Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1) | rumahfiqih.com

Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)

Isnan Ansory, Lc, MA Tue 9 December 2014 10:58 | 4155 views

Bagikan via

Dalam sejarah fiqih Islam, pada masa tabi’in di akhir-akhir abad pertama hijriah, pandangan-pandangan fiqih terpolarisasikan kepada dua mazhab utama; mazhab ahl ar ra’yi yang berpusat di Kufah, Irak dan mazhab ahl al atsar yang berpusat di Hijaz. Namun dalam perkembangannya, kristalisasi kedua mazhab ini didahului dengan lahir dan berkembangnya mazhab Hanafi sebagai kelanjutan bagi mazhab ahl ar Ra’yi.

Mazhab Hanafi dinisbatkan kepada tokoh sentralnya yang terkenal dengan sebutan imam Abu Hanifah. Nama asli beliau adalah an Nu’man bin Tsabit al Kufi (w. 150 H), seorang ulama besar sekaligus dikenal sebagai pedagang sukses. Mazhabnya dikenal dengan sebutan mazhab Hanafi sedangkan para ulama yang berafiliasi kepada mazhab ini kadangkala disebut dengan al Hanafiyyah, dan kadangkala disebut dengan al Ahnaf.

Meski mazhab ini dinisbatkan kepada sang imam, namun menurut para peneliti, pada hakikatnya mazhab ini merupakan kolaborasi dari empat ulama besar ahl ar ra’yi yaitu sang imam Abu Hanifah, dan ketiga murid utamanya; Abu Yusuf Ya’kub bin Ibrahim (w. 182 H), Muhammad bin Hasan asy Syaibani (w. 189 H) dan Zufar bin al Huzail al ‘Anbari (w. 158 H).[1]

Bahkan imam Muhammad asy Syaibani dikenal pula sebagai salah satu tokoh yang juga memeliki kontribusi dalam mazhab Maliki dan mazhab Syafi’i. Posisi pentingnya dalam mazhab Maliki, dapat dilihat dari sosoknya sebagai salah satu periwayat yang mu’tamad atas kitab induk mazhab Maliki, al Muwaththa’. Sedangkan posisi pentingnya dalam mazhab Syafi’i, dikarenakan imam Muhammad merupakan guru dari imam asy Syafi’i dalam studi fiqih ahli ar Ra’yi di irak. Di samping itu, karyanya al Atsar merupakan referensi terpenting dalam penulisan kitab al Umm, karya imam Muhammad bin Idris asy Syafi’i sebagai kitab induk mazhab Syafi’i.

Itu sebabnya, meski ketiga imam di atas dianggap berafiliasi kepada mazhab Hanafi, bukan berarti mereka orang-orang yang taqlid buta kepada imam Abu Hanifah, namun merekalah yang memiliki sumbangsih dan peran besar dalam penyebaran fiqih Abu Hanifah serta pembelaan atas ijtihad-ijtihadnya.

Disamping itu menurut Abd al Hayy al Luknawi mengutip Waliyyullah ad Dahlawi dalam al Inshaf, sebab afiliasi mereka kepada mazhab Hanafi karena ketiga murid imam Abu Hanifah meskipun sering kali memiliki pandangan yang berbeda dengan sang imam, namun mereka tidak pernah keluar dari manhaj berfikir guru-guru imam Abu Hanifah di Kufah seperti Ibrahim an Nakh’i.[2]  

Bahkan pada hakikatnya setiap ulama yang sudah memiliki kapasitas untuk berijtihad, meskipun mereka berafiliasi kepada mazhab tertentu, bukan berarti mereka adalah orang-orang yang bertaqlid kepada imam-imam mazhab. Karena sesungguhnya seseorang yang sudah memiliki kemampuan berijtihad tidah boleh taqlid kepada siapapun sebagai kewajiban atas pemenuhan amanah ilmu yang telah Allah berikan kepada mereka.

Diriwayatkan dari Abu Bakar al Qaffal asy Syafi’i, Abu Ali bin Khairan asy Syafi’i, dan Qadhi Husain asy Syafi’i (ketiganya mujtahid dalam mazhab Syafi’i) bahwa mereka berkata, “Tidaklah kami bertaqlid kepada Imam asy Syafi’i, akan tetapi pandangan/ijtihad kami kebetulan sama dengan pandangan/ijtihad sang Imam.” Sebagaimana hal senada telah diriwayatkan pula dari imam Abu Ja’far ath Thahawi al Hanafi.[3]

Berangkat dari penjelasan di atas, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa di dalam tubuh mazhab Hanafi sangat memungkinkan terjadinya khilafiyyah atau perbedaan pendapat sebagaimana hal yang sama terjadi pula pada mazhab-mazhab lainnya.

Itulah sebabnya dibutuhkan sebuah methode untuk membaca pendapat mazhab Hanafi hingga tidak salah menisbatkan sebuah pendapat kepada empunya. Sebab bisa saja pendapat tersebut telah dikoreksi oleh sang imam, sebagaimana imam Abu Hanifah pernah mengkoreksi kekeliruannya ketika berpendapat akan bolehnya seseorang shalat dengan melafazkan bacaan-bacaan shalat dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab.

Atau menisbatkan pendapat yang sesungguhnya merupakan kesimpulan ulama yang berafiliasi kepada mazhab Hanafi, padahal sang imam mazhab tidak pernah sama sekali mengatakannya. Atau mengambil pandangan yang dianggap lemah oleh ulama Hanafiyyah padahal ada pendapat lain yang lebih masyhur atau kuat kedudukannya.

Untuk membahas hirarki pendapat dalam mazhab Hanafi, penulis membagi pembahasan ini menjadi empat bab; Pertama: Sumber-sumber fiqih yang disandarkan kepada mazhab Hanafi; Kedua: Sebab-sebab terjadinya khilafiyyah dalam mazhab Hanafi; Ketiga: Tingkatan ulama Hanafiyyah; Keempat: Tarjih atas pendapat-pendapat ulama Hanafiyyah:

 

Pertama: Sumber-sumber Fiqih yang disandarkan kepada mazhab Hanafi

Secara umum, setiap kitab fiqih yang ditulis oleh para ulama Hanafiyyah merupakan sumber utama fiqih mazhab Hanafi. Meskipun ulama belakangan seperti Abu al Hasanat Abd al Hayy al Luknawi kemudian mengklasifikasikannya menjadi dua; kitab-kitab Hanafi yang mu’tamad (standar) dan kitab-kitab Hanafi yang tidak mu’tamad. Dalam hal ini, untuk menilai sebuah kitab termasuk tidak standar dalam mazhab Hanafi, al Luknawi memiliki beberapa methode, di antaranya:[4]

Pertama: Secara sharih atau jelas ulama-ulama Hanafi yang diakui otoritasnya menolak atau memberikan penilaian buruk terhadap beberapa kitab fiqih karya ulama Hanafiyyah. Maka penilaian itu menjadi alasan tertolaknya kitab tersebut sebagai kitab standar.

Kedua: Ulama yang menulis kitab tersebut tidak dikenal meskipun kitab yang ditulisnya terhitung masyhur di tengah-tengah manusia. Seperti kitab “Jami’ ar Rumuz syarh an Niqayah” karya Syams ad Din Muhammad al Quhustani (w. 962 H).

Ketiga: Kitab-kitab yang ditulis oleh ulama Hanafi yang telah dikenal, namun dalam bukunya ia sering kali mencampur adukan antara pandangan-pandangan fiqih Hanafi yang tidak diakui dan yang diakui. Kitab-kitab Jenis ini amatlah banyak, di antaranya: “al Qaniyyah” karya Najm ad Din Abu ar Raja’ Mukhtar bin Mahmud az Zahidi al Ghazmini (w. 658 H), “al Muhith al Burhani fi al Fiqh an Nu’mani” karya Abu al Ma’ali Burhan ad Din Mahmud bin Ahmad al Marghinani (w. 616 H), “as Siraj al Wahhaj syarh Mukhtashar al Qaduri” karya Abu Bakar bin Ali al Haddadi (w. 800 H), “Musytamil al Ahkam” karya Fakhr ad Din ar Rumi yang diperuntukkan bagi Khalifah Muhammad al Fatih, “Kanz al ‘Ubbad fi Syarh al Awrad” karya Ali bin Ahmad al Ghawri, “Mathalib al Mu’minin” karya Badr ad Din bin Taj al Lahuri, “Khazanah ar Riwayat” karya Qadhi Jakan al Hindi, “Syir’ah al Islam” karya Rukn al Islam Muhammad bin Abu Bakar al Jughi (w. 573 H), “al Fatawa ash Shufiyyah” karya Fadhlullah Muhammad bin Ayub, serta kitab “Fatawa ath Thawri” dan “Fatawa Ibnu Nujaim”.      

Meski demikian, secara garis besar, kitab-kitab yang menjadi rujukan ulama Hanafi atau sumber-sumber fiqih Hanafi dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu:[5]

Pertama: al Ushul atau Masail al Ushul.

Yaitu kitab-kitab sumber utama yang juga disebut dengan ”Zhahir ar Riwayah” atau ”Zhahir al Mazhab”, yang mencakup:

-          Enam kitab karya Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani (w. 189 H): (1) ”al Jami‘ al Kabir (الجامع الكبير)”, (2) “al Jami‘ as Saghir (الجامع الصعير)”, (3) ”as Siyar al Kabir (السير الكبير)”, (4) ”as Siyar as Shaghir (السير الصغير)”, (5) ”az Ziyadat (الزيادات)”, dan (6) ”al Mabsuth (المبسوط)”. Di mana Isi kitab-kitab tersebut adalah riwayat-riwayat yang Muhammad riwayatkan dari Abu Yusuf dari Abu Hanifah, atau langsung dari Abu Hanifah. Muhammad menyusun kitab-kitab tersebut di Baghdad. Darinya kitab-kitab itu diriwayatkan secara mutawatir sampai kepada kita.

-          Dua kitab karya al Hakim asy Syahid al-Muruzi: ”al Muntaqa” dan ”al Kafi”. Kitab al Kafi merupakan kesimpulan dari enam kitab Muhammad bin Hasan asy Syaibani di atas. Banyak ulama yang mensyarah kitab ini, di mana yang terbaik di antaranya adalah ”al Mabsuth” karya Syams al A’immah as Sarakhsi. Demikian penting kedudukan kitab ini, hingga ada ulama Hanafi menyatakan, bahwa semua riwayat yang bertentangan dengan kitab ini tidak bisa diterima.

Kedua: an Nawadir atau Masail ghair Zhahir ar Riwayat.

Yaitu kitab-kitab yang menghimpun riwayat-riwayat imam mazhab selain kitab-kitab ushul di atas. Yang termasuk kitab-kitab an Nawadir adalah:

-          Karya-karya Muhammad bin Hasan asy Syaibani yang diriwayatkan secara ahad, tidak sampai pada derajat mutawatir maupun masyhur yaitu: ”ar Raqqiyyat”, ”al Kaysaniyyat”, ”al Jurjaniyyat” dan ”al Haruniyyat”.

-          Kitab ”al Amali wa al-Jawami‘”, dan ”al Mujarrad” karya al Hasan bin Ziyad.

-          Dan kitab-kitab yang diriwayatkan oleh Ibnu Sama’ah, Hisyam, Ibnu Rustum dll.

Ketiga: al Fatawa atau al Waqi‘at.

Yaitu himpunan hasil ijtihad mazhab al Hanafi al muta’akhkharin, seperti ashab (mitra belajar) Muhammad, Abu Yusuf, Zufar, al-Hasan bin Ziyad, ashab mereka, dan seterusnya. Yang termasuk dalam barisan ini antara lain: “al Nawazil” karya Abu al Laits as Samarqandi, “Majmu‘ an Nawazil wa al Hawadits wa al Waqi‘at” karya Ahmad bin Musa bin al Kashi, ”al Waqi‘at” karya Abu al ‘Abbas Ahmad bin Muhammad al Razi al Natifi, dan ”al Waqi‘at” karya al Sadr al Syahid. Semua kitab tersebut telah dihimpun dan disusun ulang secara tertib oleh Radhi al Din al Sarakhsi dalam Kitabnya “al Muhit” ataupun secara tidak urut oleh Qadhi Khan dalam ”Fatawa-nya”. (bersambung)


[1] Ali Jum’ah Muhammad Abd al Wahhab, al Madkhal ila DIrasah al Mazahib al Arba’ah, (Kairo: Dar as Salam, 1422-2001), cet. 1, hlm. 87-88.

[2] Abd al Hayy al Luknawi, an Nafi’ al Kabir li man Yuthali’ al Jami’ ash Shaghir, (Bairut: Alim al Kutub, 1406 H), hlm. 13.

[3] Ali Jum’ah, al Madkhal ila Dirasah al Mazahib al Arba’ah, hlm. 101.

[4] Abd al Hayy al Luknawi, an Nafi’ al Kabir li man Yuthali’ al Jami’ ash Shaghir, hlm. 26-30.

[5] Ibnu ‘Abdin, Hasyiah Rad al Muhtar ‘ala ad Durr al Mukhtar syarh Tanwir al Abshar, hlm. 1/69, Abd al Hayy al Luknawi, an Nafi’ al Kabir li man Yuthali’ al Jami’ ash Shaghir, hlm. 17-18. 

Bagikan via


Baca Lainnya :

Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.637 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.764 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 6.106 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.746 views
Bagian Waris Anak Angkat
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 28 November 2014, 17:35 | 3.321 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 1.411 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 3.144 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 3.106 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 4.155 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.637 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.764 views
Kembalilah Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.493 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 5.329 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 20.065 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.807 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.625 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.655 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 6.276 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 6.592 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.786 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 4.384 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.543 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 4.138 views
Tingkatan Fuqaha'
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 4.035 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 16.056 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 4.473 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 10.125 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 5.425 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 6.367 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 9.909 views
Fiqih Islami
Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 4.331 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan