Menulis Fiqih | rumahfiqih.com

Menulis Fiqih

Sutomo Abu Nashr, Lc Sat 6 September 2014 06:18 | 3922 views

Bagikan via

MAU tidak mau, harus diakui bahwa hingga hari ini masih terdapat adanya kesenjangan cukup lebar dan sudah terjadi lumayan lama antara Islam dalam ruang idealita kitab-kitabnya, dengan Islam dalam tampilan realita kaum musliminnya. Karenanya, banyak sekali para muallaf di Eropa maupun Amerika yang tersihir oleh Islam tersebab pembacaan mereka terhadap sumber-sumber asli Islam.

Mereka inilah yang menyadari bahwa Islam sebenarnya memang betul-betul indah, meski tampilan sebagian para pemeluknya cukup tidak ramah bahkan ada juga yang tingkah polahnya membuat dunia global resah. Dalam salah satu tulisannya, Dr. Yusuf Al Qaradhawi pernah berkisah tentang masuk Islamnya seseorang di Eropa. Setelah masuk Islam dan melihat tingkah sekian jumlah oknum muslim, dia sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memperkenalkan kepadanya Islam terlebih dahulu sebelum dia berkenalan dengan kaum muslimin.

Mentari keindahan Islam yang kemarin lalu itu pernah cukup lama bersinar terang, hingga kini masih terkubur tenang dalam liang kitab-kitab. Ia belum terbangun dan keluar untuk mewujud nyata dalam anggunnya akhlak dan majunya adab. Telah jamak diketahui bahwa hal ini merupakan salah satu problematika serius yang sudah sering dikaji, menjadi objek dan tema diskusi, akar masalahnya diteliti, namun hingga hari ini agaknya belum juga membuahkan solusi pasti.

Malah yang yang kita dapati adalah sikap saling menyalahkan dan perdebatan tak kunjung henti oleh mereka yang -kalau mau mawas diri- sebenarnya sama sekali bukan orang-orang ahli. Benar sekali peringatan sang Nabi, jika suatu urusan telah dipegang oleh mereka yang tak ahli, maka selanjutnya kemudian tinggal lah menunggu masa kehancurannya nanti.

Problematika Kita


Tulisan ini sama sekali tidak sedang mengesampingkan dan melupakan banyak pihak yang telah cukup keras dan sangat sabar berupaya memerangi kesenjangan diatas. Kita harus bersyukur atas masih adanya para ulama yang dengan ikhlas, tanpa mengenal rasa bosan, melupakan lelah, untuk terus senantiasa mengingatkan orang-orang lupa.

Inilah salah satu bentuk problematika kita. Kita masih sering lupa -atau bahkan melupakan- ajaran-ajaran mulia yang bersumber dari kitab-kitab itu. Dengan menyadari bahwa kita adalah para pelupa, semoga membuat kita selalu rajin membuka telinga untuk mendengarkan dengan seksama nasihat para guru dan ulama.
Problematika yang lainnya adalah masih susahnya akses untuk memahami ajaran kitab-kitab itu agar mudah dicerna.

Padahal agar ajaran mulia dalam kitab-kitab itu bisa diamalkan dengan baik, ia lebih dahulu harus bisa dipahami dengan benar. Berbahasa arab, terlalu banyak istilah, selalu ada perbedaan pendapat, kasus-kasus masa lalu yang susah dideskripsikan dan lain-lain adalah contoh-contoh masalah yang menjadi tantangan para ahli untuk bisa membahasakannya secara mudah dan sederhana.

Untuk ikut sedikit berkontribusi dan menyumbang sedikit solusi dalam hal ini, para akademisi perlu bergerak secara aktif dalam sebuah tradisi mulia; menulis fiqih. Mengapa fiqih? Karena kitab-kitab diatas tadi adalah cerminan peradaban besar Islam yang secara kuantitas, disiplin ilmu fiqih memiliki porsi yang paling besar di dalamnya.

Disamping itu, selain fiqihlah yang tantangannya paling kompleks, hanya fiqih pula yang dunia teori dan juga praktisnya paling bersentuhan dengan kehidupan nyata para hamba. Adapun disiplin ilmu lain, rata-rata berbagai dirkusus seru yang ada di dalamnya hanya malang melintang di arus lalu lintas para ahlinya. Dan dalam porsi yang masih amat sedikit, kaum muslimin lainnya yang jumlahnya lebih besar hanya cukup menikmati berbagai disiplin ilmu itu dalam sajian matangnya saja.

Sedangkan fiqih, secara merata terjadi di depan mata kita semua. Fiqih adalah ilmu yang memberi tahu kita bahwa amal-amal ibadah keseharian kita adalah sah. Dan fiqih merupakan buku panduan yang menjelaskan mana menu-menu sunnah, makruh, mubah, wajib dan haram dalam kehidupan insan beriman agar ia tak salah pilih jalan. 

Menulis, Sebuah Aktivitas Qur’ani

Sebelum turunnya Al Qur’an sebagai kitab suci yang memberi penerang, orang-orang arab di masa itu dikenal dengan ummat ummiyah; kaum yang tak kenal membaca apalagi menulis. Dan pasca datangnya Islam dengan Al Qur’an sebagai kitab sucinya, kaum tadi tiba-tiba berubah. Dari mereka lahirlah kemudian para pencatat Al Qur’an dan para pencatat hadits. Seiring berjalannya waktu, Islam semakin menyebar dan begitu juga dengan pengaruh kitab sucinya yang secara harfiah namanya bisa kita maknai sebagai bacaan.

Salah satu bentuk pengaruh dari bacaan suci itu adalah tumbuh suburnya aktifitas ilmiah baik berupa diskusi dan talaqqi maupun membaca, menghafal dan menulis yang kemudian membuahkan kekayaan intelektual yang terwariskan secara turun temurun hingga hari ini.

Aktivitas tulis-menulis yang buahnya sudah bisa kita saksikan sendiri hari ini adalah salah satu bentuk perwujudan amal terhadap apa yang sudah diisyaratkan Al Qur’an Al Karim. Allah SWT dalam salah satu surat di Al Qur’an pernah bersumpah dengan suatu alat tulis yang kita kenal dengan pena. Dan sudah kita ketahui bahwa jika Allah SWT bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, maka hal tersebut -salah satunya- menunjukkan tentang betapa mulia dan pentingnya makhluk tersebut. Demikian halnya dengan pena. Bahkan lebih dari itu, sumpah dengan pena itu malah diabadikan dalam sebuah surat yang dinamai Surat Pena (Al Qalam).

Kalau pena adalah alat untuk menulisnya, maka di surat yang lain Allah SWT juga bersumpah dengan sarana dimana hasil goresan pena itu bisa kita baca. Allah SWT dalam surat At Thur ayat dua bersumpah dengan sebuah kitab.  Kitab yang tertulis. Dan sebelum itu semua, ayat yang paling awal sekali turun adalah perintah untuk membaca. Meski membaca bisa ditafsirkan dengan berbagai bentuk penafsiran, namun hal yang secara spontanitas kita pahami dari makna kata membaca adalah membaca sesuatu yang sudah tertulis.

Dengan isyarat-isyarat mulia Al Qur’an inilah ummat yang buta huruf tadi secara drastis berubah menjadi umat berperadaban besar. Langkah awal dari perubahan besar itu adalah dengan memerangi buta huruf. Maka salah satu bentuk penebusan tawanan perang Badar yang disyaratkan oleh Rasulullah SAW adalah masing-masing tawanan yang bisa membaca dan menulis harus mengajarkan tulis menulis kepada sepuluh anak kaum muslimin.  

Menulis Fiqih, Tradisi Salaf Hingga Hari Ini

Langkah cerdas Rasulullah SAW itu kemudian melahirkan para penulis wahyu. Pada awalnya hanya Al Qur’an yang boleh ditulis. Dan pada langkah selanjutnya hadits-hadits beliau juga mulai diizinkan untuk ditulis. Izin itu keluar secara jelas dari lisan mulia Rasulullah SAW kepada salah satu periwayat hadits terbanyak dari kalangan sahabat; Abdullah ibn Amr ibn ‘Ash, salah satu ‘Abadillah yang empat. Maka dari sahabat mulia ini lahirlah kemudian sebuah sahifah yang dikenal dengan As Sahifah As Shadiqah.

Apa yang ditulis oleh Abdullah ibn Amr tentu saja tidak hanya berkaitan dengan fiqih. Sedangkan catatan-catatan para sahabat yang terkait fiqih memang cukup sedikit. Yang bisa kita dapati dalam beberapa riwayat misalnya adalah catatan Amr ibn Hazm tentang zakat, diyat, faraidh dan lain-lain. Ali Ibn Abi Thalib sebagai sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW yang semenjak kecil bersama beliau ini juga memiliki sebuah catatan dalam fiqih. Catatan beliau ini isinya seputar tawanan dan pembebasan budak serta tidak bolehnya seorang muslim diqishas karena membunuh orang kafir.

Contoh-contoh tersebut adalah penulisan fiqih dalam bentuknya yang paling sederhana. Penulisan fiqih dalam bentuknya yang bisa disebut sebagai kodifikasi fiqih barulah bisa kita dapati di masa munculnya para Imam Madzhab. Seperti yang tercatat dalam sejarah, pada pada masa-masa awal abbasiyah para mujtahid tersebut sudah mulai menuliskan ijtihad-ijtihad fiqihnya dalam bentuk buku.

Tradisi tulis menulis fiqih ini terus berlanjut hingga berabad-abad lamanya sampai hari ini. Di zaman keemasannya, penulisan fiqih kemudian berkembang semakin sistematis. Sudah mulai muncul katagori-kategori penulisan fiqih seperti Fiqih madzhabi, Fiqih Muqaran, Fiqih Maudhu’i termasuk juga himpunan fatawa para ulama.

Dan itu semua membuat Islam memiliki kekayaan peradaban yang luar biasa. Untuk disiplin ilmu fiqih saja, para ulama tahqiq kita baru bisa meneliti manuskrip-manuskripnya sekitar tujuh persen saja. Itu belum termasuk karya-karya para ulama yang sempat dibakar di kota perdaban Abbasiyah zaman itu; Baghdad. Tentu hal ini menjadi PR bagi kita semua untuk bisa menjaga dan memanfaatkan warisan para ulama kita dengan sebaik-baiknya.

Menulis Fiqih Hari Ini

Salah satu hal yang perlu kita lakukan dalam rangka menjaga, memanfaatkan dan juga melanjutkan estafet tradisi tulis menulis fiqih ini, adalah dengan juga melakukan aktivitas menulis tersebut. Bentuknya bisa dalam tahqiq manuskrip, memudahkan para pembaca untuk bisa mengenal bahasa turats yang kurang familiar, menjelaskan permasalahan-permasalahan yang sering diributkan dengan ilmiah dan proporsional dan lain-lain.

Sederhananya, tulisan fiqih yang dibutuhkan oleh kaum muslimin zaman kita ini adalah tulisan yang bersifat seperti berikut ini :

1. Tulisannya harus mampu menampilkan fiqih dalam wajahnya yang simple dan mudah. Itulah yang dilakukan oleh para fuqaha kita terlebih dahulu. Untuk mempermudah agar matan kitab fiqih itu diapahami, mereka menuliskan syarahnya. Jika di dalam syarah ada hal-hal yang masih rumit, mereka pecahkan masalah itu dengan menuliskan hasyiyah. Sehingga hilanglah masalah. Sebaliknya jika sebuah kitab syarah penting dan bagus terlihat terlalu tebal untuk dihafal atau diulang-ulang, maka mereka menuliskan ringkasannya atau kitab mukhtashar. Itulah upaya ulama salaf dalam menampilkan fiqih dalam wajah yang simpel dan mudah.

Adapun upaya kita dalam membuat fiqih semakin mudah dipahami di zaman ini adalah dengan mengkomunikasikan dan mengkonversikan bahasa, budaya, dan kasus-kasus fiqih klasik yang terjadi di masa lalu itu menjadi bahasa, budaya dan kasus-kasus fiqih yang akrab di mata pembaca fiqih zaman ini. Namun dengan tetap membiarkan orisinalitas fiqihnya masih bisa dikenali. Karena harus tetap kita sadari bahwa fiqih mereka adalah mata rantai dan jembatan yang menghubungkan fiqih kita dengan fiqih Rasulullah SAW. 

2. Menyadarkan bahwa ikhtilaf dalam fiqih itu bukanlah sebuah masalah. Jangan sampai karena adanya ikhtilaf dalam fiqih yang memang merupakan sebuah keniscayaan ilmiah ini, fiqih lagi-lagi dijadikan kambing hitam atas kondisi umat Islam yang leher persatuannya semakin tercekik.

Ikhtilaf dalam fiqih adalah karakteristik fiqih yang justru harus dipandang sebagai kekayaan khazanah Islam yang indah dan bukan masalah yang terus menerus diperdebatkan tanpa henti. Benar sekali apa yang dikatakan oleh Imam Qatadah. Beliau pernah mengatakan, “Siapa yang tidak mengenal ikhtilaf, batang hidungnya belum pernah mencium aroma fiqih”

Itulah yang dilakukan para fuqaha kita dulu dengan menuliskan kitab-kitab tentang Asbab Ikhtilaf fuqaha, Adab ikhtilaf, dan menyikapi ikhtilaf. Termasuk juga penulisan fiqih dalam bentuk fiqih-fiqih muqaran yang secara ilmiah memaparkan pendapat-pendapat lintas madzhab disertai dengan alasan dan juga latar belakang mengapa madzhab tertentu berkesimpulan seperti itu. Hal ini akan membuat pembaca semakin bijak dan cerdas menyikapi berbagai bentuk perbedaan. Terhadap segala hal yang berpeluang berbeda ia tidak akan lagi kagetan.

3. Fiqih harus tampak bukan hanya sebagai teori. Ia tak boleh hanya diupayakan agar berbagai argumentasinya masuk akal namun sama sekali tak bisa masuk hati. Bukan sekedar pengaya wawasan, tanpa stimulan yang membuahkan amalan. Bukan sekedar tumpukkan pengetahuan pemuas syahwat intelektualitas namun tidak bisa menyehatkan dan menyegarkan tubuh spiritualitas.

Lihatlah bagaimana seorang faqih sekaliber Muhammad ibn Al Hasan As Syaibani memandang ilmu fiqih. Dalam kitabnya Al Hawi Al Kabir yang merupakan syarah atas Mukhtashar Al Muzani, Imam Al Mawardi As Syafi’i pernah menuturkan kisah ini.

Sebagai salah satu murid terbaik Imam Hanafi, Muhammad ibn Al Hasan As Syaibani pernah diminta untuk menuliskan satu kitab tentang penyucian hati. Namun beliau malah menjawab permintaan itu dengan mengatakan bahwa dirinya telah menulis satu kitab tentang fiqih muamalah.

Begitulah cara pandang seorang faqih sejati terhadap fiqih. Seorang yang ingin hatinya suci adalah mereka yang dengan teliti dan hati-hati dalam meniti hidup ini agar jangan sampai terjerumus dalam perkara-perkara yang syubhat apalagi yang haram. Dan batas-batas wilayah mubah, syubhat, dan juga haram, hanyalah bisa diketahui dengan ilmu fiqih yang secara detail sudah dijelaskan oleh para fuqaha dalam kitab-kitabnya.  

Tentu saja masih banyak hal yang perlu untuk dikaji lebih lanjut agar bisa menghasilkan tulisan fiqih yang benar-benar bukan saja sesuai tuntutan zaman namun juga bisa menjawab dengan memuaskan segala problematika umat.

Maka untuk menuju itu semua, hari ini kembali lagi Rumah Fiqih Indonesia melanjutkan langkah meretas para penulis yang sejak beberapa tahun terakhir ini -meski masih terseok-seok- langkah demi langkah itu senantiasa terus diayunkan. Dengan peserta program hasil seleksi ketat, menulis menjadi salah satu diantara tiga tradisi utama Kampus Syariah sebagaimana tertera dalam; “KAMPUS SYARIAH RUMAH FIQIH INDONESIA, Berbasis Turats, Tahfidz dan Kepenulisan”.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 4.313 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.749 views
Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 7.671 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 August 2014, 15:49 | 4.693 views
Kembalilah Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.493 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 968 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.618 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 3.400 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.684 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 5.107 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 3.293 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 7.484 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.922 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 4.313 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.749 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 4.415 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 4.273 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 4.060 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.883 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 4.350 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 4.575 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 5.242 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 7.826 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 4.345 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 7.701 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan