

Agama Islam Bukan Hanya Aqidah

Yang perlu kita ketahui bahwa setelah periode Makkah dan beralih kepada periode Madinah maka Rasulullah SAW mulai membagun dan menghiasi bangunan umat ini dengan hukum-hukum syari’ah setelah membangun pondasinya di Makkah dengan aqidah shahihah. Ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah dan hukum-hukum syari’ah dalam berbagai aspeknya mulai turun. Bahkan Rasulullah SAW mulai berpolitik dan mendirikan negara islam yang berpusat di kota Madinah.

Itulah agama islam yang salah satu cirinya adalah syumuliyah. Artinya agama islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Karena memang agama islam adalah agama yang menjadikan umat islam memperoleh kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat.

Inilah agama islam yang sempurna. Di dalamnya ada aqidah, ada ibadah, ada akhlak, ada urusan sosial, ekonomi, bahkan negara. Bahkan dalam ranah hukum-hukum yang bersifat aplikatif atau yang kita kenal dengan fiqih para ulama membagi pembahasannya menjadi dua. Pembahasan pertama tentang ibadah yang mengatur hubungan hamba dengan rabbnya, sedang pembahasan yang kedua tentang mu’amalah yang mengatur hubungan sesama manusia.

Kesempurnaan Islam Sudah Dicapai Di Zaman Rasulullah

Sebuah ayat yang menerangkan tentang kesempurnaan islam turun di masa akhir hidup Rasulullah SAW. Sebuah ayat yang menunjukkan dekatnya waktu pertemuannya dengan rabbnya. Ayat yang mengabarkan bahwa tugasnya sebagai nabi dan rasul sudah hampir berakhir. Bangunan umat islam sudah sempurna. Pondasi aqidah yang kuat. Bangunan ibadah yang megah dan kokoh. Serta hiasan akhlak yang indah tak tertandingi keindahannya.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai islam itu jadi agama bagimu”. (QS.al-Ma’idah: 3)

Inilah kesempurnaan islam yang ditinggalkan Rasulullah SAW untuk umatnya. Ketika terjadi kerusakan dalam bangunan umat ini maka yang perlu kita lakukan adalah membenahi kerusakan tersebut. Jangan sampai alasan meneladani Rasulullah SAW kita hancurkan bangunan umat ini kemudian kita ajak umat islam kembali kepada titik nol dengan menghancurkan semua yang telah dicapai oleh Rasulullah SAW dengan beralasan membangunnya kembali.

Ketika khayalan meneladani Rasulullah SAW sampai kepada titik dimana kita menganggap diri kita seperti Rasulullah SAW yang sedang membangun umat islam maka efeknya akan sangat berbahaya. Orang awwam yang ada di sekitar kita, kita anggap seperti orang-orang musyrik di zaman Rasulullah SAW. Orang yang mengamalkan islam dalam sisi ibadah, sosial, politik dan lainnya dianggap belum masanya karena beranggapan bahwa umat ini baru sampai pada kelas pembelajaran tentang aqidah. Orang-orang semua masih sesat. Masyarakat masih syirik. Makanya yang di ajarkan pada mereka hanya aqidah, aqidah dan aqidah. Sehingga semua orang menganggap islam hanya aqidah dan tidak ada aplikasi nyata dalam berbagai segi kehidupan yang lain.

Pemahaman seperti inilah yang sebetulnya menjadikan islam sebagai agama bonsai. Islam hanya di dalam masjid, tempat-tempat pengajian dan majelis taklim karena islam hanya berisi tentang pengajaran aqidah. Seorang yang berpaham seperti ini seakan-akan dia menghancurkan seluruh pencapaian Rasulullah SAW.

Tidak ada yang menafikan urgensi aqidah sebagai sesuatu yang paling penting dalam agama islam. Akan tetapi ketika terjadi sedikit kecompang-campingan dalam pakaian aqidah umat islam jangan serta merta menganggap bahwa umat ini harus kembali kepada masa awal islam di zaman Rasulullah SAW.

Agama islam adalah agama yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Dan pengajaran aqidah bisa beriringan dengan pengajaran sisi-sisi agama islam yang lain. Di Madinah pun ternyata masih ada sebagian sahabat Nabi SAW yang baru masuk islam yang aqidahnya masih bermasalah. Hal tersebut tercermin dari permintaan sahabat pada Nabi SAW untuk dibuatkan dzatu anwath untuk mereka sebagai tempat menggantung pedang untuk memperoleh keberkahan seperti yang mereka lakukan di masa jahiliyah.

Lantas apakah Rasulullah SAW menganggap bahwa kaum muslimin pada zaman itu tidak layak di ajak berbicara tentang masalah ekonomi, sosial, politik dan sebagainya? Apakah Rasulullah SAW mengajak mereka kembali ke periode Makkah yang hanya memfokuskan pada masalah aqidah? Tidak, karena pengajaran aqidah yang pondasinya sudah kokoh juga bisa berjalan beriringan dengan pengajaran sisi-sisi islam yang lain.

Jangan pernah kita membonsai agama islam ini. Biarkan bangunan umat tetap kokoh di atas pondasi yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW. Kita biarkan pohon umat ini tumbuh tinggi di atas akar yang kuat. Akar yang tertancap kokoh di bumi dan cabang-cabangnya bermekaran di langit.

Wallahu A’lam Bish Showab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 8.062 views
Hadits-hadits Yang Saling Bertentangan
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 6 April 2014, 12:00 | 9.893 views
Rasul Juga Pernah Salah Berijtihad
Ali Shodiqin, Lc | 6 April 2014, 10:33 | 9.752 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 April 2014, 18:00 | 7.866 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 7.795 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Imam an-Nawawi mengharamkan Ilmu Kedokteran?
Ali Shodiqin, Lc | 10 November 2015, 06:00 | 5.147 views
Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan
Ali Shodiqin, Lc | 7 September 2015, 03:00 | 5.661 views
Ijtihad di Zaman Nabi SAW
Ali Shodiqin, Lc | 26 August 2015, 10:30 | 12.805 views
Imam Abu Hanifah Tidak Mungkin Salah !
Ali Shodiqin, Lc | 18 August 2015, 12:40 | 5.899 views
Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru
Ali Shodiqin, Lc | 6 August 2015, 06:00 | 5.593 views
Beda Murid Salaf dengan Murid Sok Salaf
Ali Shodiqin, Lc | 2 August 2015, 16:30 | 8.846 views
Anak Kecil Tidak Mau Shalat, Siapa Yang Berdosa?
Ali Shodiqin, Lc | 30 July 2015, 02:00 | 7.745 views
Yang Tidak Paham Fiqih Dilarang Masuk Pasar
Ali Shodiqin, Lc | 28 July 2015, 04:00 | 5.207 views
Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama?
Ali Shodiqin, Lc | 27 July 2015, 12:00 | 5.159 views
Hafal Kitab Suci, Beliau Dianggap Anak Tuhan
Ali Shodiqin, Lc | 26 May 2014, 05:29 | 6.489 views
Nikah Sunnah Nabi, Kok Banyak Ulama Membujang?
Ali Shodiqin, Lc | 16 May 2014, 05:00 | 17.003 views
Islam Bukan Agama Bonsai
Ali Shodiqin, Lc | 9 April 2014, 06:23 | 5.795 views
Rasul Juga Pernah Salah Berijtihad
Ali Shodiqin, Lc | 6 April 2014, 10:33 | 12.443 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA47 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA21 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Maharati Marfuah Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-8-2019
Subuh 04:40 | Zhuhur 11:57 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:57 | Isya 19:06 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img