Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri | rumahfiqih.com

Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri

Sutomo Abu Nashr, Lc Sun 21 June 2015 13:59 | 3966 views

Bagikan via

Muqaddimah
Barangkali pembaca akan terasa asing dengan sebuah pendapat fiqih yang menyatakan bahwa seorang anak laki-laki batal wudhunya saat bersentuhan dengan ibu kandungnya. Atau seorang ayah batal wudhunya saat bersentuhan dengan putri kandungnya. Atau seorang kakak laki-laki batal wudhunya saat bersentuhan dengan adik kandung perempuannya. Walaupaun putri kandung ataupun adik perempuan kandung tersebut belum sampai pada usia baligh.

Pendapat tersebut bukanlah asal pendapat yang tidak berlandaskan kepada satu dalilpun. Madzhab Zahiri sebagai pengusung pendapat tersebut justru mendasarkan ijtihad mereka pada dalil tertinggi dalam urutan sumber-sumber fiqih. Dalil yang digunakan dalam kasus ini adalah ayat 43 dari surat An-Nisa atau ayat 6 dari surat Al-Maidah. Dalam dua ayat tersebut secara jelas Allah SWT menyebutkan salah satu pembatal wudhu adalah bersentuhan dengan wanita, tanpa ada pengecualian ibu kandung, putri kandung, saudari kandung dan lain sebagainya. Demikian juga tidak ada penjelasan tentang syarat sudah baligh atau belum, atau harus merasakan nikmat atau tidak saat bersentuhan.

Sebagai contoh lain, ada sebuah hadits sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, “Janganlah salah seorang diantara kalian kencing di dalam air diam yang tidak mengalir, kemudian mandi di dalamnya”, dalam riwayat lain, “kemudian dia berwudhu di dalamnya”. Dengan mendasarkan pada hadits sahih ini, dan yang terlarang adalah kencing di dalam air yang diam tidak mengalir, maka mereka berpendapat bahwa kalau ada orang kencing di luar air diam tersebut, namun ternyata mengalir dan masuk kedalam air yang diam itu, maka air tersebut tetap suci dan boleh digunakan untuk berwudhu.

Contoh kasus yang lain adalah hadits sahih riwayat imam Bukhari yang menyatakan bahwa diamnya anak perempuan yang hendak dinikahkan adalah bentuk izin dan kesepakatannya. Maka, dalam pandangan madzhab Zahiri, kalau anak perempuan tersebut malah mengatakan, “saya sepakat”, pernikahan tidak boleh terjadi karena menyalahi hadits Nabi. Karena perempuan tersebut tidak diam.

Kasus-kasus diatas adalah sebagian kecil contoh pemikiran fiqih Zahiri yang bisa kita baca dalam kitab Al Muhalla yang ditulis oleh salah satu ulama besar mereka yaitu Ibnu Hazm (w. 456 H). Kalau kita amati secara seksama, apa yang dihasilkan oleh ijtihad Ibnu Hazm, tidaklah berpunggungan atau bertentangan dengan lahiriah teks Al-Qur’an maupun hadits-hadits sahih yang disebutkan. Karena memang demikianlah bunyi lahir al-Qur’an dan Haditsnya. Ibnu Hazm benar-benar mengikuti perintah Nabi SAW. Namun, apakah memang demikian maksud dari Al-Qur’an maupun Hadits-hadits Nabi ? 

Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sebagaimana dalam pembahasan fiqih Taharah dan Nikah diatas, dalam pembahasan fiqih Puasa yang terdapat pada kitab Al Muhalla, kita juga bisa mendapati ijtihad-ijtihad unik yang dilakukan oleh Ibnu Hazm yang seringkali berbeda dengan pendapat mayoritas ulama. Berikut ini beberapa contohnya :

1. Yang Penting Niat
Dalam pembahasan ke-729 Ibnu Hazm mengatakan :

وَمَنْ نَسِيَ أَنْ يَنْوِيَ مِنْ اللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ فَأَيُّ وَقْتٍ ذَكَرَ مِنْ النَّهَارِ التَّالِي لِتِلْكَ اللَّيْلَةِ - سَوَاءٌ أَكَلَ وَشَرِبَ وَوَطِئَ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ - فَإِنَّهُ يَنْوِي الصَّوْمَ مِنْ وَقْتِهِ إذَا ذَكَرَ، وَيُمْسِكُ عَمَّا يُمْسِكُ عَنْهُ الصَّائِمُ، وَيُجْزِئُهُ صَوْمُهُ ذَلِكَ تَامًّا، وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَلَوْ لَمْ يَبْقَ عَلَيْهِ مِنْ النَّهَارِ، إلَّا مِقْدَارُ النِّيَّةِ فَقَطْ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ كَذَلِكَ فَلَا صَوْمَ لَهُ، وَهُوَ عَاصٍ لِلَّهِ تَعَالَى مُتَعَمِّدٌ لِإِبْطَالِ صَوْمِهِ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى الْقَضَاءِ.

“Orang yang lupa untuk niat puasa pada malam hari bulan Ramadhan, -kapanpun ia mengingatnya di waktu siang setelah malam itu, baik (mengingatnya) setelah makan, minum, atau jimak atau (mengingatnya) sebelum melakukan itu semua-, maka dia harus niat di waktu dia mengingatnya lalu harus menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Puasanya ini telah dianggap sah secara sempurna tanpa ada kewajiban qadha (mengganti) atasnya, meskipun tidak tersisa dari waktu puasa di siang hari itu kecuali satu durasi yang hanya cukup untuk melakukan niat saja. Jika dia tidak melakukan niat itu, maka puasanya tidak sah dan dianggap bermaksiat kepada Allah SWT dan telah menyengaja membatalkan puasa yang tidak mungkin bisa untuk diqadha”. 

2. Puasa Sunnah Juga Wajib Niat di Malam Hari

 وَلَا يُجْزِئُ صَوْمُ التَّطَوُّعِ إلَّا بِنِيَّةٍ مِنْ اللَّيْلِ، وَلَا صَوْمُ قَضَاءِ رَمَضَانَ، أَوْ الْكَفَّارَاتِ إلَّا كَذَلِكَ، لِأَنَّ النَّصَّ وَرَدَ بِأَنْ لَا صَوْمَ لِمَنْ لَمْ يُبَيِّتْهُ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا قَدَّمْنَا


“Tidaklah sah puasa sunnah kecuali dengan adanya niat di malam hari. Demikian juga puasa qadha ramadhan, puasa kaffarat. Hal demikian karena nash yang ada menyatakan bahwa tidak sah puasa seseorang yang tidak menginapkan niatnya dari malam hari (sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya)”

Kali ini Ibnu Hazm tidak zahiri. Hadits Aisyah yang ditanya oleh Rasulullah SAW apakah ada sesuatu yang bisa dimakan atau tidak, kemudian beliau memutuskan untuk berpuasa karena ternyata tidak ada, justru dimaknai tidak sebagaimana mayoritas ulama memaknainya.

3. Maksiat dengan Sengaja juga Membatalkan Puasa

 وَيُبْطِلُ الصَّوْمَ أَيْضًا تَعَمُّدُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ - أَيِّ مَعْصِيَةٍ كَانَتْ، لَا نُحَاشِ شَيْئًا - إذَا فَعَلَهَا عَامِدًا ذَاكِرًا لِصَوْمِهِ

“Yang juga membatalkan puasa adalah sengaja melakukan maksiat dalam bentuk apapun tanpa kita kecualikan. Hal itu jika dilakukannya sengaja dan dalam kondisi sadar akan puasanya”

Jadi lirikan sengaja mata seseorang yang sedang berpuasa kepada hal-hal yang Allah SWT haramkan, dalam pandangan madzhab zahiri membatalkan puasanya.

4. Safar Membatalkan Puasa

وَمَنْ سَافَرَ فِي رَمَضَانَ - سَفَرَ طَاعَةٍ أَوْ [سَفَرَ] مَعْصِيَةٍ، أَوْ لَا طَاعَةَ وَلَا مَعْصِيَةَ - فَفَرْضٌ عَلَيْهِ الْفِطْرُ إذَا تَجَاوَزَ مِيلًا، أَوْ بَلَغَهُ، أَوْ إزَاءَهُ، وَقَدْ بَطَلَ صَوْمُهُ حِينَئِذٍ لَا قَبْلَ ذَلِكَ، وَيَقْضِي بَعْدَ ذَلِكَ فِي أَيَّامٍ أُخَرَ

“Orang yang bepergian di bulan Ramadhan baik dalam rangka ketaatan maupun kemaksiatan, atau bukan dalam rangka ketaatan atau kemaksiatan, maka wajib baginya untuk berbuka jika telah melampaui, mencapai tepat, atau sekitar satu mil. Jika sudah mencapai itulah dia batal puasanya dan bukan sebelum itu. Dan wajib atasnya untuk mengqadha di hari-hari yang lain”

5. Wajib Berbuka dengan Kurma atau Air

وَيَجِبُ عَلَى مَنْ وَجَدَ التَّمْرَ أَنْ يُفْطِرَ عَلَيْهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَى الْمَاءِ وَإِلَّا فَهُوَ عَاصٍ لِلَّهِ تَعَالَى إنْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ فَعَنَدَ وَلَا يَبْطُلُ صَوْمُهُ بِذَلِكَ؛ لِأَنَّ صَوْمَهُ قَدْ تَمَّ وَصَارَ فِي غَيْرِ صِيَامٍ؛ وَكَذَلِكَ لَوْ أَفْطَرَ عَلَى خَمْرٍ، أَوْ لَحْمِ خِنْزِيرٍ، أَوْ زَنَى؛ فَصَوْمُهُ تَامٌّ وَهُوَ عَاصٍ لِلَّهِ تَعَالَ

“Bagi orang yang memiliki kurma, maka wajib atasnya untuk berbuka dengannya. Jika tidak memiliki, maka wajib dengan air. Dan jika dia menentang dan tidak berbuka dengan itu padahal ia sudah mengetahui, maka ia telah bermaksiat kepada Allah SWT, karena puasanya telah terlaksana dan tidak lagi berpuasa. Hal demikian sama seperti oarang yang berbuka dengan khamar, daging babi, atau dengan melakukan zina. Orang demikian puasanya telah terlaksana namun bermaksiat kepada Allah SWT”

Khatimah
Apa yang dituliskan oleh salah satu ulama madzhab zahiri sekaliber Ibnu Hazm diatas,  adalah hasil ijtihad yang wajib kita hormati, meski bukan berarti kita absen dari bersikap kritis. Dan apa yang penulis sajikan dalam artikel ini tidak lebih dari sebuah deskripsi tentang contoh-contoh ijtihad salah satu murid terbaik Ibnu 'Abdil Barr ini, tanpa ada satupun kritik yang penulis sampaikan. Karena memang para ulama yang sekaliber Ibnu Hazm atau bahkan yang melebihi beliau, sudah melakukan itu.

Penulis hanya hendak mengambil sebuah pelajaran penting dari fiqih puasanya Ibnu Hazm ini bahwa saat menyampaikan pendapatnya, Ibnu Hazm memberikan argumentasi yang cukup kuat dan ilmiah. Bahkan dalam pembahasan puasa-musafir misalnya, Ibnu Hazm membutuhkan tidak kurang dari dua puluh halaman untuk berdiskusi sekaligus mengkritisi pendapat lawannnya yang dalam hal ini adalah jumhur ulama. Dalam banyak kritikannya, Ibnu Hazm seringkali mengatakan pendapat lawannnya itu menyelesihi sunnah Nabi Muhammad SAW. Karena dalam pandangan beliau, teks lahiriah hadits sudah cukup jelas memberikan satu informasi ketetapan hukum.
 
Namun setepat apapun pemaknaan Ibnu Hazm dengan lahiriah teks, ternyata jumhur (mayoritas) fuqaha seringkali menyatakan bahwa maksud hadits-hadits tersebut tidaklah demikian. Tidaklah diamalkan sebagaimana lahirnya. Karena kenyataan literalis inilah menurut Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Maad, gelar zahiri pantas disematkan untuk Ibnu Hazm.

Terlepas dari itu semua, Al-Muhalla adalah kitab fiqih muqaran agung yang tidak boleh kita lewatkan begitu saja. Syaikhul Islam Izzudin ibn ‘Abdissalam, salah satu ulama syafi’iyyah yang dikenal intens dalam menggali Maqashid (tidak berpatokan dengan lahiriah teks) saja sampai mengatakan, “Belum pernah saya melihat dalam kitab-kitab agama Islam, Kitab sebaik Al Muhalla karya Ibn Hazm dan Al Mughni karya Ibn Qudamah”

Imam Nawawi -meski dalam syarah Al-Muhadzab sering mengkritisi zahiriyah- dalam Syarah Sahih Muslim sempat menyatakan bahwa beramal dengan lahiriah teks maupun maksud dan substansi teks, keduanya memiliki pijakan argumentasi dari para ulama salaf. Hadits shalat ashar di Bani Quraidzhah adalah landasannya. Dalam hadits tersebut, ada sahabat yang mengamalkan maksud dari perintah Nabi, namun ada juga yang mengamalkan lahiriah perintah Nabi sehingga shalat ashar meski di malam hari. Saat dilapori hal itu, Nabi sama sekali tidak menyalahkan salah satupun. Dan ikhtilaf (perbedaan) para ulama setelah zaman mereka hingga hari ini juga seringkali terbelah dalam model yang sama. Para ulama memiliki kadar zahiri dan maqashidinya sendiri-sendiri. Ibnu Hazm yang dikenal zahiri, terkadang juga tidak zahiri. Demikian juga sebaliknya.

Yang terpenting sebenarnya adalah bahwa yang memberikan pemaknaan terhadap teks Al-Qur’an maupun Hadits (berijtihad), baik secara zahiri maupun maqashidi, haruslah mereka yang benar-benar memiliki otoritas di dalamnya. Karena pemaknaan zahiri yang tidak pada porsinya akan melahirkan zahiriyah baru yang dalam pandangan Al-Qaradhawi, zahirinya Ibnu Hazm justru jauh lebih baik dari itu. Hal ini barangkali karena Ibnu Hazm memiliki semua modal ijtihad. Beliau hafal seluruh riwayat dalam Al-Muhalla. Beliau adalah penulis karya Ushul Fiqih agung Al-Ihkam Fi Ushul al-Ahkam. Dan beliau adalah sastrawan yang menguasai seluk beluk bahasa Arab secara detail dan mendalam. Demikian juga pemaknaan maqashidi yang tidak pada porsinya, hanya akan melahirkan hukum-hukum yang bertentangan dengan kaidah-kaidah yang sudah mapan bahkan bertentangan dengan maqshid as-Syariah itu sendiri.

Wallahu A'lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 3.977 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.461 views
Belajar Fiqih itu Santai
Ahmad Zarkasih, Lc | 20 May 2015, 07:51 | 4.169 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.424 views
Bolehkan Berwasiat Untuk Ahli Waris?
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 1 May 2015, 15:55 | 4.247 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Fiqih dan Sastra
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 December 2016, 01:01 | 292 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 3.966 views
Fiqih dan Hadits 2
Sutomo Abu Nashr, Lc | 15 March 2015, 05:33 | 2.822 views
Fiqih dan Hadits 1
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 March 2015, 07:07 | 3.044 views
Piye Kabare, enak jamanku tho ?
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 December 2014, 07:46 | 4.390 views
Fiqih dan Syariah (2)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 2.751 views
Fiqih dan Syariah (1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 13 December 2014, 06:06 | 6.935 views
Menulis Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 September 2014, 06:18 | 3.321 views
Mata Yang Lapar
Sutomo Abu Nashr, Lc | 4 September 2014, 03:33 | 3.763 views
Peran Bani Qudamah dalam Khazanah Turats Fiqih Hanbali
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 September 2014, 03:33 | 3.188 views
Turats Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 7 March 2014, 07:03 | 3.754 views
La Adri, Fiqih sebelum Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 6 February 2014, 03:41 | 3.616 views
Fiqih dan Tafsir
Sutomo Abu Nashr, Lc | 2 February 2014, 04:12 | 3.410 views
Fiqih Emansipasi
Sutomo Abu Nashr, Lc | 26 April 2013, 11:21 | 4.172 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 3.693 views
Menyikapi Fatwa Para Ulama
Sutomo Abu Nashr, Lc | 8 April 2013, 06:46 | 3.967 views
Kitab Kuning Kita
Sutomo Abu Nashr, Lc | 23 February 2013, 17:49 | 4.455 views
Masa Kecil Imam Syafi'i di Suku Hudzail
Sutomo Abu Nashr, Lc | 16 February 2013, 00:00 | 6.863 views
Mukaddimah: Sejarah Methodologis Fiqih (Part 1)
Sutomo Abu Nashr, Lc | 9 February 2013, 10:51 | 3.600 views
Seri Kitab Kuning (Part 1): Matan Abi Syuja'
Sutomo Abu Nashr, Lc | 3 January 2013, 20:03 | 6.699 views