Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat | rumahfiqih.com

Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat

Ahmad Sarwat, Lc., MA Sat 8 February 2014 06:04 | 19616 views

Bagikan via

Pernahkah kita mendengar Rasulllah SAW bersedih? Jawabnya tentu pernah dan bukan hanya kejadian sekali.

Pernahkah kita mendengar Rasulullah SAW marah?  Jawabnya tentu pernah dan bukan hanya sekali.

Tetapi pernahkah kita mendengar Rasulullah SAW marah bercampur sedih, sekaligus melaknat dan mendoakan yang jelek-jelek kepada suatu kaum?

Hmm, rasanya kok agak jarang kita dengar ya.

Sebab pribadi Rasulullah SAW sejatinya adalah orang paling berakhlaq mulia. Beliau itu orang yang amat sabar, ramah, mudah memafkan, tidak pendendam dan juga amat santun. Semua itu adalah default sifat-sifat Rasulullah SAW menjadi rahmatan lil alamin.

Namun kadang satu kali dalam lintas kehidupan, yang nama Rasulullah SAW bisa marah juga. Marah yang bercampur dengan rasa duka yang mendalam, bahkan diteruskan dengan menjatuhkan laknat yang amat dahsyat.

Kejadiannya adalah ketika Rasulullah SAW sedih dan marah sekali tatkala mendengar kabar terbunuhnya 70 orang shahabatnya dibunuh. Tujuh puluh shahabat ini memang bukan shahabat biasa, mereka adalah para ulama yang telah beliau SAW bina bertahun-tahun. Belum pernah beliau SAW merasakan kecewa sedalam itu selama ini, sampai reaksinya melaknat dan mendoakan keburukan secara massal kepada suatu kaum.

Boleh dibilang kasus ini sebagai anomali dari sifat-sifat agung yang dimiliki oleh Rasulullah SAW selama ini. Setidaknya, kesan yang selama ini kita dapat dari diri pribadi Rasulullah SAW, agak berbeda dalam kasus ini.

Sebelumnya Rasulullah SAW pernah kehilangan paman dan istri tercinta yang wafat bersamaan di tahun sama . Beliau SAW memang berduka sekali. Sehingga tahun dimana kedua orang tercinta itu wafat disebut dengan tahun duka cita ('amul-huzn). Namun saat itu yang meliputi hati beliau SAW hanya rasa duka saja, tidak dicampur dengan amarah apalagi pakai main laknat segala.

Ketika mendengar pamanda Hamzah bin Abdul Mutthalib gugur di Medan Uhud, Rasulullah SAW nampak berduka. Sehingga beliau SAW nyaris tidak pernah mau memandang wajah Wahsyi, yang telah membunuh pamannya. Bahkan hingga dikabarkan Wahsyi masuk Islam sekalipun. Tetapi lagi-lagi beliau SAW tidak sampai marah besar dan tidak pernah mendoakan hal-hal yang jelek kepada Wahsyi.

Rasulullah SAW juga pernah ditawari oleh malaikat untuk menghancurkan kota Thaif, yaitu ketika penduduk Thaif menyambut kedatangan beliau dengan sambitan dan lemparan batu. Sehingga Rasulullah SAW terpaksa lari pontang-panting menyelamatkan diri, masuk ke sebuah kebun anggur. Saat itulah malaikat menawarkan jasa untuk membalas sakit hati. Tetapi Rasulullah SAW menggelengkan kepala, tanpa tidak setuju.

Tetapi lain dengan kasus yang satu ini. Duka Rasulullah SAW yang amat dalam bercampur dengan amarah yang luar biasa dahsyat, ternyata menyatu sedemikian rupa, sehingga menimbulkan reaksi yang tidak main-main. Sampai sebulan lamanya beliau SAW mendoakan keburukan kepada kaum yang telah dengan tega membunuh para ulama dari kalangan shahabat.

Coba perhatikan lafadz doa Nabi SAW ketika mendoakan keburukan atas mereka :

اَللَّهُمَّ اشْدُدُ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ

Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas (kaum) Mudhar, Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf. (HR. Al-Bukhari)

  اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا وَفُلاَنًا

Ya Allah, laknatlah si fulan, si fulan dan si fulan.

Jarang-jarang kita mendengar doa Rasulullah SAW yang redaksinya sangat menyeramkan itu. Biasanya yang kita tahu, Rasulullah SAW mendoakan agar mereka dapat hidayat dari Allah SWT. Tetapi kasus ini memang agak lain.

Kisahnya dimulai Rasulullah SAW mendengar kabar bahwa ada satu kaum ingin masuk Islam. Dan kabarnya mereka meminta kepada Rasulllah SAW agar beliau mengirim para ulama ahli agama yang akan mengajarkan kaum itu berbagai ilmu agama.

Disebutkan bahwa kaum itu adalah Bani Sulaim yang terdiri dari Kabilah Ri’lin, Hayyan, Dzakwan dan ‘Ushayyah. Mereka pura-pura meminta kepada Rasulullah SAW agar mau mengajarkan mereka tentang Islam, padahal di balik sikap itu ada niat teramat jahat yang disembunyikan.

Tentu Rasulullah SAW berbahagia sekali mendengar kabar ini. Sebab kaum itu bukan sekedar ingin masuk Islam, malah bersedia untuk memperdalam ilmu agama. Terdengar sebagai sebuah kabar yang indah, bukan?

Maka Rasulullah SAW pun mengutus para ulama yang ahli di bidangnya kepada kaum itu. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, sejarah mencatat jumlah mereka mencapai mereka tujuh puluh orang. Tujuh puluh ini terbilang banyak, sebab jumlah ulama terlalu sedikit di masa itu.

Memang nash-nash hadits tidak menyebut istilah ulama saat itu. Sebab memang sebutan untuk para ulama dan ahli syariah di masa itu bukan ulama melainkan qurra’. Sayangnya istilah qurra' ini seringkali diterjemahkan secara harfiyah sebagai para penghafal al-Qur'an.

Seolah-olah dianggap sama saja qurra' di masa Nabi SAW dengan para penghafal quran di masa kita, yaitu mereka yang semata-mata cuma bisa menghafal 30 juz Al-Quran, tetapi tidak tahu makna tiap ayat, tidak mengerti isi kandunganya, tidak paham hukum-hukum syariat dan detail maqashid syariahnya. Bahkan nyaris para penghafal Al-Quran di zaman kita ini sama sekali tidak melek bahasa Arab, baik pasif atau aktif. Mereka memang bisa baca Al-Quran tanpa melihat mushaf, tapi jelas-jelas bukan ulama ahli syariah.

Dan itu 180 derajat berbeda dengan qurra' di masa Nabi SAW. Yang disebut dengan qurra' di masa itu tidak lain adalah mereka yang benar-benar ahli di bidang hukum-hukum syariah, bukan sekedar penghafal Al-Quran semata. Mereka telah melewati berbagai macam pembinaan langsung dari Rasulullah SAW, bahkan jumlah mereka memang amat terbatas. Dengan bahasa kita zaman sekarang, para qurra' itulah ulama ahli syariah yang punya ilmu luas dan mendalam tentang detail-detail hukum syariah.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya yang amat populer, I'lamul Muwaqqi'in menyebutkan bahwa tidak semua shahabat Nabi merupakan para ahli agama dan syariah. Yang merupakan ahli syariah dan mengerti cara melakukan ijtihad dan istimbat hukum jumlahnya amat terbatas, hanya sekitaran 120 orang saja. Sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah total para shahabat yang mencapai 124 ribu orang.

Sebab untuk bisa mencetak mereka bukan perkara yang mudah. Tidak mentang-mentang seorang shahabi itu sering ikut mengaji bersama Nabi SAW, lantas dia dianggap sebagai qurra' atau ahli agama.

Maka kalau sampai Rasulullah SAW mengirim hingga 70-an ulama kepada suatu kaum, berarti ini bukan proyek main-main.

Tetapi apa lacur, sesampainya para ulama kesayangan Nabi SAW di sumur Ma’unah, mereka dibunuh secara kejam semuanya. Pada saat itulah tidak ada kesedihan yang lebih menyedihkan yang menimpa Nabi SAW selain kejadian itu.

Rasa duka yang mendalam serta amarah Rasulullah SAW saat itu boleh jadi sudah sampai puncaknya. Betapa tidak, atas kejadian itu maka kemudian beliau SAW melakukan qunut nazilah, yang intinya mendoakan kehancuran, keburukan dan juga memohon kepada Allah SWT untuk menghujani kaum itu dengan laknat dan kutukan. Doa qunut nazilah ini dilakukan secara berjamaah, diamini oleh seluruh shahabat yang ikut shalat di masjid Nabawi.

Dan dalam sehari doa ini dibaca sampai lima kali, artinya setiap kali shalat, doa mengutuk dan melaknat kaum itu tetap dibaca. Dan nyaris selama satu bulan penuh doa laknat ini tetap dikumandangkan oleh Rasulllah SAW di masjid setiap kali shalat, yang juga diamini oleh semua shahabat.

Bahkan dalam lain riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam qunutnya menyebut-nyebut secara eksplisit nama-nama 'penjahat' yang merupakan pimpinan kaum terlaknat itu.

Semua menunjukkan betapa hati Rasulllah SAW terluka amat dalam. Sebab 70 ulama itu bukan asset yang murah. Mereka adalah para kader inti sejati, yang dibina langsung dengan tangan beliau SAW sendiri.

Kalau kehilangan shahabat yang gugur di medan perang pisik, buat Rasulullah SAW sudah biasa. Perang Badar, Uhud, Khandaq dan seterusnya, adalah perang-perang yang terjadi nyaris secara rutin. Dan dalam tiap perang itu, beliau SAW sudah terbiasa mendengar si fulan dan si fulan dari shahabatnya gugur sebagai syahid.

Tentu Rasulullah SAW bersedih kalau ada shahabat yang gugur di medan jihad. Namun kesedihan beliau SAW tidak seperti sedih dan marah ketika mendengar 70 kader ulama inti dibunuh di sumur Maunah. Sebab nilai para ulama itu memang tidak sama dengan orang awam biasa. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Quran :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran. (QS. Az-Zumar : 9)

Al-Quran sendiri juga memberikan perlakuan khusus kepada para ulama ini. Kalau shahabat yang lain dipersilahkan ikut jihad semaunya, maka para calon ulama ini benar-benar dilindungi. Salah satunya untuk tidak usah ikut jihad ke medan perang.

Semua ini menujukkan bahwa memperdalam ilmu agama jauh lebih penting ketimbang jihad di medan tempur. Oleh karena itulah Al-Quran secara langsung menegur para calon ulama ini, apabila mereka meninggalkan majelis ilmu dan malah ikutan perang.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah : 122)


Bagikan via


Baca Lainnya :

Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 4.018 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 3.931 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.304 views
Ulama Juga Harus Mengerti Sains
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 February 2014, 06:19 | 3.727 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 6.614 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 1.200 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 7.493 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 7.682 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 10.639 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.234 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 6.947 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.322 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 9.739 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 6.785 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 8.762 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 5.744 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.368 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.402 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 5.030 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 8.092 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 15.647 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 3.972 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.420 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 8.835 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.183 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.738 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.474 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.673 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 7.906 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 19.616 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 6.614 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 11.082 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.409 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.221 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.466 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.170 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 5.057 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.262 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 4.908 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 7.017 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 6.750 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.617 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.192 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.328 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.423 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 6.068 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 8.075 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.189 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.403 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 4.144 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 5.864 views