Ka Yauma atau Ka Yaumi? | rumahfiqih.com

Ka Yauma atau Ka Yaumi?

Hanif Luthfi, Lc Sat 10 May 2014 00:00 | 3914 views

Bagikan via

Setelah Ramadhan, biasanya ada satu hadits yang cukup terkenal; hadits tentang puasa 6 hari di bulan Syawal. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa siapa yang berpuasa 6 hari di Syawal maka akan diampuni dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan. Haditsnya adalah:

من صام رمضان، وأتبعه ستاً من شوال؛ خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه. موضوع

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, lalu berpuasa 6 hari di Syawal maka dia akan keluar dari dosanya sebagaimana saat terlahir dari ibunya. (HR. At-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 8/275)

Meski hadits ini dinilai MAUDHU’ oleh Nashiruddin al-Albani. (lihat: Nashiruddin al-Albani; w. 1420 H, Silsilat al-Ahadits ad-Dhaifah, hal. 11/309, no. 5190)


Tapi bukan sanad hadits yang akan dibahas, melainkan i’rabnya. Pada lafadz ” yaum” yang didahului huruf jar ”kaf”, apakah dibaca yaumi (kasrah) atau yauma (fathah)?

Mari Kita Bahas!

Dilihat dengan ilmu nahwu sederhana, sepertinya yang benar adalah ”yaumi” dibaca kasrah karena majrur oleh huruf jar ”kaf”. Ini benar dan memang kebanyakan orang membaca ”yaumi” dengan kasrah. Maka bacanya: ka yaumi waladathu ummuh.

Tapi jika menurut ilmu nahwu yang lebih tinggi lagi levelnya, justru yang yang lebih fashih dan dipilih oleh para pakar bahasa adalah dibaca ”yauma” dengan fathah.

Lho, bukannya ada huruf jar-nya? Harusnya dibaca jar dong. Nah, disinilah. Orang yang sedikit ilmunya, akan banyak inkarnya. Jika baru belajar nahwu kitab Ajrumiyyah, hendaknya jangan mudah menyalahkan yang sudah level kitab Alfiyyah Ibn Malik.

Hal itu bisa kita baca dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik karya Muhammad bin Abdullah at-Thai (w. 672 H), beliau berkata:

وابن أو اعرب ما كإذ قد أجريا ... واختر بنا متلوّ فعل ٍ بنيا

Bacalah mabni atau mu’rob, dharaf yang seperti idz (dharaf yang mudhaf kepada jumlah tetapi tidak wajib), dan pilihlah membaca mabni jika fi’il setelahnya adalah fi’il mabni.

Ibnu Aqil al-Hamdani (w. 769 H) menjelaskan lebih lanjut. Dharaf yang boleh mudhaf kepada jumlah itu boleh mabni dan boleh mu’rob. Tetapi yang lebih dipilih ketika jumlah fi’liyyah dan fi’ilnya adalah fi’il madhi itu mabni. (Ibnu Aqil al-Hamdani; w. 769 H, Syarah Ibnu Aqil li Alfiyyah, hal. 3/58).

Ibnu Hisyam (w. 761 H) dalam kitab Audhah al-Masalik menguatkan:

ويجوز في الزمان المحمول على "إذا" أو "إذ" الإعراب على الأصل، والبناء حملا عليهما؛ فإن كان ما وليه فعلا مبنيا؛ فالبناء أرجح للتناسب

Dharaf zaman yang seperti idza atau idz itu boleh mu’rob sebagaimana asalnya, dan boleh juga mabni. Jika fi’il setelahnya adalah fi’il mabni (selain mudhari’) maka mabni itu lebih rajih, karena lebih sesuai. (Ibnu Hisyam; w. 761 H, Audhah al-Masalik, hal. 3/111).

Maka pada lafadz [كيوم ولدته أمه], ”yauma” mabni fathah karena fi’il setelahnya berupa fi’il madhi. ”Yauma” mabni fathah fi mahalli jarrin. Maka bacanya: ka yauma waladathu ummuh.

Sebagaimana jika fi’il setelahnya adalah fi’il mu’rob, yaitu fi’il mudhari’. Maka ”yaum” lebih baik mu’rob. Seperti contoh:

هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ

(QS. Al-Maidah: 119). “Yaumu” dibaca dhammah karena menjadi khabar yang dibaca rafa’.

Semakin Tahu Semakin Tak Tegas

Begitulah, menjadi lebih tahu adalah salah satu tujuan dari belajar. Tapi tak jarang, menjadi lebih tahu malah menjadikan seseorang tidak tegas dalam menentukan suatu pilihan.

Bagitu juga dalam menjawab pertanyaaan-pertanyaan hukum syariat. Orang yang tahu banyak, cenderung tidak tegas dalam menjawab dan terkasan permisif. Berbeda dengan yang baru tahu satu saja, biasanya tegas; ini boleh itu tidak boleh, ini surga itu neraka.

Seorang yang baru level kitab Ajrumiyyah, biasanya lebih tegas dalam menjawab daripada seorang yang sudah level Alfiyyah Ibn Malik.

Selama mau belajar, insyaAllah keinginan untuk menambah pengetahuan itu akan terus ada. Maka seharusnya, orang yang baru belajar kitab nahwu Ajrumiyyah tidak mudah menyalahkan orang yang sudah belajar level Alfiyyah Ibn Malik.

Benar tahu tak hanya sok tahu. Tahu dan mengerti bahwa kita tahu. Bukan tak tahu dan sok tahu bahwa kita tahu. waAllahua'lamu bisshawab

Oleh: Hanif Luthfi, Lc

Bagikan via


Baca Lainnya :

Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.761 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 3.911 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.196 views
Lawan Tapi Mesra
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 April 2014, 12:48 | 4.910 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.365 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.459 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 850 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.749 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.677 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.308 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.047 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.173 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.027 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.636 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.839 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.912 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.696 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.620 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.682 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.964 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.989 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.169 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.454 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.832 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.865 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.815 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.221 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.713 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.325 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.227 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.631 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.562 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.664 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.914 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.761 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.196 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.218 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.300 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.465 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.416 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.778 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.389 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.142 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.731 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.306 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.627 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.372 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.920 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.610 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.812 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.464 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.594 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.599 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.983 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.249 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.005 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.330 views