Menunggu Hasil Sidang Itsbat | rumahfiqih.com

Menunggu Hasil Sidang Itsbat

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Fri 27 June 2014 09:04 | 3431 views

Bagikan via

Tidak terasa sebentar lagi bulan Ramadhan akan hadir ditengah-tengah kita semua. Suasana Ramadhan di negri ini semakin terasa dengan hadirnya berbagai iklan produk makanan dan minuman yang hadir di televisi, tembang-tembang religi semakin marak, acara bernuansa islami pun sudah dimulai.

Pembicaraan mengenai awal Ramadhan memang tidak akan pernah habisnya, terlebih di negara kita, dari yang awam hingga mereka kaum intelektual hangat mendiskusikannya. Penulis pikir ini adalah perbincangan yang positif, perbincangan yang membuat rasa ingin tahu kita naik, mudah-mudahan rasa ingin tahu itu dilanjutkan dengan banyak membaca dan mendengar.

Memang Al-Quran tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai bagaimana penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Haji, hanya saja ada beberapa ayat Al-Quran yang memberikan isyaratnya untuk kita semua.

Namun jika hanya dilihat melalui kitb-kitab tafsir yang ada, sepertinya kita juga masih belum menemukan kejelasan, ini mungkin karena sebagian besar ahli tafsir klasik kita bukanlah ulama astronomi yang memahami ini secara detail.

Seorang ilmuan Indonesia, T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN, yang tergabung daam Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI sedikit memberikan penjelasan astronomi mengenai ayat-ayat yang memberikan isyarat  tetang operasional penentuan awal Ramadhan, mengingat selama ini yang diungkap dalam diskusi-diskusi penentuan awal ramadhan sebagian besarnya hanyalah hadits-hadits Rasulullah SAW.

Dalam beberapa tulisannya beliau mengatakan mula-mula Allah SWT memberikan penjelasan kepada kita secara umum waktu kita berpuasa, melalui firmannya:

  شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (datangnya) bulan (Ramadhan) itu maka berpuasalah” (QS 2:185)

Kemudian Allah SWT tidak memberikan penjelasan khusus bagaimana mentukan bulan tersebut telah datang. Akan tetapi Allah SWT seakan mengirimkan isyaratNya melalui ayat berikut tentang perilaku bulan:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram” (QS 9:36).

Bilangan tahun diketahui melalui keberulangan tempat kedudukan bulan di orbitnya (manzilah-manzilah), yaitu 12 kali siklus fase bulan. Keteraturan keberulangan manzilah-manzilah itu yang digunakan untuk perhitungan tahun, setelah 12 kali berulang. Dengan demikian, kita pun bisa menghitungnya. Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat kedudukan bulan), supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu.” (QS. 10:5).

Manzilah-manzilah ditandai dengan perubahan bentuk-bentuk bulan, dari bentuk sabit makin membesar menjadi purnama sampai kembali lagi menjadi bentuk sabit menyerupai lengkungan tipis pelepah kurma yang tua, untuk itu Allah SWT menjelaskan:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia seperti pelapah yang tua” (QS 36:39).

Lalu, manzilah yang mana yang bisa dijadikan awal bulan? Manzilah awal adalah hilal, hilal itu adalah bentuk sabit tipis. Itulah sebagai penentu waktu (mawaqit) awal bulan, karena tandanya jelas setelah sebelumnya menghilang yang disebut bulan mati. Allah SWT menjelaskan:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (bagi penentuan waktu ibadah) haji” (QS 2:189).

Jadi yang menajadi penanda Ramadhan, Syawal dan Haji itu adalah bulan sabit (hilal), yang merupakan penomena observasi (rukyat), walaupun dalam waktu yang bersamaan hilal ini juga merupakan bagian dari manzilah yang bisa diketahui dengan hitungan (hisab).

Jadi observasi mata (rukyat) dengan hisab bukanlah dua hal yang kontradiktif, keduanya bisa digunakan untuk usaha dalam operasional penentun awal Ramadhan, Syawal dan Haji. (Selengkapnya lihat: http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/07/28/hisab-dan-rukyat-setara-astronomi-menguak-isyarat-lengkap-dalam-al-quran-tentang-penentuan-awal-ramadhan-syawal-dan-dzulhijjah/)

Rukyat Al-Hilal (Melihat Bulan)

Ketika Allah SWT mensyariatkan suatu ibadah kepada hambaNya, Allah SWT juga menjelaskan waktunya, juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengetahuinya. Pun begitu halnya dalam pensyariatan ibadah puasa.

Allah SWT dan RasulNya memberikan petunjuk bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang waktu pelaksanaannya berdasarkan peredaran bulan. Syariat ini hadir pada tahun ke 2 H, pada waktu dimana masyarakat Arab dan sekitanya dalam keadaan tidak bisa membaca, menulis dan berhitung (hitung astronomi). Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080)

Sehingga sangat wajar jika dalam hal ini cara yang disyariatkan untuk mengetahui waktu puasa itu dengan cara melihat bulan, karena cara ini dinilai cara yang paling mudah dilakuakan oleh seluruh manusia, baik dulu maupun sekarang, awam atau terdidik, desa maupun kota.

Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya memberikan petunjuk tentang melihat bulan, diantara sabdanya:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kamu saat melihatnya (hilal) dan berifthar (lebaran) saat melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ حَال بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابَةٌ  فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً

“Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)

Walaupun tenyata metode Ru’yat Al-Hilal ini dalam tenerapannya sedikit terdapat perbedaan dalam jumlah mereka yang melihat. Sebagian berpendapat bahwa kesaksian satu orang adil yang melihat bulan sudah bisa diambil. Ini didadari atas hadit yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.

تراءى الناس الهلال، فأخبرت النبي أني رأيته، فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأمر الناس بصيامه

“Masyarakat tengah berusaha melihat bulan, maka akupun datang menemui nabi dan mengabarkan bahwa aku sudah melihat bulan, maka Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan ummat Islam lainnya untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud)

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kesaksian melihat bulan itu harus datang dari dua orang muslim yang adil, sebagai hasil qiyas dengan kesaksian pada perkara lainnya, juga didasarkan dari riwayat Husain bin Harits bahwa  Al-Harist bin Al-Hathib seorang amir Mekkah berkata:

أمرَنَا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم أن ننسكَ لرؤيته، فإن لم نَرهُ فشَهدَ شاهدان عدلانِ نَسَكْنا بشهادتيهما

“Rasulullah SAW telah memerintahkan kami untuk berpuasa dengan melihat bulan, jika kami tidak melihatnya, maka kami sudah berpuasa dengan kesaksian dua orang” (HR. Abu Daud)

Kalangan Al-Hanafiyah dalam Hasyiah Ibnu Abdin, jilid 2, hal. 92 menambahkan bahwa jika langit cerah, maka tidak cukup hanya dengan kesaksian satu atau dua orang, akan tetapi harus berdasarkan kesaksian orang banyak, kecuali jika langit berawan, maka kesaksian satu atau dua orang tadi bisa diterima.

Karena pada dasarya jika bulan bisa dilihat dengan mata telanjang dengan keadaan langit cerah, maka mustahil rasanya jika yang melihat hanya satu, dua orang saja, sehingga sangat wajar jika sebagian ulama dari madzhab Hanafi ini berpendapat bahwa kesaksiannya harus orang banyak.

Jika dahulu rukyat (melihat) bulannya hanya dengan mata telanjang, maka sekarang proses melihat bulan sudah mengalami perkembangan, dengan didukung peralatan canggih modern.

Kehadiran alat teropong yang mampu memperbesar suatu benda hingga ribuan kali ini sagat membantu dalam proses observasi penentuan awal Ramadhan ini. Sehingga metode ini akan semakin baik hasilnya.

Hisab

Seperti yang sudah disinggung diatas bahwa metode penenuan awal Ramadhan dengan hisab bukanlah sesuatu yang tercela, bahwa memang dahulunya ada sebagian ulama yang menilai bahwa ilmu hisab seperti ini adalah ilmu yang terlarang, namun ilmu hisab yang dimaksud oleh para ulama itu adalah ilmu perbintangan yang biasa digunakan oleh para normal untuk mengetahui perkara ghaib.Tentunya untuk ilmu perdukunan tersebut semua ulama menyepakati ketidakbolehannya.

Adalah Mutharrif bin Abdillah seorang pembesar tabiin yang memulai memberikan pendapat tentang penggunaan ilmu hisab setelah memahami hadits Rasulullah SAW yang menyatakan; “Jika bulan tidak terlihat, maka taqdirkanlah”. Kata “faqdurulah” ditafsirkan dengan: قدروه بحسب المنازل.   (perkirakanlah dengan ilmu hisab), dan yang senada juga diaminkan oleh Abu Al-Abbas bin Suraij, salah satu pembesar ulama Syafiyah.

Sebagian ulama yang mendukung metode ini menilai bahwa observasi mata yang dilukan oleh masyarakat terdahulu didasari atas kenyataan bahwa dahulunya belum ada orang yang memumpuni untuk melakukan penghitungan dengan ilmu pengatahuan.

Prase yang diungkap Rasulullah SAW: “bahwa kami ini adalah ummat yang tidak bisa membaca dan berhitung” dinilai sebagai illah (alasan) keberadaan observasi mata (rukyat) sebagai penanda awal Ramadhan yang Rasulullah SAW sabdakan.

Dengan kondisi ummat seperti itu sangat wajar jika pilihannya hanya rukyat saja, karena inilah yang dimampu oleh mereka. Tidak masuk akal jika malah dengan kenyatakan seperti itu Rasulullah SAW malah memerintahkan untuk menggunakan ilmu hisab.

Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diikuti dengan perkembangan ilmu astronomi, sehingga bisa menghitung gerak bulan dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil, bahkan sekarang ini hasilnya nyaris tanpa salah.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy di dalam kitabnya “Kaifa Nata’amalu Ma’a As-Sunnah” menjelaskan tentang cara memahami teks hadits melaui kaidah: التمييز بين الهدف الثابت والوسيلة المتغيرة (membedakan antara tujuan yang tetap dan wasilah atau cara yang (bisa) berubah)

Dalam hal ini beliau memberikan contoh tentang hadits puasa ramadhan dan rukyat, sabda Rasulullah SAW:

صوموا لرؤيته ـ أي الهلال ـ وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فاقدروا له

“Berpuasalah kalian dengan meliaht (bulan) dan berbukalah (berlebaran) dengan melihat bulan, jika terhalang oleh kalian melihat bulan maka taqdirkanlah”

Hadf (tujuan) utama dari hadits ini adalah hendaklah seluruh ummat Islam berpuasa penuh satu bulan pada bulan Ramadhan, dan jangan pernah meninggalkan satu haripun tanpa adanya halangan yang membolehkan baginya untuk berpuasa.

Adapun melihat bulan (rukyat) itu hanya wasilah yang sangat mungkin bisa berubah dari waktu ke waktu, jika pada zaman Rasulullah SAW wasilah yang paling mudah dilakukan hanya dengan obsevasi mata telanjang, maka sekarang observasi tentunya bisa dengan mengunakan peralatan moderen, atau bisa juga menggunkan ilmu hisab yang tingkat kesalahannya sangat minim.

Imajenasinya adalah jika dahulu masyarakat Islam sudah mengerti astronomi, kira-kira wasilah apakah yang akan direkomendasikan oleh Rasulullah SAW?

Jika berita observasi mata telanjang dari satu orang yang adil pada zaman Rasulullah SAW bisa diterima, dengan tingkat kesalahan yang besar, kiranya kurang tepat jika kita nenolak hasil hitungan dengan ilmu hisab dengan tingkat kesalahan yang minim, atau bahkan nyaris tanpa salah.

Terlebih bahwa saat ini ilmu pengetahuan ini sudah berkembang hampir diseluruh belahan bumi. Ilmu ini bukanlah ilmu yang hanya diketahui oleh segilintir orang saja. Di Indonesia ilmu ini terus berkembang, hingga kini ada dua metode besar yang sering dipakai dalam penentuan awal Ramadhan:

1. Wujud Al-Hilal (Keberadaan Bulan)

Ini adalah salah satu metode hisab yang digunakan oleh sebagian ormas di negara kita Indonesia, khususnya Muhammadiyah. Sederhanyan, kriteria metode Wujud Al-Hilal ini harus memenuhi tiga perkara:

1- Telah terjadi ijtimak (konjungsi),

2- Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan

3- Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).

Jika dalam hitungan ilmu hisab ketiga ini sudah terpenuhi, maka bisa dipastikan bahwa pada malam tersebut sudah masuk bulan baru, dan esoknya kita sudah berpuasa, walau tanpa memperhatikan ketinggian bulan, asalkan posisinya sudah berada di atas ufuk.

Sebagian menilai bahwa metode ini adalah isyarat dari firman Allah SWT berikut:

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Tidaklah mungkin matahari mengejar bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS 36:40).

Namun menurut T. Djamaluddin Profesor Riset Astronomi Astrofisika, logikanya, tidak mungkin matahari mengejar bulan. Tetapi dalam metode ini berpendapat ada saatnya matahari mendahului bulan, yaitu matahari terbenam terlebih dahulu daripada bulan, sehingga bulan telah wujud (ada) ketika malam mendahului siang (saat maghrib). Saat mulai wujud itulah yang dianggap awal bulan. Tetapi itu kontradiktif. Tidak mungkin mengejar, tetapi kok bisa mendahului. Logika seperti itu terkesan mengada-ada.

Ayat tersebut secara astronomi tidak terkait dengan wujudul hilal (keberadaan bulan), karena pada akhir ayat ditegaskan “masing-masing beredar pada garis edarnya”. Ayat tersebut menjelaskan kondisi fisik sistem bumi, bulan, dan matahari. Walau matahari dan bulan tampak sama-sama di langit, sesungguhnya orbitnya berbeda. Bulan mengorbit bumi, sedangkan Matahari mengorbit pusat galaksi. Orbit yang berbeda itu yang menjelaskan “tidak mungkin matahari mengejar bulan” sampai kapan pun.

Malam dan siang pun silih berganti secara teratur, tidak mungkin tiba-tiba malam karena malam mendahului siang. Itu disebabkan karena keteraturan bumi berotasi sambil mengorbit matahari. Bumi juga berbeda garis edarnya dengan matahari dan bulan. Semuanya beredar (yasbahun) di ruang alam semesta, tidak ada yang diam.

2. Imkan Ar-Rukyah (Visibilatas Hilal)

Tanda awal bulan itu adalah munculnya manzilah (pase) pertama bulan berupa hilal (bulan sabit), tanda ini bisa dilihat dengan mata (rukyat) dan bisa juga dihitung (hisab) berdasarkan rumusan keteraturan fase-fase bulan dan data-data rukyat sebelumnya tentang kemungkinan hilal bisa dirukyat. Data kemungkinan hilal bisa dirukyat itu yang dikenal sebagai kriteria Imkan Ar-Rukyah atau Visibilitas Hilal.

Sepertinya metode ini menggabungkan antara rukyat sebagai cara klasik yang direkomendasikan oleh Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya, dengan metode modern melalui ilmu astronomi yang dimotori oleh seoarang tabiin Mutharrif bin Abdillah, sebagai pengembangan dari beberapa sabda Rasulullah SAW terkait wasilah atau metode mengaetahui bulan.

Kritik terhadap metode ini adalah tidak jelas parameternya, bahwa ukuran 2 derajat, 3, 5, atau 9 adalah ukuran yang tidak mempunya standar pasti, ia bisa berubah. Kaidahnya adalah bagaimana mungkin kita menyandarkan kepada sesuatu yang tidak jelas.

Namun dari metode ini setidaknya bisa digunakan dalam hal meniadakan bulan walaupun penetapannya tetap memakai rukyat. Maksudnya adalah jika dalam hitungan bulan baru tidak bisa dilihat karena rendahnya posisi bulan, maka setidaknya dari sini hakim bisa dan boleh menolak seluruh kesaksian yang menyatakan suduah menilhat bulan.

Di Indonesia kenyataan ini sering terjadi, bahwa mereka yang berada di kawasan Cakung dalam kesaksiannya bulan sudah terlihat, walaupun dalam hitungan pengetahuan bulan mustahil terlihat. Kesaksian inilah yang boleh ditolak oleh seorang hakim.

Imam As-Subki pernah memberikan pernyataannya dalam kitabnya Fatawa As-Subki, jilid 1, hal. 219:

فقد ذكر السبكي في فتاواه أن الحساب إذا نفى إمكان الرؤية البصرية، فالواجب على القاضي أن يرد شهادة الشهود، قال: (لأن الحساب قطعي والشهادة والخبر ظنيان، والظني لا يعارض القطعي، فضلاً عن أن يقدم عليه)

“Jika dalam perhitungan menyatakan mustahil bulan bisa dilihat, maka wajib bagi seorang hakim untuk menolak seluruh kesaksian tentang itu, karena hasil dari perhitungan itu sifatnya qath’iy (pasti) sedangkan hasil dari kesaksian itu adalah zhonniy (relatif), dan sesuatu yang zhonni (relatif) tidak bisa menglahkan yang qath’iy (pasti) apalagi jika mengutamakan yang reralif ketimbang yang pasti”

Hal yang Disepakati

Namun ada beberapa hal kiranya perlu disepaki bersama dalam kaitan penentuan awal Ramadhan, syawal dan Haji ini;

Pertama: Bahwa penetapan awal bulan ini sangat flexibel, ini terbukti bahwa baik metode rukyat maupun hisab keduanya sama-sama menerima perbedaan. Dalam metode rukyat khilafnya adalah pada jumlah kesaksian yang harus diterima; satu orang, dua, atau harus banyak. Sedangkan dalam hisab, khsusunya di Indonesia memungkinkan untuk digunakan dua metode; Wujud Al-Hilal atau Imkan Ar-Rukyah dengan kelebihan dan kekurangannya msing-masing.

Kedua: Kesalahan dalam hal ini, insya Allah bagian dari kesalahan yang dimaafkan, jika memang kedua metode ini dijalankan dengan baik oleh ahlinya. Jika digunakan dengan semua gue dan bukan oleh ahlinya, maka bisa dipastikan bahwa mereka berdosa disisi Allah SWT.

Ketiga: Bahwa upaya untuk menyatukan ummat Islam dalam puasa dan lebaran adalah dua hal yang harus terus diperjuangkan, dan tidak boleh ada kata putus asa disini, karenanya jika memang ummat Islam diseluruh dunia ini tidak mungkin disatukan dengan kenyataan ikhtilaf al-mathali’, setidaknya disatu begara ini kita bersatu.

Solusinya: Menunggu Hasil Sidang Itsbat?

Selama ini solusi yang ditawarkan di negri ini adalah jargon “mari saling menghormati”, namun jargon ini sampai kapanpun sepertinya tidak mungkin bisa membuat penduduk negri ini bersatu dalam awal puasa dan lebaran.

Untuk itu solusi berikut ini kiranya bisa ditawarkan, agar perbedaan di negri ini bisa disatukan, yaitu dengan mengikuti keputusan pemerintah. Ini kaidah yang selama ini sudah disepakti oleh para ulama bahwa keputusan hakim bisa menghilangkan perbedaan yang ada.

Dan pada akhirnya Rasulullah SAW juga memberikan wejangannya kepada kita semua:

صومكم يوم تصومون، وفطركم يوم تفطرون

“Berpuasalah kalian dihari dimana kalian semua berpuasa, dan berbukalah (berlebaran) dihari dimana semua kalian berlebaran” (HR. Tirmidzi)

 Mari bersama menunggu keputusan sidang itsbat, sambil menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut puasa Ramadhan. Semoga Allah SWT memberikan taufiqNya kepada kita semua. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Amin.

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 5.051 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 4.313 views
Antara Fatwa dan Taqwa
Aini Aryani, Lc | 16 June 2014, 06:52 | 3.801 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 7.933 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 5.922 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 860 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.619 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.598 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 1.774 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.167 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.634 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.177 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 1.993 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.501 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.254 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.181 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 1.868 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.181 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.400 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 1.795 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.542 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 4.000 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 3.908 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.186 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 4.909 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.052 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 2.752 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 2.902 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.079 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 4.937 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.134 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.120 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 4.928 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.431 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.881 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.915 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.478 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.536 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.839 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 7.853 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.161 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.175 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.564 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.496 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.138 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 3.986 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.707 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 4.869 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 13.944 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.082 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.522 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.375 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.869 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.460 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.542 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.527 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.923 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.180 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.592 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.107 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.239 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.508 views