Madzhab Fiqih Ahli Hadits | rumahfiqih.com

Madzhab Fiqih Ahli Hadits

Hanif Luthfi, Lc Tue 21 April 2015 13:36 | 4704 views

Bagikan via

Madzhab fiqih ahli hadits, tentu nama yang sangat menawan. Bagaimana tidak? Memangnya ada umat Islam yang tak ingin mengikuti ajaran nabinya?

Tak ada satupun ahli fiqih yang tak ingin mengikuti nabinya. Representasi dari nabi itu sendiri adalah hadits-hadits nabi. Tak disebut ahli fiqih jika tak tahu hadits-hadits nabi. Maka sejak dahulu, ulama fiqih sangat memperhatikan hadits-hadits nabi dalam pengambilan sebuah produk hukum. Baik ulama fiqih dari Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali bahkan Madzhab Ahli Dzahir.

Hanya saja ada kecenderungan sebagian kalangan, yang menganggap bahwa mengikuti madzhab fiqih dari ulama madzhab yang telah ada itu artinya mengikuti manusia, yang mungkin salah dan benar. Berbeda dengan mengikuti madzhab ahli hadits, pasti benar karena sandarannya bukan lagi manusia tetapi langsung hadits Nabi.

Benarkah demikian? Siapa dan bagaimanakah sebenarnya madzhab ahli hadits? Apakah para ahli hadits itu mempunyai satu model fiqih tersendiri, yang berbeda dengan ulama madzhab fiqih?

Nama dan Arti Sebuah Nama

Dahulu Mu’tazilah mengaku dan menamai diri mereka dengan Ahli Adil dan Tauhid. Syiah mengaku dan menamai diri mereka dengan sebutan golongan Ali bin Abi Thalib dan pecinta Ahli Bait. Ada pula kelompok yang menamai diri mereka dengan Ahlu al-Qur’an atau Qur’aniyyun, padahal sebenarnya mereka adalah Inkar as-Sunnah atau tidak percaya terhadap hadits nabi dan hanya percaya al-Qur’an. Bisa jadi Khawarij nanti menamai diri mereka dengan mujahidin.

Namanya saja menamai diri sendiri, tentu dengan nama-nama yang baik. Tapi nama diri tak selalu identik dengan arti dari sebuah nama. Tak selalu orang yang namanya ‘Jamil’ itu orangnya ganteng, dan tak selalu orang yang namanya ‘Selamet’ itu selalu selamat dari marabahaya. ‘Toko Murah’ juga belum tentu harganya selalu murah. Seharusya kita cukup jeli agar tidak terkecoh oleh sebuah nama atau jargon.

Jika ada warung makan dengan nama ‘Warung Nasi Padang’, tetapi masakan yang dijual malah masakan Tegal, tentu kita akan susah percaya bahwa warung itu benar-benar warung nasi padang.

Kita juga susah percaya jika ada Pesantren dengan nama ‘Pesantren Imam Syafi’i’, tetapi shalat tarawihnya tidak 23 raka’at, qunut shubuh dianggap bid’ah, adzan dua sebelum khutbah dianggap bid’ah, yang dikaji bukannya kitab ulama madzhab Syafi’i, tetapi madzhab Hanbali.

Atau jika ada sebuah kajian dengan tema ‘Kajian Kitab Fathu al-Qarib’ karya Syeikh Muhammad bin Qasim al-Ghazi as-Syafi’i (w. 918 H), tetapi isi kajiannya malah melemah-lemahkan pendapat madzhab Syafi’i, mengkritisi dan malah menguatkan pendapat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), kita patut katakan, “Kenapa tidak langsung mengkaji kitabnya Ibnu Taimiyyah saja?”. Sepertinya memang nama itu digunakan hanya untuk melariskan jualan saja.

Maka, nama tak serta merta mewakili makna dan hakekat dari nama tersebut.

Fiqih dan Hadits

Fiqih adalah buah, hadits itu pohonnya. Bagaimana mungkin buah tak membutuhkan pohon, atau buah bertentangan dengan pohonnya. Fiqih bisa dikatakan hasil dari pemahaman para mujtahid terhadap teks-teks syariah, dengan metodologi yang disebut dengan ushul fiqih.

Semua ulama fiqih dari madzhab empat menggunakan hadits sebagai salah satu dalil hukum. Bahkan Imam Abu Hanifah (w. 150 H) yang terkenal sebagai Imam Ahlu ar-Ra’yi berkata:

سمعت أبا حنيفة، يقول: «ما جاء عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين، وما جاء عن الصحابة اخترنا، وما كان من غير ذلك فهم رجال ونحن رجال»

Abu Hanifah (w. 150 H) berkata: Apa saja yang datang dari Rasulullah maka ‘dengan kepala dan mata’ (pent: diterima dengan penghormatan), jika datang dari shahabat Nabi maka kita akan pilih. Jika datang dari selain itu, maka mereka rijal kita juga rijal (pent: karena mereka satu level) (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Manaqib al-Imam Abi Hanifah wa Shahibaihi, h. 32)

Hadits Nabi dilihat dari sedikit banyaknya periwayat terbagi menjadi dua; mutawatir dan ahad. Hadits mutawatir berfaedah yakin, karena para perawinya tak mungkin untuk berbohong. Sedangkan hadits Ahad adalah selain hadits mutawatir.

Hadits ahad terbagi menjadi shahih, hasan dan dhaif. Disinilah nanti para ahli fiqih berbeda pendapat, dalam hal syarat diterimanya hadits ahad sebagai hujjah, terlebih ketika bertentangan dengan dalil-dalil lain. Ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah memiliki syarat-syarat yang cukup ketat dalam menerima hadits ahad menjadi hujjah. Kita akan bicarakan di lain kesempatan.

Dua Model Madrasah Fiqih

Kita akan merunut seperti apa itu Madzhab Fiqih Ahli Hadits. Ibnu Khaldun (w. 808 H) sebagai seorang cendikiawan muslim, sejawaran sekaligus ahli ilmu sosial menuliskan dalam kitab Tarikh-nya:

وكمل الفقه وأصبح صناعة وعلما فبدّلوا باسم الفقهاء والعلماء من القرّاء. وانقسم الفقه فيهم إلى طريقتين: طريقة أهل الرّأي والقياس وهم أهل العراق وطريقة أهل الحديث وهم أهل الحجاز

Ketika fiqih setelah menjadi cabang ilmu tersendiri, para ulama yang dahulunya disebut dengan Qurra’ diganti dengan sebutan ulama atau fuqaha’. Lantas fiqih mereka terbagi menjadi dua kecenderungan dua metodologi: Pertama, metodologi ahli ra’yu dan qiyas, mereka adalah penduduk Irak. Kedua, metodologi ahli hadits, mereka adalah penduduk Hijaz. (Ibnu Khaldun w. 808 H, Tarikh Ibn Khaldun, h. 1/ 564)

Jadi fuqaha’ dan ulama dahulu, sebelum ilmu fiqih menjadi satu cabang ilmu tersendiri disebut dengan Qurra’. Ahli hadits menurut Ibnu Khaldun (w. 808 H) adalah salah satu madrasah dalam memahami fiqih. Mereka kebanyakan di Hijaz, sebagai perbandingan dari madrasah ahli ra’yu yang berada di Irak.

Ibnu Khaldun (w. 808 H) melanjutkan:

وإمام أهل الحجاز مالك بن أنس والشّافعيّ من بعده

Imam Ahli Hijaz awalnya adalah Imam Malik (w. 179 H), lalu dilanjutkan oleh Imam Syafi’i (w. 204 H). (Ibnu Khaldun w. 808 H, Tarikh Ibn Khaldun, h. 564)

Maka, ahli hadits adalah mereka yang mengikuti Imam Malik bin Anas dan Imam Syafi’i. Masih tidak yakin? Kita akan baca pernyataan dari Imam Ahmad bin Hanbal (w. 204 H).

Qadhi Iyadh bin Musa (w. 544 H) menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) tentang Imam Syafi’i (w. 204 H):

قال أحمد بن حنبل ما زلنا نلعن أهل الرأي ويعلنوننا حتى جاء الشافعي فمزج بيننا

Ahmad bin Hanbal pernah berkata: Dahulu kita menjelek-jelekkan ahli ra’yu, begitu pula sebaliknya. Sampai datanglah Imam Syafi’i, beliau menggabungkan keduanya (Qadhi Iyadh bin Musa w. 544 H, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, h. 1/ 91)

Maka setelah itu, ahli hadits dan ahli ra’yu paham bahwa masing-masing saling membutuhkan. Qadhi Iyadh (w. 544 H) melanjutkan:

فعلم أصحاب الحديث أن صحيح الرأي فرع الأصل، وعلم أصحاب الرأي أنه لا فرع إلا بعد الأصل، وأنه لا غنى عن تقديم السنن وصحيح الآثار أولاً

Para ahli hadits akhirnya tahu bahwa ra’yu yang benar itu cabang dari asal (pent: al-Qur’an dan hadits), sedangkan ahlu ra’yi tahu bahwa tak ada cabang jika tak ada asal, tak ada alasan untuk tidak mendahulukan sunnah dan atsar yang shahih. (Qadhi Iyadh bin Musa w. 544 H, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, h. 1/ 91)

Maka pertentangan antara ahli hadits dan ahli ra’yu sebenarnya berakhir saat Imam Syafi’i (w. 204 H) menggabungkan dua metodologi memahami fiqih itu.

Ahli Hadits Sekarang Berbicara Dengan Lisan Syafi’i

Testimoni yang hampir mirip juga diungkapkan oleh Imam Muhammad bin Hasan as-Syaibani al-Hanafi (w. 189 H); salah seorang murid terbaik dari Imam Abu Hanifah (w. 150 H). Beliau berkata:

قال محمد بن الحسن: إن تكلم أصحاب الحديث يوما فبلسان الشافعي

Muhammad bin Hasan berkata, “Jika ahli hadits sekarang berkata satu hal, maka sebenarnya itu dengan lisan Syafi’i (Ibnu Asakir ad-Dimasyqi w. 571 H, Tarikh Dimasyq, h. 51/ 328)

Hal ini cukup beralasan. Ahli hadits yang hidup setelah Imam Syafi’i (w. 204 H) banyak mengambil pemikiran beliau dalam menetapkan hadits seperti apa yang bisa dijadikan hujjah. Maka tak heran jika ada ulama yang menjadikan kitab ar-Risalah karya Imam Syafi’i (w. 204 H) sebagai kitab pertama yang membahas tentang ilmu musthalah hadits. Selain itu Imam Syafi’i (w. 204 H) juga mempunyai kitab Ikhtilaf al-Hadits. Tak ada yang meragukan juga bahwa Imam Syafi’i (w. 204 H) mendapat gelar nashiru as-sunnah. Nantinya banyak juga ulama hadits yang secara fiqih mengikuti Imam Syafi’i.

Kesimpulan sementara kita adalah Imam Syafi’i (w. 204 H) termasuk Imam Ahli Hijaz setelah Imam Malik bin Anas, sebagai representasi dari Madzhab Fiqih Ahli Hadits.

Bersambung ke Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?

Bagikan via


Baca Lainnya :

Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.705 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 7.929 views
Berguru Kepada Mesin Pencari Gugel
Ahmad Zarkasih, Lc | 23 March 2015, 22:42 | 5.967 views
Ternyata, Shalat Wajib Hanya Satu!
Ahmad Zarkasih, Lc | 17 March 2015, 10:01 | 10.059 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 2.822 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.104 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 523 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.434 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.392 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.020 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 2.795 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 23.638 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 4.473 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.425 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.643 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.672 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.465 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.429 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.345 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.704 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.705 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 7.929 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.154 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.581 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.627 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.375 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.020 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.489 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.107 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 3.995 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.347 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.290 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.387 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.710 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.552 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 5.924 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 5.949 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.093 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.221 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.183 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.598 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.151 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 4.946 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.499 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.070 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.417 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.112 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.702 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.368 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.461 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 22.998 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.346 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.347 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.768 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.024 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 4.758 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 8.984 views