Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda | rumahfiqih.com

Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda

Ahmad Zarkasih, Lc Thu 12 February 2015 06:36 | 5074 views

Bagikan via

Kalau kita buka literasi-literasi fiqih dari lintas madzhab yang diakui dalam dunia syariah, kita tidak mungkin bisa mengelak bahwa perbedaan pandangan dalam masalah fiqih adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin terlepaskan. Dalam satu masalah agama, kita bisa saja menemukan lebih dari 2 pendapat yang pendapat itu tetap diakomodasi oleh para ulama dan tetap dijalan bagi yang mengikutinya.

Namum sayang, ada beberapa saudara-saudara muslim –hampir di seluruh negeri- yang tidak bisa menerima perbedaan itu. Selalu menunjukkan sikap yang ogah dan cendereung menyalahkan mereka yang amalan ibadahnya berbeda dengan apa yang ia amalkan. Menganggap dengan penuh keyakinan bahwa syariah ini adalah satu dan tidak boleh ada perbedaan.

Jelas ini sikap yang keliru dan sama sekali tidak realistis. Memang bisa dikatakan wajar saja kalau ada yang ‘marah’ ketika melihat perbedaan, mengingat ilmu yang ia tahu bahwa umat Islam itu sumbernya saama; al-Quran dan hadits Nabi s.a.w., lalu kenapa berbeda? Belum sampai kepadanya informasi tentang dalil-dalil syariah sebuah hukum yang punya kandungan bersayap.

Memahami Qath’iy dan Dzanniy

Karena itu, penting untuk dipelajari, dan untuk diketahui –agar tidak ada yang marah-marah lagi jika melihat adanya perbedaan- bahwa dalam syariah ini ada masalah-masalah yang sandarannya dalilnya itu Qath’iy [قطعي] di mana tidak boleh ada di dalamnya perbedaan. Dan ada juga yang dalilnya Dzonniy [ظني] yang mana perbedaan di dalamnya terbuka lebar dan masing-masing kita harus berlapang dada untuk itu.

Jadi bisa dikrucutkan bahwa syariah ini, dalil-dalilnya terdiri dari 2 jenis, yakni; [1] Qath’iy, dan [2] Dzanniy. Dan ini juga lah garis pembatas antara syariah dan fiqih. Syariah itu sudah pasti dalil-dalilnya bersifat Qath’iy, dan fiqih tidak mungkin disebut fiqih kecuali kalau dalilnya itu Dzanniy.

[1] Qath’iy (Pasti)

Qath’iy [قطعي] secara bahasa diartikan sebagai putus atau terpotong, akan tetapi dalam istilah ilmu ushul, qathiy berarti sesuatu yang punya arti pasti serta kandungan hukum di dalamnya tidak bersayap. Masalah agama yang dalilnya bersifat qath’iy, maka tidak ada satu pun dari umat ini yang boleh berbeda. Itu dia kenapa disebut qath’iy (putus/potong); terputus sudah pintu ijtihad dan ta’wil, tidak ada lagi yang harus diusahakan.

Dalam litarsi ushul, ada kaidah yang masyhur yaitu “Laa Ijtihaada ma’a Wujudi al-Nash” [لا اجتهاد مع وجود النص], yang artinya “Tidak ada Ijtihad dalam Nash!”. Itu disimpulkan karena memang nash [النص] dalam litarasi ushul adalah bagian dari dalil-dalil yang sifatnya qath’iy, karena itu tidak ada ijtihad pada sesuatu yang sudah ada nash-nya. itu salah satu contoh jenis dalil yang sifatnya qath’iy.

Dalam kitab-kitab ushul juga, ulama membagi qath’iy ini ke dalam 2 jenis; Qath’iy al-Tsubut [قطعي الثبوت], dan Qath’iy al-Dilalah [قطعي الدلالة].

a.   Qath’iy al-Tsubut [قطعي الثبوت]

Tsubut [الثبوت] bisa diartikan sebagai sumber, jadi maksud dari qath’iy al-Tsubut [قطعي الثبوت] adalah dalil yang sifatnya qath’iy dari sisi sumbernya. Lebih mudahnya itu adalah dalil yang sumbernya pasti. Yang masuk dalam jenis ini adalah semua ayat dalam al-Qur’an, dan Hadits-hadits yang sifatnya Mutawatir.

Atau bisa dikatakan juga –sebagaimana disebutkan para ulama ushul- bahwa qath’iy al-Tsubut itu adalah teks syariah yang kita sangat meyakini bahwa itu bersumber dari Allah s.w.t., melihat itu diriwayatkan dengan sanad yang kuat; sanad kuat dalam artian di mana di setiap tingkatan sanad diriwayatkan oleh jumlah yang banyak, sehingga sulit untuk terjadi dusta atau pengurangan serta penambahan matan (redaksi) teks syariah tersebut.

b.   Qath’iy al-Dilalah [قطعي الدلالة]

Al-Dilalah [الدلالة] secara bahasa diartikan sebagai petunjuk, maksudnya qath’iy al-Dilalah [قطعي الدلالة] menurut ulama ushul fiqh adalah dalil syariah yang indikasinya atau petunjuk hukumnya mengarah kepada sesuatu yang pasti dan tidak bersayap, artinya tidak multi tafsir, karena kuatnya indikasi itu dan jelas maknanya.

Itu yang dimaksud dengan al-Nash [النص], yaitu dalil yang mempunyai makna jelas dan tidak bersayap, sehingga hukumnya pun mengarah kepada sesuatu yang meyakinkan karena tidak multi tafsir. Karena itu ada kaidah yang masyhur yaitu “Laa Ijtihaada ma’a Wujudi al-Nash” [لا اجتهاد مع وجود النص], yang artinya “Tidak ada Ijtihad dalam Nash!”.

[2] Dzanniy (Duga-Duga)

Dzanniy [ظني] secara bahasa berarti duga-duga, bisa juga dikatakan itu sesuatu yang masih ada keraguan di dalamnya. Dalam literasi Ushul, dzanniy itu kebalikan atau lawan dari qath’iy. Dan Dzanniy inilah yang menjadi ranah fiqih, yang memang semua masalah fiqih itu bersifat dzanniy.

sama seperti qath’iy, Dzanniy juga terbagi menjadi 2, yakni dari segi sumber (al-Tsubut) dan juga dari segi petunjuk hukum yang terkandung di dalamnya (al-Dilalah).

a.   Dzanniy al-Tsubut [ظني الثبوت]

Kalau qath’iy al-Tsubut itu adalah al-Qur’an dan hadits-hadits Mutawatir, maka Dzanniy al-Tsubut itu adalah selain keduanya. Jadi seluruh teks syariah selain ayat al-Quran dan hadits Mutawatir, itu sifatnya dzanniy al-Tsuubut, mengingat bahwa keaslian sumbernya masih terdapat di dalamnya keraguan, mugnkin karena yang meriwayatkannya sedikit, sehingga memungkinkan adanya putusnya sanad dan sejenisnya.

b.   Dzanniy al-Dilalah [ظني الدلالة]

Ini kebalikan dari qath’iy al-Dilalah. Sebagaimana dikatakan para ulama ushul, Dzanniy al-Dilalah adalah ayat atau juga hadits yang kandungan hukumnya tidak pasti, atau mempunyai arti lebih dari satu, bersayap dan multi tafsir. Artinya di dalamnya punya banyak ihtimal (kemungkinan) dalam makna dan indikasi hukumnya. Sehingga dimungkinkan sekali dalam memahaminya digunakan Ta’wil (tafsir ke makna lain), atau juga Takhshish (pengkhususan).

Menakar Perkara Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda

Dari penjelasan yang singkat ini, ketika kita mendapati sebuah masalah syariah, penting sekali untuk mengklasifikasikan masalah-masalah yang muncul itu apakah ia masuk dalam kategori Qath’iy atau Dzanniy; sehingga kita bisa tahu, apakah boleh berbeda di dalamnya? Atau memang itu perkara yang sangat besar peluang untuk berbeda sehingga ‘haram’ hukumnya untuk kita marah-marah kalau melihat yang beda.

Maka, dalam prakteknya, ulama tidak memperkanankan seseorang –siapapun dia- untuk mengingkari, mengelak, serta menutup mata bahkan menyalahkan orang lain yang berbeda, padahal masalahnya adalah masalah yang bersifat Dzanniy. Karena memang peluang berbeda dalam masalah yang sifatnya Dzanniy itu sangat terbuka lebar, mengingat di dalamnya dibolehkan ijtihad yang sangat mungkin sekali hasil ijtihad masing-masing ulama bisa berbeda.

Dan sebaliknya, kita tidak diperkenan dalam masalah yang sifatnya Qath’iy untuk mengatakan: “madzhabnya Fulan shalat subuh 2 rakaat …”, atau: “menurut madzhab Fulan, seorang muslim membayar zakat fitrah!”. Tidak bisa dikatakan demikian! Karena itu adalah masalah-masalah yang qath’iy sudah tidak ada lagi istilah madzhab fulan dan fulan, tapi itu sudah masuk ke dalam masalah syariah yang disepakati.

Dari itu semua, menjadi terlihat sekali ketergantungan kita kepada ulama yang memang ahli dan mumpuni dalam bidang syariah ini. karena kita tidak mungkin bisa tahu mana ranah qath’iyyat yang tidak boleh ada perbedaan di dalamnya, dan mana ranah Dzanniyat yang masing-masing kita harus berlapang dada dengan adanya perbedaan dari saudra muslim lainnya.

Kembali ke Ulama Mu’tabar

Karena itu “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah”, tidak bisa dipahami dan diaplikasikan secara mentah begitu saja. Mesti diluruskan bahwa kita tidak bisa kembali keapada al-Qur’an dan SUnnah dengan kemampuan yang begitu-begitu saja, yang hanya tahu terjemah dan tidak punya alat utnuk menggali hukum dari ayat dan hasdist, baik dari yang manthuq-nya serta mafhum-nya.

Kalau terus dipaksakan dengan kemampuan yang sangat minim tesebut, akhirnya malah menghasilkan pemahaman yang aneh. Yang justru itu malah menghinakan syariah dan bukan memulaikannya, karena berani menghukumi sesuatu yang sama sekali ia tidak kuasai.

Kita melihat banyak di antara saudara muslim yang ketika menemukan sebuah hadits, lalu dengan pongah dan berani ia menyalahkan orang lain yang mengerjakan amalan –yang menurutnya- menyalahi isi kandungan hadits yang ia tahu. Ia tidak mengerti mana qath’iy dan mana Dzanniy, lebih parah lagi ia tidak mengerti dilalah hadits yang ia tahu artinya –saja- itu. Sayangnya ia hanya tahu satu hadits, tapi berani menyalahkan orang satu kampung. Sedangkan banyak lagi hadits dalam masalah tersebut yang ia tidak ketahui.

Begitu juga dalam ayat al-Qur’an. 100 % semua ayat dalam al-Qur’an itu Qath’iy! Tapi hanya dari segi sumbernya, akan tetapi Dilalah-nya tidak sedikit dari ayat-ayat itu yang Dzanniy. Contoh yang paling simple adalah kata “Quru’” [قروء] dalam surat al-Baqarah ayat 228.

Semua sepakat bahwa syariah ini mewajibkan adanya Iddah bagi wanita yang ditalaq suaminya. Akan tetapi ulama berbeda pendapat tentang hitungannya, mengingat bahwa kata “Quru’” [قروء] itu punya makna bersayap; bisa berarti masa suci, bisa juga masa haidh. Jadi Dilalah-nya Dzanniy, karena itu tidak bisa seorang mujtahid memaksakan ijtihadnya atas makna quru’ itu kepada mujtahid lain yang punya ijtihad berbeda. Begitu juga pengikutnya.

Jadi memang benar, bahwa yang terpenting itu bukan “Kembali ke al-Quran dan Sunnah”, akan tetapi yang jauh lebih penting dan harus diperhatikan adalah “Bagaimana Kembali ke al-Qur’an dan SUnnah”. Apakah jalan yang ditempuh untuk kembali ke al-Qur’an dan sunnah sudah benar sebagaimana pemahaman salaf, atau memang benar-benar kembali ke al-Qur’an dan Sunnah dengan bebas?

Wallahu a’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Nabi Tidak Mengerjakan, Berarti Itu Haram?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2015, 06:31 | 10.219 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.668 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.697 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.541 views
Satu Keluarga Meninggal Bersamaan, Bagaimana Cara Pembagian Warisnya?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 25 January 2015, 19:12 | 3.216 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 December 2016, 17:36 | 1.123 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 3.263 views
Kalau Ada Pertanyaan 'Mana Dalil?'
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 January 2016, 06:01 | 4.349 views
Dilema 'Mujtahid' Kekinian
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 January 2016, 06:56 | 6.806 views
Muslim itu Yang Baik Sosialnya, Bukan Hanya Yang Rajin Ibadah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2015, 06:28 | 3.484 views
Nabi SAW Tidak Anti Kepada Non-Muslim
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 November 2015, 05:26 | 2.933 views
Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 4.279 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 6.153 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 10.178 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 3.799 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 3.607 views
Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2015, 06:36 | 5.074 views
Nabi Tidak Mengerjakan, Berarti Itu Haram?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2015, 06:31 | 10.219 views
Shalat Zuhur Setelah Shalat Jumat
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 January 2015, 14:02 | 4.863 views
Satu Kampung Hanya Boleh Ada Satu Jumat, Begitukah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 9 January 2015, 08:37 | 4.482 views
Tidak Tahu Sok Tahu, Tahu Tapi Belagu
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 November 2014, 10:24 | 6.649 views
Shalat untuk Menghormati Waktu, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 October 2014, 08:36 | 9.332 views
Kufu', Syarat Sah Nikah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 August 2014, 11:20 | 6.129 views
Kawin Paksa, Masih Zaman?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 August 2014, 04:53 | 3.681 views
Puasa Syawal Hukumnya Makruh, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 July 2014, 22:32 | 12.293 views
Kenapa Sahabat Melakukan Dosa, Padahal Mereka Generasi Terbaik?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2014, 05:40 | 6.816 views
Miskin Ilmu Jago Ngambek
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2014, 08:02 | 7.828 views
Apakah Kita Cinta Nabi?
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 June 2014, 08:21 | 4.951 views
Semangat Ramadhan Harus Dengan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2014, 06:24 | 4.232 views
Niat Berbuat Buruk Tidak Terhitung Dosa, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 June 2014, 09:47 | 5.804 views
Merubah Kelamin, Bagaimana Jatah Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 June 2014, 08:27 | 3.213 views
Jual Beli Kucing, Haramkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2014, 06:20 | 38.576 views
Kanibalisasi Madzhab
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 May 2014, 09:31 | 4.263 views
Mau Ikut Nabi apa Ikut Ulama?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 May 2014, 20:00 | 10.884 views
Tarjih Antara 2 Hadits Yang Bertentangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 May 2014, 21:40 | 4.599 views
Lawan Tapi Mesra
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 April 2014, 12:48 | 4.721 views
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | 1 April 2014, 09:01 | 3.662 views
Professor Harfu Jarr
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 March 2014, 21:58 | 5.430 views
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2014, 21:37 | 6.459 views
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 March 2014, 06:31 | 3.956 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 4)
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 March 2014, 07:02 | 3.390 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 March 2014, 05:09 | 3.834 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 March 2014, 06:14 | 3.990 views
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 March 2014, 07:59 | 4.501 views
Pendapat Awam Tidak Masuk Hitungan
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 March 2014, 05:51 | 3.705 views
Bukan Mujtahid Kok Mentarjih?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 March 2014, 06:40 | 6.339 views
Mau Jadi Kritikus Madzhab Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 February 2014, 09:19 | 5.976 views
Jama' Sholat Tanpa Udzur, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 February 2014, 06:11 | 4.566 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 February 2014, 09:24 | 2.864 views
Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2014, 08:33 | 4.275 views
Lumbung Tanpa Padi
Ahmad Zarkasih, Lc | 15 February 2014, 05:52 | 3.301 views
Ijtihadnya Orang Awam
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 February 2014, 06:59 | 5.823 views
Membangun Keluarga Ahli Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2014, 06:31 | 3.579 views
Hukum Yang Punya Sebab
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 February 2014, 06:45 | 3.796 views
Ulama Juga Harus Mengerti Sains
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 February 2014, 06:19 | 3.501 views
Beda Level Penyanyi dan Suka Menyanyi
Ahmad Zarkasih, Lc | 31 January 2014, 06:18 | 4.720 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi (bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 January 2014, 08:27 | 3.182 views
KHI : Kitab Suci Beraroma Kontroversi
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2014, 11:45 | 3.810 views
Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 January 2014, 18:21 | 5.568 views
Meninggal Bersama dalam Kecelakaan, Bagaimana Pembagian Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 January 2014, 16:25 | 2.948 views
Kenapa Calo Dilarang, dan Agen Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 2 January 2014, 05:01 | 4.420 views
Sepatu Yang Terbuat Dari Kulit Babi
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 December 2013, 19:18 | 7.129 views
Bolehkah Muslim Masuk Gereja atau Tempat Ibadah Agama Lain?
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 December 2013, 05:03 | 4.868 views
Pendapatku Benar Tapi Bisa Jadi Salah
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 December 2013, 06:44 | 3.584 views
Adakah Qadha' Sholat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 14 December 2013, 05:36 | 9.812 views
Belajar Taqlid dari Ibnu Qudamah
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 December 2013, 12:56 | 5.969 views
Fiqih Dulu dan Sekarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 November 2013, 18:42 | 4.265 views
Mayit Diadzab Karena Tangisan Keluarganya, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 21 November 2013, 05:56 | 5.476 views
Menantang Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 November 2013, 08:44 | 5.409 views
Ilmu Fiqih Bukan Ilmu Sembarang
Ahmad Zarkasih, Lc | 7 November 2013, 16:54 | 9.548 views
Sholat di Masjid Yang Ada Kuburannya
Ahmad Zarkasih, Lc | 25 October 2013, 18:23 | 6.735 views
Nikah Punya Banyak Hukum
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 October 2013, 06:59 | 4.380 views
Jasa Penghulu Nikah Sirri
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 October 2013, 15:09 | 4.509 views
Titip Doa
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 September 2013, 14:56 | 6.776 views
Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 September 2013, 14:03 | 9.518 views
Tidak Bersedih Dengan Kematian Ulama Berarti Munafiq?
Ahmad Zarkasih, Lc | 16 September 2013, 10:10 | 5.240 views
Fatwa, Apakah Wajib Ditaati?
Ahmad Zarkasih, Lc | 6 September 2013, 09:22 | 4.166 views
Korupsi Bukan Pencurian, Tak Usah Potong Tangan
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 September 2013, 08:05 | 4.507 views
Hukum Mengambil Upah Dakwah
Ahmad Zarkasih, Lc | 29 August 2013, 15:42 | 6.155 views
Sholat Jumat Tapi Tidak Mendengarkan Khutbah
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 August 2013, 08:52 | 4.237 views
Syubhat Bukan Haram
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 August 2013, 05:50 | 4.728 views
Haruskah Beri'tikaf dan Begadang di Malam Lailatul-Qodr
Ahmad Zarkasih, Lc | 30 July 2013, 03:43 | 6.658 views
Al-Tanaazul (Turun Tahta) Dalam Kajian Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 July 2013, 06:31 | 3.219 views
Hak Cipta Dalam Pandangan Syariah
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 July 2013, 08:49 | 5.028 views
Makna Jauf (Rongga) Dalam Pengertian Fiqih Puasa
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 July 2013, 10:19 | 4.998 views
Apakah Ada Istilah "Tajil" Dalam Syariah?
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 July 2013, 05:36 | 4.121 views
Tarawih 4 Rokaat 1 Salam, Boleh atau Tidak?
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 July 2013, 14:29 | 5.874 views
Setan Dibelenggu, Kenapa Masih Ada Yang Maksiat?
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 July 2013, 14:20 | 5.138 views
Yang Boleh Tidak Berpuasa Ramadhan
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:37 | 3.828 views
Siapa Yang Wajib Puasa Ramadhan?
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 July 2013, 16:22 | 3.320 views
Dilema Punuk Unta
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 July 2013, 05:40 | 14.455 views
Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 June 2013, 13:47 | 7.892 views
Almarhum Bukan Gelar
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2013, 05:22 | 4.449 views
Teka-Teki Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 June 2013, 08:04 | 6.606 views
Ustadz Anonim di Medsoc
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 June 2013, 06:09 | 3.931 views
Keanehan Hukum Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 May 2013, 19:12 | 5.059 views
Dokter dan Apoteker
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 May 2013, 09:30 | 4.658 views
Siapa Salah, Siapa Kena Getahnya
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2013, 20:45 | 4.228 views
Matang Sebelum Waktunya
Ahmad Zarkasih, Lc | 18 May 2013, 11:47 | 5.192 views
Masjid Kok Dikunci?
Ahmad Zarkasih, Lc | 28 April 2013, 01:44 | 4.696 views
Buku Fiqih Yang Tidak Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 April 2013, 06:41 | 6.432 views
Galaunya Para Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 April 2013, 17:40 | 4.873 views
Pengkhianat Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 April 2013, 05:00 | 4.145 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 3.340 views
Hukum Beli Barang Black Market
Ahmad Zarkasih, Lc | 8 March 2013, 07:00 | 7.214 views
Meng-kecil-kan yang Kecil, Mem-BESAR-kan yang Besar
Ahmad Zarkasih, Lc | 22 February 2013, 05:53 | 3.951 views
Ulama Pesanan
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 February 2013, 08:01 | 3.938 views
Keistimewaan Ilmu Faraidh
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 February 2013, 10:31 | 4.107 views
Ulama-ulama Bujang
Ahmad Zarkasih, Lc | 24 January 2013, 06:03 | 5.831 views