Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad? | rumahfiqih.com

Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?

Hanif Luthfi, Lc., MA Wed 13 May 2015 17:00 | 4815 views

Bagikan via

Jika ditanya apakah ada hadits dhaif dalam kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), para ulama dahulu sudah menjawabnya; ada.

Bukankah Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) termasuk ulama hadits yang hebat? Iya, benar. Bahkan Imam Syafi’i (w. 204 H) mengakuinya. Imam Syafi’i pernah berkata:

قال لنا الشافعي أنتم أعلم بالحديث والرجال مني فإذا كان الحديث الصحيح فأعلموني إن شاء يكون كوفيا أو بصريا أو شاميا حتى اذهب إليه إذا كان صحيحا

Imam Syafi’i berkata kepadaku, “Engkau lebih tahu tentang hadits dan rijal daripada saya. Jika memang hadits itu shahih, maka kabari saya. Meskipun dari Kufah, Bashrah maupun Syam agar saya bisa kesana, jika memang haditsnya shahih. (Abu al-Qasim Ali bin Hasan bin Asakir w. 571 H, Tarikh Ibnu Asakir, 51/ 385).

Lantas mengapa Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) masih menuliskan hadits-hadits dhaif dalam kitabnya? Apalagi beliau tak banyak menjelaskan status hadits, beliau tulis saja.

Apakah gara-gara memasukkan hadits dhaif dalam kitab, lantas menunjukkan seorang itu bukan pakar hadits? Atau gara-gara saat wafat memeluk kitab Shahih Bukhari, lantas dianggap semasa hidupnya tidak tahu kitab hadits itu? Tentu sebuah penilaian yang tergesa-gesa.

Dua hal yang perlu diperjelas: Pertama, hadits dhaif itu berbeda dengan hadits palsu, hadits dhaif itu ada tingkatannya. Kedua, penilaian terhadap suatu hadits menjadi dhaif dan shahih adalah produk ijtihadi soerang pakar hadits, yang mungkin berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Apakah Hal itu Karena Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) Hanya Mengumpulkan Saja Hadits-Hadits Tanpa Menyeleksinya?

Abu Zur’ah ar-Razi (w. 264 H) pernah berkata kepada Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (w. 290 H); anak dari Imam Ahmad:

قال عبد الله بن أحمد: قال لي أبو زرعة: أبوك يحفظ ألف ألف حديث

Bapakmu (Ahmad bin Hanbal) itu hafal satu juta hadits. (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyar A’lam an-Nubala’, h. 11/ 187).

Wah, satu juta hadits Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) hafal. Meski ad-Dzahabi (w, 241 H) menjelaskan bahwa satu juta ini tidak semuanya hadits Nabi, tetapi ditambah hadits yang terulang karena sanadnya berbeda, atsar, fatwa tabiin dan lainnya. (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyar A’lam an-Nubala’, h. 11/ 187).

Dari sekian banyak hafalan itu, beliau hanya menuliskan sekitar 40 ribu hadits saja dalam kitabnya Musnad. Maka tak mungkin Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) hanya mengumpulkan saja tanpa adanya proses seleksi.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) Menyatakan Bahwa Kitab Musnadnya Bisa Menjadi Pegangan Argumentasi

Terlebih lagi, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sendiri menyatakan bahwa kitabnya bisa dijadikan pegangan argumentasi hukum. Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H) menceritakan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H):

هذا الكتاب جمعته وانتقيته من أكثر من سبع مائة ألف وخمسين ألفا، فما اختلف المسلمون فيه من حديث رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فارجعوا إليه، فإن وجدتموه فيه، وإلا فليس بحجة

Kitab ini (Musnad Ahmad) telah saya kumpulkan dan seleksi dari sekitar lebih dari 750.000 hadits. Jika kaum muslimin berbeda pendapat dalam suatu hadits Rasulullah, maka rujuklah kepada kitab ini. Jika hadits itu tidak ditemukan di dalamnya, maka bukan hujjah. (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyar A’lam an-Nubala’, h. 11/ 187).

Dari hafalan 1.000.000 hadits yang masih berulang dan bercampur dengan atsar serta perkataan tabiin, dipilih menjadi 750.000 hadits, lantas dipilih lagi dan Imam Ahmad tuliskan hanya 40.000 hadits saja, atau sekitar 5.3 % nya saja.

Tak Semua Hadits Dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) itu Shahih

Tentu yang berani menyatakan bahwa tak semua hadits dalam Musnad Ahmad itu shahih, adalah para ulama juga.

Sebut saja Ibnu al-Jauzi al-Hanbali (w. 597 H), beliau mengatakan dalam kitabnya Shaid al-Khatir:

كان قد سألني بعض أصحاب الحديث: هل في مسند أحمد ما ليس بصحيح؟ فقلت: نعم

Saya ditanya oleh sebagian ahli hadits, “Apakah ada hadits yang tidak shahih dalam kitab Musnad Ahmad?” Iya, ada. (Ibnu al-Jauzi w. 597 H, Shaid al-Khathir, h. 313).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) juga menyatakan:

والإمام أحمد لم يشترط في مسنده الصحيح ولا التزمه وفي مسنده عدة أحاديث سئل هو عنها فضعفها بعينها وأنكرها

Imam Ahmad tak mensyaratkan harus shahih, terhadap apa yang beliau tulis dalam Musnadnya. Banyak ditemukan hadits dalam kitabnya, ketika beliau ditanya tentang status haditsnya, beliau mendhaifkan dan mengingkarinya (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, al-Furusiyyah, h. 247)

Al-Hafidz as-Syakhawi (w. 902 H) menjelaskan juga:

والحق أن فيه أحاديث كثيرة ضعيفة، وبعضها أشد في الضعف من بعض

Hal yang benar adalah dalam Musdan Ahmad memang terdapat banyak hadits dhaif, sebagiannya lebih dhaif dari sebagian yang lain (al-Hafidz as-Syakhawi as-Syafi’i w. 902 H, Fathu al-Mughits Bi Syarhi Alfiyat al-Hadits, h. 1/ 118).

Lebih lanjut Ad-Dzahabi (w. 748 H) menambahkan bahwa malahan ada hadits yang mirip palsu, kita bisa temukan dalam Musnad Ahmad:

ففيه جملة من الأحاديث الضعيفة مما يسوغ نقلها، ولا يجب الاحتجاج بها، وفيه أحاديث معدودة شبه موضوعة، ولكنها قطرة في بحر

Di dalamnya (Musnad Ahmad) terdapat bebearapa hadits dhaif yang dinukil, tetapi tak bisa dijadikan hujjah. Di dalamnya juga terdapat beberapa hadits yang mirip palsu, tetapi hal itu seperti setitik air dalam samudra (Syamsuddin ad-Dzahabi w. 748 H, Siyar A’lam an-Nubala’, h. 11/ 329).

Apakah Ada Juga Hadits Palsunya?

Jika tadi para ulama menyatakan ada hadits dhaif dalam Musnad Ahmad, lantas apakah juga ada hadits palsunya juga? Al-Hafidz al-Iraqi as-Syafi’i (w. 806 H) menjelaskan:

وأما وجود الضعيف فيه فهو محقق بل فيه أحاديث موضوعة

Hadits dhaif dalam Musnad Ahmad itu memang ada, bahkan di dalamnya terdapat hadits palsu (Zainuddin al-Iraqi w. 806 H, at-Taqyid wa al-Idhah, h. 57).

Memang masih ada perdebatan diantara ada tidaknya hadits palsu dalam Musnad Ahmad, al-Hafidz al-Iraqi (w. 806 H) dan Ibnu al-Jauzi al-Hanbali (w. 597 H) termasuk ulama yang menyatakan ada hadits palsu dalam Musnad Ahmad.

Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H) menyatakan:

تنازع الحافظ أبو العلاء الهمداني والشيخ أبو الفرج ابن الجوزي: هل في المسند حديث موضوع؟ فأنكر الحافظ أبو العلاء أن يكون في المسند حديث موضوع وأثبت ذلك أبو الفرج وبين أن فيه أحاديث قد علم أنها باطلة؛ ولا منافاة بين القولين

Al-Hafidz Abu al-Ala’ al-Hamadani dan Syeikh Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi berdebat tentang ada tidaknya hadits maudhu’ dalam Musnad Ahmad. Abu al-Ala’ mengingkarinya, sedangkan Ibnu al-Jauzi mengakui adanya hadits palsu. Meski kedua perkataan itu benar. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, Majmu’ al-Fatawa, h. 1/ 248).

Malahan Soerang yang membela bahwa tak ada hadits palsu dalam kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (w. 852 H) adalah Imam Ibnu Hajar al-Asqalani as-Syafi’i (w. 852 H). Beliau menulis kitab tersendiri dengan judul al-Qaul al-Musaddad fi ad-Dzab ‘an Musnad Ahmad.

Contoh Hadits Dhaif dan Maudhu’ Dalam Musnad Imam Ahmad (w. 241 H)

Satu contoh yang diperdebatkan status haditsnya adalah hadits berikut ini:

إن عليا مني وأنا منه، وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali bin Abi Thalib adalah bagian dariku (Nabi), Dia adalah walinya setiap mukmin setelahku (Ahmad bin Hanbal w. 241 H, Musnad Imam Ahmad, h. 33/ 154)

Hadits ini dikritisi oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, beliau berkata:

قوله: " «هو ولي كل مؤمن بعدي» " كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم... كلام يمتنع نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم

Perkataan, “Ali adalah wali bagi kaum mukmin setelahku’ adalah perkataan bohong yang disandarkan kepada Nabi… juga perkataan yang tak pantas dinisbatkan kepada Nabi. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H), Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, h. 7, 391).

Bahkan beliau menyatakan bahwa tak ada satupun ahli hadits, bahkan orang yang baru mengerti sedikit tentang ilmu hadits akan tahu bahwa hadits tersebut bohong. Beliau menyatakan:

أن هذا كذب موضوع باتفاق أهل المعرفة بالحديث وكل من له أدنى معرفة بالحديث يعلم أن هذا كذب موضوع لم يروه أحد من أهل العلم بالحديث في كتاب يعتمد عليه لا الصحاح، ولا السنن، ولا المساند المقبولة

Hadits ini adalah maudhu’ dengan kesepakatan para ahli hadits. Orang yang baru belajar ilmu hadits pun akan tahu bahwa hadits tadi palsu. Hadits tadi tak pernah diriwayatkan oleh satupun ulama ahli hadits, baik dalam kitab-kitab shahih, kitab sunan, dan musnad yang diterima. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H), Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, h. 7, 386).

Perlu diketahui bahwa hadits yang dikritisi oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tadi terdapat pada kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.

Lebih dari itu, Albani (w. 1420 H) memasukkan hadits itu dalam kitabnya Silsilat al-Ahadits as-Shahihah; kitab hadits yang katanya semua haditsnya shahih. (Muhammad Nashiruddin al-Albani w. 1420 H, Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, h. 5/ 261).

al-Albani (w. 1420 H) sempat heran dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) terkait hadits ini, al-Albani berkata:

فمن العجيب حقا أن يتجرأ شيخ الإسلام ابن تيمية على إنكار هذا الحديث وتكذيبه

Hal yang sungguh mengherankan bahwa Syeikh Ibnu Taimiyyah berani mengingkari hadits ini dan menganggapnya bohong (Muhammad Nashiruddin al-Albani w. 1420 H, Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, h. 5/ 264)

Kata al-Albani (w. 1420 H), Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berbuat hal itu karena berlebihan dalam menyerang Syiah. Al-Albani (w. 1420 H) menyebutkan:

فلا أدري بعد ذلك وجه تكذيبه للحديث إلا التسرع والمبالغة في الرد على الشيعة، غفر الله لنا وله

Maka saya tak ketahui apa alasan kenapa Ibnu Taimiyyah sampai menganggap hadits tadi palsu, kecuali karena tergesa-gesa dan berlebihan dalam membantah Syiah. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan dosanya (Muhammad Nashiruddin al-Albani w. 1420 H, Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, h. 5/ 264).

Nah, kira-kira siapakah yang paling benar, apakah Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), atau Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), atau Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H)?

Tahqiq Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal

Cara paling mudah mengetahui hadits mana saja dari Musnad Ahmad adalah dengan membaca kitab tahqiq atau penelitian ulang ulama setelahnya.

Jumlah hadits dalam Musnad Ahmad adalah sekitar 40 ribu hadits dengan pengulangan. Oleh Percetakan ar-Risalah Baerut yang ditahqiq oleh Syeikh Syuaib al-Arnauth, Musnad Ahmad dicetak dalam 50 jilid buku.

Dalam mukaddimah tahqiq Kitab Musnad Ahmad, disebutkan bahwa hadits dalam kitab Musnad Ahmad ini bisa diklasifikasikan menjadi 6 bagian; 1. Hadits yang shahih li dzatihi, 2. Hadits yang shahih li ghairihi, 3. Hadits yang hasan li dzatihi, 4. Hadits yang hasan li ghairihi, 5. Hadits yang dhaif dengan ringan, 6. Hadits yang sangat dhaif bahkan sampai maudhu’ (Syuaib al-Arnauth, Mukaddimah Tahqiq Musnad Ahmad, h. 1/ 64).

Jika kita lihat prosentase shahih-dhaifnya, sebagai contoh kita bisa lihat dalam jilid pertama kitab Musnad Ahmad. Syeikh Syuaib al-Arnauth dan timnya menyimpulkan bahwa dalam jilid pertama:

  • Jumlah hadits                                          : 561 hadits
  • Hadits shahih li dzatihi dan li ghairihi : 359 hadits atau 64 %
  • Hadits hasan li dzatihi dan li ghairihi  : 110 hadits atau 19,6 %
  • Hadits dhaif                                              : 79 hadits atau 14 %
  • Masih tawaqquf atau belum jelas        : 13 atau 2,4 %

Sedangkan untuk hadits yang sangat lemah, dengan bantuan pencarian aplikasi maktabah syamilah, dengan keyword ‘dhaif jiddan’, paling tidak ditemukan sekitar 298 hadits yang berstatus ‘sangat lemah’ dalam seluruh hadits Musnad Ahmad tahqiq Syeikh Syuaib al-Arnauth.

Alasan Memasukkan Hadits Dhaif

Mungkin salah satu alasan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) memasukkan hadits yang lemah adalah beliau pernah berkata kepada putra beliau;

قصدت في المسند الحديث المشهور وتركت الناس تحت ستر الله تعالى ولو أردت أن أقصد ما صح عندي لم أرو من هذا المسند إلا الشيء بعد الشيء ولكنك يا بني تعرف طريقتي في الحديث لست أخالف ما ضعف إذا لم يكن في الباب ما يدفعه

Saya sengaja memasukkan hadits-hadits yang masyhur dalam kitab Musnad, dan saya tinggalkan orang-orang didalam perlindungan Allah. Kalau saya mau, saya akan riwayatkan dari Musnad ini satu per satu. Tapi engkau tahu metodeku dalam hadits, saya tidak tinggalkan hadits dhaif, jika memang dalam satu bab tak ada hadits lain. (Abu Musa al-Madini w. 581 H, Khashais Musnad Ahmad, h. 21).

Maksudnya memang Imam Ahmad (w. 241 H) tak membuang begitu saja meskipun hadits itu dhaif, jika dalam satu bab tak ada riwayat lain.

Apakah ada alasan lain, misalnya Imam Ahmad tak bisa membedakan mana hadits shahih dan mana hadits dhaif?

Jika gara-gara masih memasukkan hadits dhaif dalam kitab tertentu, lantas penulisnya dianggap tak bisa membedakan hadits shahih dan dhaif, sungguh penilaian yang dangkal.

Dari sini kita juga bisa tahu bahwa penilaian suatu hadits menjadi shahih atau dhaif, bukanlah monopoli seseorang, atau golongan tertentu saja. wallahua'lam bis shawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 1 May 2015, 15:55 | 4.619 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 5.915 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 5.229 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 6.273 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 8.374 views

more...

Semua Tulisan Penulis :