Fiqih Islami | rumahfiqih.com

Fiqih Islami

Dr. Isnan Ansory, Lc, MA Tue 12 March 2013 09:10 | 3647 views

Bagikan via

Telah menjadi pandangan aksiomatik di tengah-tengah umat Islam, bahwa ilmu fiqih merupakan salah satu bagian terpenting dari keseluruhan ajaran Islam.

Dengan ilmu tersebut, seorang muslim dapat mengetahui hal-hal yang halal maupun haram, sehingga ia dapat mengaktualisasikan keislamannya dengan baik, benar, dan sempurna. Bentuk aktualisasi ini lebih dikenal dengan istilah al-wazi ad-diniy.

Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya pengajian-pengajian rutin di berbagai masjid di tanah air, yang lebih menitik-beratkan tema kajiannya pada tema-tema fiqih. Meski kitab-kitab yang dikaji bukanlah kitab fiqih, seperti kitab hadits Riyadhus Shalihin dan kitab Tafsir Ibnu Katsir.

Dan lebih dari itu, jika kita cermati dengan seksama, kita akan dapati bahwa istilah fiqih itu sendiri merupakan terminologi yang sangat identik dengan Islam dan kebudayaan Islam. Hingga dapat dikatakan bahwa fiqih telah menjadi sebuah ilmu layaknya tradisi yang melekat pada ajaran Islam dan umat ini.

Adakah kita pernah mendengar agama lain diluar Islam menggunakan istilah fiqih untuk mengungkapkan ritus-ritus ajaran mereka, terkhusus ritual ibadah?

Baik dalam agama samawi seperti Yahudi dan Nashrani ataupun agama ardhi seperti Budha dan Hindu, kita tidak meneukan istilah fiqih di dalamnya. Kita tidak pernah mendengar istilah fiqih Nasrani, fiqih Yahudi, fiqih Majusi, fiqih Budha, fiqih Hindu dan seterusnya.

Istilah fiqih tidak pernah sama sekali terdapat pada ajaran agama-agama selain Islam. Istilah fiqih boleh dibilang merupakan istilah yang khusus dimiliki hanya oleh agama Islam.

Terkait istilah ini, penulis teringat sebuah buku kontroversial yang ditulis beberapa tahun lalu secara ‘berjamaah’ oleh orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai pembaharu dan cendikiawan muslim.

Buku itu berjudul ‘Fiqih Lintas Agama’. Jika kita baca sepintas dari judulnya setidaknya pemahaman yang timbul dalam benak kita adalah bahwa setiap agama memiliki khazanah fiqih tersendiri. Artinyaistilah fiqih yang secara bahasa berarti pemahaman atau pemahaman yang mendetail (al fahm ad daqiq), dimilki pula oleh agama-agama di luar Islam.

Namun sangat disayangkan buku ini tidaklah mencerminkan sebuah kajian fiqih dengan pendekatan ajaran-ajaran normatif agama yang ada.

Buku itu tidak lebih dari sebuah karya tulis yang dimaksudkan mendistorsi bahkan mendekontruksi ajaran-ajaran Islam yang telah mapan dan menjadi kesepakatan (ijma’) ulama Islam sepanjang masa. Isi buku itu di antaranya masalah pernikahan beda agama, pembagian warisan dan lain sebagainya.

Namun pada tulisan ini, penulis tidak bermaksud memberikan tanggapan atas buku tersebut. Akan tetapi penulis lebih menitik beratkan pada term ‘fiqh’ yang dijadikan tema utama buku tersebut. Hingga akhirnya penulis berasumsi bahwa istilah ‘fiqih’ pada dasarnya merupakan istilah yang hanya ada pada agama Islam an sich atau milik Islam semata.

Asumsi di atas pada awalnya merupakan asumsi subyektif penulis sendiri, hingga asumsi tersebut setidaknya mulai terbukti kekeliruannya ketika penulis mendapati penisbatan istilah lain atas istilah fiqih dalam muqaddimah sebuah karya monumental ulama masa kini dalam masalah fiqih, al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah.

Dalam buku tersebut (yang berjumlah kurang lebih 45 jilid), para ulama yang terkumpul dalam Kementrian Waqaf Kuwait menyebut dua istilah yang dinisbahkan kepada term ‘fiqih’ yaitu al fiqih al Islamy (fiqih yang berlandaskan pada dasar-dasar agam Islam) dan al Fiqih al Wadh’i (fiqih yang tidak berlandaskan pada dasar-dasar agama Islam atau sering disebut dengan hukum positif). Dalam arti lain, istilah fiqih tidak hanya milik Islam saja namun ajaran lain pun atau produk hukum lainpun dapat disebut dengan fiqih.

Namun menurut hemat penulis, para ulama itu ketika menyebut kedua istilah tersebut, pada dasarnya hanya bertujuan untuk memudahkan penyebutan semata. Dengan tujuan memberikan perbandingan antara produk hukum yang dihasilnya berdasarkan ajaran Islam dan produk hukum lainnya yang tidak bersandar pada Islam sama sekali. Sebab kedua produk hukum itu pun dihasilkan melalui penelitian dan pemahaman yang mendalam, sebagaimana proses tersebut dapat dipadankan dengan pengertian etimologi fiqih.

Namun perbedaan akan semakin tampak ketika kita melihat sumber yang dijadikan dasar dilahirkan dua fiqih tersebut. Setidaknya penisbatan diatas memiliki persamaan dengan istilah lainnya yang terkait seperti penisbatan hukum positif (al wadh’i) atau produk hukum suatu bangsa tertentu kepada istilah ‘at tasyri’’, semisal at tasyri’ al asyuri, at tasyri’ al babiloni, at tasyri’ al fir’auni dll.

Mengapa penulis berkesimpulan demikian?.

Setidaknya kesimpulan penulis tersebut berdasarkan dua alasan berikut:

Pertama, secara etimologi dan terminologi, istilah fiqih memiliki akar yang sangat kuat dalam khazanah Islam.

Dalam hal ini, Al Qur’an dan al Hadits sebagai sumber ajaran Islam secara eksplisit menyebut istilah fiqih seperti yang tertuang dalam surat at Taubah; 122 (liyatafaqqahu fi addin).

Ataupun seperti doa Nabi Muhammad SAW kepada Ibnu Abbas Rahiyallahuanhu, “Allahumma faqqihhu fi ad din wa ‘allimhu at ta’wil”.

Namun, meskipun pada awalnya istilah ‘fiqih’ mengalami beberapa fase perkembangan, namun pada akhirnya para ulama pun ketika memutlakkan istilah fiqih, mereka mengartikannya sebagai;

“Sekumpulan hukum dan permasalahan syariat yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia”.

Adapun ilmu fiqih berarti sebuah; “Ilmu yang membahas hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia berdasarkan dalil-dalilnya yang terperinci.”

Dengan demikian sebuah kumpulan hukum atau disiplin ilmu yang tidak bersandarkan pada dalil-dalil syara’ tidak dapat dinyatakan sebagai fiqih.

Kedua, orisinalitas istilah ‘fiqih’ bagi agama Islam dapat dianalogikan dengan istilah-istilah lainnya dalam agama ini, seperti shalat, zakat, haji, shaum, bahkan istilah syariat dan dakwah.

Terkait istilah ‘syariat’, Syaikh Manna’ al Qaththan dalam bukunya ‘at Tasyri wa al Fiqh al Islamy’ telah mengkritik kalangan yang menyebut hukum positif sebagai at tasyrî’ al wadh’î sedangkan wahyu ilahi disebut dengan at tasyrî’ as samawî,

Menurut beliau yang benar adalah bahwa istilah syariat/tasyri’ hanya boleh disandarkan pada wahyu bukan selainnya dari hasil olah fikir manusia maupun sistem-sistem ciptaan mereka. (Manna’ Khalil al Qaththan, at Tasyrî’ wa al Fiqh al Islâmî, hal. 15-16).

Demikian pula dengan istilah dakwah yang juga merupakan istilah khusus yang dimaksudkan membawa manusia kejalan Allah. Dalam arti lain tidak semua ajakan (dakwah) dinamai dakwah bila tidak dimaksudkan untuk membawa manusia ke jalan Allah.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Quthub, “Sesungguhnya dakwah adalah dakwah (seruan) kejalan Allah, bukan ke jalan da’i atau kaumnya. Tiada bagi da’i dari dakwah yang ia lakukan, kecuali menjalankan tugas dan kewajibannya kepada Allah SWT.” (Sayyid Quthb, fî Zhilâl al Qur’ân, jilid. IV, hal. 2301-2302).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penisbatan istilah ‘islamy’ kepada istilah ‘fiqih’ sebagaimana judul di atas, hanya dimaksudkan sebagai penekanan semata. Sebab, sebagaimana berdasarkan alasan-alasan di atas, dapat dinyatakan bahwa istilah ‘fiqih’ meskipun tanpa embel-embel ‘islamy’, mutlak merupakan bagian tak terpisahkan dari khazanah Islam

Disamping istilah ini merupakan salah satu wujud keistimewaan agama Islam sebagai satu-satunya agama yang sempurna (syamil) dan menyempurnakan (mutakaamil) serta dapat beradaptasi dengan setiap kondisi (murunah) berlandaskan dasar-dasar agama yang bersifat tsawabit /tetap sekaligus mengakomodasi setiap yang mutaghayyirat/hal-hal yang berubah pada setiap masa dan tepat.

Akan tetapi, keistimewaan tersebut pada dasarnya tidak akan tercapai, kecuali jika komponen-komponen penunjang karakteristik Islam tersebut tidak teralisasikan dengan tepat, yaitu berupa ijtihad-ijtihad fiqih yang harus terus digalakkan untuk menjawab setiap tantangan zaman sembari berdiri di atas pondasi-pondasi ijtihad genarasi terbaik umat ini dengan kembali menggalakkan kajian-kajian seputar turast Islam sembari dengan menciptakan suasana yang kondusif untuk mengaplikasikan turats tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dan hal tersebut sekali lagi dapat tercapai jika tradisi fiqih dapat mengakar luas di tengah-tengah umat.

Wallahu’alam bi ash showab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Hukum Beli Barang Black Market
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 March 2013, 07:00 | 7.111 views
Halal Haram Menyambung Rambut
Aini Aryani, Lc | 5 March 2013, 08:23 | 3.922 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.455 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 3.856 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.437 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 501 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 2.542 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 2.473 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 3.375 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.100 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.156 views
Kembalilah Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 3.778 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 4.684 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 19.265 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.283 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 4.957 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 2.960 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 5.509 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 5.612 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.122 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 3.818 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.034 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 3.500 views
Tingkatan Fuqaha'
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 3.420 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.044 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 3.731 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 9.297 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 4.844 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 5.615 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 8.960 views
Fiqih Islami
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 3.647 views