Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan | rumahfiqih.com

Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan

Hanif Luthfi, Lc Tue 2 June 2015 12:41 | 3758 views

Bagikan via

Puasa bulan Ramadhan yang kita jalankan saat ini, ternyata mengalami suatu proses pensyariatan. Dari awalnya boleh memilih antara puasa dan tidak puasa lalu ke berat akhirnya ke ringan.

Para ulama sepakat bahwa puasa Ramadhan itu diwajibkan di bulan Sya’ban tahun kedua hijriyyah (Ibnu Katsir ad-Dimasyqi w. 774 H, al-Fushul di Sirah ar-Rasul, h. 127). Di tahun yang sama, disyariatkan pula perpindahan arah kiblat shalat, dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, disyariatkan zakat fithrah, dan Shalat Id (Abu Ja’far at-Thabari w. 310, Tarikh at-Thabari, h. 2/ 421).

Hanya saja, sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, Nabi telah berpuasa di hari Asyura’ dan tiga hari di tiap bulannya. Puasa Asyura’ atau 10 Muharram dahulu sudah dijalankan oleh orang-orang Qurays masa jahiliyyah, dan Nabi juga ikut melaksanakannya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa puasa Asyura' dilaksanakan Nabi saat di Madinah, ketika melihat Orang Yahudi berpuasa di hari itu.

Jika dihitung, Nabi Muhammad shallaAllahu alaihi wasallam selama hidupnya telah melaksanakan puasa sebanyak 9 kali. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Zaad al-Ma’ad, h. 2/ 29).

Paling tidak ada beberapa fase pensyariatan yang bisa kita lihat secara sekilas dari diagram dibawah ini:


Tak Ada Puasa Wajib Sebelum Puasa Ramadhan

Tak ada puasa wajib bagi umat Islam sebelum adanya syariat puasa Ramadhan. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menuliskan bahwa:

فالجمهور وهو المشهور عند الشافعية أنه لم يجب قط صوم قبل صوم رمضان

Mayoritas ulama dan yang masyhur dalam pendapat madzhab Syafi'iyyah adalah tak ada syariat puasa wajib sebelum adanya syariat puasa Ramadhan (Ibnu Hajar al-Asqalani w. 852, Fath al-Bari, h. 4/ 103)

Hal ini sebagaimana diamini oleh mufassir Ibnu Jarir at-Thabari (w. 310 H) dalam menafsiri Surat al-Baqarah: 184. (Ibnu Jarir at-Thabari w. 310, Jami’ al-Bayan, h. 3/ 417)

Meskipun ada pula ulama yang menyatakan bahwa sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, ada puasa lain yang juga wajib. Hanya saja, ulama yang mengatakan ada puasa wajib ini juga berbeda pendapat terkait puasa apa yang wajib. Sebagian mengatakan puasa Asyura’, sebagian yang lain mengatakan puasa tiga hari setiap bulan atau yang disebut dengan puasa Ayyam al-Bidh.

Ulama yang menyatakan bahwa puasa Asyura’ adalah puasa wajib sebelum adanya syariat puasa Ramadhan diantaranya Imam Abu Hanifah (w. 150 H) yang dinukil oleh Alauddin al-Kasani (w. 587 H) dalam kitabnya Badai’ as-Shanai’, h. 2/ 262, Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa, h. 25/ 295 dan juga Abu Bakar al-Atsram (w. 273 H) dalam kitabnya Nasikh al-Hadits wa Mansukhih, h. 186.

Sedangkan yang menyatakan bahwa puasa ayyam al-bidh adalah puasa wajib sebelum adanya Atha’ bin Abi Rabah (w. 114 H) sebagaimana dinukil oleh Imam Abu Ja’far at-Thabari (w. 310 H) dalam kitab tafsirnya Jami’ al-Bayan, h. 3/ 414.

Periode 1: Puasa Asyura’

Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, dahulu Nabi sudah puasa tanggal 10 Muharram atau Asyura’. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن عائشة رضي الله عنها، قالت: «كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يصومه فلما قدم المدينة صامه وأمر بصيامه ، فلما نزل رمضان كان رمضان الفريضة، وترك عاشوراء، فكان من شاء صامه ومن شاء لم يصمه

Dari Aisyah beliau berkata, “Hari Asyura’ dahulu orang Qurays puasa di hari itu, Nabi Muhammad juga berpuasa di hari Asyura’. Saat awal tiba di Madinah, Nabi masih menyuruh untuk berpuasa Aysura’ dan Nabi juga ikut berpuasa. Hanya ketika datang syariat puasa Ramadhan, Nabi meninggalkan puasa Asyura’ sembari berujar bahwa siapa yang mau puasa di hari itu ya silahkan, yang tidak puasa juga tidak mengapa. (Muhammad bin Ismail al-Bukhari w. 256 H, Shahih Bukhari, h. 6/ 24)

Aisyah menyebutkan bahwa Nabi telah berpuasa hari Asyura' sejak berada di Makkah, yaitu hari dimana Ka'bah ditutup. Disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari (w. 256 H) dalam Shahihnya:

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كانوا يصومون عاشوراء قبل أن يفرض رمضان، وكان يوما تستر فيه الكعبة، فلما فرض الله رمضان، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من شاء أن يصومه فليصمه، ومن شاء أن يتركه فليتركه

Dari Aisyah beliau berkata, " Dahulu orang-orang sudah puasa Asyura' sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, yaitu hari dimana Ka'bah diberi tutup. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah bersabda, "Siapa yang ingin puasa Asyura' ya silahkan, siapa yang tak ingin puasa ya tidak apa-apa. (Muhammad bin Ismail al-Bukhari w. 256 H, Shahih Bukhari, h. 2/ 148).

Hanya dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi puasa Asyura' saat melihat orang Yahudi Madinah puasa di hari itu. Disebutkan dalam hadits:

عن ابن عباس رضي الله عنهما، قال: قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: «ما هذا؟»، قالوا: هذا يوم صالح هذا يوم نجى الله بني إسرائيل من عدوهم، فصامه موسى، قال: «فأنا أحق بموسى منكم»، فصامه، وأمر بصيامه

Dari Ibnu Abbas beliau berkata, ketika Nabi datang ke Madinah beliau melihat Orang Yahudi berpuasa di hari Asyura'. Lantas Nabi bertanya, "Puasa apa itu?". Mereka menjawab, "Ini hari yang baik, hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, lalu Musa berpuasa." Lantas Nabi menimpali, "Saya lebih berhak atas Musa daripada kalian", maka Nabi akhirnya puasa di hari itu dan menyuruh kaum muslim untuk berpuasa pula. (Muhammad bin Ismail al-Bukhari w. 256 H, Shahih al-Bukhari, h. 3/ 44).

Periode 2: Boleh Memilih Walaupun Mampu Puasa

Awal disyariatkan puasa Ramadhan pada tahun kedua hijriyyah, kaum muslimin boleh memilih antara puasa atau tidak puasa. Bagi yang tidak berpuasa, harus membayar fidyah yaitu memberi makan satu orang miskin.

Hanya saja, bagi yang berpuasa maka itu lebih baik. Hal ini sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an:

وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرًا فهو خير له وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون. البقرة:184

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 184)

Periode 3: Tak Ada Pilihan Kecuali Puasa Bagi yang Mampu

Setelah boleh memilih, akhirnya turun ayat yang menjelaskan bahwa tak ada lagi pilihan kecuali puasa bagi yang mampu dan tak ada udzur. Ayat itu adalah:

فمن شهد منكم الشهر فليصمه. البقرة :185

Siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (QS. Al-Baqarah: 185).

Dalam hadits disebutkan:

عن سلمة بن الأكوع قال: لما نزلت: (وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين) كان من أراد أن يفطر ويفتدي، حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها

Dari Salamah bin al-Akwa’ beliau berkata, “ketika turun ayat (Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin), boleh diantara kita berpuasa atau membayar fidyah. Ketika turun ayat setelahnya, maka ayat itu menasakh kebolehan memilih. (Muttafaq alaih)

Semua kaum muslim yang mampu dan tak ada udzur, wajib berpuasa Ramadhan. Hanya saja, ternyata awalnya puasa dahulu cukup berat. Kenapa berat?

Periode Berat: Boleh Makan Selama Belum Tidur

Puasa Ramadhan pada awalnya dimulai dari saat tidur malam sampai maghrib hari berikutnya. Ketika seseorang sudah tidur malam, maka tidak boleh lagi makan, minum dan jima’ dengan istrinya, sampai nanti masuk waktu maghrib.

Maka beberapa shahabat mengalami keadaan yang berat. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan itu. Diantaranya ysng terjadi kepada Qais bin Shirmah al-Anshari:

عن البراء بن عازب –رضى الله عنه-، قال: " كان أصحاب محمد –صلى الله عليه وسلم- إذا كان الرجل صائماً فحضر الإفطار، فنام قبل أن يفطر، لم يأكل ليلته ولا يومه حتى يمسى، وإن قيس بن صِرمَة الأنصارىّ كان صائماً، فلما حضر الإفطار أتى امرأته، فقال لها: أعندكِ طعام؟، قالت: لا، ولكن أنطلق فأطلب لك، وكان يومه يعمل، فغلبته عيناه

فجاءته امرأته، فلما رأته قالت: خَيْبَةً لك. فلما انتصف النهار غُشِى عليه، فذُكر ذلك للنبى –صلى الله عليه وسلم-، فنزلت هذه الآية: ((أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلى نِسَآئِكُمْ))، ففرحوا بها فرحاً شديداً، ونزلت: ((وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الفَجْرِ))"

Dari Barra’ bin Azib beliau menceritakan, “dahulu para shahabat Nabi ketika puasa dan telah datang waktu berbuka puasa, apabila dia tidur sebelum berbuka puasa maka dia tidak makan di malam itu sampai hari berikutnya.

Salah seorang shababat Nabi bernama Qais bin Shirmah al-Anshari beliau berpuasa. Ketika datang waktu buka puasa, beliau datang kepada istrinya dan bertanya, “Apakah kamu punya makanan untuk kita makan?” “Tidak ada, tetapi saya akan mencarinya untukmu!” Jawab istrinya.

Hari itu Qais bekerja cukup lelah, sampai akhirnya ketiduran. Ketika istrinya datang, dia melihat suami tidur, “Wah, celaka!” Belum makan malah tidur duluan.

Karena belum makan malam itu, Qais akhirnya pingsan di hari berikutnya. Akhirnya hal itu dilaporkan kepada Nabi. Hingga turunlah ayat yang artinya: “Halal bagi kalian berhubungan badan ketika malam bulan Ramadhan.” Maka kaum muslimin saat itu sangat bahagia.

Akhirnya turun juga ayat yang artinya: “makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Sebagaimana hal itu juga terjadi pada Umar bin Khattab radhiyaAllah anhu. Dalam sebuah riwayat diceritakan:

رجع عمر بن الخطاب من عند النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة، وقد سهر عنده فوجد امرأته قد نامت، فأرادها فقالت: إني قد نمت، قال: ما نمت ثم وقع بها، وصنع كعب بن مالك مثل ذلك، فغدا عمر إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره فأنزل الله تعالى:  {علم الله أنكم كنتم تختانون أنفسكم فتاب عليكم وعفا عنكم} البقرة: 187

Umar bin Khattab suatu malam pulang dari berkumpul dengan Nabi pada bulan Ramadhan. Sesampainya di rumah ternyata istrinya sudah tidur, padahal umar ingin berjima’ dengan istrinya malam itu. Istrinya berkata, “Saya sudah tidur tadi”. Maka Umar menjawab, kamu tidak tidur. Akhirnya Umar pun berjima’ dengan istrinya malam itu. Ka’ab bin Malik juga melaksanakan hal itu.

Maka keesokan harinya Umar mendatangi Nabi Muhammad dan menceritakan apa yang tadi malam terjadi. Maka turunlah ayat yang artinya: “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu.” QS. Al-Baqarah: 187. (Ahmad bin Hanbal w. 241 H, Musnad Ahmad, 25/ 86)

Periode Ringan: Boleh Makan Selama Belum Terbit Fajar Shubuh

Akhirnya puasa masuk kepada fase ringan. Dimana seseorang baru memulai puasa ketika sudah masuk fajar shubuh. Ketika malam hari, seorang muslim boleh makan, minum dan berjima’ dengan istrinya. Bahkan termasuk sunnah Nabi adalah mengakhirkan makan sahur.

Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an:

وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى الليل. البقرة :187

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (QS. Al-Baqarah: 187)

Itulah beberapa fase pensyariatan puasa Ramadhan sampai yang kita jalankan saat ini.

Hanya saja, puasa yang sudah ringan ini ternyata memang masih saja ditinggalkan oleh sebagian kaum muslimin. Semoga bulan puasa Ramadhan kali ini menjadikan kita lulus sebagai orang yang bertakwa. Marhaban ya Ramadhan!

Waallahua'lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 4.553 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.655 views
Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 1 May 2015, 15:55 | 4.455 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.733 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 5.019 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.525 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 924 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.820 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.730 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.387 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.105 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.250 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.176 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.696 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.884 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.979 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.758 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.655 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.733 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 5.019 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 6.058 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.213 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.522 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.883 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.932 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.875 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.266 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.762 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.377 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.267 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.685 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.613 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.717 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.968 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.823 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.254 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.284 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.351 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.519 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.462 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.821 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.452 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.191 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.786 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.378 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.692 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.452 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.984 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.660 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.906 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.543 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.638 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.662 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 6.041 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.300 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.059 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.395 views