Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2) | rumahfiqih.com

Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)

Hanif Luthfi, Lc., MA Sun 30 November 2014 12:00 | 6089 views

Bagikan via

Namanya saja tuduhan, bisa jadi benar tapi bisa salah. Sebagaimana yang diungkap oleh Imam Ibn Katsir (w. 774 H), semua tuduhan itu tidaklah benar. Hasyahu min dzalika kullihi. Tapi kira-kira apa yang melatar belakangi tuduhan-tuduhan itu? Paling tidak ada beberapa hal:

1. Tidak Memasukkan Imam Ahmad Sebagai Fuqaha

Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H) tidak memasukkan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sebagai Faqih dalam bukunya “Ikhtilaf al-Fuqaha’”, tetapi hanya sebagai muhaddits saja.

Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H) pernah berkata:

أما أحمد بن حنبل فلا يعدّ خلافه

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) tidak dianggap ketika pendapat beliau bertentangan dengan lainnya. (Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2450)

Gara-gara tidak menganggap Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sebagai faqih, para pengikut madzhab hanbali marah dan tidak terima.

وقصده الحنابلة فسألوه عن أحمد بن حنبل في الجامع يوم الجمعة، وعن حديث الجلوس على العرش، فقال أبو جعفر: أما أحمد بن حنبل فلا يعدّ خلافه، فقالوا له: فقد ذكره العلماء في الاختلاف، فقال: ما رأيته روي عنه، ولا رأيت له أصحابا يعوّل عليهم، وأما حديث الجلوس على العرش فمحال، ثم أنشد:

سبحان من ليس له أنيس ... ولا له في عرشه جليس

فلما سمع ذلك الحنابلة منه وأصحاب الحديث وثبوا ورموه بمحابرهم، وقيل كانت ألوفا، فقام أبو جعفر بنفسه ودخل داره، فرموا داره بالحجارة حتى صار على بابه كالتلّ العظيم

….Suatu ketika hari jum’at para Hanabilah mendatangi Imam Ibnu Jarir ke masjidnya. Mereka bertanya tentang Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan tentang hadits duduknya Allah diatas arsy. Imam Ibn Jarir menjawab: Imam Ahmad bin Hanbal itu tidak diperhitungkan ketika beliau berbeda dengan ulama lain.

Ketika pengikut Hanabilah dan Ashab al-Hadits mendengar hal itu, mereka melangkah maju dan melemparinya. Lalu Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) berdiri dan melangkah pulang, lalu masuk ke rumahnya.

Setelah masuk ke rumah, ternyata para Hanabilah tadi masih saja melempari rumah Imam Ibn Jarir at-Thabari dengan batu. (Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2450)

Rumahnya salah seorang ulama yang kita baca dan akui karyanya sampai saat ini, pernah mendapatkan teror lemparan batu dari sekelompok orang yang menganggap pendapatnya selalu benar dan pendapat orang lain pasti salah. Na’udzubillahi min al-hawa.

2. Hadits Ghadir Khum

Hadits Ghadir Khum adalah hadits yang menjadi perdebatan antara Sunni dan Syiah akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Syiah memakai hadits itu untuk pembenaran hak ali dalam menjadi khalifah. Meski Ahlu as-Sunnah tidak memaknai hadits Ghadir Khum sebagai pembenar atas hak Ali atas khalifah.

Perlu dicatat, menshahihkan hadits Ghadir Khum tidak lantas menjadikan seseorang itu terindikasi Syiah. Sayangnya, para Hanabilah saat itu dengan mudah menuduh orang lain bahkan selevel ulama Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) sebagai syiah, rafidhah bahkan ilhad hanya gara-gara menulis buku yang menshahihkan hadits Ghadir Khum.

Ad-Dzahabi (w. 748 H) berkata:

جمع طرق حديث: غدير خم، في أربعة أجزاء، رأيت شطره، فبهرني سعة رواياته، وجزمت بوقوع ذلك

Imam Ibn Jarir mengumpulkan semua jalur hadits Ghadir Khum dalam 4 jilid. Saya (ad-Dzahabi) baru melihat sebagiannya, dari situ saja saya bisa simpulkan keluasan ilmu beliau, sampai saya yakin bahwa kejadian itu memang terjadi. (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 171)

3. Fatwa Berbeda

Ketiganya mungkin karena Imam Ibnu Jarir at-Thabari itu menampilkan dan berfatwa dengan madzhab Syafi’i, ketika berada di Baghdad yang kebanyakan masyarakatnya saat itu bermadzhab Hanbali.

Tentu Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) bukan orang yang bodoh dalam menentukan pilihan pendapatnya. Keilmuan beliau telah diakui oleh hampir semua ulama di setiap generasi. Meski beliau juga bukan maksum yang semua pilihan pendapatnya adalah benar. Tapi disinilah kita penting belajar bagaimana sikap ketika berbeda pendapat.

Dishalati Banyak Orang Sekian Lama

Meski telah terjadi boikot sampai wafatnya Imam Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H), banyak kaum muslimin yang datang untuk menshalati jenazah beliau. Bahkan sampai berbulan-bulan setelah itu, masih banyak orang yang datang untuk menshalatkan beliau. Ibnu Katsir (w. 774 H) menyebutkan:

ولما توفي اجتمع الناس من سائر أقطار بغداد وصلوا عليه بداره ودفن بها، ومكث الناس يترددون إلى قبره شهورا يصلون عليه

Kaum muslimin dari segala penjuru Baghdad datang ke rumah Imam Ibnu Jarir, mereka menshalatkannya di rumah dimana beliau dimakamkan. (Ismail ibn Katsir w. 774 H, al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 11/ 167).

Imam Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H menyebutkan:

وصلي على قبره عدة شهور ليلا ونهارا

Kubur Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H) dishalati sampai berbulan-bulan, siang dan malam. (Syihabuddin ar-Rumi al-Hamawi w. 626 H, Mu’jam al-Udaba’, hal. 6/ 2441).

Ada 2 Abu Ja’far Ibnu Jarir; Salah satunya Tokoh Syiah

Dalam literatur sejarah ulama, akan kita temukan dua nama Abu Ja’far ibn Jarir at-Thabari yang hampir mirip. Salah satunya adalah tokoh Syiah Rafidhah. Tapi dalam kisah diatas, bukan Ibnu Jarir yang Syiah Rafidhah yang mendapat boikot oleh Hanabilah.

Ada satu nama yang hampir mirip dengan Imam Abu Ja’far at-Thabari yang sedang kita bicarakan tadi. Bedanya dia adalah seorang syiah Rafidhah, namanya Muhammad bin Jarir bin Rustum Abu Ja’far at-Thabari (w. 411 H) . Dia mengarang kitab: ar-Ruwat an Ahli al-Bait, al-Mustarsyid fi al-Imamah. Ada yang mengatakan dia adalah ulama’nya Syiah Imamiyyah.

Agar tidak keliru, Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) menuliskan biografi Abu Ja’far at-Thabari as-Syi’i ini langsung setelah menuliskan biografinya Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H). (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyaru A’lam an-Nubala’, hal. 11/ 175)

Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) Mujtahid Muthlak Bermadzhab Syafi’i

Imam Tajuddin as-Subki (w. 771 H) mengatakan bahwa Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) adalah mujtahid muthlak. Meski begitu, beliau memasukkan Imam Abu Ja’far dalam Thabaqat as-Syafi’iyyah. Sebagaimana juga Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) juga memasukkan beliau kedalam kitab Thabaqat as-Syafi’iyyin, dan juga Imam Taqiyuddin bin Qadhi Syuhbah memasukkan beliau kedalam kitabnya Thabaqat as-Syafi’iyyah. Suatu ketika Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) pernah berkata:

أظهرت فقه الشافعى وأفتيت بِهِ بِبَغْدَاد عشر سِنِين

Saya memperlihatkan Fiqih Syafi’i dan juga berfatwa dengannya di Baghdad selama 10 tahun. (Tajuddin as-Subki w. 771 H, Thabaqat as-Syafi’iyyah al-Kubra, hal. 3/ 120)

Bermadzhab, Taklid dan Ta’asshub

Ada tiga kata yang setidaknya sekarang ada yang salah paham. Adakalanya salah paham atau memang tahu salah tapi tidak paham-paham. Atau malah sebenarnya salah tapi sok paham, yaitu antara bermadzhab, taklid dan ta’asshub. Ketiga hal ini disamakan. Kadang memandang rendah orang yang bermadzhab, atau orang yang menyampaikan hukum dari sudut pandang ulama mujtahid madzhab.

Seolah digiring asumsi bahwa perpecahan umat Islam itu sebabnya ta’ashub. Ta’ashub itu sebabnya karena taklid. Taklid itu karena mengikuti madzhab. Bermadzhab itu mengikuti pendapat manusia saja dan tidak mengikuti dalil al-Qur’an dan Hadits. Memang ada yang seperti itu? Ada. Siapa orangnya? Tidak usahlah disebutkan.

Mudahnya seperti ini: Bermadzhab itu tidak mesti harus taklid. Sebagai bukti, meski Imam Ibn Jarir at-Thabari (w. 310 H), Imam Al-Hafidz Ibnu Huzaimah as-Syafi’iy (w. 311 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi as-Syafi’iy (w. 458 H), Al-Hafidz Ibn Asakir as-Syafi’iy (w. 571 H), Al-Hafidz Ibnu Katsir as-Syafi’iy (w. 752 H), Al-Hafidz Ibnu Katsir as-Syafi’iy (w. 752 H), al-Hafidz an-Nawawi as-Syafi’iy (w. 676 H) adalah ulama yang sudah mencapai level mujtahid, tapi mereka tetap bermadzhab Syafi’i.

Selanjutnya, bertaklid itu tidak mesti harus ta’ashub. Bagi orang awam yang belum mempunyai cukup ilmu untuk menggali hukum sendiri dari al-Qur’an dan Hadits, maka seharusnya bertanya kepada orang lain yang lebih tau. Hanya taklid buta yang para ulama melarangnya. Taklid buta inilah yang sering disebut dengan ta’ashub.

Ta’ashub inilah yang menjadi latar belakang gerakan Hanabilah saat itu untuk memboikot Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) untuk sekedar menyebarkan ilmunya. Karena dianggap ilmu dari Imam Abu Ja’far ini tidak benar, yang benar hanya dari kelompoknya saja.

Memang butuh keluasan ilmu dan kelapangan dada dalam hal ijtihad untuk sekedar mengucapkan:

رأيي صواب يحتمل الخطأ، ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب

Pendapatku benar tapi ada kemungkinan salah, pendapat selainku adalah salah tapi ada kemungkinan benar

Bagikan via


Baca Lainnya :

Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.727 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 3.291 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 7.350 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.883 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 10.119 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 December 2016, 09:58 | 2.238 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 September 2016, 16:17 | 1.380 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 March 2016, 11:31 | 2.361 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 November 2015, 20:20 | 4.188 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 22 October 2015, 17:26 | 2.915 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc., MA | 15 October 2015, 13:54 | 3.586 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc., MA | 3 September 2015, 12:01 | 24.902 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 August 2015, 10:00 | 5.583 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 June 2015, 11:00 | 5.051 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 5.221 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 5.347 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 June 2015, 12:41 | 4.244 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 May 2015, 17:00 | 5.005 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 6.135 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 5.433 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 6.538 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 8.574 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 March 2015, 11:11 | 9.008 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 February 2015, 20:54 | 5.302 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 February 2015, 20:21 | 8.396 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 4 February 2015, 19:31 | 9.351 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 January 2015, 06:46 | 5.636 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 6.089 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.727 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 August 2014, 15:49 | 4.667 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 July 2014, 08:18 | 9.020 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 July 2014, 21:32 | 5.975 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 June 2014, 00:57 | 4.069 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 May 2014, 00:00 | 4.281 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 7 May 2014, 11:05 | 4.159 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 April 2014, 12:20 | 6.650 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 April 2014, 18:00 | 6.737 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 April 2014, 22:32 | 4.744 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 3.920 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 12 March 2014, 06:55 | 5.797 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 February 2014, 06:00 | 5.129 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 26 February 2014, 12:00 | 5.794 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 19 February 2014, 01:01 | 5.519 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 February 2014, 15:00 | 4.068 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 January 2014, 07:28 | 5.729 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 January 2014, 12:23 | 5.036 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 January 2014, 05:45 | 9.929 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 14:38 | 4.330 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 11:37 | 5.041 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 August 2013, 07:32 | 10.428 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 August 2013, 15:35 | 24.083 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 June 2013, 03:03 | 7.012 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 May 2013, 20:02 | 6.048 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 April 2013, 00:45 | 6.412 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 April 2013, 15:12 | 5.677 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 April 2013, 07:04 | 5.489 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 February 2013, 16:45 | 9.895 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan