Fiqih dan Syariah (2) | rumahfiqih.com

Fiqih dan Syariah (2)

Sutomo Abu Nashr, Lc Sat 13 December 2014 06:06 | 2931 views

Bagikan via

Dari beberapa perbedaan yang tertuang dalam tulisan pertama, ada satu hal yang tentu kita sepakati bersama bahwa hasil pemahaman para mujtahid itu ternyata ada kemungkinan benar dan ada kemungkinan salah. Pada saat hasil kesimpulan seorang mujtahid sesuai dengan  apa yang Allah SWT kehendaki, maka ia benar dan mendapatkan dua pahala. Ia tepat sesuai dengan syariah Allah SWT. Dan itulah syariah.

    Namun, pada saat hasil ijtihad tidak sesuai dengan kehendak Allah SWT, maka ia tidaklah berdosa.  Justru ia akan tetap mendapatkan reward, meski hanya satu pahala. Pertanyaannya kemudian, apakah hasil kesimpulan fiqih yang salah itu bisa termasuk syariah?

    Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar mengatakan bahwa ia tetaplah fiqih namun bukan syariah. Disebut fiqih karena itu merupakan hasil ijtihad, dan tidak bisa disebut syariah karena ijtihad tersebut meleset dari titik kebenaran yang Allah kehendaki.

    Secara global, sebenarnya hasil kesimpulan-kesimpulan fiqih para mujtahid -terlepas dari benar dan salahnya- tetaplah bagian dari syariah. Karena ijtihad itu sendiri merupakan bagian dari syariah. Dalam kisah yang sudah cukup populer, nabi Muhammad SAW yang merupakan penyampai syariah itu, pernah menyetujui apa yang akan dilakukan oleh Muadz ibn Jabal saat diutus oleh beliau ke Yaman. Yang dilakukan Muadz ibn Jabal adalah menggunakan akalnya dikala tak menjumpai pijakan dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah. 

    Tentu saja persetujuan Nabi merupakan syariah. Itulah yang dikenal dalam ilmu ushul fiqih maupun ushul hadits sebagai at-Taqrir. Terlepas dari ijtihad Muadz nantinya benar atau salah, tepat atau meleset dari titik kebenaran, aktivitas Muadz sudah mendapatkan legalitas syar’i. “Al Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusannya Utusan Allah SWT”

    Begitulah legalitas wahyu keluar dengan cukup jelas dari lisan sang Nabi SAW. Dan lagi, Allah SWT malah memberikan pahala kepada mujtahid, meski dia salah. Tentu saja pemberian pahala tidak akan diberikan kecuali pada hal-hal yang sesuai syariah.

    Namun, ketika kita melihat tiap kesalahan dalam hasil kesimpulan ijtihad-ijtihad fiqih itu secara parsial partikular, satu per satu, ijtihad per ijtihad, maka hasil itu bukanlah syariah. Meski proses perjalanan menuju kepada kesimpulan itu sudah mendapatkan legalitas syar’i, namun kita tentu sudah paham bahwa syariah tak akan pernah memiliki sifat salah ataupun keliru.

    Sedangkan kalau kita menyebutnya sebagai fiqih, maka kesalahan tersebut akan dinilai sebagai hal yang sangat wajar dan mungkin saja terjadi pada sebuah hasil kesimpulan kerja akal manusia.

Klaim Paling Sesuai Syariah
Dengan demikian cukup jelaslah bagi kita perbedaan antara syariah dan fiqih. Pemahaman atas perbedaan ini menjadi penting untuk membendung sikap merasa-paling-benar-sendiri yang saat ini menghinggapi cukup banyak mata pemula yang baru mengenal syariah dalam pandangannya yang pertama. Pandangan pertama memang terkadang menipu. Hanya bermodalkan pandangan pertama saja, tentu sangat belum cukup dan memadai untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil kebijakan, kesimpulan atau penilaian. Karenanya, cukup bijak kiranya kalau kita melanjutkan dengan pandangan-pandangan berikutnya melalui kacamata para ulama.

    Sikap merasa fiqihnya paling benar sendiri dan klaim fiqihnya paling sesuai syariah inilah penyakit tak berkesudahan yang menimpa sebagian pengikut masing-masing madrasah fiqih. Padahal kebenaran dan juga kesalahan sebuah hasil ijtihad, adalah perkara rahasia yang hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui akan hakikatnya.

    Kerahasiaan itulah yang disadari betul oleh para mujtahid. Namun yang cukup mengherankan adalah banyak sekali yang malah tidak mau menyadarinya, padahal mereka sama sekali bukanlah mujtahid. 

Ijma'
Hanya ada satu media yang Allah karuniakan kepada kita untuk mengetahui kebenaran hasil ijtihad itu di dunia ini. Namun hal itu hanya terdapat pada hasil ijtihad kasus-kasus fiqih yang jumlahnya cukup terbatas. Media ini dikenal dengan nama Ijma.
 
    Setiap permasalahan fiqih yang sudah masuk dalam wilayah ijma, maka kita bisa meyakini kebenarannya. Kita bisa meyakininya bahwa itulah syariah. Karena, ijma adalah cermin yang memberitahu para mujtahid akan kebenaran ijtihad fiqihnya. Ijma adalah panggung dimana kebenaran dan ketepatan ijtihad para mujtahid itu dipentaskan. Sehingga para ulama setelah masa terjadinya ijma itu, bisa dengan jelas menyaksikan. 

    Setiap mujtahid mutlak diwajibkan untuk mengetahui semua fiqih yang ada dalam wilayah ijma itu. Hal ini dimaksudkan agar ia tidak perlu repot-repot lagi melelahkan diri dalam sebuah aktivitas yang hasilnya sudah final. Jika hasilnya benar dan sesuai ijma maka aktivitasnya tak menambah nilai apa-apa. Apalah lagi jika ia salah, penyelisihannya terhadap ijma ini akan dianggap sebagai sebuah dosa.

    Setelah mengetahui wilayah ijma, maka semua permasalahan fiqih yang berada di luar wilayah tersebut adalah wilayah rahasia yang tidak pernah diketahui benar dan salahnya atau tepat dan melesetnya.

Kesimpulan Fiqih
Apa yang para mujtahid lakukan kemudian hanyalah berusaha mengambil kesimpulan hukum fiqih sesuai dengan konsekwensi setiap dalil dan hujjah yang mereka ketahui. Mereka melakukan aktivitas ijtihad itu dengan tetap menyadari bahwa kesimpulan fiqihnya nanti bisa saja tepat dan itulah syariah, namun bisa juga salah dan itulah ijtihad fiqih.

    Maka, sekali lagi hasil kesimpulan fiqih memang belum tentu syariah. Namun kita sama sekali tak dilarang untuk menjadikan fiqih sebagai panduan beribadah. Kita sangat boleh dan sah-sah saja beribadah kepada Allah SWT dengan berpanduan hasil atau produk akal manusia itu.

    Namun, ia bukan sekedar hasil produk akal. Fiqih adalah produk akal yang merupakan pemahaman para mujathid yang aktivitasnya merupakan perintah syariah. Sehingga hasilnya yaitu fiqih, secara global merupakan bagian dari syariah.

    Dengan kesadaran akan makna fiqih seperti itulah, para ulama salaf terdahulu sangat tidak berani untuk mengatakan bahwa ra’yu (pendapatnya) adalah agama atau syariah.

Imam Syafi’i dengan segala kerendahan hatinya mengatakan, “Ra’yi..” (pendapat akalku) dan bukan “inilah bentuk ibadah Nabi”.

Umar ibn Al Khattab -ketika seseorang hendak menulis pendapatnya dengan redaksi, “inilah hukum Allah yang diilhamkan kepada Amir Al Mu’minin”- beliau menolak dengan mengatakan, “tulislah; ini pendapat Umar, jika benar maka itu dari Allah, jika salah maka dari Umar ”.

Abu Bakr Ash-shiddiq  radhiyallahuanhu juga memiliki cerita yang hampir sama. Beliau pernah berpendapat dalam kasus Kalalah. Beliau mengatakan, “Dalam kasus ini, Aku menggunakan pendapatku. Jika benar dari Allah SWT, jika salah maka dari kesalahanku dan juga syaitan. Allah SWT dan Rasul-Nya terlepas dari kesalahan tersebut” 

    Para ulama terdahulu tidak ada yang menulis buku atau kitab-kitab mereka dengan judul-judul yang terkesan mengklaim bahwa bukunya adalah sunnah atau syariah yang sahih. Mereka selalu menulis dengan judul yang menunjukkan pengakuan akan segala kekurangan dan keterbatasan. Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Fathul Qadir dan dengan model judul-judul yang lain.

    Hal itu karena mereka sadar bahwa ini semua hanyalah petunjuk yang dianugerahkan Allah SWT -yang Maha Al Qarib, Al Mu’in, Al Wahhab, Al Qadir- dalam menuliskan kitabnya.

Tarjih; Kesimpulan Fiqih
Meski banyak juga diantara mereka yang melakukan tarjih terhadap perbedaan-perbedaan pendapat tersebut, namun mereka selalu sadar bahwa tarjih tersebut “hanyalah” kesimpulan fiqih dan belum tentu syariah. sehingga mereka dengan penuh tawadhu' akan mengakhiri setiap bab, pasal, atau kitabnya dengan kata pamungkas; Wallahu A’lam.

    Seorang mujtahid tarjih (murajjih) tidaklah pernah merasa berposisi sebagai wasit yang kemudian memutuskan siapa saja pemain yang akan keluar sebagai pemenang final dalam sebuah perhelatan besar, ikhtilaf fuqaha itu. Kerja para mujtahid tarjih tidak lebih dari “sekedar” berijtihad dalam memilah ragam perbedaan itu agar tersaring satu pendapat terkuat untuk sementara waktu.

    Sebab, mereka menyadari bahwa di kemudian hari atau di tempat lain bisa saja muncul murajjih lain yang membatalkan hasil tarjihnya, dan justru memilih pendapat yang dalam pandangannya marjuh. Dan demikianlah karakteristik pemikiran fiqih sebagai sebuah produk ijtihad. Hasil ijtihad fiqih bisa dipilih atau tidak dipilih, rajih ataupun marjuh, tergantung pada siapa mujtahidnya dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.

    Barangkali itulah jawabannya mengapa kita tidak pernah mendapati nama-nama kitab fiqih ulama terdahulu dengan nama  dan juga isi yang mengesankan seolah ijtihad mereka itulah yang paling sahih dan paling sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

    Barangkali hal ini berangkat dari kesadaran bahwa mereka tidak pernah bertemu Rasulullah SAW, dan dengan adanya jarak yang membentang antara mereka dengan Rasulullah, hasil ijtihad mereka bisa saja tepat dengan apa yang dicontohkan Rasul, namun bisa juga meleset dari titik sunnah Rasul yang sebenarnya. Bahkan para sahabat mulia yang hidup bersama Rasulullah SAW dan menyaksikan turunnya wahyupun kenyataannya banyak terjadi perbedaan diantara mereka dalam membaca, memahami dan mengamalkan syariah yang mereka saksikan turunnya itu.

    Dengan tetap berbaik sangka bahwa para penulis kontemporer itu bersih dari motif klaim paling sunnah atau paling sahih, tulisan ini lahir bukanlah untuk mengkritisi judul-judul kitab itu dan isinya. Biarlah itu menjadi sebuah fenomena zamannya yang akan menjelma menjadi saksi kelak atas kontribusi mereka dalam menjelaskan syariah. Itu adalah cermin kecintaan mereka terhadap umat agar ibadah mereka benar-benar sesuai - dalam pemahaman mereka- dengan syariah.

    Tulisan ini hadir tidak lain hanya ingin menghilangkan efek yang timbul dari judul-judul buku semacam itu. Sebuah efek yang diakui atau tidak, merupakan penyakit yang jelas terlihat nyata, lumayan terasa, cukup menggemaskan, namun juga menantang untuk segera dicarikan obatnya.

    Dengan munculnya buku-buku berjudul seperti itu, banyak sekali para pembaca awam kemudian dengan berani dan tak beradab menyalah-nyalahkan fiqih-fiqih para fuqaha salaf yang terdapat dalam fiqih At Taharah, fiqih As Shalat, fiqih Az Zakat, dan lain-lain. Padahal mereka juga sama-sama membaca. Membaca pemahaman para ulama. Membaca fiqih, dan belum tentu syariah.

    Pada saat ada orang lain berargumen dengan fiqihnya Imam Nawawi misalnya, mereka benturkan fiqih sang Imam itu dengan pertanyaan, “Mau ittiba’ Nawawi atau Nabi ?”. Pertanyaan serupa sering kali muncul dalam banyak kesempatan. Fenomena semacam inilah yang menginspirasi lahirnya tulisan sahabat saya Ustadz Ahmad Zarkasih, Lc; “Mau Ikut Nabi atau Ikut ‘Ulama ?”

    Sungguh, yang demikian itu adalah bentuk kesombongan. Pemilik pertanyaan benar-benar tidak mawas diri. Ungkapan semacam itu seolah-olah sedang menunjukkan bahwa pemahamannyalah yang paling sesuai syariah sehingga lebih layak untuk ditarjih dan diikuti. Meski biasanya pemahaman itu sangat mungkin lahir dari pandangan pertama saja.

    Sedangkan pemahaman para ulama yang lahir dari proses cukup panjang dan amat rumit, dibuang jauh dibelakang punggungnya. Jika saja ungkapan itu dan yang senada dengannya telah mengakar kuat dalam banyak pelajar pemula, maka klaim paling sesuai syariah bisa-bisa akan menerjang otoritas keilmuan para fuqaha, dan itu tentu saja sangat bertentangan dengan tradisi keilmuan dalam Islam. Padahal, -sebagaimana terdapat dalam petunjuk nabawi- para ulama itulah ahli waris paling sah atas peninggalan para Nabi. Jika mereka sudah berani untuk ikut mengambil bagian dari warisan tersebut, padahal tidak memiliki satu persen pun hak didalamnya, maka bukankah itu sama saja dengan sebuah pencurian yang pelakunya akan diteriaki massa sebagai; Maling ?

    Jika saja kesadaran akan makna fiqih dan syariah itu mereka miliki, tentu penyakit semacam itu sedikit terobati. Dan sebagai bagian dari kesadaran itu, tulisan ini juga tidaklah diakui sebagai bagian dari fiqih, apalagi syariah. Karena penulis bukanlah mujtahid yang hasil kesimpulan ijtihadnya terangkum dalam sebuah fiqih. Tulisan ini tidak lebih dari sekedar upaya pemetaan posisi yang jelas antara fiqih dan syariah, serta mengambil sikap bijak dan proporsioanal terhadap keduanya. Jika tulisan ini benar, maka itu semata-mata dari Allah SWT, dan jika salah maka itu murni merupakan kekeliruan penulis.

Wallahu A’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 7.124 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 3.611 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 3.268 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (1)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 4 December 2014, 11:14 | 3.352 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.715 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 516 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.172 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 3.009 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.247 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.627 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 2.931 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 7.124 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.549 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 3.971 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.376 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 3.954 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 3.876 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 3.623 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.434 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 3.923 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 4.185 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.704 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 7.197 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 3.835 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 7.039 views