Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya | rumahfiqih.com

Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya

Dr. Isnan Ansory, Lc, MA Fri 6 June 2014 05:51 | 2959 views

Bagikan via

Pada dasarnya seorang muslim hendaknya meyakini bahwa seluruh aturan yang di tentukan oleh Allah SWT pasti mendatangkan sebuah kemaslahatan. Apakah kemaslahatan itu dapat diketahui secara kasat mata ataupun tidak.

Sebagai satu contoh adalah sistem pembagian harta waris dalam Islam. Di mana jika kita cermati dengan seksama, sekaligus kita korelasikan dengan aspek lainnya dalam kehidupan berumah tangga, pasti kita akan mendapati banyak kemaslahatan di dalamnya.

Dalam konteks ini, setidaknya ketentuan waris yang sering kali ‘digugat’ adalah pembagian dua banding satu (2-1). Yaitu, pembagian dimana ahli waris dari pihak perempuan mendapatkan bagian harta warisan sebanyak setengah bagian dari pihak laki-laki.

Jika misalnya seorang pewaris meninggalkan harta sebanyak nominal 900 juta dan ahli waris yang menerimanya berupa 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Maka pembagiannya adalah 600 juta diperuntukkan bagi anak laki-laki sedangkan sisanya 300 juta diperuntukkan bagi perempuan.

Ini merupakan gambaran sederhana contoh pembagian dua banding satu, yang kadang kala dapat mendatangkan polemik di antara ahli waris, terlebih jika mereka tidak terdidik dengan baik dalam beragama.

Namun perlua diketahui, bahwa sistem pembagian ini tidaklah bersifat mutlak. Dalam arti tidak setiap ahli waris yang terdiri dari laki-laki dan perempuan mendapatkan bagiannya sesuai dengan ketentuan ini. Para ulama menyebutkan bahwa sistem pembagian ini hanya berlaku setidaknya pada lima (5) kondisi di mana kedekatan ahli waris laki-laki dan perempuan terhadap si pewaris pada posisi yang sama;

1. anak laki dengan anak perempuan,

2. cucu laki-laki dengan cucu perempuan,

3. sandara kandung dengan saudari kandung,

4. saudara sebapak dengan sudari sebapak, serta

5. bapak dengan ibu.

Hikmah

Setidaknya timbul pertanyaan di benak kita, apa hikmah dibalik pembagian ini, yang seolah-olah tidak adil dan cenderung mendeskriditkan hak perempuan?

Jawabnya adalah sebagaimana penulis singgung pada awal tulisan ini, bahwa hikmah atau maslahat sebuah aturan yang datang dari Allah SWT kadangkala dapat dicerna oleh akal, namun kadang kala sebaliknya. Atau hikmah itu dapat pula kita ketahui dengan mengkorelasikannya dengan masalah yang lain, dalam hal ini adalah kewajiban kaum laki-laki untuk mencari dan menyediakan nafkah bagi kaum wanita.

Sebagai contoh: kita asumsikan bahwa seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan sebanyak 900 juta, sementara ahli warisnya adalah anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan) dan anak laki-laki dari anak laki-laki yang lain (cucu laki-laki). Dalam hal ini maka posisi cucu laki-laki adalah sepupu bagi cucu perempuan. Dengan demikian harta warisan yang akan didapat oleh cucu perempuan adalah 300 juta sedangkan sisinya 600 juta diperuntukkan bagi sepupunya (cucu laki-laki).

Selanjutnya, hikmah sistem pembagian ini dapat kita lihat, jika kita asumsikan bahwa sepupunya (cucu laki-laki) itu mau menikahinya (cucu perempuan). Sebagaimana kita ketahui bahwa sepupu bukanlah mahram di mana boleh untuk dinikahi. Maka si cucu perempuan akan memgang bagian warisannya secara utuh, di samping mengambil mahar/mas kawin dari sepupunya yang mungkin saja sebesar harta warisan yang diterimanya.

Sementara itu, si sepupu (cucu laki-laki) harus mengeluarkan biaya lain –selain mahar- berupa nafkah (pangan, papan, dan sandang) yang diperuntukkan bagi sepupunya yang telah menjadi istrinya.

Dalam gambaran ini pastilah akal kita akan mengatakan bahwa kaum wanitalah (cucu perempuan) yang lebih beruntung.

Alternatif

Hanya saja, kadangkala sistem pembagian sama rata yang telah mendarah daging di tengah masyarakat kita, membutakan mereka dari berbagai hikmah dari ketentuan Allah ini. Apalagi kasus yang terjadi tidak seperti yang dicontohkan di atas.

Di sinilah timbul sebuah permasalahan di mana ajaran kita menuntut untuk taat secara totalitas pada aturan Allah, tapi di sisi yang lain sebuah tradisi yang telah mendarah daging meskipun itu bertentangan dengan syariat Allah, sulit untuk dianulir dan dinafikan, bahkan seringkali dicarikan justifikasinya.

Menurut perspektif penulis, dua hal yang bertentangan ini sesungguhnya dapat dikompromikan namun dengan syarat si pewaris belum meninggal dunia. Di mana ia bisa menggunakan konsep hibah sebagai alternatif untuk membagikan hartanya secara sama rata. Lalu sepeninggalnya kelak harta yang masih tersisa yang kadangkala hampir habis karena diperuntukkan untuk keperluan penguburan dll, bisa dibagi berdasarkan konsep hukum waris. Di mana harta yang dibagikan itu relatif bernilai sedikit, dan tentunya memungkinkan untuk tidak menyebabkan konflik.

Wallahu a’lam bi ash shawab

Isnan Ansory, Lc., M.A

Peneliti Rumah Fiqih Indonesia (RFI)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Merubah Kelamin, Bagaimana Jatah Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 June 2014, 08:27 | 3.137 views
Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20 | 38.466 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 15.174 views
Kanibalisasi Madzhab
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 May 2014, 09:31 | 4.198 views
Hafal Kitab Suci, Beliau Dianggap Anak Tuhan
Ali Shodiqin, Lc | 26 May 2014, 05:29 | 4.325 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 501 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 2.542 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 2.472 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 3.374 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.100 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.156 views
Kembalilah Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 3.777 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 4.683 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 19.265 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.282 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 4.957 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 2.959 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 5.509 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 5.611 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.122 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 3.817 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.033 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 3.499 views
Tingkatan Fuqaha'
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 3.420 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.044 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 3.731 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 9.297 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 4.844 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 5.615 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 8.959 views
Fiqih Islami
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 3.647 views