Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1) | rumahfiqih.com

Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)

Dr. Isnan Ansory, Lc, MA Sun 27 July 2014 21:58 | 19334 views

Bagikan via

Fenomena berzakat di Bulan Ramadhan bagi masyarakat muslim di Indonesia, tampaknya sebagai sebuah hal yang mentradisi. Tak lain sebabnya karena memang pada bulan ini, selain diwajibkan untuk berpuasa, namun ada pula kewajiban lainnya yaitu menunaikan zakat fitrah.

Hanya saja, menurut pengamatan penulis, timbul sebuah kekeliruan dalam memahami konsep zakat yang hendak ditunaikan. Sebagian muslim memahami bahwa zakat yang ditunaikan berupa zakat fitrah merupakan kewajiban zakat yang banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan sering disandingkan dengan kewajiban shalat lima waktu dan menjadi salah satu dari rukun Islam yang lima.

Namun karena salah memahami hakikat zakat yang pada masa khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq orang-orang yang menolak membayarkannya diperangi, mereka merasa cukup hanya dengan membayar zakat fitrah yang hanya 2,5 kg beras per jiwa.

Dan hal itu diyakini sebagai satu-satunya kewajiban zakat yang diwajibkan dalam agama atas mereka. Padahal kewajiban seorang muslim yang mampu terkait dengan harta yang wajib ditunaikan zakatnya mencakup dua jenis zakat; zakat maal (zakat atas harta yang memenuhi kriteria untuk dikeluarkan zakatnya) dan zakat fitrah (zakat atas setiap jiwa).

Beberapa Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah

Berikut beberapa perbedaan antara zakat maal dan zakat fitrah serta beberapa ketentuan fiqih terkait keduanya:

Pertama: Dari sisi pengertian dan sebab penamaan

Dari sisi pengertian etimologis, zakat maal menurut para ulama adalah setiap harta yang berdasarkan kriteria tertentu wajib dikeluarkan zakatnya.

Meskipun para ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang berbeda, namun setidaknya dapat disimpulkan bahwa mereka sepakat dari sisi penamaan zakat ini dengan zakat maal, yaitu terkait dengan jenis-jenis harta (maal) yang wajib dikeluarkan jika telah memenuhi syarat-syaratnya kepada yang berhak.

Sedangkan pengertian zakat fitrah menurut istilah adalah ”Sedekah yang diwajibkan berkenaan dengan berbuka (al fithr) dari Ramadhan.” 

Dari definisi zakat maal dan zakat fitrah di atas dapat disimpulkan bahwa kedua jenis zakat tersebut memiliki definisi yang berbeda karena disebabkan latar belakang dikeluarkannya kedua zakat tersebut. Jika zakat maal dikeluarkan zakatnya dikarenakan adanya harta yang telah ditentukan syariat jenis-jenis serta batasan-batasannya.

Sedangkan zakat fitrah dikeluarkan karena menandai berakhirnya ibadah puasa ramadhan dengan berbuka (ifthar) darinya.

Kedua: Dari sisi dalil pensyariatan

Kewajiban zakat maal telah ditetapkan oleh Al Quran, As-Sunnah dan juga ijma’ seluruh umat Islam. Al Quran dan As Sunnah meyebut kewajiban ini dengan beberapa istilah seperti, zakat, shadaqah, al haqq, an nafaqah, dan al ’afwu. Di antaranya firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW berikut:

وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتُواالزَّكَاةَ

Kerjakanlah shalat dan tunaikanlah zakat “ (QS. Al-Baqarah : 43)

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.? ” (QS. At-Taubah :103).

وَآتُوْا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari panennya.” (QS.Al-An'am : 141)

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ...مِنْهَا إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ

Islam ditegakkan di atas lima pijakan, (salah satunya) adalah menunaikan zakat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

أَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلىَ فُقَرَائِهِمْ

Beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan mereka mengeluarkan shadaqah (zakat) dari sebagian harta mereka.” (HR. Bukhari)

Dan jenis zakat inilah yang dalam sejaranya pernah ditolak oleh beberapa kabilah Arab pasca wafatnya Rasulullah SAW hingga akhirnya para shahabat Nabi sepakat untuk memerangi mereka, sebagaimana dialog antara Abu Bakar RA dan Umar RA berikut:

وَاَللَّهِ لأَقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ المـال. وَاَللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُول اللَّهِ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا. قَال عُمَرُ: فَوَاَللَّهِ مَا هُوَ إِلاَّ أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ.

”Demi Allah, aku pasti memerangi mereka yang membedakan antara shalat dan zakat. Sebab zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka menolak membayar seekor kambing muda yang dahulu pernah dibayarkannya kepada Rasulullah SAW, pastilah aku perangi”. Umar radhiyallahu anhu berkata,"Demi Allah, sungguh Allah telah melapangkan dada Abu Bakar radhiyallahuanhu, maka barulah aku tahu bahwa hal itu memang benar.” (HR. Bukhari Muslim Abu Daud Tirmizi Nasai Ahmad).

Sedangkan dalil pensyariatan zakat fitrah umumnya berasalkan dari sabda Rasulullah SAW. Di mana secara khusus nabi menyebutnya dengan istilah zakat fitrah. Sebagaimana perkataan Ibnu Umar RA berikut:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ زَكَاةَ الفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلىَ الناَّسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلىَ كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ المـسْلِمِين

Rasulullah SAW memfardhukan zakat fithrah bulan Ramadhan kepada manusia sebesar satu shaa' kurma atau sya'ir, yaitu kepada setiap orang merdeka, budak, laki-laki dan perempuan dari orang-orang muslim.” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah dari Ibnu Umar RA).

أَدُّوا عَنْ كُل حُرٍّ وَعَبْدٍ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ شَعِيرٍ

Bayarkan untuk tiap-tiap orang yang merdeka, hamba, anak kecil atau orang tua berupa setengah sha' burr, atau satu sha' kurma atau tepung sya'ir .” (HR. Ad-Daruquthni).

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُول اللَّهِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْصَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ فَلاَ أَزَال أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ

Kami mengeluarkan zakat fithr ketika dahulu Rasulullah bersama kami sebanyak satu shaa' tha'aam (hinthah),atau satu shaa' kurma, atau satu shaa' sya'ir, atau satu shaa' zabib, atau satushaa' aqith. Dan aku terus mengeluarkan zakat fithr sedemikian itu selama hidupku" . (HR. Jamaah dari Abi Said Al-Khudhri RA).

Ketiga: Dari sisi hukum taklifi

Tidak ada perbedaan di antara ulama terkait hukum zakat maal. Di mana zakat ini merupakan salah satu rukun Islam yang lima yang diwajibkan atas setiap kaum muslimin yang telah memenuhi syarat-syaratnya.

Sedangkan untuk zakat fitrah, ulama berbeda pendapat tentang kewajiban zakat jenis ini. Jumhur ulama sepakat mengatakan bahwa hukum melaksanakan zakat fitrah ini adalah fardhu.

Dan yang dimaksud dengan fardhu menurut para ulama adalah sesuatu yang hukumnya wajib untuk dikerjakan, dimana apabila ada orang yang meninggalkan kewajiban itu maka dia berdosa dan diancam siksa yang keras di neraka.

Namun pandangan mazhab Al Hanafiyah agak sedikit berbeda. Mazhab ini mengatakan bahwa hukumnya bukan fardhu melainkan wajib. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam istilah mazhab Al-Hanafiyah, antara fardhu dan wajib terdapat perbedaan.

Fardhu adalah sesuatu yang diperintahkan Allah SWT dengan dalil yang qath'i, sedangkan wajib adalah sesuatu yang diperintahkan Allah SWT namun dengan dalil yang zhanni.

Namun pada hakikatnya tidak ada perbedaan yang asasi antara pendapat mazhab Al Hanafiyah dengan pendapat jumhur, bahkan zakat fitrah itu memang wajib atau fardhu untuk dikerjakan. Hanya saja ulama menyatakan bahwa orang-orang yang menolak sebuah kewajiban yang didasari dalil yang qath’i maka label kafir dapat disematkan pada mereka sedangkan kewajiban yang didasari dalil dzanni tidak demikian.

Selain itu, terdapat pendapat yang kurang masyhur dari kalangan Al Malikiyyah yang menyatakan bahwa hukumnya sunnah mu’akkadah. Namun pendapat ini dianggap sangat lemah oleh Ad Dasuqi Al Maliki.

Keempat: Dari sisi hikmah pensyariatan

Umumnya hikmah-hikmah zakat yang disimpulkan ulama masa lalu maupun ulama kontemporer dari dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah ataupun pengalaman, pengamatan dan penelitian mereka berkisar hikmah-hikmah terkait zakat maal. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah:

- Membentengi dan menjaga harta. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Bentengi harta-harta kalian dengan zakat.” (HR. At Thabarani) dan sabdanya, “Tidaklah musnah harta yang ada di daratan atau di lautan kecuali oleh sebab tidak dikeluarkan zakatnya.”(HR. At-Thabarani)

- Menyembuhkan penyakit. Sebagaimana sabda Nabi SAW, ”Sembuhkan orang sakit di antara kalian dengan bersedekah.” (HR. At-Thabarani)

- Menggandakan harta dan pahala. Sebagaiman firman Allah SWT, ” Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan pahalanya .” (QS.Ar-Ruum: 38-39). “ Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Thalaq : 2-3). ” Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Al-Baqarah: 261). “ Dan perumpamaan orang-orang yangmembelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat .” (QS.Al-Baqarah : 265)

- Mensucikan jiwa. Sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, ” Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan diri mereka.” (QS. At-Taubah :103).

- Mencegah bencana. Sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat kecuali Allah memberi bencana dengan kelaparan dan kekeringan”. (HR. At Thabarani).” Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat kecuali Allah menahan turunnya hujan.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi). ” Tidaklah orang-orang menolak membayar zakat kecuali dicegah dari air hujan dari langit. Kalaulah bukan karena hewan-hewan, maka tidak akan diberi hujan. ” (HR. Ibnu Majah,Al-Baihaqi dan Al-Hakim)
- Ungkapan syukur.

Sedangkan untuk hikmah zakat fitrah, hal ini agak berbeda. Di mana secara khusus dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW secara gamblang menyebutkan hikmah dan tujuan dari pensyariatan zakat fitrah, yaitu sebagai pensuci orang-orang yang berpuasa dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa mereka serta sebagai sarana menghadirkan kegembiraan pada hati orang-prang miskin pada hari ied fitri hingga mereka tidak meminta-minta pada saat itu.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Daud dari Ibnu Abbas, ia berkata:

فَرَضَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ، طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْل الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Rasulullah SAW memfardhukan zakat fitrah sebagai pensuci orang-orang yang berpuasa dari perbuatan-perbuatan tak bermanfaat dan perkataan yang jelek (saat berpuasa), serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang membayarnya sebelum terlaksananya shalat ied maka itu merupakan zakat yang diterima sedangkan barang siapa yang membayarnya setelah terlaksananya shalat ied maka itu merupakan salah satu dari shadaqah sunnah .” (HR. Abu Daud).

Kelima: Dari sisi waktu pelaksanaan

Dari sisi waktu mengeluarkan zakat maal maka dikenal istilah haul dan waqtul hashad. Haul secara bahasa artinya satu tahun. Terkait dengan zakat, ulama sepakat bahwa haul merupakan salah satu syarat diwajibkannya mengeluarkan zakat yang telah mencapai nishabnya untuk jenis zakat binatang ternak, emas, perak, dan barang dagangan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW,

"Tidak ada zakat atas harta sehingga mencapai satu haul/tahun” (HR. Ibnu Majah dari Aisyah RA).

Sedangkan untuk jenis zakat pertanian maka tidak disyaratkan adanya haul namun zakat jenis ini dikeluarkan sejak waktul hashad atau masa penen berdasarkan firman Allah SWT, ” 

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma,tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa dan tidak sama. Makanlah dari buahnya bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya; dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan .” (QS. Al-An'am : 141).

Demikian pula jenis zakat ma’din dan rikaz.

Adapun zakat fitrah maka tidak dikenal kedua istilah tersebut. Dan sesuai dengan namanya, maka zakat fitrah dikeluarkan pada hari fithr, yaitu hari lebaran atau Hari Raya Idul Fithri, pada tanggal 1 Syawwal. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, “Cukupkan bagi mereka di hari ini”. (HR. Ad-Daruquthny).

--- bersambung ---

Isnan Ansory, Lc., M.Ag

Peneliti dan Dosen Rumah Fiqih Indonesia (RFI) Jakarta

085213868653

Bagikan via


Baca Lainnya :

Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 5.542 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.122 views
Kenapa Sahabat Melakukan Dosa, Padahal Mereka Generasi Terbaik?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2014, 05:40 | 6.804 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.412 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.141 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 578 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 2.583 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 2.517 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 3.425 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.140 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.209 views
Kembalilah Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 3.838 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 4.735 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 19.334 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.324 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.019 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.018 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 5.563 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 5.702 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.175 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 3.864 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.082 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 3.553 views
Tingkatan Fuqaha'
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 3.465 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.143 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 3.811 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 9.359 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 4.899 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 5.677 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 9.064 views
Fiqih Islami
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 3.700 views