Fiqih dan Hadits 2 | rumahfiqih.com

Fiqih dan Hadits 2

Sutomo Abu Nashr, Lc Sun 15 March 2015 05:33 | 2864 views

Bagikan via

Menggali hukum fiqih dari sumber-sumbernya yang prosesnya disebut dengan ijtihad itu, bukanlah aktivitas remeh-temeh yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Para ulama ushuliyyun meletakkan cukup banyak syarat dan ketentuan yang amat berat bagi siapa saja yang hendak maju untuk memahami syariah ini. Hal itu bertujuan agar pemahaman tersebut diupayakan sebisa mungkin sesuai dengan apa yang Allah SWT kehendaki sebagai Sang Pemilik wahyu. 

    Kalau ijtihad di dalam menggali hukum fiqih dari ayat-ayat Al Qur’an hanya melalui satu langkah, maka ijtihad dalam menggali hukum fiqih dari hadits-hadits Rasulullah SAW harus melalui dua langkah. Al Qur’an tidak pernah diragukan oleh sipapaun bahwa isinya memang benar-benar wahyu Allah SWT. Maka dalam menggali hukum fiqih dari Al Qur’an ini, tidak perlu lagi ada langkah penelitian mendalam untuk membuktikan apakah ayat tersebut benar-benar wahyu dan kalam Allah SWT atau bukan. Dan Alhamdulillah sudah menjadi ijma (konsesus para ulama) bahwa apa yang kita baca dari ayat-ayat Al Qur’an benar-benar sesuai dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tak ada keraguan sedikitpun tentangnya.

Dua Langkah
Sedangkan menggali hukum fiqih dari hadits-hadits Rasulullah -kecuali yang mutawatir- harus dilakukan dengan terlebih dahulu diteliti secara amat cermat apakah ia benar-benar sabda Rasulullah SAW. Dan langkah ini juga bukanlah langkah yang mudah. Inilah wilayah ijtihadnya para imam dalam bidang hadits. Setelah diketahui bahwa ia benar sabda Rasulullah SAW pun, para Imam dalam bidang hadits maupun ushul fiqih masih perlu untuk meneliti apakah hadits tersebut bisa dijadikan hujjah (argumentasi) atau tidak dalam sebuah hukum fiqih.  Baru setelah bisa dipastikan ke-hujjah-annya, langkah menggali hukum dari hadits tersebut bisa dimulai. Jika langkah kedua ini sudah dilakukan dengan benar, hukum fiqih siap disajikan.

    Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa secara umum ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah hadits agar bisa dijadikan sebagai hujjah atau dalil dalam suatu hukum fiqih. Dua syarat tersebut adalah Tsubut ad-Dalil dan Sihhatul Istidlal. Penjelasan dua syarat ini bisa kita ringkas dalam dua poin berikut ini :

    Pertama, menetapkan Tsubut ad-Dalil (Eksistensi suatu dalil sebagai pijakan hukum fiqih) yang merupakan kerja para imam-imam ilmu hadits dan ushul fiqih. Perlu ditekankan bahwa kata Tsubut dalam frasa Tsubut ad-Dalil disini tidak bermakna bahwa syarat suatu hadits bisa dijadikan sebagai pijakan argumentasi fiqih haruslah hadits yang sahih, sebagaimana dipahami oleh sebagian mereka yang hafal “Idza Sohha al hadits fahuwa madzhabi” sebagai sebuah ‘kaidah’ emas diatas. Sebab, para ulama tidak hanya membatasi pada hadits-sahih saja yang absah dijadikan sebagai pijakan hukum fiqih. Hadits-hasan bahkan dhaif dengan berbagai syarat dan ihktilafnya pun, mereka jadikan juga sebagai salah satu pijakan hukum fiqih.

    Sebuah dalil (baca: hadits) bisa disebut tsabit atau eksis tidak harus mencapai level sahih. Ada empat level hadits yang disepakati para ulama bisa disebut sebagai eksis sehingga layak dijadikan pijakan fiqih. Dalam istilah para pengkaji hadits, empat level itulah yang disebut sebagai kelompok maqbul. Empat level itu adalah a) Sahih lidzatihi b) Sahih lighairihi c) Hasan lidzatihi d) Hasan Lighairihi. Level yang keempat inilah yang pada hakikatnya merupakan hadits dhaif. Dimana dhaif yang dimaksud bukanlah yang disebabkan oleh runtuhnya kredibilitas perawi. Hadits semacam ini jika ditemukan ghairihi (hadits lain yang selevel atau lebih kuat), akan terbantu untuk naik level sehingga disebut sebagai hadits hasan. Itulah hasan lighairihi.

    Kedua, menetapkan sihhah al-Istidlal (keabsahan proses penggalian hukum fiqih dari sebuah dalil), dan inilah wilayah ijtihad para fuqaha. Dan biasanya mereka para fuqaha yang melakukan langkah kedua ini, juga merupakan para Imam dalam ilmu hadits dan ilmu ushul fiqih yang telah melakukan langkah pertama. Meski tidak selalu demikian.

    Yang dimaksud dengan menetapkan atau meneliti sihhah al-Istidlal adalah melakukan pengamatan secara mendalam apakah dalil yang dijadikan pijakan argumentasi dalam hukum fiqih sesuai dengan klaimnya atau tidak. Sebab, bisa saja kita jumpai seseorang yang berdalil dengan sebuah hadits yang mutawatir sekalipun, namun ternyata kesimpulan klaimnya tidak sesuai dengan haditsnya karena proses istidlalnya yang salah. Bahkan kesalahan dalam proses istidlal ini, bisa saja terjadi terhadap sebuah ayat al-Qur’an yang tidak pernah dan tidak akan mungkin diragukan “kesahihannya”. Karena itulah, untuk mengetahui apakah pemahaman kita terhadap suatu ayat ataupun hadits itu benar atau salah kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk bertanya kepada Ahlu ad-Dzikri.

    Dalam proses idtidlal inilah, mereka yang berhak melakukan proses ini harus mengetahui apakah hadits yang sedang dikaji merupakan hadits ‘aam (umum) yang perlu dicarikan mukhassis (hadits lain yang mengkhususkan), atau hadits mutlaq yang memiliki qayyid (pembatas), atau hadits yang selamat dari nasikh (yang membatalkan hukum sebelumnya). Sebab, meskipun status hadits tersebut sahih, isi yang terkandung didalamnya sama sekali tidak bisa diamalkan begitu saja kecuali setelah yakin bahwa teks hadits tersebut terbebas dari kontradiksi dengan teks-teks syariah yang lain. Sesahih apapun status sebuah hadits, dia tidak boleh diamalkan jika ternyata merupakan hadits yang mansukh (terbatalkan hukumnya), karena adanya hadits lain yang nasikh.

    Sebagai contoh kita mungkin pernah mendengar hadits-hadits berikut ; 1) “Nikah adalah sunnahku, siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka tidak termasuk ummatku” 2). “Janganlah kalian tulis dariku kecuali Al Qur’an, siapa saja yang menulis selain Al Qur’an maka hapuslah” 3). “Rasulullah SAW melarang kuburan untuk dikapur, diduduki dan dibangun”. Kalau kita memahami hadits-hadits ini secara harfiah dan tanpa mengindahkan satu kaidahpun dalam memahami sebuah hadits, maka kita akan menyimpulkan bahwa Imam Nawawi, Ibn Taimiyah, dan banyak Imam lain bukan termasuk umat Muhammad karena mereka adalah tokoh-tokoh Islam yang membujang saat hidup hingga wafatnya. Kita juga akan menganggap para ulama penulis hadits tidak sesuai sunnah karena mereka telah berani menulis selain Al Qur’an. Kita juga akan menganggap bahwa tiga perbuatan yang dilarang dalam hadits terakhir adalah haram, padahal secara nyata hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim itu tidak dimaknai oleh Imam Nawawi -sebagai pensyarah terbaik sahih muslim- dengan makna demikian. Meski tiga perbuatan tersebut secara lahir dilarang, namun ternyata Imam Nawawi menyimpulkan berbeda untuk ketiga perbuatan tersebut. Ada yang disimpulkan makruh dan ada juga yang disimpulkan haram. Karena larangan dalam sebuah teks wahyu ada yang sifatnya Jazim (berkonsekwensi haram) dan ada pula yang Ghairu Jazim (berkonsekwensi makruh).

Ikhtilaf juga terdapat dalam Ilmu Hadits
Selain menyadari betapa rumitnya proses ijtihad dalam menggunakan hadits sebagai sumber fiqih seperti yang telah terdeskripsikan secara sekilas diatas, ada juga satu fenomena penting yang perlu disadari betul keberadaannya dalam memahami sumber fiqih kedua itu. Fenomena tersebut adalah adanya ikhtilaf yang terjadi diantara para ulama ilmu hadits. Selama ini yang kita ketahui barangkali hanya adanya ikhtilaf fiqih. Padahal sebelum siap dikaji menjadi dalil fiqih, proses perjalanan sebuah hadits untuk dinyatakan layak hujjiyahnya pun melewati lika-liku ikhtilaf yang jauh lebih tajam dan rumit.

     Jadi, sebagaimana para fuqaha banyak berselisih pendapat dalam menyimpulkan suatu hukum fiqih, para ulama hadits pun juga berbeda pendapat dalam menentukan status sahih, hasan, atau dhaifnya suatu hadits. Karena, bukan perkara fiqih saja yang merupakan produk ijtihad, status validitas sebuah hadits pun merupakan produk ijtihad.  Dan karena hal itu adalah produk ijtihad akal manusia dan bukan merupakan wahyu yang turun dari langit, maka cukup masuk akal jika terjadi di dalamnya banyak khilaf. Dan menjadi tidak masuk akal, -apalagi masuk hati- jika kemudian perkara ijtihadi itu malah dipaksakan untuk sama hasilnya.

    Sebagai contoh, meski hadits-hadits yang diriwayatkan dan atau juga disepakati oleh syaikhan (Imam Bukhari dan Muslim) sudah menjadi ijma umat untuk diterima secara global, namun jika ditelaah secara parsial satu per satu, masih ada sekian kecil jumlah hadits, yang beberapa ulama hadits lain kurang sepakat dengan kesimpulan salah satu dari dua imam besar dalam hadits itu. Bahkan antara syaikhan (dua syaikh) besar tadi juga memiliki perbedaan kriteria dalam menilai suatu hadits dinyatakan sahih. Bisa jadi, ada sebuah hadits yang dinyatakan sahih oleh Imam Muslim namun dalam parameternya Imam Bukhari belum mencapai level sahih. Salah satu faktor pembedanya adalah karena perbedaan kriteria ittishal (ketersambungan sanad) yang merupakan salah satu diantara lima syarat hadits sahih. Imam Bukhari dikenal memiliki kriteria yang lebih ketat dan berat daripada banyak Imam hadits yang lain seperti Imam Muslim yang notabene merupakan muridnya itu.

    Tentu saja tulisan ringkas ini tidak akan cukup mengcover semua contoh ikhtilaf diantara para ahlil hadits. Masih banyak jenis ikhtilaf yang lain, yang karena keterbatasan ilmu, penulis rasa belum sanggup untuk mendeskripsikannya dengan gamblang bagi pembaca. Ada ikhtilaf dalam Al Jarh wa Ta’dil, sebuah ilmu untuk “menilai orang lain” yang meskipun tampak subjektif, namun itu adalah subjektifitas para ahlinya yang secara legal syar’i boleh kita taqlidi. Apalagi kita, bahkan para pengkaji hadits hari ini pun mau tidak mau pasti akan taqlid juga dalam penilaian yang subjektif tadi. Ada juga ikhtilaf dalam ilmu ‘Ilal yang oleh banyak ahlil hadits disebut sebagai ilmu yang paling ghumudz (sangat rumit) dari keseluruhan ilmu dalam ‘Ulum al-Hadits. 

Peran Fiqih dalam Ilmu Hadits
Sebagai penutup tulisan ini, menarik kiranya jika kita sedikit menengok peran fiqih dalam ilmu hadits. Sebab sebagai sumber utama kedua setelah Al Qur’an dalam pijakan fiqih, hadits memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan fiqih. Semua bab dalam ilmu fiqih yang merupakan panduan hidup seorang muslim itu tidak akan pernah lepas dari kawalan para ulama agar tidak keluar dari jalur sumbernya. Tidak keluar bisa dalam makna bahwa fiqih pasti memiliki teks wahyu yang menjustifikasinya, atau bahwa fiqih merupakan pemahaman terhadap teks wahyu yang seperti itulah seharusnya wahyu dipahami. Yang pada gilirannya kemudian pemahaman itu secara legal syar’i boleh untuk kita ikuti.

    Dalam proses menggali hukum fiqih dari hadits-hadits nabawi yang terdeskripsikan dalam dua langkah diatas, para fuqaha kita memiliki peran dan andil yang cukup signifikan. Ilmu Mushthalah hadits yang secara kreatif memunculkan istilah sahih, hasan, dhaif, dan maudhu’ itu ternyata embrionya ada dalam kitab ushul fiqih pertama dalam Islam yang merupakan karya fenomenal salah satu imam madzhab fiqih yang populer. Imam Syafi’i dengan Ar Risalahnya itu, telah merespon tuntutan ahlil hadits yang diwakili oleh Abduraahman ibn Mahdi -salah satu pakar ilmu ‘Ilal di zamannya- untuk menuliskan bagaimana kaidah untuk memahami hadits atau teks-teks wahyu secara umum. Dari hasil korespondensi dengan Ibn Mahdi inilah, karya Ar Risalah lahir.  Dan para ulama hadits agaknya sepakat kalau Imam Syafi’i adalah orang pertama yang merumuskan ilmu hadits itu.

    Para fuqaha berikutnya kemudian juga memiliki peran dalam menuliskan ilmu hadits ini. Kitab Al Muhaddits al Fashil yang dianggap sebagai kitab pertama dalam ulum al hadits ditulis oleh seorang qadhi (hakim), yaitu Al Qadhi Abu Muhammad al Hasan al Ramahurmuzi. Selanjutnya para fuqaha yang lain melanjutkan dan menyempurnakan kitab yang belum menyentuh semua pembahasan tadi. Ada Al Khatib Al Baghdadi yang semua penulis ulum al-Hadits setelahnya pasti akan merujuk ke karyanya Al Kifayah. Ada Ibnu Shalah dengan karya monumentalnya Ma’rifah Anwa’i ulum al Hadits. Karya guru dari tiga gurunya Imam Nawawi ini malah lebih populer dengan nama Muqaddimah Ibni Shalah. Selanjutnya ada Imam Nawawi, Al Hafidz al Mizzi, Imam Ibn Katsir, Ibnu Daqiq al Ied, Ad Dzahabi, Al Iraqi, Ibn Hajar al ‘Asqalani, Zakariya al Anshari,  As-Suyuthi, As-Sakhawi, dan lain-lain yang rata-rata mereka juga merupakan para fuqaha yang menganut madzhab syafi’i. Dalam madzhab fiqih yang lain, tentu saja kita juga akan menjumpai contoh-contoh penulis kitab-kitab dalam ulum al-Hadits, baik ilmu musthalah maupun ilmu rijalnya.

    Selain dalam bentuk ulum al Hadits, peran fuqaha juga bisa kita amati dalam menjelaskan hadits-hadits yang khusus terkait fiqih. Misalnya Al Hafidz Ibn Daqiq al Ied yang mengumpulkan hadits ahkam dalam kitabnya Al Ilmam, atau Al Hafidz al ‘Iraqi dalam kitabnya Taqrib al Asanid yang kemudian disyarahnya sendiri untuk anaknya dalam Tharh at Tatsrib, atau muridnya beliau yaitu Al Hafidz Ibn Hajar dalam Bulugh al Maram yang disyarah oleh banyak sekali ulama di kemudian hari. Ini baru dari madzhab fiqih As Syafi’i.

    Para Ahlul hadits sendiri sebelumnya juga telah mengumpulkan hadits-hadits yang diriwayatkannya itu dalam urutan bab-bab fiqih. Semua kitab sunan yang kita kenal seperti Sunan At Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasai, dan Sunan Ibn Majah disusun sesuai dengan urutan bab-bab fiqih. Demikian juga semua kitab mushonnaf dan muwatha’ seperti Mushannaf ibn Abi Syaibah dan Mushannaf Abdurrazaq atau Muwatha’ Imam Malik ibn Anas Al Asbahi.  Fiqih-fiqih dari kitab-kitab inilah, yang kerap kali disebut oleh para fuqaha penulis kitab-kitab fiqih muqaran dengan sebutan yang perlu untuk didiskusikan bentuk pemikiran dan methodologi fiqihnya ; Fiqih Ahlil Hadits ?

    Masih banyak sebenarnya pembahasan terkait fiqih dan hadits yang perlu untuk digali dan didiskusikan. Barangkali apa yang sudah sedikit tergambarkan dalam tulisan ini bisa memberikan secuil pencerahan agar kita semakin tawadhu dalam mengamalkan ilmu, yaitu dengan cara mengembalikan pemahaman ilmu itu kepada mereka yang benar-benar berpredikat sebagai ahli ilmu. Sebab, pada yang demikian itu terdapat contoh-contoh dan teladan bagi mereka yang mau mikir.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.084 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.232 views
Banci Jadi Imam, Boleh?
Ahmad Zarkasih, Lc | 12 March 2015, 12:47 | 3.781 views
Bersiwak di Masjid Hukumnya Makruh
Ahmad Zarkasih, Lc | 27 February 2015, 20:30 | 3.589 views
Benarkah Tubuh Wanita Haid Itu Najis?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 16 February 2015, 00:01 | 3.552 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 345 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.024 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 2.864 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.084 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.442 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 2.792 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 6.980 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.397 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 3.821 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.235 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 3.804 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 3.677 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 3.455 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.235 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 3.739 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 4.035 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.507 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 6.951 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 3.655 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 6.791 views