Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah? | rumahfiqih.com

Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?

Hanif Luthfi, Lc., MA Thu 9 April 2015 21:21 | 6537 views

Bagikan via

Shalat Jum’at di al-Jami’ atau Masjid Jami'

Diantara salah satu syiar Islam adalah adanya syariat shalat jum’at. Dimana seorang muslim laki-laki yang merdeka, sehat, dan tidak sedang musafir berkumpul di satu tempat, untuk mendengarkan khutbah dan melaksanakan shalat jum’at berjamaah.

Shalat jum’at memang biasanya dilakukan di al-Jami’ atau masjid jami’. Semua tempat yang biasa dijadikan tempat berjamaah shalat lima waktu disebut dengan masjid. Adapun disebut masjid jami’ atau hanya al-jami’ tanpa tambahan masjid, jika masjid itu digunakan untuk shalat jum’at. Maka setiap al-Jami’ pasti masjid, dan tidak sebaliknya.

Syeikh Khalil bin Ishaq al-Maliki (w. 776 H) menyebutkan:

وإنما يوصف بأنه جامع لاجتماع الناس كلهم فيه لصلاة الجمعة

(Suatu tempat) disebut al-Jami’ karena digunakan untuk berkumpul melaksanakan shalat jum’at. (Khalil bin Ishaq al-Maliki w. 776 H, at-Taudhih fi Syarh Mukhtashar ibn al-Hajib, h. 2/ 55)

Hanya kadang karena ada suatu alasan tertentu tak ditemukan al-Jami’ di suatu daerah. Misalnya sebuah komplek perumahan baru, disitu belum dibangun masjid yang resmi untuk shalat jum’at. Atau suatu perkantoran atau komplek apartemen baru, dimana belum disediakan tempat khusus untuk shalat jum’at. Atau suatu kampus dengan mahasiswa ribuan, tapi karena di tengah kota yang padat tak ada tempat khusus untuk shalat jum’at, adanya hanya gedung auditorium.

Bolehkah shalat jum’at diadakan di tempat yang tidak biasa disebut dengan masjid? Atau apakah harus shalat jum’at itu dilaksanakan di masjid?

Hukum Shalat Jum’at di Selain Tempat yang Biasa Disebut Masjid

Pembahasan disini khusus pada keadaan tidak adanya masjid yang mengadakan shalat jum’at, atau ada tetapi berada di daerah yang cukup jauh.

Jika sudah ada masjid yang dekat dan tak ada halangan syar’i untuk melaksanakan shalat jum’at di masjid, maka tak boleh ada dua shalat jum'at di tempat yang berdekatan.

Masjid yang dibangun atas dasar ingin membuat perpecahan umat islam, karena riya’ atau sum’ah oleh para ulama dilarang shalat disitu, karena masjid seperti itu digolongkan masjid dhirar.

Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi (w. 671 H) ketika menafisiri ayat masjid dhirar:

قال علماؤنا: وكل مسجد بني على ضرار أو رياء وسمعة فهو في حكم مسجد الضرار لا تجوز الصلاة فيه

Ulama kita mengatakan: Setiap masjid yang dibangun dalam rangka membahayakan kaum muslimin, karena riya’ atau sum’ah maka hukumnya sebagaimana masjid dhirar, tidak dibolehkan shalat disana (Syamsuddin al-Qurthubi w. 671 H, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 8/ 254).

Perbedaan Pendapat

Secara ringkas, ulama berbeda pendapat. Ulama Malikiyyah melarang shalat jum’at kecuali di al-Jami' atau Masjid Jami’. Sedangkan mayoritas ulama menyatakan bahwa Shalat Jum’at tak harus ditempat yang biasa disebut masjid. Artinya boleh shalat jum’at dilaksanakan di gedung auditorium, aula pertemuan, dsb. Lebih rincinya sebagai berikut:

Malikiyyah

Disebutkan dalam kitab Mukhtahsar al-Khalil karya Syeikh Khalil bin Ishaq al-Maliki (w. 776 H):

....وبجامع مبني متحد

…(shalat jum’at harus) di al-Jami’ yang berbentuk bangunan dan menyatu..(Khalil bin Ishaq al-Maliki, Mukhtashar al-Khalil, h. 1/ 44)

Hal ini diperjelas dalam kitab al-Fawakih ad-Dawani karya Syeikh Ahmad bin Ghanim al-Azhari al-Maliki (w. 1126 H):

ووقوع الصلاة والخطبة في الجامع المبني على وجه العادة وأن يكون متحدا وأن يكون متصلا بالبلد أو في حكم المتصل حين بنائه

Shalat jum’at dan khutbahnya harus diadakan di al-Jami’ yang berupa bangunan sebagaimana biasanya, bangunan itu menyatu dan menyambung dengan suatu daerah tempat tinggal.. (Ahmad bin Ghanim al-Azhari al-Maliki w. 1126 H, al-Fawakih ad-Dawani, h. 1/ 260)

Hal yang sama juga disebutkan dalam kitab ad-Dzakhirah karya Imam Syihabuddin al-Qarafi al-Maliky (w. 684 H):

الشرط الرابع المسجد... وقال الباجي لا تقام إلا في الجامع

Syarat keempat adalah (jum’at) harus diadakan di masjid… al-Baji Abu al-Walid (w. 474 H) berkata: Shalat jum’at tak boleh diadakan kecuali di al-Jami’. (Syihabuddin al-Qarafi w. 474 H, ad-Dzakhirah, h. 2/ 335)

Bahkan disebutkan dalam kitab at-Taudhih karya Syeikh Khalil bin Ishaq al-Maliki (w. 776 H):

ولا يصح أن يقول أحد في المسجد أنه ليس من شرائط الصحة، إذ لا اختلاف في أنه لا يصح أن تقام الجمعة في غير مسجد

Tak ada ikhtilaf atau perbedaan para ulama (pent: dalam madzhab Maliki) bahwasanya shalat jum’at itu tidak sah shalat jum’at dilaksanakan di selain masjid. (Khalil bin Ishaq al-Maliki w. 776 H, at-Taudhih fi Syarh Mukhtashar ibn al-Hajib, h. 2/ 54).

Intinya, menurut ulama Malikiyyah, shalat jum’at hanya boleh dilaksanakan di masjid saja. Alasannya adalah karena Nabi dan para shahabatnya dahulu shalat jum’at di masjid.

Hanafiyyah

Menurut ulama al-Hanafiyyah, shalat jum’at hanya diadakan jika mendapat ijin dari penguasa. Hanya hal ini berbeda dengan mayoritas ulama.

Maka dalam madzhab Hanafiyyah, jika penguasa mengadakan shalat jum’at di Istananya dan mengijinkan orang untuk shalat disana bukan di masjid, hukumnya boleh tetapi makruh.

Disebutkan dalam kitab Bahru ar-Raiq karya Ibnu Nujaim al-Hanafi (w. 970 H):

في المحيط: فإن فتح باب قصره وأذن للناس بالدخول: جاز ، ويكره ; لأنه لم يقض حق المسجد الجامع

Ketika sang pemimpin/ penguasa membuka pintu istananya dan mengijinkan masyarakat untuk masuk (untuk shalat jum’at disitu), maka hukumnya boleh tetapi makruh. Karena si pemimpin itu tidak menunaikan hak masjid Jami’. (Ibnu Nujaim al-Mishri al-Hanafi w. 970 H, Bahru ar-Roiq, h. 2/ 163).

Syafi’iyyah

Dalam kitab Tharhu at-Tatsrib karya al-Hafidz Abu al-Fadhl Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H) disebutkan:

مذهبنا أن إقامة الجمعة لا تختص بالمسجد بل تقام في خطة الأبنية فلو فعلوها في غير مسجد لم يصل الداخل إلى ذلك الموضع في حالة الخطبة إذ ليست له تحية فلا يترك استماع الخطبة لغير سبب وهذا الحديث محمول على الغالب من إقامة الجمعة في المساجد والله أعلم

Madzhab kami (as-Syafi’iyyah) berpendapat bahwa pelaksanaan shalat jum’at tak hanya khusus di masjid. Tetapi boleh dilaksanakan di suatu bangunan. Hanya saja ketika shalat jum’at dilakasanakan tidak di masjid, ketika ada orang masuk dan khatib telah naik keatas mimbar, maka dia tak disunnahkan shalat tahiyyat al-masjid. Karena hadits boleh shalat tahiyyat masjid walaupun khatib sedang berkhutbah itu untuk shalat jum’at di masjid. (Abu al-Fadhl Zainuddin al-Iraqi w. 806 H, Tharhu at-Tatsrib, h. 3/ 190).

Imam Nawawi as-Syafi’I (w. 676 H) menyebutkan:

الثاني: أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمعين

Kedua: (Shalat jum’at) dilaksanakn di suatu bangunan orang-orang yang mempunyai kewajiban shalat jum’at. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, Minhaj at-Thalibin, h. 47)

Imam Nawawi as-Syafi’I (w. 676 H) menjelaskan lebih lanjut:

قال أصحابنا ولا يشترط إقامتها في مسجد ولكن تجوز في ساحة مكشوفة بشرط أن تكون داخلة في القرية أو البلدة معدودة من خطتها

Ulama-ulama syafi’iyyah berkata: (shalat jum’at) tidak harus dilaksanakan di masjid, tetapi boleh di pelataran, asalkan masih di tengah-tengah kampung atau suaru wilayah tertentu. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Majmu’, h. 47).

Imam al-Khatib as-Syirbini (w. 977 H) menjelaskan perkataan Imam Nawawi (w. 676 H):

(الثاني) من الشروط (أن تقام في خطة أبنية أوطان المجمعين) بتشديد الميم: أي المصلين الجمعة، وإن لم تكن في مسجد لأنها لم تقم في عصر النبي - صلى الله عليه وسلم - والخلفاء الراشدين إلا في مواضع الإقامة كما هو معلوم

Syarat kedua dari syaratnya shalat jum’at adalah diadakan di suatu bangunan orang yang mempunyai kewajiban shalat jum’at. Meskipun bangunan itu tidak masjid. (al-Khatib as-Syirbini w. 977 H, Mughni al-Muhtaj, h. 1/ 543).

Hanbaliyyah

Disebutkan dalam kitab al-Inshaf karya Alauddin al-Mardawi al-Hanbali (w. 885 H):

(ويجوز إقامتها في الأبنية المتفرقة، إذا شملها اسم واحد وفيما قارب البنيان من الصحراء) . وهو المذهب مطلقا. وعليه أكثر الأصحاب. وقطع به كثير منهم. وقيل: لا يجوز إقامتها إلا في الجامع

(shalat jum’at) boleh dilaksanakan di suatu bangunan yang terpisah-pisah. Asalkan namanya satu tempat. Ini adalah yang dipilih oleh kebanyakan ulama madzhab Hanbali. Meski ada yang mengatakan bahwa shalat jum’at harus di al-Jami’. (Alauddin al-Mardawi al-Hanbali w. 885 H, al-Inshaf, h. 2/ 378)

Bahkan Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H) membolehkan shalat jum’at tidak disebuah bangunan. Berbeda dengan ulama syafi’iyyah yang mensyaratkan harus di suatu bangunan. Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali (w. 620 H) berkata:

فصل: ولا يشترط لصحة الجمعة إقامتها في البنيان، ويجوز إقامتها فيما قاربه من الصحراء

Shalat jum’at tidak disyaratkan harus dilaksanakan di sautu bangunan, bahkan boleh dilakukan di suatu yang seperti bangunan di padang pasir. (Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali w. 620 H, al-Mughni, h. 2/ 246)

Alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Quddamah(w. 620 H) adalah suatu ketika seorang sahabat Nabi; Mush’ab bin Umair mengadakan jum’atan dengan para shahabat anshar di suatu tempat yang tak dihuni oleh manusia, atau disebut dengan Naqi’ al-Khadhimat .

Alasan lain adalah shalat jum’at itu seperti shalat ‘Id, dan shalat ‘Id boleh dilaksanakan di selain masjid. Secara teks dalil juga tak ada aturan harus disuatu tempat tertentu. (Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali w. 620 H, al-Mughni, h. 2/ 246).

Kesimpulan

Jika dicari dalil teks dari al-Qur’an maupun Hadits yang secara sharih atau to the point menjelaskan hal ini sepertinya akan kesusahan. Karena justru salah satu sebab adanya perbedaan ulama disini adalah tak adanya teks yang secara jelas menyebutkan dimana shalat jum’at harus diadakan.

Kesimpulan sederhana yang bisa diambil adalah jika memang di suatu daerah sudah ada al-Jami’, maka shalat jum’at dilaksanakan di masjid tersebut. Sebisa mungkin jum’at diadakan untuk menyatukan ummat.

Tetapi jika memang harus shalat jum’at diadakan di selain masjid, misalnya diadakan di auditorium, aula atau balai pertemuan warga maka hukum shalat jum’atnya tetap sah. waAllahu a’lam bis shawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 8.573 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 7.209 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 11.140 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 3.376 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.659 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 December 2016, 09:58 | 2.238 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 September 2016, 16:17 | 1.380 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 March 2016, 11:31 | 2.361 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 November 2015, 20:20 | 4.188 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 22 October 2015, 17:26 | 2.915 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc., MA | 15 October 2015, 13:54 | 3.586 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc., MA | 3 September 2015, 12:01 | 24.902 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 August 2015, 10:00 | 5.583 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 June 2015, 11:00 | 5.051 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 5.221 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 5.347 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 June 2015, 12:41 | 4.244 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 May 2015, 17:00 | 5.005 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 6.135 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 5.433 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 6.537 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 8.573 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 March 2015, 11:11 | 9.008 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 February 2015, 20:54 | 5.302 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 February 2015, 20:21 | 8.396 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 4 February 2015, 19:31 | 9.351 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 January 2015, 06:46 | 5.636 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 6.089 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.727 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 August 2014, 15:49 | 4.667 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 July 2014, 08:18 | 9.020 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 July 2014, 21:32 | 5.975 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 June 2014, 00:57 | 4.069 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 May 2014, 00:00 | 4.281 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 7 May 2014, 11:05 | 4.159 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 April 2014, 12:20 | 6.650 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 April 2014, 18:00 | 6.737 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 April 2014, 22:32 | 4.744 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 3.920 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 12 March 2014, 06:55 | 5.797 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 February 2014, 06:00 | 5.129 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 26 February 2014, 12:00 | 5.794 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 19 February 2014, 01:01 | 5.519 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 February 2014, 15:00 | 4.068 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 January 2014, 07:28 | 5.729 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 January 2014, 12:23 | 5.036 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 January 2014, 05:45 | 9.929 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 14:38 | 4.330 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 11:37 | 5.041 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 August 2013, 07:32 | 10.428 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 August 2013, 15:35 | 24.083 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 June 2013, 03:03 | 7.012 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 May 2013, 20:02 | 6.048 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 April 2013, 00:45 | 6.412 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 April 2013, 15:12 | 5.677 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 April 2013, 07:04 | 5.489 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 February 2013, 16:45 | 9.895 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan