Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2) | rumahfiqih.com

Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)

Isnan Ansory, Lc, MA Wed 17 December 2014 16:11 | 3040 views

Bagikan via

Kedua: Sebab-sebab terjadinya khilafiyyah di internal mazhab Hanafi

Berangkat dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dinamika perdebatan, silang pendapat, atau khilafiyyah sangat mungkin terjadi di internal mazhab Hanafi.

Ibrahim al Hafnawi telah merinci sebab-sebab terjadi khilafiyyah atau perbedaan pandangan di internal mazhab Hanafi, yang ia rinci menjadi empat sebab:[1]

1. Terjadinya perbedaan dalam penukilan riwayat-riwayat dari Imam Abu Hanifah. Imam Abu Bakar al Baligi sebagaimana dikutip al Hafnawi mengatakan, setidaknya perbedaan penukilan riwayat dari imam Abu Hanifah terjadi karena empat sebab:

(1) Kekeliruan rawi dalam menukil perkataan imam Abu Hanifah,

(2) adanya riwayat yang menjelaskan bahwa imam Abu Hanifah telah mengkoreksi pendapatnya, namun di sisi lain ada rawi yang tidak menerima riwayat tersebut,

(3) terjadinya perbedaan persepsi atas ijtihad imam Abu Hanifah antara berpendapat dengan qiyas[2] atau istihsan[3](dalam hal jika terjadi kontradiksi dalam sebuah masalah antara hukum yang dihasilkan dengan qiyas di satu sisi dan istihsan di sisi yang lain, maka umumnya ulama Hanafiyyah mendahukan produk fiqih yang dihasilkan dari istihsan atas qiyas),

(4) kadangkala imam Abu Hanifah menjawab sebuah masalah dengan dua jawaban; pertama dengan hukum yang semestinya dan kedua dengan hukum yang di dasari atas kehati-hatian (ihtiyath), lalu dua jawaban tersebut diriwayatkan secara berbeda oleh murid-muridnya.

2. Adanya dua riwayat berbeda dari imam Abu Hanifah, di mana di satu sisi dapat diketahui pendapat mana yang awal terucap dan pendapat mana yang belakangan terucap, maka pendapat terakhir dianggap menegasikan pendapat yang awal. Namun kadangkala urutan waktunya tidak diketahui, hingga terjadilah khilafiyyah di antara ulama Hanafiyyah.

3. Terjadinya perbedaan pendapat antara Imam Ahmad dengan para shahabatnya semisal Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, Zufar, al Hasan bin Ziyad dan lainnya.

4. Terjadinya perbedaan pendapat diantara ulama Hanabilah (takharij al ashab).

Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan di atas, tentunya dalam menisbatkan sebuah pendapat kepada mazhab Hanafi harus melalui proses tarjih yang dengannya sebuah pendapat dapat dikatakan sebagai pendapat yang mu’tamad atau diakui oleh segenap ulama Hanafiyyah.

Sebab, dengan mengambil pendapat yang diketahui lemah di mazhab tersebut dan meninggalkan pendapat yang dianggap lebih kuat adalah sebuah kesalahan jika selanjutnya dinisbahkan kepada mazhab tersebut. Sebagaimana kelirunya seseorang menisbatkan pendapat bolehnya nikah mut’ah kepada Ibnu Abbas, padahal Ibnu Abbas sendiri telah mengkoreksi kekeliruan pendapatnya ini.

Ketiga: Tingkatan ulama Hanafiyyah

Sebelum masuk kepada penjelasan tentang bagaimana hirarki pendapat dalam mazhab Hanafi, alangkah baiknya jika kitapun mengetahui, thabaqat atau tingkatan ulama yang berafiliasi kepada mazhab Hanafi. Untuk tingkatan ini terjadi silang pendapat di antara ulama Hanafiyyah, di mana yang pertama kali merumuskannya adalah Ibnu Kamal Basya ar Rumi.

Pertama: Tingkatan Ulama Hanafiyyah menurut Ibnu Kamal Basya (w. 940 H).[4]

Ibnu Kamal Basya yang bernama lengkap Syams ad Din Ahmad bin Sulaiman bin Kamal Basya dalam bukunya “Thabaqat al Fuqaha’” yang dinukil oleh Ibnu ‘Abdin (w. 1252 H) dalam Hasyiah-nya mengklasifikasikan ulama Hanafiyyah berikut kapasitas setiap level menjadi 7 tingkatan:

1. Al Mujtahidun fi asy Syara’ (المجتهدون في الشرع):

Yaitu para mujtahid yang merumuskan Ushul Mazhab, secara langsung seperti imam asy Syafi’i (w. 205 H) dalam ar Risalah-nya atau tidak langsung seperti imam Abu Hanifah, Malik bin Anas (w. 179 H), dan Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dalam karya-karya mereka.

2. Al Mujtahidun fi al Mazhab (المجتهدون في المذهب):

Yaitu para mujtahid yang mampu melakukan istinbath hukum berdasarkan ushul mazhab imamnya meskipun produk fiqihnya bisa berbeda dengan imam mazhab. Seperti imam Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy Syaibani dalam mazhab Hanafi.

3. Al Mujtahidun fi al masail allati laa nasha fi ha ‘an shahib al mazhab (الْمُجْتَهِدِينَ فِي الْمَسَائِلِ الَّتِي لَا نَصَّ فِيهَا عَنْ صَاحِبِ الْمَذْهَبِ):

Yaitu para fuqaha yang menyimpulkan hukum-hukum syariat dari dalil-dalilnya yang terperinci, di mana tidak ditemukan nash dari imam mazhab sembari secara konsisten tetap mendasarkan kesimpulan hukumnya kepada dasar-dasar yang telah ditetapkan imam mazhab.

Di antara ulama Ahnaf yang masuk dalam katagori ini adalah Ahmad bin Amr al Khassaf (w. 261 H), Abu Ja’far at Thahawy (w. 321 H), Abu al Hasan al Karkhy, Syams al A’immah Al Hulwani (w. 449 H), Syams al A’immah as Sarakhsi, Fakhr al Islam al Bazdawi, Fakruddin Qadhi Khan (w. 592 H) dll.

4. Ashhab at Takhrij min al Muqallidin (أَصْحَابِ التخريج مِنْ الْمُقَلِّدِينَ):

Yaitu para ulama yang tergolong muqallid di mana mereka melakukan usaha takhrij atas pendapat imam mazhab atau ulama mujtahid lainnya. Seperti al Jashshas ar Razi.

5. Ashhab at Tarjih min al Muqallidin (أَصْحَابِ التَّرْجِيحِ مِنْ الْمُقَلِّدِينَ):

Yaitu para ulama yang tergolong muqallid di mana mereka melakukan usaha tarjih (menguatkan satu pendapat atas pendapat lain di internal mazhab) dengan mengatakan di dalam karya-karyanya; pendapat ini lebih utama, lebih shahih, lebih sesuai dll. Ulama Ahnaf yang tergolong tingkatan ini di antaranya Abu al Hasan al Quduri (w. 428 H) dan Burhan ad Din al Marghinani (w. 593 H).

6. Para ulama muqallidun yang mampu membedakan antara riwayat yang kuat dan lemah dalam mazhab (طَبَقَةُ الْمُقَلِّدِينَ الْقَادِرِينَ عَلَى التَّمْيِيزِ بَيْنَ الْأَقْوَى وَالْقَوِيِّ وَالضَّعِيفِ وَظَاهِرِ الْمَذْهَبِ وَالرِّوَايَةِ النَّادِرَةِ):

Di mana mereka hanya menuliskan dalam kitab-kitab mereka pendapat-pendapat yang mu’tamad dalam mazhab dan tidak meriwayatkan pendapat yang lemah dan tertolak. Ulama Ahnaf yang tergolong tingkatan ini di antaranya penulis kitab-kitab matan dari golongan muta’akhkhirin seperti Hafiz ad Din an Nasafi (w. 710 H) dengan karyanya “Kanz ad Daqa’iq”, Ibnu Maudud al Maushili (w. 683 H) dengan karyanya “al Mukhtar li al Fatwa”, Burhan asy Syariah al Mahbubi (w. 673 H) dengan karyanya “Wiqayah ar Riwayah fi Masail al Hidayah”, dan Muzhaffar ad Din Ibnu as Sa’ati (w. 694 H) dengan karyanya “Majma’ al Bahrain wa Multaqa an Nahrain”.

7. Para ulama muqallidun yang tidak mampu mengklasifikasin pendapat-pendapat mazhab antara yang kuat dan lemah.

Hanya saja pembagian Ibnu Kamal Basya ini mendapatkan kritikan yang luas dari kalangan Hanafiyyah berikutnya hingga mereka akhirnya merumuskan tingkatan ulama Hanafiyyah dengan urutan yang berbeda.

Di antara ulama Hanafiyyah yang mengkritiknya adalah Syihab ad Din al Marjani (w. 1306 H) dalam kitabnya, “Nazhurah al Haqq fi Fardhiyyah al ‘Asya’ wa in Lam Yaghib asy Syafaq”, Muhammad Zahid al Kautsari (w. 1371 H) dalam kitabnya “Husn at Taqadhi fi Sirah al Imam Abi Yusuf al Qadhi”, dan Dr. Muhammad bin Abd al Lathif al Farfur dalam kitabnya “al Wajiz fi Ushul al Istinbath”.

Di mana kritikan yang tersebut terkait dengan urutan yang dirumuskan oleh Ibnu Kamal Basya termasuk personalisasi ulama-ulama Hanafiyyah dalam setiap tingkatan.

Kedua: Tingkatan Ulama Hanafiyyah menurut Abu al Hasanat Abd al Hayy al Luknawi (w. 1303 H).[5]

Dalam kitabnya an Nafi’ al Kabir li man Yuthali’ al Jami’ ash Shagir yang merupakan kitab pendahuluan atas kitabnya syarh al Jami’ ash Shaghir karya Muhammad bin Hasan asy Syaibani, Abu al Hasanat Abd al Hayy al Luknawi mengajukan rumusan tentang tingkatan ulama Hanafiyyah yang berbeda dengan Ibnu Kamal Basya. Ia mengklasifikasikan ulama Ahnaf menjadi lima tingkatan:

1. al Mutaqaddimun. Yaitu para shahabat dan murid-murid imam Abu Hanifah semisal Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan asy Syaibani, dan Zufar. Di mana mereka melakukan ijtihad langsung berdasarkan dalil-dalil yang empat; al Qur’an, as Sunnah, al Ijma’, dan al Qiyas. Namun dalam melakukan ijtihad mereka menggunakan pisau analisis yang telah dirumuskan oleh Imam Abu Hanifah.

2. Ulama senior dari kalangan Muta’akhkhirin (أكابر المتأخرين). Di mana mereka melakukan ijtihad atas permasalahan-permasalahan yang tidak ada keterangan atau riwayat dari ulama mutaqaddimun. Di antara ulama Ahnaf yang tergolong kelompok ini adalah Abu Bakar al Khassaf, Abu Ja’far ath Thahawi, Abu al Hasan al Kharki, al Hulwa’i, as Sarakhsi, al Bazdawi, Qadhi Khan, Burhan ad Din Mahmud, dan Thahir Ahmad.

3. Ashhab at Takhrij min al Muqallidin (أَصْحَابِ التخريج مِنْ الْمُقَلِّدِينَ). Yaitu para ulama yang tergolong muqallid di mana mereka melakukan usaha takhrij atas pendapat imam mazhab atau ulama mujtahid lainnya. Seperti al Jashshas ar Razi.

4. Ashhab at Tarjih min al Muqallidin (أَصْحَابِ التَّرْجِيحِ مِنْ الْمُقَلِّدِينَ). Yaitu para ulama yang tergolong muqallid di mana mereka melakukan usaha tarjih (menguatkan satu pendapat atas pendapat lain di internal mazhab) dengan mengatakan di dalam karya-karyanya; pendapat ini lebih utama, lebih shahih, lebih sesuai dll. Ulama Ahnaf yang tergolong tingkatan ini di antaranya Abu al Hasan al Qaduri dan Burhan ad Din al Marghinani.

5. Para ulama muqallidun yang mampu membedakan antara riwayat yang kuat dan lemah dalam mazhab (طَبَقَةُ الْمُقَلِّدِينَ الْقَادِرِينَ عَلَى التَّمْيِيزِ بَيْنَ الْأَقْوَى وَالْقَوِيِّ وَالضَّعِيفِ وَظَاهِرِ الْمَذْهَبِ وَالرِّوَايَةِ النَّادِرَةِ). Di mana mereka hanya menuliskan dalam kitab-kitab mereka pendapat-pendapat yang mu’tamad dalam mazhab dan tidak meriwayatkan pendapat yang lemah dan tertolak. Ulama Ahnaf yang tergolong tingkatan ini di antaranya penulis kitab-kitab matan dari golongan muta’akhkhirin seperti Hafiz ad Din an Nasafi (w. 710 H) dengan karyanya “Kanz ad Daqa’iq”, Ibnu Maudud al Maushili (w. 683 H) dengan karyanya “al Mukhtar li al Fatwa”, Burhan asy Syariah al Mahbubi (w. 673 H) dengan karyanya “Wiqayah ar Riwayah fi Masail al Hidayah”, dan Muzhaffar ad Din Ibnu as Sa’ati (w. 694 H) dengan karyanya “Majma’ al Bahrain wa Multaqa an Nahrain”.

Ketiga: Tingkatan Ulama Hanafiyyah menurut Waliyyullah ad Dahlawi (w. w. 1176 H)[6][6]

Klasifikasi tingkatan ulama lainnya adalah apa yang diajukan oleh Syah Waliyullah ad Dahlawi yang bernama lengkap Ahmad bin Abd ar Rahim Syah Waliyullah ad Dahlawi dalam kitabnya, “’Iqd al Jayyid fi Ahkam al Ijtihad wa at Taqlid”. Akan tetapi klasifikasi yang ia ajukan tidak khusus terkait dengan ulama Ahnaf, namun juga mencakup ulama dari mazhab lainnya. Ia membaginya menjadi empat tingkatan:

1. Mujtahid Mutlak, yang kemudian ia bagi menjadi dua:

1. Mujtahid Mutlak Mustaqil. Seperti empat imam mazhab; Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris asy Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal.

2. Mujtahid Mutlak Muntasib. Yaitu para ulama mujtahid yang berafiliasi kepada mazhab gurunya dan mengambil ushul mazhab sang guru sebagai pondasi untuk berijtihad dalam masalah-masalah fiqih.

2. Mujtahid fi al Mazhab, yaitu para ulama mujtahid yang melakukan takhrij atau proses analogis untuk masalah-masalah baru atas ijtihad-ijtihad fiqih imam mazhab.

3. Mujtahid Fatwa, yaitu para ulama mujtahid dalam mazhab imamnya, di mana mereka memiliki kemampuan untuk melakukan tarjih atas pandangan-pandangan imam-imam mujtahid sebelumnya.

4. Ulama muqallid yang hanya mampu merujuk kepada imam mujtahid atau pandangan-pandangan fiqihnya, tanpa melakukan proses tarjih.

Keempat: Tingkatan Ulama Hanafiyyah menurut Muhammad Abu Zahrah (w. 1974 M)

Di jajaran ulama kontemporerm terdapat nama Muhammad Abu Zahrah yang juga mengajukan pandangannya terkait tingkatan ulama dalam sebuah mazhab, khususnya ketika mengomentari tingkatan ulama mazhab Hanafi dalam bukunya, “Abu Hanifah: Hayatuhu wa ‘Ashruhu wa Ara’uhu wa Fiqhuhu.” Ia membaginya menjadi empat level:

1. Mujtahid Mutlak, yang meliputi imam Abu Hanifah dan murid-muridnya semisal Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Zufar.

2. Mukharrijun atau Mujtahid fi al Mazhab, yaitu para ulama yang melakukan ijtihad atas masalah-masalah baru yang tidak terdapat pandangan ulama mujtahid dalam masalah tersebut.

3. Murajjihun, yaitu para ulama yang melakukan proses tarjih atas pandangan-pandangan ulama mujtahid sebelumnya.

4. Muftuun atau ulama yang berprofesi sebagai mufti, di mana ia menyelusuri pandangan-pandangan mujtahid lalu mencari pendapat yang dirajihkan oleh ulama tarjih (al murajjihun). (Bersambung)

Isnan Anshory, Lc. MA.

[1] Muhammad Ibrahim al Hafnawi, al Fath al Mubin fi Hill Rumuz wa Musthalahat al Fuqaha’ wa al Ushuliyyin, hlm. 25-28.

[2] Qiyas sebagaimana menurut ulama Ushul Fiqih adalah melakukan proses analogis (ilhaq) atas hukum sebuah masalah yang tidak terdapat nashnya kepada masalah yang terdapat nashnya, di mana hukum atas masalah yang ada nashnya menjadi hukum atas masalah yang tidak ada nashnya dikarenakan kesamaan ‘illat/alasan dari dua masalah tersebut.

[3] Sedangkan istihsan adalah memindahkan satu masalah dari hukum yang dihasilkan dari qiyas kepada hukum lain karena pertimbangan darurat atau maslahat dharuriah.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 5.042 views
Antara Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah
| 14 December 2014, 09:13 | 3.219 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 3.208 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 7.426 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 4.071 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Bermazhab Atau Mengamalkan Satu Mazhab?
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 December 2016, 08:00 | 1.316 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 3.067 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 3.040 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 4.071 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.569 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.672 views
Kembalilah Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 18 August 2014, 09:31 | 4.413 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 22:22 | 5.251 views
Perbedaan Antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah (1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 27 July 2014, 21:58 | 19.969 views
Tidak Berpuasa Tanpa Uzur: Antara Kufur dan Dosa Besar
Isnan Ansory, Lc, MA | 30 June 2014, 00:06 | 3.740 views
Melafazkan Niat: Bid'ahkah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 28 June 2014, 01:56 | 5.549 views
Dua Banding Satu: Hikmah Dan Alternatifnya
Isnan Ansory, Lc, MA | 6 June 2014, 05:51 | 3.580 views
Wahyu Allah: Al Qur’an dan As Sunnah
Isnan Ansory, Lc, MA | 8 April 2014, 06:06 | 6.156 views
Masalah Khilafiyyah: Apakah Termasuk Ranah Dakwah?
Isnan Ansory, Lc, MA | 4 April 2014, 06:58 | 6.492 views
Menolak Taqlid Dalam Furuiyyah: Neo Muktazilah Qadariyyah
Isnan Ansory, Lc, MA | 16 March 2014, 11:35 | 6.710 views
Orang Awam Tetap Harus Belajar
Isnan Ansory, Lc, MA | 1 March 2014, 06:54 | 4.313 views
Moderasi Islam dalam Ibadah
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 February 2014, 06:00 | 3.483 views
Wasathiyyah/Moderasi Islam
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 February 2014, 06:04 | 4.066 views
Tingkatan Fuqaha'
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 October 2013, 13:17 | 3.961 views
Adakah Qadha' Sholat Bagi Orang Yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 22 September 2013, 11:34 | 15.935 views
Ekstrimisme Dalam Beragama
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 September 2013, 12:22 | 4.378 views
Mujtahid Tarjih dalam Mazhab Imam Asy-Syafi'i
Isnan Ansory, Lc, MA | 2 September 2013, 00:46 | 10.009 views
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Isnan Ansory, Lc, MA | 21 August 2013, 17:55 | 5.366 views
Pendistribusian Kaffarat Jima' di Siang Bulan Ramadhan
Isnan Ansory, Lc, MA | 15 August 2013, 13:39 | 6.275 views
Adakah Qadha' Puasa bagi Orang yang Telah Meninggal?
Isnan Ansory, Lc, MA | 13 August 2013, 12:00 | 9.809 views
Fiqih Islami
Isnan Ansory, Lc, MA | 12 March 2013, 09:10 | 4.266 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan