Fiqih dan Hadits 1 | rumahfiqih.com

Fiqih dan Hadits 1

Sutomo Abu Nashr, Lc Sat 14 March 2015 07:07 | 3084 views

Bagikan via

Muqaddimah
Dalam metode mengikuti salah satu Imam madzhab fiqih, ada semacam 'kaidah' yang cukup populer terkait dengan sumber fiqih yang kedua setelah Al Qur’an; hadits-hadits Rasulullah SAW. Kaidah itu berbunyi, “Idza sohhal hadits fahuwa madzhabi” (Jika haditsnya sahih, maka inilah madzhabku).

    Ungkapan  yang dinisbatkan -dengan beragam redaksinya- kepada hampir semua Imam Madzhab ini, seringkali oleh sementara kalangan dijadikan sebagai pedang yang siap untuk dihunuskan kepada siapa saja -para muqallid- yang secara terang-terangan mengamalkan ajaran madzhab fiqih tertentu. Hal mana ajaran madzhab tersebut dalam pandangan sang penghunus “pedang”, nyata-nyata “bertentangan” dengan hadits sahih yang baru saja ia ketahui. Dalam pandangan mereka, -sesuai ungkapan tadi- madzhabnya sang Imam pastinya mengikuti hadits tersebut, dan bukan seperti yang diamalkan muqallid.

    Pandangan simplistis semacam ini biasanya muncul dari mereka yang barangkali tak pernah sedikitpun membaca latar belakang fiqih dan beragam perbedaannya. Bahkan bagaimana seharusnya ungkapan diatas itu diinterpretasi, mereka tak lagi mau peduli. Dalam pandangan yang terlalu menyederhanakan persoalan ini, mereka biasanya akan mempertanyakan; ungkapan yang sudah cukup jelas maksudnya ini, mau dimaknai apa lagi ?

Poin-Poin Pemaknaan Simplistis
Padahal secara nyata para ulama yang jauh lebih mengerti, telah menelusuri dan sudah menjelajahi seluk beluk madzhab, ternyata tidak memaknai ungkapan diatas sebagaimana yang mereka maknai. Pemaknaan yang terlalu menyederhanakan ini antara lain berkisar pada poin-poin berikut : 1) Hanya hadits sahih saja yang bisa dijadikan pijakan madzhab fiqih, 2) Sang Imam madzhab fiqih tidak mengetahui hadits tersebut, 3) Menyimpulkan sebuah hukum fiqih seolah-olah hanya cukup dengan sekedar mengetahui kesahihan (validitas) sebuah hadits, 4) Pemahaman pribadi terhadap hadits tersebut kemudian dengan seenaknya dinisbatkan atau disandarkan kepada madzhabnya sang Imam, dan 5) Penilaian bahwa hadits yang ditangannya itu sahih seolah-olah merupakan kesimpulan yang sudah final.

    Sebenarnya sebagian kecil dari poin-poin diatas -seperti yang akan diuraikan nanti- tidak sepenuhnya keliru. Sebagaimana diutarakan oleh Imam An Nawawi, beberapa fuqaha memang bisa kita dapati berfatwa sesuai dengan konsekwensi hadits yang ditelaahnya meski fatwa tersebut bertentangan dengan pendapat Imam madzhabnya. Mereka kemudian juga menisbatkan fatwanya kepada sang Imam. Inilah yang dalam beberapa studi formulasi madzhab, kemudian disebut sabagai al madzhab istilahan dan bukan al madzhab haqiqatan.

Syarat-Syarat
Namun yang perlu ditekankan disini, sebagaimana diingatkan oleh Imam Nawawi, kerja-kerja beberapa fuqaha seperti diatas hanya boleh dilakukan oleh mereka yang benar-benar telah melakukan penelusuran dan penjelajahan luas lagi mendalam terhadap semua kitab-kitab yang ditulis Imamnya, bahkan termasuk juga kitab-kitab yang ditulis oleh para murid dan fuqaha penganut madzhabnya. Semuanya. Hal ini dilakukan agar bisa diketahui secara yakin bahwa sang Imam madzhab benar-benar telah melewatkan hadits tersebut dalam seluruh kajian fiqihnya.

    Imam Nawawi setelah menjelaskan syarat-syarat tersebut diatas mengatakan bahwa yang demikian adalah syarat-syarat yang amat berat dan hanya sedikit sekali fuqaha yang bisa melakukannya. Beliau mencontohkan beberapa fuqaha dari madzhab Imam syafi’i, misalnya Abu Ya’qub Al Buwaithy dan Abu Al Qasim Ad Daraki. Merekalah -lanjut An Nawawi- orang-orang yang memiliki rutbatul ijtihad. Jadi, seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawi, makna ungkapan diatas bukanlah bahwa setiap orang yang mengetahui suatu hadits sahih langsung mengatakan ini adalah madzhab sang Imam dengan hanya mengamalkan sisi lahir haditsnya saja. Tidak sesederhana itu.

    Sebab menelusuri semua kitab bukanlah perkara ringan. Imam Nawawi saja di zamannya, yang jumlah kitab syafi’iyyah belum sebanyak zaman sekarang, menganggapnya sebagai syarat yang berat. Bahkan Imam Al Hafidz Ibnu Khuzaimah, salah satu ulama dalam madzhab syafi’i yang diakui kehebatannya dalam ilmu fiqih, kebesarannya dalam ilmu hadits, dan penguasaannya yang luas lagi mendalam akan seluruh teks-teks Imam syafi’i saja sampai menyatakan, “Saya tak mengetahui satu haditspun dari sunnah Rasulullah SAW yang tidak tertulis dalam kitab-kitab As Syafi’i”.

    Apa yang diterangkan dengan cukup jelas oleh Imam Nawawi tentang ungkapan diatas tentu saja bertujuan agar setiap orang tidak bermudah-mudah dalam membenturkan pemahaman barunya terhadap suatu hadits sahih dengan pemahaman para mujtahid yang secara logika lurus tentu lebih otoritatif dalam menggali sebuah pemaknaan terhadap sebuah hadits. Para mujtahid ketika meninggalkan makna lahir sebuah hadits bukan tanpa sebab atau alasan.

    Imam Nawawi menyebutkan beberapa alasan tersebut dalam muqaddimah Syarh al Muhaddzab. Diantaranya adalah pandangan Imam mujtahid akan adanya cacat dalam hadits, adanya nasikh, adanya mukhassis atau adanya ta’wil. Bahkan Ibnu Taimiyyah telah menyebutkan sekitar dua puluh alasan dalam raf’u al malam. Intinya adalah bahwa kita sebagai muqallid hendaknya bersikap tenang dan percaya atas hasil ijtihad para Imam, setenang dan sepercaya para penumpang pesawat terhadap pilot yang akan mengantarkan mereka sampai ke tempat tujuan.

Gagasan Ushuli Ibnu Shalah
Namun seorang penganut madzhab yang merasa tidak nyaman ketika amalannya seakan bertentangan dengan sebuah hadits, dalam ushul fiqihnya Ibnu Shalah, dia boleh saja berijtihad secara mandiri berbeda dengan madzhabnya demi mengamalkan hadits tersebut. Dengan catatan, dia memang memiliki perangkat mutlak ijtihad, atau minimal perangkat ijtihad parsial dalam masalah, kasus atau persoalan yang berkaitan dengan hadits tersebut.
 
    Guru dari tiga gurunya Imam Nawawi ini, juga membolehkan untuk mengamalkan hadits tersebut meski bagi mereka yang tidak memiliki perangkat ijtihad namun merasa tidak nyaman dengan amalan madzhabnya dan setalah berupaya mencari-cari, tidak pula berhasil menemukan jawaban memuaskan atas kontradiksi amalan madzhabnya dengan makna hadits. Pembolehan ini dengan syarat dan catatan bahwa ada Imam lain yang mengamalkan hadits tersebut. Dan bukan semata-mata pemahamannya sendiri. Hal ini disebutnya sebagai udzur yang membolehkan untuk mengamalkan pendapat Imam lain yang bukan madzhabnya. Gagasan ushuli Ibnu Shalah ini mendapat pujian dari Imam Nawawi sebagai langkah yang hasanun muta’ayyin.

    Salah satu contoh aplikasi atas gagasan Ibnu Shalah ini, adalah apa yang dialami oleh para penganut madzhab fiqih hanafi. Imam Abu Hanifah dengan mendasarkan pada sebuah hadits sahih dalam pandangan beliau, bependapat bahwa berwudhu dengan menggunakan nabidz itu diperbolehkan. Hadits Ibnu Mas’ud ini sebenarnya bertentangan dengan qiyas yang sering dijadikan sebagai hujjah oleh beliau. Namun, demi cintanya dalam mengamalkan substansi hadits-hadits Rasulullah SAW yang beliau yakini validitasnya, Abu Hanifah dalam kasus ini lebih memilih untuk mendahulukan hadits daripada qiyas. Dengan cukup jelas dalam hadits tersebut Raulullah SAW menyebut nabidz sebagai maaun thahur (air yang mensucikan).

    Ternyata para penganut madzhab hanafi tidak sepakat dengan Imamnya ini. Dalam banyak syarah atas kitab Al Hidayah misalnya, para imam dalam madzhab hanafi lebih memilih untuk beramal sebagaimana madzhab tiga Imam lainnya (jumhur). Alasannya adalah para ahli hadits dari kalangan madzhab hanafi pun ternyata tidak sependapat dengan status validitas hadits Ibn Mas’ud diatas. Al Hafidz Abu Ja’far At Thahawi dan Al Hafidz Abu Muhammad Az Zailai’ misalnya, adalah contoh para huffadz hanafiyah yang tidak sepakat dengan Imam besar Abu Hanifah dalam kasus status hadits tersebut. Kalaupun dianggap sahih, maka menurut Zainuddin Ibn Nujaim al-Hanafi, hadits tersebut telah dinaskh (dibatalkan hukumnya) dengan ayat tayammum yang turun di Madinah. Maka kalau orang-orang hanafi dalam kasus ini tidak mengikuti Imam pendiri madzhabnya, hal itu diperbolehkan jika ada para Imam lain yang bisa dijadikan panutan dan pijakan dalam beramal. Dan bukan dengan hasil kesimpulan sendiri. Sebab, tidak sah sebuah ijtihad yang lahir dari seseorang yang bukan mujtahid. 

    Namun dalam mengamalkan konsekwensi hadits yang berbeda dengan madzhabnya itu harus pula disertai dengan adab-adab ilmiyah. Salah satu adab yang perlu dijaga dalam berinteraksi dengan pendapat para Imam yang secara lahir bertentangan dengan suatu hadits adalah seperti apa yang dikemukakan Ibnu Taimiyah bahwa kita tidak boleh menganggap para Imam itu telah berani untuk menyelisihi hadits-hadits Rasulullah SAW.

    Ketika melakukan pembelaan terhadap Imam fiqih besar Abu Hanifah yang dikenal sebagai salah satu Imam Ahlurra’yi, Ibnu Taimiyah mengkritisi mereka yang menganggap penyelisihan terhadap hadits itu dilakukan secara sengaja. Anggapan ini menurut Ibnu Taimiyah adalah sekedar prasangka belaka atau menuruti hawa nafsunya. Karenanya, Ibnu Taimiyah juga telah menyebutkan alasan-alasan masuk akal mengapa para Imam itu tidak mengamalkan hadits tersebut.

Menggali Hukum Fiqih dari Hadits
Menggali hukum fiqih dari sumber-sumbernya yang prosesnya disebut dengan ijtihad itu, bukanlah aktivitas remeh-temeh yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Para ulama ushuliyyun meletakkan cukup banyak syarat dan ketentuan yang amat berat bagi siapa saja yang hendak maju untuk memahami syariah ini. Hal itu bertujuan agar pemahaman tersebut diupayakan sebisa mungkin sesuai dengan apa yang Allah SWT kehendaki sebagai Sang Pemilik wahyu. 

    Kalau ijtihad di dalam menggali hukum fiqih dari ayat-ayat Al Qur’an hanya melalui satu langkah, maka ijtihad dalam menggali hukum fiqih dari hadits-hadits Rasulullah SAW harus melalui dua langkah. Al Qur’an tidak pernah diragukan oleh sipapaun bahwa isinya memang benar-benar wahyu Allah SWT. Maka dalam menggali hukum fiqih dari Al Qur’an ini, tidak perlu lagi ada langkah penelitian mendalam untuk membuktikan apakah ayat tersebut benar-benar wahyu dan kalam Allah SWT atau bukan. Dan Alhamdulillah sudah menjadi ijma (konsesus para ulama) bahwa apa yang kita baca dari ayat-ayat Al Qur’an benar-benar sesuai dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tak ada keraguan sedikitpun tentangnya.

Dua Langkah
Sedangkan menggali hukum fiqih dari hadits-hadits Rasulullah -kecuali yang mutawatir- harus dilakukan dengan terlebih dahulu diteliti secara amat cermat apakah ia benar-benar sabda Rasulullah SAW. Dan langkah ini juga bukanlah langkah yang mudah. Inilah wilayah ijtihadnya para imam dalam bidang hadits. Setelah diketahui bahwa ia benar sabda Rasulullah SAW pun, para Imam dalam bidang hadits maupun ushul fiqih masih perlu untuk meneliti apakah hadits tersebut bisa dijadikan hujjah (argumentasi) atau tidak dalam sebuah hukum fiqih.  Baru setelah bisa dipastikan ke-hujjah-annya, langkah menggali hukum dari hadits tersebut bisa dimulai. Jika langkah kedua ini sudah dilakukan dengan benar, hukum fiqih siap disajikan.

    Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa secara umum ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah hadits agar bisa dijadikan sebagai hujjah atau dalil dalam suatu hukum fiqih. Dua syarat tersebut adalah Tsubut ad-Dalil dan Sihhatul Istidlal. Penjelasan dua syarat ini bisa kita ringkas dalam dua poin yang akan dijelaskan pada "Fiqih dan Hadits 2"

Bagikan via


Baca Lainnya :

Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.233 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 3.781 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 3.589 views
Benarkah Tubuh Wanita Haid Itu Najis?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 February 2015, 00:01 | 3.552 views
Mana Yang Boleh dan Tidak Boleh Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 February 2015, 06:36 | 5.057 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 346 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.025 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 2.865 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.084 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.443 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 2.793 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 6.983 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.397 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 3.822 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.235 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 3.804 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 3.679 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 3.457 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.235 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 3.741 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 4.037 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.508 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 6.952 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 3.655 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 6.791 views