Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1) | rumahfiqih.com

Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)

Isnan Ansory, Lc, MA Thu 4 December 2014 11:14 | 3601 views

Bagikan via

Dalam tradisi fiqih Islam, istilah mazhab tidak selalu identik dengan fanatisme/taqlid buta yang cenderung berakibat negatif. Bermazhab merupakan akibat yang bersifat natural, di mana pemahaman dan metode para ulama dalam memahami wahyu yang bersifat zhanni menghendaki terjadinya silang pendapat di antara mereka. Inilah sebabnya keberadaan mazhab dalam tradisi fiqih Islam merupakan suatu kewajaran, tentu jika dilandasi dengan landasan, metode, dan tata cara bermazhab yang benar.

Sebagai sebuah metode berfikir, tentunya mazhab fiqih akan mengalami sebuah ‘ujian zaman’ yang menguatkan eksistensinya di tengah kehidupan kaum muslimin. Itulah sebabnya dari banyaknya mazhab fiqih yang lahir sekitar abad ketiga (3) dan keempat (4) hijriah, satu persatu mulai hilang dan tidak ditemukan eksistensinya. Hingga yang tersisa paling tidak hanyalah 4 mazhab fiqih yang hingga kini methodologi ushul fiqih serta produk fiqihnya selalu dipelajari dan diterapkan oleh umat Islam di berbagai wilayah.

Di antara 4 mazhab fiqih tersebut dan termasuk yang belakangan lahir adalah mazhab fiqih yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang masyhur dikenal dengan nama Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Di mana mazhab fiqihnya lebih dikenal dengan mazhab Hanbali, sedangkan para ulama yang berafiliasi pada mazhab ini dikenal dengan islilah Hanabilah.

Hirarki Pendapat Dalam Internal Mazhab Hanbali

Sebelumnya telah penulis paparkan, bahwa tidak selalu istilah mazhab identik dengan fanatisme buta. Hal ini ditandai dengan munculnya beragama pendapat dalam sebuah masalah di dalam internal mazhab tertentu, tak terkecuali mazhab Hanbali. Yang menunjukkan kepada kita bahwa tidak selalu seorang ulama yang berafiliasi pada mazhab tertentu harus mentah-mentah mengambil dan menerapkan begitu saja pendapat imamnya. Apalagi jika kondisi yang melingkupi permasalahan yang dihadapi menghendaki untuk menerapkan pandangan yang berbeda dengan sang imam.

Di tambah lagi, umur sang imam mazhab yang terbatas tentunya secara logika sehat tidak akan dapat menjawab setiap permasalahan yang ada ditambah permasalahan-permasalahan yang timbul dikemudian hari pasca wafatnya sang imam. Meskipun secara tidak langsung dapat saja sebuah pendapat dinisbatkan kepada mazhab imam, jika selaras dengan methodologi yang dibangun oleh sang imam atau disimpukan oleh penerusnya.

Itulah sebabnya, diperlukan sebuah methode untuk dapat menyusuri sebuah pendapat mazhab hingga secara amanah ilmiyyah, pendapat tersebut dapat dinisbatkan kepada sang imam mazhab atau mazhab itu sendiri.

Berdasarkan hal ini, para ulama Hanabilah belakangan melakukan sebuah studi mendalam dalam rangka menyeleksi di mana pendapat yang betul-betul dapat dinisbatkan kepada mazhab hanbali atau hanya sebagai pendapat lama yang dianggap lemah dan tidak boleh dinisbatkan kapada mazhab. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh imam ‘Ala’ ad Din al Mardawi al Hanbali (w. 885 H) dalam kitabnya “al Inshaf fi Ma’rifah ar Rajih min al Khilaf”, Abd al Qadir Badran (w. 1346 H) dalam kitabnya “al Madkhal ila Mazhab al Imam Ahmad bin Hanbal”, Muhammad bin Abd ar Rahman Aal Ismail dalam kitabnya “ al Laali al Bahiyyah fi Kaifiyyah al Istifadah min al Kutub al Hanbaliyyah”, Ibnu Hamdan dalam kitabnya “Shifat al Mufti wa al Mustafti”, Ibnu Qayyim al Jauziyyah dalam kitabnya “I’lam al Muwaqqi’in ‘an Rabb al ‘Alamin”, Bakar Abu Zaid, al Madkhal al Mufashshal li Mazhab al Imam Ahmad wa Takhrijat al Ashshab, dan lainnya.

Dalam tulisan ringkas ini, penulis mencoba untuk merinkas berbagai kesimpulan dari buku-buku di atas, sebagai sebuah cara yang diakui dalam menisbahkan sebuah pendapat pada mazhab Hanbali. Secara sistematis penulis bagi menjadi tiga sub bab; pertama: methode untuk mengetahui sebuah pendapat yang dapat dinisbahkan kepada mazhab Hanbali; kedua: klasifikasi pendapat-pendapat di internal mazhab yang memungkinkan terjadinya kontradiksi; ketiga: methode untuk mengetahui pendapat yang dianggap mewakili atau mu’tabar dalam mazhab Hanbali.

Pertama: Methode Untuk Mengetahui Pendapat Mazhab Hanbali

Tentunya, secara sederhana, bagaimana kita dapat mengetahui pendapat mazhab Hanbali dalam masalah fiqih dapat dengan merujuk kepada buku-buku yang ditulis oleh para ulama Hanabilah semisal al ‘Umdah, al Kafi, al Muqni’ dan al Mughni karya al Muwaffaq Ibnu Qudamah, atau karya-karya dalam masalah fiqih yang ditulis semisal imam al Khiraqi, Syaikh al Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al Jauziyyah, Ibnu al Jauzi, al Qadhi Abu Ya’la, Abu al Khaththab al Kalwadzani dan lainnya.

Namun jika ditelusuri kepada sumbernya, sebagaimana disimpulkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid (w. 1429 H),[1][1] penisbatan mazhab Hanbali dapat diklasifikasikan menjadi dua term; al Mazhab Haqiqatan dan al Mazhab Ishthilahan. Pembagian ini disimpulan dari definisi “mazhab Imam” berikut ini:

مذهب الإمام: هو ما قاله معتقدا له بدليله، ومات عليه، أو مَا جَرَى مَجْرَى قوله، أوشملته علته.

Mazhab imam adalah hasil pemikiran yang diyakininya berdasarkan dalil dan terucap oleh lisannya, ia wafat dengan memegang pendapat itu, atau apa saja yang semisal perkataan (seperti: ketentuannya, isyaratnya, tulisannya, keputusannya dll), atau yang mencakup segala hal yang disandarkan kepadanya.”

Berdasarkan definisi ini, maka mazhab Hanbali dapat diklasifikasikan menjadi dua, yang kemudian dari dua hal tersebut dapat dirincikan menjadi beberapa hal lainnya yang lebih detail:

Pertama: al Mazhab Haqiqatan yaitu setiap produk hukum fiqih ijtihadi yang diterima dari imam melalui riwayat murid-muridnya. Jenis penisbatan mazhab pertama ini kemudian dibagi menjadi dua berdasarkan kuat dan tidaknya penisbatan pendapat tersebut kepada imam, yaitu:

Pertama: Pendapat yang jelas (ash Sharih), di mana pendapat imam dengan jenis ini dapat ditelusuri diberbagai kitab ulama Hanabilah dengan menggunkan lafaz-lafaz: ( ar riwayah) (ar riwayat al muthlaqah) yang dapat dipastikan bahwa pendapat itu secara lafzhi merupakan perkataan imam Ahmad bin Hanbal. Pendapat yang sharih ini adalah pendapat yang diriwayatkan oleh tujuh murid senior imam Ahmad; dua anaknya Abdullah dan Shalih, anak pamannya Ishak, Abu Bakar al Maruzhi, Ibrahim al Harbi, Abu Thalib at Tamimi, dan al Maymuni.

Kedua: Pendapat imam yang disebut dengan at tanbihat yaitu kesimpulan murid-murid imam Ahmad yang mereka simpulkan dari tindak tanduk sang imam. Dalam kitab-kitab ulama Hanabilah, jenis pendapat ini biasa dengan munggunakan lafaz-lafaz: (awma’a ilahi/asyara ilaihi=imam Ahmad mengisyaratkan pendapat tersebut), (dalla kalamuhu ‘alaihi=perkataannya menunjukkan kepada hukum tersebut), (tawaqqafa fihi/ sakata ‘anhu=imam tidak berpendapat).

Kedua jenis penisbatan pendapat ini secara hakiki dapat dinisbatkan kepada imam Ahmad bin Hanbali, sebab para penerusnya dari para ulama Hanabilah hanya menuqilnya semata di dalam kitab-kitab mereka.

Kedua: al Mazhab Ishthilahan atau at Takhrijat ‘ala al Imam yaitu setiap produk hukum fiqih ijtihadi dari para ulama Hanabilah di setiap abad. Jenis penisbatan mazhab kedua ini kemudian dibagi menjadi dua metode untuk mengetahui alur penisbatan pendapat kepada mazhab secara keseluruhan.

1. Methode Pertama: al istidlal atau kesimpulan yang ditarik ulama mazhab Hanbali dari pendapat imam Ahmad bin Hanbal.

2. Methode Kedua: takhrij al furu’ ‘ala al furu’ yaitu kesimpulan yang ditarik ulama mazhab Hanbali atas masalah-masalah baru yang memiliki kemiripan dengan produk-produk fiqih dari imam Ahmad, yang selanjutnya menerapkan hukum yang sama. Metode ini tampak mirip dengan alur berfikir qiyas. Atau pendapat-pendapat ulama Hanabilah yang dihasilkan dari oleh pikir melalui methodologi (ushul mazhab) yang telah dibangun imam Ahmad bin Hanbal atau dikembangkan oleh ulama Hanabilah.

Kedua: Klasifikasi Pendapat-pendapat Internal Mazhab yang Memungkinkan Terjadinya Kontradiksi

Berangkat dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa dinamika perdebatan, silang pendapat, khilafiyyah sangat dapat mungkin terjadi di internal mazhab Hanbali. Apalagi faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya khilafiyyah itu disebabkan faktor eksternal seperti terjadinya perdebatan secara langsung ataupun tidak langsung dengan ulama mazhab lainnya, atau faktor sosio-politik yang berubah-ubah disetiap masa dan tempat.

Berangkat dari hal ini, khilafiyyah di internal mazhab Hanbali dapat diklasifikasikan menjadi empat macam:

1. Terjadinya perbedaan pendapat dalam penukilan riwayat-riwayat dari sang Imam. Hingga memungkinkan dalam sebuah masalah, Imam Ahmad memiliki beberapa pendapat yang kadangkala saling bertentangan karena riwayat-riwayat yang diterima oleh murid-muridnya berbeda-beda.

2. Terjadinya perbedaan pendapat antara riwayat dari Imam Ahmad dengan kesimpulan yang dihasilkan dari ijtihad ulama Hanabilah pada masa berikutnya. Karena pada hakikatnya, taklid seorang mujtahid kepada mujtahid lainnya tidak diperbolehkan.

3. Terjadinya perbedaan pendapat diantara ulama Hanabilah (takharij al ashab).

4. Terjadinya perbedaan penafsiran ulama Hanabilah atas satu riwayat yang mereka terima dari imam Ahmad.

Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan di atas, tentunya dalam menisbatkan sebuah pendapat kepada mazhab imam Ahmad harus melalui proses tarjih yang dengannya sebuah pendapat dapat dikatakan sebagai pendapat yang mu’tamad atau diakui oleh segenap ulama Hanabilah.

Sebab, dengan mengambil pendapat yang diketahui lemah di mazhab tersebut dan meninggalkan pendapat yang dianggap lebih kuat adalah sebuah kesalahan jika selanjutnya dinisbahkan kepada mazhab tersebut. Sebagaimana kelirunya seseorang menisbatkan pendapat bolehnya nikah mut’ah kepada Ibnu Abbas, padahal Ibnu Abbas sendiri telah mengkoreksi kekeliruan pendapatnya ini.

Berdasarkan hal ini, maka para ulama mutaakhkhirin Hanabilah menetapkan methode tarjih berdasarkan tiga masa perkembangan mazhab Hanbali. Di mana setiap masa menggunakan methode tarjih yang berbeda-beda. (Bersambung)




[1] [1] Bakar Abu Zaid, al Madkhal al Mufashshal li Mazhab al Imam Ahmad wa Takhrijat al Ashshab, (Jeddah: Dar al ‘Ashimah, 1417 H), cet. 1, hlm. 1/36.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 5.977 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.611 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 3.177 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 7.223 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.731 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 1.213 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 3.012 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 2.975 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 3.990 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.516 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.601 views
Kembalilah Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.329 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 5.185 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 19.883 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.684 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.485 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.499 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 6.048 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 6.371 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.647 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 4.253 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.426 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 3.967 views
Tingkatan Fuqaha'
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 3.888 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.823 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 4.296 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 9.920 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 5.315 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 6.188 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 9.706 views
Fiqih Islami
Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 4.189 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Galih Maulana, Lc10 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan