Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2) | rumahfiqih.com

Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)

Dr. Isnan Ansory, Lc, MA Fri 5 December 2014 11:23 | 3359 views

Bagikan via

Ketiga: Methode untuk mengetahui pendapat yang mu’tabar dalam mazhab Hanbali

Sebelum masuk pada pembahasan ini, kita perlu mengetahui bahwa para ulama Hanabilah membagi tingkatan ulama Hanabilah berdasarkan urutan masa menjadi tiga tingkatan: (1) al Mutaqaddimun, (2) al Mutawassithun, dan  (3) al Muta’akhkhirun.

Pertama: Tingkatan al Mutaqaddimun. Para ulama Hanabilah yang masuk dalam kelompok al Mutaqaddimun adalah para ulama Hanabilah yang hidup dalam kurun waktu antara tahun 241 H hingga tahun 403 H. yaitu sejak wafatnya imam Ahmad bin Hanbal (w. 240 H) hingga wafatnya imam al Hasan bin Hamid al Hanbali (w. 403 H). Imam Ibnu Ya’la al Hanbali dalam kitab Thabaqat-nya dan al Mardawi dalam kitab al Inshaf-nya menghitung setidaknya jumlah ulama Hanabilah pada masa ini sekitar 577 orang.

Di antara ulama Hanabilah yang terkenal pada masa ini adalah: Ishaq al Maruzi (w. 251 H), al Atsram (w. 261 H), Ibrahim al Harbi (w. 285 H), Abdullah bin Ahmad (w. 290 H), al Khallal (w. 311 H), al Khiraqi (w. 334 H), Ibnu al Munadi (w. 336 H), al Baghawi (w. 317 H), al Ajuri (w. 360 H), Ghulam al Khallal Abd al Aziz (w. 363 H), Ibnu Syaqilla (w. 369 H), Ibnu Baththah al ‘Akbari (w. 387 H), Abu Hafs al Barmaki (w. 387 H), Ibnu al Muslim (w. 387 H) dan al Hasan bin Hamid (w. 403 H).

Sedangkan kitab-kitab rujukan mazhab pada masa ini di antaranya: Jami’ ar Riwayat karya al Khallal, asy Syafi dan at Tanbih karya Ghulam al Khallal, al Mukhtashar karya al Khiraqi (lebih dikenal dengan judul Mukhtashar al Khiraqi), dan al Jami fi al Mazhab karya al Hasan bin Hamid.    

Kedua: Tingkatan al Mutawassithun. Para ulama Hanabilah yang masuk dalam kelompok ini adalah para ulama Hanabilah yang hidup dalam kurun waktu antara tahun 403 H hingga tahun 884 H, yaitu sejak wafatnya imam al Hasan bin Hamid (w. 403 H) hingga wafatnya imam al Burhan ibnu Muflih al Hanbali (w. 884 H). munurut Syaikh Bakar Abu Zaid, jumlahnya mencapai 166 orang yang mencakup para ulama dari keluarga Qudamah bin Miqdam, Bani Qadhi al Jabal, keluarga Taimiyyah, Keluarga Qadhi Abu Ya’la, keluarga Muflih, Keluarga Mindah, keluarga Surur al Muqadasah, keluarga Ibnu al Hanbali, keluarga al Muhibb as Sa’di, Bani al Manja, Bani al Yunaniyyah, keluarga Ibnu Hisyam al Anshari an Nahwi, keluarga al Jira’i, kekuarga Abu Ali al Banna’ dll.

Di antara ulama Hanabilah yang terkenal pada masa ini adalah: asy Syarif Abu Ali al Hasyimi (w. 428 H), Qadhi Abu Ya’la al Farra’ (w. 458 H), asy Syarif Abu Ja’far al Hasyimi (w. 470 H), Ibnu Mandah (w. 470 H), Ibnu al Banna’ (w. 471 H), as Sarraj (w. 500 H), al Hulwani (w. 505 H), Abu al Khaththab al Kalwadzani (w. 510 H), Abu al Wafa’ Ibnu ‘Aqil (w. 513 H), Muhammad bin Abi Ya’la (w. 526 H), Abu Khazim bin Abi Ya’la (w. 527 H), Ibnu az Zaghuni (w. 527 H), Abu al Fath Ahmad al Baghdadi (w. 532 H), Muhammad bin Abi al Khatthab (w. 533 H), Ibnu al Hanbali asy Syairazi (w. 536 H), Ali bin ‘Abdus (w. 559 H), Ibnu Abi Khazim Abu Ya’la ash Shaghir (w. 560 H), Abd al Qadir al Jailani (w. 561 H), Al ‘Aththar Abu al ‘Ala al Hamadani (w. 569 h), Ibnu al Minni Nashr bin Futyan an Nahrawani (w. 583 H), Makki bin Hubairah (w. 597 H), Abu al Faraj Ibnu al Jauzi (w. 597 H), Ibnu Sinninah al Samirri (w. 616 H), al Azji (w. 616 H) al Hujjah al Ba’quni (w. 617 H), al Muwaffaq Ibnu Qudamah (w. 620 H), Qadhi al Qudhah Nashr bin Abd ar Razzaq (w. 633 H), al Majd Ibnu Taimiyyah (w. 652 H), Ibnu Razin (w. 656 H), Yusuf bin Abdurrahman Ibn al Jauzi (w. 656 H), Yahya ash Sharshari (w. 656 H), Ibnu Hamdan (w. 695 H), Ibnu Abi al Fath al Ba’li (w. 709 H), ath Thufi (w. 716 H), Syaikh al Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), ad Dujaili (w. 732 H), Ibnu Abd al Hadi (w. 744 h), Ibnu Qayyim al Jauziyyah (w. 751 H), asy Syams Ibnu Muflih (w. 763 H), Qadhi al Jabal (w. 771 H), az Zarkasyi (w. 772 H), al Ba’li (w. 777 H), Ibnu Rajab al Hanbali (w. 795 H), Ibnu al Lahham (w. 803 H), dan al Burhan Ibnu Muflih (w. 884 H).

Sedangkan kitab-kitab rujukan mazhab pada masa ini di antaranya: 11 kitab matan (al Mujarrad, at Ta’liq, dan ar Riwayatain karya Qadhi Abu Ya’la, al Hidayah karya Abu al Khaththab, al ‘Umdah, al Kafi dan al Muqni’ karya al Muwaffaq Ibnu Qudamah, al Muharrar karya al Majd Ibnu Taimiyyah, al Wajiz karya ad Dujaili, al Furu’ karya asy Syams Ibnu Muflih, dan at Tashil karya al Ba’li (w. 777 H)), al Mughni syarh al Khiraqi karya al Muwaffaq Ibnu Qudamah, asy Syarh al Kabir li al Muqni’ karya Ibnu Abi Umar, al Mubdi’ syarh al Muqni’ karya al Burhan Ibnu Muflih, dan Syarh az Zarkasyi li al Khiraqi karya az Zarkasyi.

Kedua: Tingkatan al Muta’akhkhirun. Para ulama Hanabilah yang masuk dalam kelompok ini adalah para ulama Hanabilah yang hidup dalam kurun waktu antara tahun 885 H hingga saat ini. Menurut Syaikh Bakar Abu Zaid, jumlahnya mencapai 100 orang.

Di antara ulama Hanabilah yang terkenal pada masa ini adalah: Abu al Hasan ‘Ala’ ad Din Ali bin Sulaiman al Mardawi (w. 885 H), Yusuf bin Abd al Hadi (w. 909 H), asy Syuwaiki (w. 939 H), al Hijawi (w. 968 H), Ibnu an Najjar Muhammad al Futuhi (w. 972 H), Mar’i al Karmi (w. 1033 H), Mansur bin Yunus al Buhuti (w. 1051 H), Yasin al Labadi (w. 1058 H), Ibnu Bulban (w. 1083 H), Abd ar Rahman Aba Bathin (w. 1121 H), Ibnu ‘Afaliq (w. 1163 H), Muhammad bin Abd al Wahab (w. 1206 H), ar Rahaibani as Suyuthi (w. 1240 H), Ibnu Badran (w. 1346 H), Faishal bin Mubarak (w. 1377 H), Ibnu Mani’ an Najdi (w. 1385 H), Muhammad bin Ibrahim Aal asy Syaikh (w. 1389 H), dan at Tuwaijiri (w. 1412 H).

Sedangkan kitab-kitab rujukan mazhab pada masa ini di sampaing kitab-kitab sebelumnya di antaranya: al Iqna’ dan Zad al Mustaqni’ karya al Hijawi, Muntaha al Iradat karya Ibnu an Najjar, Ghayah al Muntaha dan Dalil ath Thalib karya Mar’i al Karmi, ‘Umdah ath Thalib karya al Buhuti, Kafi al Mubtadi dan Akhshar al Mukhtasharat karya Ibnu Bulban/al Bulbani.

Adapun methode tarjih pada setiap tingkatan dilakukan secara berbeda-beda. Di mana dapat diklasifikasikan menjadi tiga methode:

Pertama: Tarjih untuk tingkatan al Mutaqaddimun yang dilakukan berdasarkan aspek riwayat (min jihah ar riwayah). Dengan rincian sebagai berikut:

1.       Dari sisi rawi atau yang meriwayatkan pendapat imam Ahmad, maka yang didahulukan adalah pendapat yang diriwayatkan dengan redaksi yang sama oleh 7 murid imam Ahmad (Abdullah, Shalih, Ishak, Abu Bakar al Maruzhi, Ibrahim al Harbi, Abu Thalib at Tamimi, dan al Maymuni) – kemudian riwayat yang tertulis dalam kitab “Jami’ al Masa’il” karya al Khallal – kemudian riwayat salah satu di antara 7 murid imam Ahmad.

2.       Merajihkan pendapat yang diriwayatkan oleh mayoritas atas minoritas.

3.       Merajihkan pendapat yang masyhur di antara para murid Imam Ahmad.

4.       Merajihkan pendapat yang diriwayatkan oleh murid yang lebih wara’.

5.       Merajihkan pendapat yang dirajihkan (dikuatkan) oleh salah satu mujtahid Mutaqaddimin seperti al Khiraqi, al Khallal, Ghulam al Khallal, dan al Hasan bin Hamid.  

Kedua: Tarjih untuk tingkatan al Mutawassithun yang dilakukan berdasarkan sosok ulama Hanabilah (min jihah as suyukh). Dengan rincian sebagai berikut:

1.       Merajihkan pendapat yang didukung mayoritas ulama Hanabilah.

2.       Kemudian merajihkan pendapat yang dirajihkan penghulu mazhab Hanbali dari kalangan al Mutawassithun seperti Qadhi Abu Ya’la, asy Syarifan (asy Syarif Abu Ali al Hasyimi dan asy Syarif Abu Ja’far al Hasyimi), as Sarraj, Abu al Khaththab, Ibnu ‘Aqil dan lainnya yang dikenal sebagai muhaqqiqun.

3.       Kemudian merajihkan pendapat yang diambil oleh al Muwaffaq Ibnu Qudamah, al Majd Ibnu Taimiyyah, asy Syams Ibnu Abi Umar, asy Syams Ibnu Muflih, Ibnu Rajab, ad Dujaili, Ibnu Hamdan, ath Thufi, Ibnu Taimiyyah dan Ibn Abdus dalam kitab Tazkirahnya.

4.       Dan jika terjadi silang pendapat di antara mereka, maka yang didahulukan adalah pendapat asy Syams Ibnu Muflih dalam kitabnya “al Furu’”, dan jika ia tidak mentarjih, maka didahulukan pendapat yang disepakati dua syaikh (asy syaikhan); al Muwaffaq Ibnu Qudamah dan al Majd Ibnu Taimiyyah. Namun jika kedua syaikh berbeda pandangan maka yang dirajihkan adalah pendapat salah satu di antara mereka yang disetujui oleh Ibnu Rajab al Hanbali atau Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah.

Ketiga: Tarjih untuk tingkatan al Muta’akhkhirun yang dilakukan berdasarkan kitab rujukan (min jihah kutub al mazhab). Dengan rincian sebagai berikut:

1.       Jika terjadi silang pendapat antara al Majd Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “al Muharrar” dengan al Muwaffaq Ibnu Qudamah dalam kitabnya “al Muqni’” maka yang dirajihkan adalah apa yang disetujui al Muwaffaq Ibnu Qudamah dalam kitabnya “al Kafi”.

2.       Kemudian mendahulukan pendapat dalam sebuah masalah yang dirajihkan oleh Abu al Khaththab al Kalwadzani dalam kitabnya “Ru’us al Masa’il”.

3.       Kemudian mendahulukan pendapat dalam sebuah masalah yang dirajihkan oleh al Muwaffaq Ibnu Qudamah dalam kitabnya “al Mughni syarh Mukhtashar al Khiraqi”.

4.       Kemudian mendahulukan pendapat dalam sebuah masalah yang dirajihkan oleh al Majd Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Syarh al Hidayah”.

5.       Namun para ulama Hanabilah belakangan, lebih mendahulukan pendapat yang dirajihkan oleh al Hijawi dalam kitabnya “al Iqna’” dan Ibnu an Najar dalam kitabnya “Muntaha al Iradat”, dan jika terjadi silang pendapat dalam kedua kitab ini maka yang didahulukan adalah apa yang dirajihkan oleh Mar’i al Karmi dalam kitabnya “Ghayah al Muntaha”.

Hanya saja sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, tarjih di atas hanyalah bersifat umum bukan menyeluruh. Sebab bisa saja dalam kondisi tertentu, pendapat yang dianggap lemah menjadi kuat, atau bagi ulama tertentu pendapat yang dianggap lemah bagi ulama lain, baginya adalah pendapat yang kuat dan sebaliknya. Meski demikian, tentu yang berhak untuk melakukan tarjih adalah para ulama yang memiliki kompetensi (al mutaahhil) untu melakukan tarjih berdasarkan kualitas keilmuan yang dimiliki.

Penjelasan di atas, setidaknya menjadi norma bagi para peneliti kitab-kitab klasik dalam mazhab Hanbali hingga tidak keliru dalam menyandarkan sebuah pandangan kepada empunya mazhab. Meskipun, usaha itu dapat dikatakan sulit bagi umumnya manusia, tapi setidaknya kita dapat mengambil beberapa pelajaran, di antaranya kita dapat merasakan bahwa para ulama dahulu telah sedemikian kerasnya usaha yang mereka lakukan dalam menjaga pendapat-pendapat yang otoritatif dalam sebuah masalah fiqih.

Tentunya, kita dituntut untuk merasa bangga atas jerih payah mereka disamping dapat menghargai segenap usaha yang mereka lakukan, tidak saja mereka berhasil menjaga dua pusaka abadi umat Islam sebagai perwujudan kehendak Allah yaitu al Qur’an dan as Sunnah dengan methodologi menakjubkan yang mereka ciptakan (ilmu hadis, dll) namun mereka pun dapat menjaga pandangan-pandangan para ulama yang otoritaf dan tidak diragukan kewaraan dan kehati-hatian mereka dalam menyampaikan urusan agama.

Wallahua’lam bi ash Shawab.

 

Isnan Ansory, Lc., M.Ag

Peneliti dan Pengajar di Rumah Fiqih Indonesia

085213868653 (isnanansory87@gmail.com)

Bagikan via


Baca Lainnya :

Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.443 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.816 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.434 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 2.971 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 7.001 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 924 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 2.829 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 2.785 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 3.734 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.359 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.443 views
Kembalilah Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.130 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 5.001 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 19.693 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.560 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.288 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.329 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 5.850 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 6.085 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.460 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 4.087 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.295 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 3.793 views
Tingkatan Fuqaha'
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 3.734 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.544 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 4.115 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 9.669 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 5.153 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 5.979 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 9.425 views
Fiqih Islami
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 4.014 views