Apakah Kita Cinta Nabi? | rumahfiqih.com

Apakah Kita Cinta Nabi?

Ahmad Zarkasih, Lc Mon 23 June 2014 08:21 | 5404 views

Bagikan via

Ada hadits Nabi shallalahu 'alaih wa sallam, dan ini shohih mengatakan bahwa:

قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Rasulullah shallahu ‘alaih wa sallam: “seseorang itu akan bersama orang yang ia cintai” (Muttafaq ‘alayh)

Maksud hadits tersebut -seperti banyak dikatakan oleh Ulama- ialah seorang Muslim akan dibangkitkan nanti di hari kiamat dan dikumpulkan bersama orang-orang yang ia cintai.

Maka beruntung mereka yang mencintai orang-orang shalih, karena tempatnya indah dan nikmat. Karena sudah dijanjikan oleh Allah swt bahwa orang yang baik dan selalu beribadah menjadi golongan yang Abror dan tempatnya di surga. Jadi mencintai mereka sama saja membuat diri terselamtkan, terlebih lagi yang dicintai itu seorang Nabi Muhammad shallalahu 'alaih wa sallam.

Dan sungguh rugi mereka yang cinta bukan kepada orang-orang baik, karena mereka akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak, dan apakah mereka-mereka itu akan ditempatkan ditempat yang indah? 

Jadi tinggal pilih, mau kemana kita diakhirat nanti, ya tinggal pintar-pintar lah memilih idola kalau gitu.

Tapi, harus diperhatikan! Imam Hasan Al-Bashri seperti dikutip oleh al-Habib Abdullah bin Alwi al-Hadad dalam kitab An-Nafais Al-'Uluwiyyah (hal. 44) beliau pernah berkata:

لا يغرنكم حديث المرء مع من أحب، مع الغفلة والإغترار وترك صالح الأعمال، إن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم يقيناً

"Jangan lah kalian tergiur / terlena dengan hadits 'seseorang akan dikumpulkan di akhirat bersama orang-orang yang ia cintai'! lalu kau lalai dan terlena kemudian meninggalkan amal shaleh. Sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani pun cinta Nabi-Nabi mereka, tapi sama sekali mereka tidak akan bersama nabi-nabi nya di akhirat kelak secara pasti".

Nah! Imam Hasan Al-bashri mengisyaratkan bahwa yang namanya cinta itu bukan cuma sekedar mengatakan "ya. Saya cinta beliau". Tapi lebih dari itu, harus ada yang dilakukan sebagai pembuktian cinta.

Mereka pun Cinta Nabi-Nabi Mereka

Semua orang muslim di dunia ini, kecil besar, muda tua, kaya miskin, kalau ditanya "apakah kalian cinta Nabi Muhammad?" Mereka pasti akan mengatakan cinta. Tapi apakah dengan mengatakan cinta, kita benar-benar menjadi orang yang dicinta Nabi shallalahu 'alaih wa sallam. Tidak semudah itu. Sama seperti kita mencintai seseorang didunia ini, dengan mengatakan cinta saja belum bisa cinta kita diterima. Mesti ada effort yang dilakukan. Bagitu juga cinta Nabi.

Nabi shallalahu 'alaih wa sallam menjelaskan:

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

“siapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Dan siapa yang telah mencintaiku, pasti akan bersamaku nanti di surga”. (HR. Imam Turmudzi dan Imam Ibnu Hibban)

Ini tafsiran yang sangat gamblang tentang apa itu cinta; yaitu mengerjakan sunahnya saw. Jadi itu yang dimaksud dengan "Al-Mar'u Ma'a Man Ahabba". Bukan cuma asal cinta. Orang Yahudi dan Nasrani pun cinta Nabi-nabi mereka tapi mereka tak-akan dikumpulkan bersama mereka.

Mereka cinta Nabi Isa, mereka juga cinta Nabi Musa, mereka cinta Nabi Daud, pun mereka cinta Nabi Nuh. Tapi itu cuma dibibir saja. Mereka tidak beriman sesuai ima Nabi-nabi mereka. Mereka pun tidak mengerjakan apa yang dikerjakan Nabi-nabi mereka. Justru mereka malah mendobrak aturan dan syariat Nabi-nabi mereka.

Jadi, bukan hanya bilang bahwa dirinya paling “nyunnah”, atau bikin status fesbuk “mengikuti sunnah Nabi dan anti bid’ah”, atau pasang merek besar di depan masjid dan sekolahnya atau majlisnya “masjid/majlis sunnah”, tapi buktikan dengan perbuatan.  

Bukan Cuma Jenggot dan Celana

Sayangnya, ada beberapa kawan muslim yang –sepertinya- menyempitkan makna sunnah itu sendiri menjadi hanya “jenggot”, dan “tidak Isbal” (Isbal = melewati mata kaki). Selalu 2 hal ini yang dibesar-besarkan dan seakan menjadi proto type muslim yang mengikuti sunnah. Membingkai seakan tidak ada sunnah selain 2 ini serta menutup sunnah-sunnah lain yang sejatinya jauh lebih penting dari sekedar jenggot dan celana ngatung.

Jadi, yang tidak berjenggot berarti tidak nyunnah, kalau tidak berjenggot dan celana isbal, berarti sungguh jauh dari sunnah. Apakah benar demikian? Lalu sunnah-sunnah lain kemana?

Bahkan mencela mereka yang tidak berjenggot dan lucunya melarangnya menjadi Imam shalat. Yang jadi pertanyaan, sejak kapan jenggot menjadi syarat sah menjadi Imam sholat?

Padahal kalau kita mau fair dan lebih detail mempelajari hukum syariah, ulama tidak memasukkan jenggot sebagai sebuah kewajiban yang semua orang muslim harus punya. Lalu bagaimana dengan mereka yang memang tidak ditumbuhi jenggor di dagu mereka?

Pun ulama telah menjelaskan bahwa larangan mencukur jenggot itu hukumnya mu’allalah (ada sebabnya), yaitu untuk menyelisih orang kafir yang memang ketika itu mencukur jenggot-jenggot mereka. Jadi orang muslim harus berbeda dengan tidak mencukurnya.

Lalu ketika sebab itu hilang, maka hilang juga hukumnya, sebagaimana kaidah ushul yang masyhur: [الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما] “keberadaan hukum itu sesuai dengan illah (sebab)-nya, ada dan tidak ada-nya”.

Termasuk juga dalam masalah celana yang tidak Isbal yang tidak ada ulama dari kalangan 4 madzhab mewajibkan itu, karena memang riwayat yang ada itu diikat (taqyiid) dengan Illah (sebab) kesombongan.

Kita sepakat bahwa jenggot itu adalah bagian dari sunnah, Ya! Sunnah dalam arti pekerjaan tersebut memang dilakukan oleh Nabi shallalahu ‘alaiyh wasallam. Dan orang yang berjenggot serta memeliharanya, itu dia telah menjalankan sunnah. Tapi bukan berarti orang tidak berjenggot atau mencukurnya itu tercela dan bahkan hina, serta tidak layak jadi Imam Sholat.

Begitu juga masalah celana yang tidak isbal. Kita sepakat bahwa itu adalah bagian dari sunnah, yang siapa melakukannya pasti menapat pahala Karena telah mengikuti apa yang memang dilakukan oleh Nabi shallalahu ‘alaiyh wasallam. Tapi bukan berarti bahwa yang isbal itu tidak cinta Nabi dan menyelisih sunnah, dan ia adalah muslim tercelan nan hina.

Mestinya kita juga mau mempelajari perbedaan pandangan di kalangan ulama, dan tidak hanya mencukupkan diri dengan satu pendapat lalu menghukui yang lain salah. Karena memang –biasanya- gesekan itu terjadi karena ada salah satu pihak yang tidak mau mengakui adanya perbedaan. Kalau sudah tidak mau mengakui adanya perbedaan, bagaimana bisa menghargai perbedaan? Sulit mnecari titik temunya.

Padahal perbedaan dalam masalah furu’iyyah adalah sesuatu yang nyata ada, dan keberadaannya adalah sebuah keniscayaan. Perbedaan itu ada dan bukan diada-adakan.

Sunnah Yang Banyak Ditinggal

Mestinya juga kita tidak menutupi sunnah-sunnah lain yang jauh lebih besar, dan tidak hanya mem-blow up 2 masalah yang sejak dulu sampai saat ini masih diperdebatkan oleh ulama ini.

Ada beberapa contoh sunnah yang –mungkin- dilupakan, salah satunya ialah berkata sopan walaupun dengan mereka yang berbeda paham dengan kita dan mungkin ia pendosa juga pelaku maksiat. Untuk yang sering menghina dan mencacinya saja, Nabi shallahu ‘alaih wasallam masih mau memberika suapan makan untuknya setiap hari. Bayangkan!

Toh jangankan kita yang muslim biasa dengan muslim lain, Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah swt untuk berkata yang “layyin” (lemah lembut) kepada Fir’aun yang sudah jelas-jelas membangkang dan mengaku tuhan.

Lalu kenapa kepada mereka yang hanya tidak shalat berjamaah di masjid, kita begitu sinis dan pasang muka masam serta tidak mau bergaul dengannya? Kenapa? Masih mengaku cinta Nabi?

Contoh lain lagi dari sunnah Nabi saw yang paling ringan tapi paling sering ditinggalkan ialah 'Ibtisam' yaitu 'senyum' di manapun kita berada. Perlu diketahui bahwa senyum itu bukanlah suatu kebiasaan, akan tetapi senyum adalah sunnah, ia adalah ibadah.

Diriwayatkan bahwa Nabi saw adalah orang yang paling sering tersenyum. Syaikhoni; Imam bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Jarir ra, ia berkata: "sejak aku masuk Islam, aku tidak pernah bertemu dengan Nabi saw kecuali ia selalu tersenyum diwajahku setiap kali bertemu."

Jadi bisa dikatakan bahwa ciri dasar pecinta Nabi saw yang sejati ialah jika ia bertemu dengan siapapun itu, ia pasti tersenyum. Dan tentu harus dipertanyakan kecintaannya kepada Nabi saw siapa dia yang selalu memasang wajah masam.

Masih banyak lagi contoh lainnya yang kalau disebutkan tentu laman page ini tidak cukup untuk menampungnya.

Wallahu a’lam

Mudah-mudahn kita dijaga oleh Allah untuk selalu menjadi orang yang cinta Nabi shallalllahu ‘alaih wa salaam dalam lisan dan perbuatan.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 4.607 views
Antara Fatwa dan Taqwa
Aini Aryani, Lc | 16 June 2014, 06:52 | 4.162 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 8.304 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 6.279 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.432 views

more...

Semua Tulisan Penulis :