Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat? | rumahfiqih.com

Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?

Hanif Luthfi, Lc Fri 6 February 2015 20:54 | 5032 views

Bagikan via

Sufyan at-Tsauri (w. 161 H) Tidak Meletakkan Tangan Diatas Dada

Sufyan at-Tsauri (w. 161 H) adalah termasuk salah satu rawi yang meriwayatkan hadits diatas dada. Tetapi malah Ibnu al-Mundzir (w. 319 H) menyebutkan:

عن أبي هريرة، قال: «من السنة أن يضع الرجل يده اليمنى على اليسرى تحت السرة في الصلاة» وبه قال سفيان الثوري، وإسحاق

Dari Abu Hurairah mengatakan: Termasuk sunnah adalah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dibawah pusar saat shalat. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Sufyan as-Tsauri dan Ishaq (Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Mundzir w. 319 H, al-Ausath fi as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf, h. 3/ 94).

Kekurang Tepatan Tafsir al-Albani (w. 1420 H) Terhadap Perbuatan Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H)

Bisa dikatakan tokoh kontemporer yang cukup dianut dalam kaitan meletakkan tangan diatas dada adalah Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H). Hal itu bisa dilacak dalam kitabnya Sifat Shalat Nabi dan kitab Irwa’ al-Ghalil.

Bahkan dalam kitab Irwa’ al-Ghalil, beliau berani memastikan bahwa yang “shahih” dari Nabi adalah meletakkan tangan diatas dada.

Pernyataan beliau adalah:

والذى صح عنه صلى الله عليه وآله وسلم فى موضع وضع اليدين إنما هو الصدر, وفى ذلك أحاديث كثيرة أوردتها فى تخريج صفة الصلاة

Yang shahih dari Nabi adalah meletakkan tangan diatas dada. Hal ini didasari dari hadits-hadits yang banyak yang telah saya sampaikan dalam kitab takhrij sifat shalat Nabi. (al-Albani w. 1420 H, Irwa’ al-Ghalil, h. 2/ 70)

Kita dapati al-Albani (w. 1420 H) dengan cukup yakin menyatakan bahwa inilah sifat shalatnya Nabi. Darimanakah keyakinan itu dibangun?

Menurut al-Albani (w. 1420 H), salah satu ulama yang paling mengamalkan sunnah Nabi ini adalah Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H). Al-Albani (w. 1420 H) berargumentasi dan berujar:

وأسعد الناس بهذه السنة الصحيحة الإمام إسحاق بن راهويه, فقد ذكر المروزى فى " المسائل " (ص 222) : " كان إسحاق يوترُ بنا ... ويرفع يديه فى القنوت ويقنت قبل الركوع، ويضع يديه على ثدييه، أو تحت الثديين "

“Orang yang paling bahagia mengamalkan sunnah yang “shahih” ini adalah Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H). Al-Maruzi dalam kitabnya al-Masail menyebutkan: Ishaq suatu ketika pernah shalat witir bersama kami. Lalu beliau mengengkat tangannya ketika qunut, beliau qunut sebelum ruku’. Beliau meletakkan kedua tangannya diatas kedua susunya, atau dibawah susunya..”(al-Albani w. 1420 H, Irwa’ al-Ghalil, h. 2/ 70)

Disini al-Albani (w. 1420 H) cukup provokatif dengan mengatakan bahwa "sunnah yang shahih" terkait meletakkan tangan diatas dada ini telah dilakukan oleh Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H).

Apakah benar seperti itu?

Pertama, tidak tepat jika pernyataan al-Maruzi al-Hanbali (w. 251 H) dipakai sebagai dalil bahwa Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) meletakkan tangan diatas dada ketika shalat. Karena al-Maruzi (w. 251 H) dalam hal ini, sedang membicarakan tentang mengangkat tangan ketika doa qunut di bulan Ramadhan. Lebih jelasnya kita baca secara lengkap pernyataan al-Maruzi (w. 251 H) dalam kitab al-Masail:

وكان إسحاق يرى قضاء الوتر بعد الصبح ما لم يصل الفجر، ويرفع يديه في القنوت الشهر كله، ويقنت قبل الركوع، ويضع يديه على ثدييه أو تحت الثديين

Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) berpendapat bahwa seorang boleh qadha’ shalat witir setelah masuknya waktu shubuh, asalkan belum shalat shubuh. Doa qunut itu dengan mengangkat kedua tangan sebulan penuh (Bulan Ramadhan), beliau qunut sebelum ruku’. Beliau meletakkan tangannya diatas kedua susu atau dibawahnya. (Ishaq bin Manshur al-Maruzi al-Kausaj w. 251 H, Masa’il al-Imam Ahmad wa Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), h. 9/ 4851)

Jadi maksud meletakkan tangan diatas kedua susu yang dilakukan oleh Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) adalah mengangkat tangan setinggi kedua susu/ dada saat doa qunut. Maka istidlal al-Albani (w. 1420 H) dengan apa yang dilakukan oleh Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) adalah kurang tepat dan cenderung dipaksa-paksakan.

Kedua, masih dalam kitab yang sama, bahkan al-Maruzi (w. 251 H) malah menyatakan bahwa pendapat Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) tidak seperti yang dinyatakan oleh al-Albani (w. 1420 H). al-Maruzi (w. 251 H) menuliskan:

قال إسحاق: كما قال تحت السرة أقوى في الحديث وأقرب إلى التواضع

Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) berkata: (meletakkan tangan saat shalat) dibawah pusar itu lebih kuat secara hadits dan lebih dekat kepada tawadhu’. (Ishaq bin Manshur al-Maruzi al-Kausaj w. 251 H, Masa’il al-Imam Ahmad wa Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), h. 2/ 552)

Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) malah berpendapat bahwa meletakkan tangan dibawah pusar itu yang lebih kuat secara dalil hadits, bukan seperti yang dinyatakan oleh al-Albani (w. 1420 H). Hal ini senada dan cocok dengan apa yang diungkapkan oleh Ibnu al-Mundzir an-Naisaburi (w. 319 H). (Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Mundzir w. 319 H, al-Ausath fi as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf, h. 3/ 94).

Maka, pernyataan bahwa Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H) telah mengamalkan "sunnah shahihah"; meletakkan tangan di dada saat shalat ini kuranglah tepat.

Ta’ashub antara Fiqih Madzhabi dan Fiqih non-Madzhabi

Ada hal lain yang kita bisa simpulkan disini. Dalam belajar fiqih madzhabi, kita dituntut untuk menghormati pendapat madzhab lain, jika memang perbedaan pendapat itu disertai dalil. Perbedaan antar madzhab tidak menjadikan perpecahan diantara mereka. Dan mereka tidak ta’ashub terhadap pendapat pribadinya.

Justru sebaliknya, fiqih non-madzhabi mencoba menghilangkan perbedaan-perbedaan pandangan itu. Lantas mengajak pandangan lain untuk meyakini kebenaran pendapatnya sendiri. Bukankah itu namanya ainu at-ta’asshub; sejatinya ta’ashub. Disini kita bisa lihat, sebenarnya siapakah yang lebih ta’ashub?

Kesimpulan:

Beberapa hal yang kita bisa simpulkan adalah:

  1. Bersedekap dalam shalat hukumnya sunnah, tetapi dalil yang ada, yang lebih shahih adalah dalil bersedekap. Hal ini adalah pendapat dari jumhur ulama
  2. Adapun terkait dimana tangan diletakkan ketika sedekap, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan dibawah pusar, diatas pusar dibawah dada dan ada yang di dada.
  3. Jika memang meyakini bahwa salah satu tempat bersedekap itu lebih shahih secara dalil, silahkan dilakukan. waAllahu a’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 8.056 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 9.045 views
Satu Keluarga Meninggal Bersamaan, Bagaimana Cara Pembagian Warisnya?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 25 January 2015, 19:12 | 3.465 views
Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 January 2015, 14:02 | 5.286 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.366 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.703 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 1.061 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.993 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.878 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.572 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.251 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.469 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.302 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.826 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 5.005 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 5.093 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.918 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.774 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.859 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 5.164 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 6.201 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.322 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.705 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 5.032 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 8.056 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 9.045 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.366 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.857 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.481 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.380 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.804 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.714 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.815 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 4.064 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.925 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.395 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.447 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.485 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.672 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.570 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.930 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.570 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.294 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.883 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.487 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.799 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.605 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 4.092 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.790 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 10.072 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.713 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.771 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.780 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 6.153 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.412 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.208 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.561 views