Hari yang Meragukan | rumahfiqih.com

Hari yang Meragukan

Hanif Luthfi, Lc., MA Sun 29 June 2014 00:57 | 4097 views

Bagikan via

Jika kita ragu awal masuk sekolah itu hari senin atau selasa, lebih baiknya memang masuk hari seninnya. Logisnya, kita tidak rugi jika memang benar-benar masuk hari senin. Jika masuknya ternyata selasa, toh tinggal pulang saja. Itu sebagai bentuk kehati-hatian.

Beda jika kita masuk hari selasa, kita akan terhitung absen sehari jika ternyata awal masuknya hari senin.

Ternyata jika kita bicara puasa Ramadhan, malah logikanya tidak seperti itu. Jika seorang itu ragu apakah sudah masuk Ramadhan atau masih Sya’ban, itu disebut sebagai hari syak atau hari yang masih meragukan.

Jika masih ragu, malah kita disuruh untuk tidak menjalankannya.

Hadits-Hadits Tentang Hari Syak

Dalam kaitan hari syak, ada tiga hadits:

1.       Hadits Pertama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ، إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْه.ُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: Jangalah kalian mendahului puasa Ramadhan sehari atau dua hari, kecuali jika kalian memang terbiasa puasa sebelumnya, maka puasalah.

HR. al-Bukhari (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: 3/ 28) dan HR. Muslim (Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim: 2/ 762)

Hadits ini secara gamblang melarang seorang untuk mendahului puasa Ramadhan dengan satu hari atau dua hari puasa.

2.       Hadits Kedua

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رضي الله الله عنه- قَالَ: مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ.

Dari Ammar bin Yasir beliau berkata: Siapa yang berpuasa di hari syak, maka dia telah bermaksiat kepada Abu al-Qasim (Muhammad) shallaAllahu alaihi wa sallam.

HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan shahih. (Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi: 3/ 61)

 

3.       Hadits Ketiga

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ قَالَ: قَالَ أَبُو القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ»  وفي مسلم «فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمُ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ»

Dari Abu Hurairah mendengar bahwa Nabi bersabda: Berpuasalah kalian ketika melihat hilal, berbukalah ketika melihat hilal pula. Jika terhalang mendung, maka sempurnakanlah sya’ban menjadi 30 hari

HR. al-Bukhari (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: 3/ 27), HR. Muslim (Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim: 2/ 762)

Pengertian Hari Syak

Hari syak adalah hari setelah tanggal 29 Sya’ban, adakalanya tanggal 30 Sya’ban atau tanggal 1 Ramadhan, yaitu ketika belum diketahui secara pasti terlihatnya hilal Ramadhan secara hukum syar’i yang mendapat legitimasi (Wizarat al-Auqaf, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: 45/ 314).

Menurut ulama al-Hanafiyyah, hari syak adalah hari dimana orang masih ragu apakah sudah masuk Ramadhan atau masih Sya’ban. Hal ini bila orang-orang sudah membicarakan adanya rukyat hilal, tetapi belum ditetapkan secara syar’i. (Abdullah bin Mahmud Majduddin al-Hanafi, al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar, 1/ 130).

Sedangkan menurut ulama Malikiyyah, hari syak adalah hari ke 30 Sya’ban ketika langit mendung dan rukyat belum ditetapkan secara syar’i (Abu Hasan Ali bin Ahmad al-Adawi al-Maliki, Hasyiat al-Adawi ala Syarhi Kifayat at-Thalib, 1/ 444).

Menurut madzhab Syafi’iyyah, disebut hari syak adalah ketika tanggal 30 Sya’ban dan orang-orang telah membicarakan rukyat hilal tetapi belum ditetapkan secara syar’i, atau telah ada orang yang bersaksi melihat hilal tetapi ditolak (Zakariyya bin Muhammad al-Anshari as-Syafi’i, Fathu al-Wahhab, 1/ 141).

Menurut al-Hanabilah, hari syak adalah hari ke 30 Sya’ban ketika langit tidak tertutup mendung, tetapi belum ada yang melaporkan telah rukyat hilal, atau telah ada yang lapor tetapi ditolak kesaksiannya, atau ketika di langit terdapat mendung (Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali, al-Mughni: 3/ 89).

Jika ditarik benang merah, hari syak bisa didefinisikan sebagai hari yang masih diragukan apakah sudah masuk tanggal 1 Ramadhan atau masih tanggal 30 Sya’ban. Diragukan adakalanya karena langit tertutup mendung, atau tidak tertutup mendung tetapi belum bisa terlihat hilal Ramadhan, atau sudah ada yang melihat tetapi orang tersebut ditolak kesaksiannya.

Hukum Puasa di Hari Syak

Ketika berbicara hukum puasa di hari syak ini, maka ada dua kemungkinan.

Pertama, seorang puasa di hari syak dengan niat puasa Ramadhan, sebagai bentuk kehati-hatian. Kedua, seorang puasa di hari syak tidak dengan niat puasa Ramadhan, tetapi niat puasa lain.

Bentuk pertama inilah yang disebut puasa yang haram menurut jumhur ulama’.

Ulama Hanafiyyah menganggap bahwa puasa syak dengan niat Ramadhan itu makruh, bahkan dikatakan menyerupai orang Yahudi. Tetapi jika seseorang berpuasa hari syak dengan niat Ramadhan, maka sah puasanya tanpa harus qadha’ jika memang akhirnya benar-benar terbukti masuk bulan Ramadhan (Ali bin Abu Bakar al-Marghinani as-Hanafi, al-Hidayah: 1/ 117).

Ulama Malikiyyah menyebutkan bahwa haram hukumnya puasa hari syak model pertama ini. Bahkan jika seseorang berpuasa di hari syak dengan niat Ramadhan tanpa rukyat terlebih dahulu, lantas terbukti hari itu benar-benar telah masuk Ramadhan, orang tersebut masih wajib qadha’ puasa satu hari Ramadhan.

Alasannya karena seorang tersebut berpuasa tanpa adanya keyakinan dalam niatnya (Abu Umar Yusuf bin Abdullah al-Maliki, al-Istidzkar: 3/ 368).

Ulama Syafi’iyyah juga mengharamkan puasa hari syak dengan niat Ramadhan (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathu al-Bari: 4/ 120).

Sedangkan menurut madzhab Hanbali, ada dua riwayat yang disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Riwayat pertama menyebutkan bahwa makruh hukumnya puasa syak jika diniatkan puasa Ramadhan (Alauddin al-Mardawi al-Hanbali, al-Inshaf: 3/ 349).

Riwayat kedua menyebutkan bahwa ketika sudah masuk tanggal 29 Sya’ban maka wajib rukyat hilal, jika hari cerah dan tidak terlihat hilal maka tidak berpuasa. Tetapi jika hari sedang mendung, maka wajib berpuasa dengan niat Ramadhan (Manshur bin Yunus al-Buhuti al-Hanbali, Kasyafu al-Qina’: 2/ 301).

Jadi, jumhur ulama lebih memilih ketidak bolehan puasa hari syak dengan niat puasa Ramadhan demi kehati-hatian. Hal ini, lebih sesuai dengan hadits-hadits yang telah disebutkan diatas.

Kedua, puasa hari syak tidak dengan niat Ramadhan. Jumhur ulama menyebutkan bahwa boleh hukumnya puasa hari syak jika memang seorang itu sudah terbiasa puasa sunnah sebelumnya, misalnya puasa senin-kamis, termasuk juga puasa karena qadha’ atau karena nadzar. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah diatas.

Menurut hemat penulis, jika memang masih ragu sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, mending mengikuti saja yang meyakinkan. Itulah yang difatwakan oleh kebanyakan ulama dari salaf sampai khalaf.

waAllahu a’lam bis shawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.625 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.867 views
Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 5.711 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 4.807 views
Antara Fatwa dan Taqwa
Aini Aryani, Lc | 16 June 2014, 06:52 | 4.403 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 December 2016, 09:58 | 2.272 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 September 2016, 16:17 | 1.402 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 March 2016, 11:31 | 2.387 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 November 2015, 20:20 | 4.217 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 22 October 2015, 17:26 | 2.939 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc., MA | 15 October 2015, 13:54 | 3.609 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc., MA | 3 September 2015, 12:01 | 24.931 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 August 2015, 10:00 | 5.609 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 June 2015, 11:00 | 5.083 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 5.242 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 5.371 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 June 2015, 12:41 | 4.273 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 May 2015, 17:00 | 5.028 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 6.163 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 5.458 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 6.569 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 8.593 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 March 2015, 11:11 | 9.042 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 February 2015, 20:54 | 5.334 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 February 2015, 20:21 | 8.426 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 4 February 2015, 19:31 | 9.381 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 January 2015, 06:46 | 5.664 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 6.106 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.746 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 August 2014, 15:49 | 4.693 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 July 2014, 08:18 | 9.042 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 July 2014, 21:32 | 5.999 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 June 2014, 00:57 | 4.097 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 May 2014, 00:00 | 4.300 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 7 May 2014, 11:05 | 4.185 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 April 2014, 12:20 | 6.671 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 April 2014, 18:00 | 6.761 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 April 2014, 22:32 | 4.772 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 3.948 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 12 March 2014, 06:55 | 5.819 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 February 2014, 06:00 | 5.153 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 26 February 2014, 12:00 | 5.819 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 19 February 2014, 01:01 | 5.544 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 February 2014, 15:00 | 4.092 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 January 2014, 07:28 | 5.755 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 January 2014, 12:23 | 5.059 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 January 2014, 05:45 | 9.957 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 14:38 | 4.355 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 11:37 | 5.065 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 August 2013, 07:32 | 10.458 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 August 2013, 15:35 | 24.111 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 June 2013, 03:03 | 7.037 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 May 2013, 20:02 | 6.076 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 April 2013, 00:45 | 6.432 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 April 2013, 15:12 | 5.708 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 April 2013, 07:04 | 5.514 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 February 2013, 16:45 | 9.923 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan