Piye Kabare, enak jamanku tho ? | rumahfiqih.com

Piye Kabare, enak jamanku tho ?

Sutomo Abu Nashr, Lc Tue 16 December 2014 07:46 | 6614 views

Bagikan lewat

Setiap negara memiliki karakteristik fiqihnya masing-masing. Hal ini karena Islam sebagai agama penutup wahyu ini, memang sudah didesain sedemikian paripurna. Dan ajaran paripurna ini memiliki sifat tetap tak akan berubah sekaligus dinamis dan fleksibel. Tetap (tsabit) dalam hal sumber hukum, aturan dan undang-undangnya yang tak akan pernah satu kali pun diamandemen. Dan mutaghayyir (dinamis) sekaligus murunah (fleksible) dalam aplikasi undang-undang tersebut pada kehidupan nyata umatnya, sehingga ia akan selalu mustajib (responsif) atas segala ragam perkembangan dan perubahan.

    Maka dalam sejarah perkembangan Islam yang membentang semenjak terlahir di suku Quraisy Arab sana, hingga tumbuh besar dan menyebar luas di berbagai belahan dunia, kita bisa menyaksikan Islam selalu bisa diterima bukan saja sebagai agama yang tertera di KTP, namun juga sekaligus sebagai agama yang ditaati semua aturan dan segala perintah maupun larangannya.

    Islam bisa tampil dalam performance yang berbeda-beda meski substansinya tetap sama. Di arab sana, menutup aurat terbiasa dengan gamis, jubah dan lain-lain. Namun di Indonesia menutup aurat bisa saja dengan celana panjang dan baju batik. Itu semua sah-sah saja dalam fiqih Islam. Sebab intinya adalah menutup aurat.

    Dan Islam hadir ke bumi ini melalui bahasa Arab sebagai media komunikasi pilihannya, bukanlah bermaksud untuk merubah seluruh umat manusia tampil dalam bentuk, model dan style Arab. Bahkan bahasa Arab yang sangat amat dianjurkan untuk dipelajari sebagai sebuah syiar, dan dalam kadar tertentu malah diwajibkan untuk diketahui demi memahami dan menjalani ajaran agama ini saja, tidak lantas ditetapkan oleh syariat sebagai bahasa komunikasi sehari-hari umat manusia. Islam membiarkan umatnya untuk menjaga tradisi, budaya, bahasa dan adat istiadat setempat selama tidak bertentangan dengan syariat.

    Karenanya, kita bisa melihat secara substansial Islam sudah cukup bagus tampil di tengah-tengah beragam suku dan budaya nusantara. Orang yang paham mendalam tentang agama ini, mengetahui secara mendalam seluk beluk gramatikal arab, bisa membaca kitab-kitab kuning berbahasa arab, mereka bisa saja disebut kyai, ajengan, tuan guru, ataupun buya meski setingkat para masyayikh di Arab sana dari sisi keilmuannya.

    Dan pengetahuan mendalam akan syariah dan bahasa arab ini tidak lantas mengubah komunikasi mereka dari Kulo,  Sampeyan, Maturnuwun, dan Pangamputen menjadi Ana, Antum, syukran dan afwan.  Mereka tak pernah meninggalkan bahasa ibunya. Tentu saja, ini hanyalah soal kebiasaan. Yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa arab, sangat bagus untuk dipertahankan. Lebih bagus lagi jika mampu menularkan kebiasaan positif tersebut kepada yang lain.

    Hanya saja yang perlu diingatkan, meski menggunakan Ana, Antum, afwan, syukran tidaklah ada masalah dalam perspektif syariah, hal ini bisa saja salah jika disertai pandangan dan pemahaman bahwa menggunakan bahasa arab tadi -dan hanya terbatas tadi- jauh lebih syar’i dan Islami dan yang tidak menggunakan dianggap kurang syar’i. Lebih-lebih jika dibarengi rasa bangga berlebihan hingga merasa sudah berada di komunitas suci yang memandang komunitas lain dengan sebelah mata. Atau menjadikan bahasa tersebut sebagai alat identifikasi apakah ia bagian dari kita atau bukan-kita.

    Sekali lagi, meski bahasa Arab telah ditetapkan sebagai bahasa ibadah, namun dalam komunikasi dan interaksi (muamalah) harian, syariat tidak pernah membedakan antara ana dan sampeyan. Malah bisa jadi majlis sampeyan-panjenengan jauh lebih baik daripada majlis ana-antum. Hal demikian misalnya jika dalam majlis sampeyan-panjenengan terisi kajian ilmiah yang mengingatkan orang lupa, berbagi ilmu kepada mereka yang tidak tahu, disertai kata-kata yang manis dan santun. Sedangkan majlis ana-antum tidak lain adalah majlis ghibah dan tebar fitnah, meski -sebagai sebuah justifikasi- biasanya mereka akan berdalil dengan syariah. Berdalil atau berdalih ?.

    Namun tentu saja contoh seperti diatas sangat mungkin bisa terjadi sebaliknya. Maksudnya, majlis ana-antum tak sepenuhnya selalu demikian. Masih banyak diantara mereka yang juga santun dan anggun. Dan sebaliknya, ada juga majlis sampeyan-panjenengan yang tak santun, lagi tak anggun. Yang terpenting bagi kita sebagai muslim adalah menjadikan bahasa Arab sebagai wasilah beragama, bukan sekedar media komunikasi apalagi alat ngobrol sesama gerombolannya yang bahasa arabnya biasanya (mohon afwan) hanya terbatas pada kosakata ; fulus, harim dan bahlul saja.

    Contoh diatas menunjukkan bahwa bahasa bukanlah titik pertimbangan dan penentuan standar syar’i atau tidak syar’i, islami atau tidak islami. Tapi yang menjadi standar syar’i tetaplah ajaran subtansi Islam itu sendiri. Karenanya, jika setelah keluar masjid dari shalat berjama’ah kita bertemu dengan salah satu teman akrab yang telah cukup lama berpisah,  maka ungkapan “kaifa haluk ya akhi” kalau tidak cukup berhasil mempererat silaturahmi, tinjauan maslahah menyarankan agar kita, -sambil tersenyum sangat manis dan melambaikan tangan- mengucapkan, “Piye kabare, enak jamanku to ?”


Baca Lainnya :

Antara Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah
| 14 December 2014, 09:13 | 3.369 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 3.981 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 8.107 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 1)
Isnan Ansory, Lc, MA | 9 December 2014, 10:58 | 5.192 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanbali (2)
Isnan Ansory, Lc, MA | 5 December 2014, 11:23 | 4.575 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 2.572 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 7.751 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 6.345 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 5.511 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 6.614 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 4.709 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 8.900 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 5.578 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 5.869 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 5.168 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 6.731 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 6.329 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 6.145 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 6.602 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 5.650 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 6.096 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 7.281 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 11.197 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 6.018 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 11.618 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA48 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA23 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

13-12-2019
Subuh 04:09 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:05 | Isya 19:19 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img