Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid | rumahfiqih.com

Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid

Hanif Luthfi, Lc Wed 14 January 2015 06:46 | 5370 views

Bagikan via

Suatu ketika dalam sesi tanya jawab, ada salah satu jamaah bertanya begini, “Ustadz kan sudah Lc dan belajar ushul fiqih, kenapa masih taqlid?”

“Maksudnya?” tanya saya balik.

“Ketika menjawab pertanyaan fiqih, kenapa masih memakai pendapat A begini pendapat B begini. Kenapa tidak langsung jawab hadits shahihnya apa, hukumnya bagaimana. Jadi jelas kita mengikuti sunnah” Sergah bapak yang bertanya tadi.

Ada beberapa hal yang ingin saya jelaskan terkait pertanyaan tadi. Sepertinya pertanyaan model begitu juga sering kita temukan saat ini. Pertama, terkait gelar Lc. Kedua, terkait belajar ushul fiqih dan taklid.

Pertama, Gelar Lc Bukan Jaminan Mutu Ustadz

Memang saat ini tak jarang yang menjadikan gelar Lc sebagai jaminan produk mutu seorang ustadz. Seolah jika sudah Lc berarti ahli dalam bidang agama. Banyak ustadz kondang yang memiliki gelar Lc di belakang namanya.

Hal ini perlu dijelaskan lebih lanjut. Lc adalah singkatan dari Licence yang dalam bahasa Arab disebut dengan (الليسانس). Asalnya bukanlah dari Bahasa Arab, tetapi dari Bahasa Perancis. Ia adalah gelar akademik untuk setingkat strata satu jurusan Ilmu nadzari atau teoritis; seperti keagamaan, adab dan sastra, bahasa serta hukum perundang-undangan.

Jadi, tidak semua Lc itu lulusan jurusan keagamaan. Ditambah lagi, tak semua Lc fakultas keagaaman juga jurusannya syariat. Bisa jadi jurusannya adalah bahasa dan sastra. Maka, menganggap semua Lc adalah ahli syariah adalah kurang tepat. Apalagi dianggap gelar Lc sudah bisa menjadi modal menjadi mujtahid yang haram untuk bertaklid, itu sebuah kekeliruan.

Kedua, Sudah Belajar Ushul Fiqih (Tidak) Haram Taklid

Buat apa belajar di fakultas kedokteran jika masih berobat di tempat orang lain? Begitulah kira-kira analogi berpikir tentang ushul fiqih dan taklid tadi.

Memang benar, Imam Syamsuddin Ad-Dzahabi (w. 748 H), dalam kitabnya Zaghlul Ilmi, h. 20 pernah berujar:

ولا فائدة في أصول الفقه إلا أن يصير مُحصِّلُه مجتهدا، فإذا عرفه و لم يَفُكَّ تقليدَ إمامه لم يصنع شيئا بل أتعب نفسه و ركب على نفسه الحجّة في مسائل

“Faedah dari belajar ushul fiqih adalah menjadikan orang yang mempelajarinya menjadi seorang mujtahid. Ketika seorang mengetahuinya tetapi tidak melepaskan diri dari taklid kepada imamnya, maka dia tidak berbuat apa-apa. Kecuali hanya melelahkan diri saja”

Pemahaman sekilas dari perkataan Imam ad-Dzahabi (w. 748 H) diatas adalah buat apa belajar ushul fiqih, jika masih taklid. Karena tujuan belajar ushul fiqih adalah menjadikan seorang menjadi mujtahid.

Tetapi jika kita lebih dalami lagi, ketika seorang belajar ilmu ushul fiqih, malah seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Karena ushul fiqih yang harus diketahui oleh mujtahid sangatlah banyak, luas dan mendalam.

Terlebih, orang yang diharapkan tidak lagi taklid dan menjadi mujtahid oleh ad-Dzahabi (w. 748 H) adalah “al-Muhasshil” atau orang yang menghasilkan produk teori ushul fiqih, bukan orang yang hanya menikmati hasil teori ushul fiqih dari orang lain. Artinya, ketika seorang sudah sampai bisa merumuskan sendiri teori dan kaedah ushul fiqih, maka untuk apa lagi dia bertaklid kepada orang lain.

Jika belum bisa merumuskan sendiri teori ushul fiqih, kenapa harus malu untuk bertanya dan bertaklid kepada ulama yang lebih tau dan kompeten.

Ushul Fiqih yang Wajib Diketahui Mujtahid

Sebut saja Imam as-Syaukani (w. 1250 H), salah seorang ulama yang cukup keras mengkritisi taklid dan muqallid, dalam kitabnya al-Qaul al-Mufid fi Adillati al-Ijtihad wa at-Taklid. Ketika beliau menyebutkan salah satu syarat mujtahid adalah harus mengetahui ushul fiqih, dalam kitab beliau yang lain beliau berkata:

الشرط الرابع: أن يكون عالما بعلم أصول الفقه، لاشتماله على ما تمس حاجة إليه، وعليه أن يطول الباع فيه، ويطلع على مختصراته، ومطولاته، بما تبلغ إليه طاقته، فإن هذا العلم هو عماد فسطاط الاجتهاد، وأساسه الذي تقوم عليه أركان بنائه، وعليه أيضا أن ينظر في كل مسألة من مسائله نظرا يوصله إلى ما هو الحق فيها، فإنه إذا فعل ذاك تمكن من رد الفروع إلى أصولها، بأيسر علم، وإذا قصر في هذا الفن صعب عليه الرد، وخبط فيه وخلط.

Syarat keempat (dari seorang mujtahid) adalah mengetahui ilmu ushul fiqih, karena di dalamnya termuat hal yang sangat dibutuhkan seorang mujtahid. Seorang harus mengatahui secara mendalam dan komprehensif, membaca kitab ringkas dan yang panjang dalam ushul fiqih, semaksimal batas kemampuannya.

Karena ilmu ini adalah tiang dan pondasi dari ijtihad, seorang mujtahid juga harus benar-benar mengetahui semua masalah terkait ushul fiqih, sehingga bisa menyimpulkan mana yang benar. (as-Syaukani w. 1250, Irsyad al-Fuhul, h. 2/ 209).

Maka ketika seorang baru membaca satu atau dua kitab ushul fiqih, tentu belum bisa dikatakan mujtahid yang harus tidak taklid. Apalagi jika belajar ushul fiqihnya hanya membaca-baca sendiri, lalu menyomot perkataan-perkataan ulama, disusun sendiri tanpa ada guru yang jelas, lantas keluar ruang belajarnya dan berujar secara tidak langsung pada dunia, "hum rijal wa nahnu rijal", kalo mereka para ulama bisa berijtihad, saya juga bisa, tentu yang seperti itu jauh untuk disebut mujtahid.

Belum lagi ada syarat-syarat yang lain seorang mujtahid, semisal mengetahui al-Qur’an dan hadits secara mendalam, mengetahui masalah ijma’ dan masalah khilaf para ulama, mengetahui Bahasa Arab dan sastranya secara mendalam, mengetahui dalalah lafadz, dan lain sebagainya.

Analaogi ushul fiqih dan mujtahid diatas mungkin kita bisa ganti. Orang yang sekolah di jurusan teknik mesin motor, tak harus membuat sendiri motornya untuk dinaiki. Orang yang kuliah di jurusan farmasi, tak harus membuat obat dengan tangannya sendiri. Begitu juga, orang yang belajar ilmu ushul fiqih tak lantas menjadi mujtahid yang harus menggali hukum sendiri dalam mengamalkan agamanya.

Ushul Fiqih, Usaha Melindungi Nash Agama

Sebagaimana ilmu musthalah hadits muncul sebagai usaha melindungi otentisitas hadits, adanya ilmu ushul fiqih adalah sebagai usaha dalam melindungi dalil nash agama dari pemahaman yang keliru.

Syarat yang cukup ketat dalam menjadi mujtahid, tidak lain adalah usaha agar tidak sembarangan orang boleh menafsiri dan menyimpulkan hukum dari nash dalil al-Qur’an dan Hadits. Membiarkan setiap orang boleh berijtihad, sama halnya membiarkan setiap orang boleh mengendarai mobil di jalan. Maka yang terjadi adalah kekacauan.

Termasuk diantara usaha melindungi nash agama dari kekacauan istinbath adalah dengan adanya madzhab fiqih.

Membiarkan orang awam berijtihad sendiri dari al-Qur’an dan hadits itu, bisa jadi lebih bahaya daripada membiarkan mereka beribadah dengan taqlid kepada ulama muktabarah.

Membiarkan orang yang belum ahli dalam menyetir, untuk menyetir sendiri mobilnya, bisa jadi lebih bahaya daripada membiarkan mereka untuk duduk manis di dalam mobil, mengikuti sopirnya yang sudah ahli. Menjadi penumpang yang cerdas, tentu harus tahu kemana mobil itu akan menuju. Dan itulah pentingnya belajar Ushul Fiqih.

waAllahua'lam bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Satu Kampung Hanya Boleh Ada Satu Jumat, Begitukah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 9 January 2015, 08:37 | 4.819 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 3)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 18 December 2014, 15:56 | 2.882 views
Hirarki Pendapat Dalam Mazhab Hanafi (bag. 2)
Dr. Isnan Ansory, Lc, MA | 17 December 2014, 16:11 | 2.852 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.808 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 3.049 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.709 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 1.066 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.993 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.881 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.579 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.253 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.475 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.304 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.829 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 5.008 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 5.096 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.926 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.778 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.861 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 5.171 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 6.205 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.324 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.709 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 5.035 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 8.062 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 9.047 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.370 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.860 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.483 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.384 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.809 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.717 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.818 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 4.068 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.927 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.398 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.452 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.489 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.676 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.571 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.936 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.573 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.300 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.885 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.489 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.803 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.610 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 4.094 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.796 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 10.075 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.715 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.773 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.784 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 6.158 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.414 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.212 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.564 views