Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali | rumahfiqih.com

Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali

Sutomo Abu Nashr, Lc Wed 3 September 2014 03:33 | 3518 views

Bagikan via

Tidak ada yang menyangkal bahwa Imam Ahmad adalah salah satu Imam besar dalam dunia fiqih Islam. Guru beliau yang sangat dihormatinya dan juga termasuk salah satu Imam dalam empat madzhab bahkan telah memberikan kesaksian, “… dia juga adalah Imam dalam Fiqih, …”
 
Hanya saja beliau sangat amat sedikit menulis kitab-kitab fiqih. Hal ini disebabkan karena Imam Ahmad sendiri sangat tidak suka membukukan fiqihnya. Beliau hanya ingin membukukan riwayat-riwayat haditsnya.
 
Hal inilah yang memicu beberapa fuqaha di beberapa wilayah seperti Mesir, Andalus, dan lain-lain hanya  memasukkan beliau dalam kelompok Ahlul Hadits. Namun, dengan semakin kaya turats fiqihnya sekaligus semakin meluas penyebaran madzhabnya, tidak ada lagi kemudian yang menolak ketokohan beliau dalam dunia fiqih.
 
Meskipun demikian, riwayat-riwayat tentang fiqih dan fatwa beliau telah mencapai sekitar enam puluh ribu masalah. Itupun terhimpun dalam bentuk riwayat. Karena kebanyakan jawaban fiqih beliau adalah jawaban fiqih yang pernah beliau dengar dari para fuqaha sebelumnya. Himpunan besar inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya kitab-kitab fiqih madzhab hanbali yang kemudian berkembang hingga menjadi madzhab fiqih keempat dalam urutan  fiqih empat madzhab besar.

Berawal dari Pelarian

Dalam turats fiqih Hanbali, kita tidak akan pernah melupakan sebuah madrasah fiqih bonafit di zamannya. Madrasah fiqih yang pendirinya sekaligus sebagian besar peserta didiknya adalah imigran dari Al Quds atau Baitul Maqdis ini, terletak di wilayah Damaskus. Maka para alumninya kemudian seringkali dinisbatkan kepada dua tempat penting tersebut; Maqdisi tsumma Dimasyqi. Maqdisi merujuk kepada nisbat kota asalnya, dan Dimasyqi merujuk kepada tempat tinggal atau menetapnya.

Imigrasi keluarga Baitul Maqdis atau tepatnya wilayah Jamail (dekat Naplus) ini adalah sebuah keputusan besar karena adanya ancaman pembunuhan tentara salib atas seorang ulama dari keluarga tersebut yang dikenal istiqamah dan cukup berpengaruh di Jamail. Syaikh Ahmad, begitu sang ulama populer dan akrab dipanggil jama’ahnya.

Atas saran dari beberapa pihak untuk mengungsi, dipilhlah kota Damaskus sebagai destinasi persembunyian. Alasannya, karena kota Damaskus memiliki tempat tersendiri dalam hati orang-orang Naplus. Bahkan mereka menyebut Naplus sebagai Damaskus Kecil. Berangkatlah kemudian Syaikh Ahmad kesana beserta dengan dua orang kerabat yang menemaninya.

Dalam perjalanan menuju Damaskus, sebuah surat datang menyusuli mereka yang menyarankan agar seluruh keluarga mereka dibawa serta. Akhirnya mereka kembali untuk kemudian berangkat lagi bersama seluruh keluarganya secara diam-diam agar jangan sampai pelarian mereka terendus oleh para tentara salibis.

Di Masjid Abu Shalih, Damaskus

Setelah melalui masa-masa sulit dalam pelarian mencekam menghindari mata-mata salibis dan juga para rampok jalanan dengan melewati rute yang berat, akhirnya mereka sampai juga di Damaskus menjelang malam sebelum pintu-pintu warga Damaskus menutup. Perjalanan mencekam di bulan syawal yang harus melewati sungai Yordania itu mereka tempuh dalam waktu sekitar delapan hari.

Di Damaskus, masjid Abu Shalih lah yang kemudian menjadi tempat mereka menumpang. Karena Abu Shalih sebagai sang Imam, memiliki kedekatan dengan keluarga tersebut. Kedekatan itu disebabkan kesamaan mereka dalam menganut madzhab fiqih Hanbali. Karena kedekatan ini pula kemudian Syaikh Ahmad didaulat menjadi Imam masjid dan memberikan kajian-kajian di dalamnya.

Semakin hari nama Syaikh Ahmad semakin populer saja, sebagaimana dulu saat beliau berada di Jamail. Kemudian semakin bertambah dan membludak saja para penuntut ilmu yang sengaja datang kedalam majlis ilmunya. Namun Syaikh Ahmad tidak lama di sekitar masjid ini. Beberapa konflik dengan sejumlah oknum yang iri dan dengki atas popularitas Syaikh Ahmad, membuat beliau kemudian merasa harus pindah ke suatu tempat.

Pindah ke Gunung Qosiyun

Hampir satu tahun Syaikh Ahmad tidak menemukan tempat pindah. Akhirnya sebuah gunung yang jauh dari pinggiran Damaskus dipilih sebagai tempat tinggal. Qosiyun nama gunung itu. Di gunung inilah sebuah kampung baru bagi keluarga Syaikh Ahmad dibangun dengan susah payah. Mereka harus berjalan jauh dan naik turun mengangkut semua bahan bangunan dari Damaskus.

Setelah terbangun, di kampung baru ini beliau mulai kembali mengajar. Dan kembali pula popularitas yang biasa beliau sandang. Setelah tujuh tahun menjalankan aktivitas dakwah di gunung tersebut, akhirnya beliau wafat dalam usia enam puluh tujuh tahun.

Sepeninggal Syaikh Ahmad, putra sulung beliau yang dikenal sebagai Abu Umar, menggantikan posisi sebagai pengajar dan pengasuh masyarakat. Di tangan Abu Umar, pendidikan semakin maju. Beliau mendirikan sebuah madrasah Umariyah. Anak-anak muda banyak yang dikirim ke kota besar pendidikan pada zaman itu; Baghdad. Untuk kemudian kembali lagi ke madrasah Umariyah dengan membawa oleh-oleh intelektual.

Mudik ke Al Quds

Setelah hampir tiga puluhan tahun meninggalkan Al Quds atau Baitul Maqdis, Abu Umar beserta banyak sekali saudara-saudaranya berkesempatan mudik ke kampung halamannya. Kesempatan mudik tersebut diperoleh pada saat tentara kaum muslimin dibawah pimpinan Solahuddin Al Ayyubi berangkat menuju Al Quds untuk membebaskannya dari tangan kaum salibis.

Sepulangnya dari perang pembebasan Al Quds tersebut, pendidikan di wilayah gunung Qosiyun semakin maju. Masjid demi masjid kemudian dibangun. Demikian juga madrasah demi madrasah. Beragam madrasah baru inilah yang kemudian dikenal dalam turats fiqih Hanbali sebagai Madrasah As Shalihiyyah.

Asal Muasal Nama As Shalihiyyah

Nama As Shalihiyyah pernah ditanyakan oleh seseorang kepada Abu Umar tentang asal muasalnya. Beliau selalu menjawab bahwa hal itu karena, “dulu kami pertama kali singgah di damaskus adalah di masjidnya Abu Shalih”.

Namun menurut sejarawan dan juga faqih besar Damaskus, Abu Syamah Al Maqdisi, nama As Shalihiyyah adalah karena mereka terutama para guru-gurunya merupakan orang-orang shalih. Menurut Abu Syamah, jawaban Abu Umar hanyalah bentuk ketawadhuan seorang ulama yang salih.

Warisan Intelektual Madrasah As Shalihiyyah

Dari madrasah besar madzhab Hanbali inilah lahir banyak sekali para fuqaha. Diantara para fuqaha itu selain Syaikh Ahmad sang pendiri, Abu Umar sang penerus, kemudian Abdullah adik dari Abu Umar, Abdurrahman putra dari Abu Umar, dan masih banyak lagi keluarga mereka yang menjadi alumni-alumni terbaik madrasah As Shalihiyyah. Seperti Abdul Ghani, Bahauddin, Dhiyauudin, Syamsuddin, dan lain-lain yang populer dengan nisbat Al Maqdisi.

Dan mereka semua adalah keluarga Bani Qudamah. Syaikh Ahmad sang pendiri bernama lengkap Ahmad ibn Muhammad ibn Qudamah. Anak sulung beliau yang dikenal Abu Umar bernama Muhammad ibn Ahmad. Adiknya Abu Umar bernama Abdullah ibn Ahmad.

Adik beliau inilah yang paling besar andilnya dalam memperkaya turats fiqih Hanbali. Beliaulah Mufawwaquddin yang jika nama Ibnu Qudamah disebutkan, maka dialah yang spontanitas dipahami banyak orang. Beliaulah pengarang al Mughni, Al Umdah, Al Muqni’, Al Kafi yang disyarah oleh banyak sekali ulama madzhab Hanbali. 

Dan salah satu penulis syarah dari Al Muqni adalah keponakan beliau sendiri, putra dari Abu Umar yaitu Abdurrahman. Karya Abdurrahman yang dikenal dengan As Syarh Al Kabir ini, boleh disebut sebagai pelengkap Al Mughni.

Dan demikinlah terus menerus hingga beberapa generasi, Bani Qudamah senantiasa meretas para fuqaha yang melahirkan banyak sekali karya-karya penting dalam jagad fiqih hanbali.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 7.339 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.381 views
Kembalilah Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.186 views
Kawin Paksa, Masih Zaman?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 August 2014, 04:53 | 4.094 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 6.893 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 673 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.358 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 3.165 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.413 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.805 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 3.047 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 7.277 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.695 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 4.095 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.518 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 4.152 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 4.032 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 3.787 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.606 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 4.083 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 4.330 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.947 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 7.430 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 4.027 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 7.277 views