Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat | rumahfiqih.com

Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat

Hanif Luthfi, Lc., MA Thu 25 June 2015 11:00 | 4868 views

Bagikan via

Untuk menguatkan argumentasinya, Syeikh al-Albani (w. 1421 H) memang menyitir beberapa pandangan ulama madzhab, lalu menafsirinya sendiri.

Meskipun jika kita telusuri lebih jauh, ada kekurangtepatan pemahaman Syeikh al-Albani (w. 1421 H) dalam menilai pandangan ulama tadi. Diantaranya:

Pertama, Pendapat Imam Malik bin Anas

Syeikh al-Albani (w. 1421 H) menampilkan riwayat dari Imam Malik bin Anas dalam kitabnya al-Muwaththa’.

Di dalam kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas (w. 179 H) disebutkan:

أمر عمر بن الخطاب رضي الله عنه أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشر ركعة قال: وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في بزوغ الفجر "

Umar bin Khattab memintahkan Ubay bin Kaab dan Tamim ad-Dari untuk menjadi imam shalat malam bulan Ramadhan 11 rakaat. Sang Imam membaca tiap rakaat sekitar 100-an ayat, sampai kita bersandar pada tongkat, karena berdiri lama. Sehingga kita pulang hampir terbit fajar. (Malik bin Anas w. 179 H, Muwaththa’, h. 115)

Dari riwayat ini, Syeikh al-Albani ingin menunjukkan bahwa dalam riwayat Imam Malik bin Anas yang shahih, Umar bin Khattab dahulu menyuruh shalat 11 rakaat.

Catatan:

Dalam riwayat Imam Malik diatas, tak ditemukan adanya batasan bahwa shalat malam Ramadhan harus 11 rakaat.

Imam Malik bin Anas (w. 179 H) sebagai penulis kitab al-Muwaththa’ malah tidak memakai hadits ini. Dalam artian beliau tak menganggap bid’ah, orang yang shalat lebih dari 11 rakaat. Sebagaimana dijelaskan pada paparan madzhab Malikiyyah.

Kedua, Mengambil nama Imam Syafi’i dan Imam at-Tirmidzi untuk melemahkan hadits 20 rakaat

Syeikh al-Albani (w. 1421 H) menuliskan bahwa:

تضعيف الإمام الشافعي والترمذي لعدد العشرين عن عمر.. فقولهما: "روي" تضعيف منهما للمروي كما هو معروف عند المحدثين

Imam Syafi’i (w. 204 H) dan Imam Abu Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) mendhaifkan riwayat 20 rakaat. Hal itu bisa diketahui dari penggunaan lafad ‘ruwiya’ diriwayatkan, sebagaimana hal yang sudah diketahui dari para muhaddits. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shalat Tarawih, h. 54)

Artinya menurut penilaian Syeikh al-Albani (w. 1421 H) dengan pilihan diksi Imam Syafi’i dan Imam at-Tirmidzi terhadap riwayat 20 rakaat, hal itu mengindikasikan bahwa kedua ulama itu mendhaifkan hadits itu.

Apakah benar mendhaifkan? Lantas kenapa jika mendhaifkan? Apakah kedua ulama itu tak membolehkan lebih dari 11 rakaat?

Catatan:

Pertama, Imam Syafi’i (w. 204 H) meski meriwayatkan hadits 20 rakaat dengan kata “ruwiya”, hanya saja beliau malah lebih memilih pendapat itu.

Imam as-Syafi’I sendiri (w. 204 H) menyebutkan:

فأما قيام شهر رمضان فصلاة المنفرد أحب إلي منه ورأيتهم بالمدينة يقومون بتسع وثلاثين، وأحب إلي عشرون؛ لأنه روي عن عمر وكذلك يقومون بمكة ويوترون بثلاث

Adapun shalat malam bulan Ramadhan, maka saya lebih suka shalat sendiri. Saya melihat di Madinah mereka shalat 36 rakaat. Sedangkan saya suka 20 rakaat. (Muhammad bin Idris as-Syafi’i w. 204 H, al-Umm, h. 1/ 167)

Kedua, Imam Abu Isa at-Tirimidzi (w. 279 H) tak melarang shalat malam lebih dari 11 rakaat. Beliau dalam kitabnya Sunan at-Tirmidzi, bab Qiyam Shahri Ramadhan, h. 3/ 160 menyebutkan perbedaan pendapat diantara ulama terkait jumlah bilangan shalat tarawih. Diantaranya ada yang berpendapat 41 rakaat beserta witir, ada yang 20 rakaat, dan beliau tak menyebutkan bilangan selain itu. Artinya malahan beliau tak menyebutkan 11 rakaat.

Beliau menyebutkan:

وأكثر أهل العلم على ما روي عن عمر، وعلي، وغيرهما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم عشرين ركعة، وهو قول الثوري، وابن المبارك، والشافعي

Kebanyakan ahli ilmu menjalani apa yang telah diriwayatkan dari Umar, Ali dan sahabat lainnya, yaitu 20 rakaat. Ini adalah pendapat dari Sufyan as-Tsauri (w. 161 H) dan Ibnu al-Mubarak (w. 181 H) dan Imam as-Syafi’i (w. 204 H). (Abu Isa at-Tirmidzi w. 279 H, Sunan at-Tirmidzi, h. 3/ 160)

Bahkan Imam Abu Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) membolehkan orang untuk shalat sunnah, meskipun sudah shalat witir.

وقال بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهم: إذا أوتر من أول الليل، ثم نام، ثم قام من آخر الليل، فإنه يصلي ما بدا له ولا ينقض وتره، ويدع وتره على ما كان، وهو قول سفيان الثوري، ومالك بن أنس، وابن المبارك، وأحمد، وهذا أصح، لأنه قد روي من غير وجه أن النبي صلى الله عليه وسلم قد صلى بعد الوتر

Sebagian ahli ilmu dari shahabat Nabi dan lain sebagainya menyebutkan bahwa jika seseorang itu telah witir pada awal malam, lantas tidur dan bangun di akhir malam, maka silakan shalat semaunya tanpa witir lagi. Ini adalah pendapat yang lebih shahih. (Abu Isa at-Tirmidzi w. 279 H, Sunan at-Tirmidzi, h. 2/ 333).

Maka menggunakan pendhaifan hadits 20 rakaat, gara-gara menggunakan kata “ruwiya” sebagai pembenar bahwa shalat tarawih lebih dari 11 rakaat hukumnya bid’ah adalah kurang tepat. Malahan Imam as-Syafi’i dan Imam Abu Isa at-Tirmidzi menyatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dipahami oleh al-Albani.

Ketiga, Memaknai Lain Pernyataan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H)

Syeikh Al-Albani menuliskan bahwa dari ‘isyarat’ Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), dapat diambil kesimpulan bahwa tidak boleh shalat tarawih lebih dari 11 rakaat. Seolah inilah pendapat dari Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H). al-Albani (w. 1421 H) menyatakan:

كما قال الحافظ فى الفتح ففى صنيع الحافظ هذا اشارة الى انه لا تجوز الزيادة على ما حدده صلى الله عليه وسلم بفعله من الركعات وصلاة التراويح من هذا القبيل فثبت المراد

Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari, maka dari situ bisa diambil ‘isyarat’ bahwa tidak boleh shalat malam Ramadhan melebihi apa yang telah dijalankan oleh Nabi Muhammad. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shalat at-Tarawih, h. 22)

Catatan:

Memang menurut Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) tak ada riwayat yang menjelaskan dengan terperinci berapa rakaat Ubay bin Kaab dahulu saat menjadi imam Tarawih.

Hanya jika menarik kesimpulan dari perkataan Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) bahwa tidak boleh shalat tarawih lebih dari 11 rakaat itu terlalu dipaksakan. Buktinya, Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) sendiri menyatakan:

والجمع بين هذه الروايات ممكن باختلاف الأحوال ويحتمل أن ذلك الاختلاف بحسب تطويل القراءة وتخفيفها فحيث يطيل القراءة تقل الركعات وبالعكس

Mengkompromikan diantara riwayat-riwayat tentang shalat malam Ramadhan itu dimungkinkan. Hal itu tergantung situasi dan kondisi. Kadang bacaannya panjang, tetapi rakaatnya sedikit. Kadang pula sebaliknya, yaitu rakaatnya banyak dan bacaannya sedikit. (Ibnu Hajar al-Asqalani w. 852 H, Fath al-Bari, h. 4/ 253).

Dari sini Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) tak melarang shalat malam Ramadhan lebih dari 11 rakaat.

Keempat, Perkataan Imam al-Haitami as-Syafi’I (w. 974 H)

Syeikh al-Albani (w. 1421 H) menarik kesimpulan bahwa sebagaimana dinukil oleh Imam as-Subki as-Syafi’i dari al-Haitami, bahwa Imam al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H) tidak mengamalkan 20 rakaat.

قلت: وفيما نقله عن السبكي إشارة لطيفة من الهيتمي إلى أنه لا يرى العمل بالعشرين فتأمل

Saya al-Albani berkata: dari apa yang dinukil oleh as-Subki diambil ‘isyarat yang lembut’ bahwa al-Haitami tidak mengamalkan 20 rakaat. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shalat Tarawih, h. 29)

Catatan:

Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H) menyebutkan sendiri dalam kitabnya Tuhfat al-Muhtaj:

فأصل مشروعيتها مجمع عليه وهي عندنا لغير أهل المدينة عشرون ركعة كما أطبقوا عليها في زمن عمر - رضي الله عنه -

Shalat malam bulan Ramadhan dalam madzhab kami adalah 20 rakaat selain orang Madinah, sebagaimana yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab. (Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i w. 974 H, Tuhfat al-Muhtaj, h. 2/ 240)

Kira-kira lebih pas mana, pemahaman terhadap isyarat Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) atau apa yang ditulis oleh Ibnu Hajar sendiri?

Kelima, Perkataan Imam as-Suyuthi as-Syafi’i (w. 911 H)

Syeikh al-Albani (w. 1421 H) menuliskan bahwa isyarat yang kuat dari Imam as-Suyuthi (w. 911 H) memilih 11 rakaat dan menolak 20 rakaat. Sebagaimana:

ثم قال السيوطي بعد أن ذكر حديث جابر من رواية ابن حبان: فالحاصل أن العشرين ركعة لم تثبت من فعله صلى الله عليه وسلم.. قلت: وفي كلامه إشارة قوية إلى اختياره الإحدى عشرة ركعة ورفضه العشرين الواردة في حديث ابن عباس لضعفها الشديد فتدبر

Imam as-Suyuthi berkata setelah menyebutkan hadits riwayat Ibnu Hibban, bahwa 20 rakaat itu tak ditemukan dengan sanad yang shahih dari perbuatan Nabi. Saya (al-Albani) berkata: Dari sini bisa dipahami dengan isyarat yang kuat, bahwa Imam as-Suyuthi lebih memilih 11 rakaat dan menolak 20 rakaat. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shalat Tarawih, h. 29)

Catatan:

Syeikh al-Albani (w. 1421 H) mengambil kesimpulan sendiri dari pernyataan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H), bahwa katanya beliau memilih 11 rakaat dan menolak 20 rakaat.

Hanya saja kita tak menemukan pernyataan Imam as-Suyuthi (w. 911 H) terkait itu, dan juga tak ada pernyataan lebih dari 11 rakaat adalah dilarang.

Bahkan Imam as-Suyuthi (w. 911 H) telah menuliskan sebuah risalah khusus terkait shalat tarawih yang berjudul al-Mashabih fi Shalat at-Tarawih yang ditulis dalam kitab al-Hawi lil Fatawi. Meski beliau menyatakan kelemahan riwayat bahwa Nabi shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, tetapi beliau tak membatasi shalat tarawih hanya 11 rakaat saja.

Beliau menyatakan bahwa:

فأقول: الذي وردت به الأحاديث الصحيحة والحسان والضعيفة الأمر بقيام رمضان، والترغيب فيه من غير تخصيص بعدد

Dari hadits shahih, hasan dan dhaif didapati bahwa dianjurkan memperbanyak shalat di malam bulan Ramadhan, tanpa ada batasan harus berapa rakaat (Jalaluddin as-Suyuthi w. 911 H, al-Hawi li al-Fatawi, h. 1/ 413).

Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) juga membantah orang yang membatasi bilangan shalat tarawih.

ولو ثبت عددها بالنص لم تجز الزيادة عليه، ولأهل المدينة والصدر الأول كانوا أورع من ذلك، ومن طالع كتب المذهب، خصوصا شرح المهذب، ورأى تصرفه وتعليله في مسائلها، كقراءتها ووقتها وسن الجماعة فيها بفعل الصحابة وإجماعهم، علم علم اليقين أنه لو كان فيها خبر مرفوع لاحتج به. هذا جوابي في ذلك

Kalau saja ada nash yang tsabit terkait jumlah bilangan shalat malam Ramadhan, maka seharusnya tak boleh menambahinya. Ahli Madinah dan ulama-ulama abad permulaan, mereka lebih wira’i tentang hal itu. Jika kita teliti kitab-kitab madzhab, terkhusus Syarah al-Muhadzdzab, kita akan temui seperti bacaannya, waktunya, sunnah berjamaahnya sebagaimana ijma’nya shahabat, maka kita akan ketahui bahwa jika saja ada riwayat yang marfu, maka pasti mereka yang lebih dahulu berhujjah dengan hal itu. (Jalaluddin as-Suyuthi w. 911 H, al-Hawi li al-Fatawi, h. 1/ 415)

Artinya, justru Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) ingin menunjukkan bahwa tak ada riwayat marfu’ yang shahih terkait jumlah rakaat shalat tarawih. Jikapun ada, maka sudah dari dahulu ulama tak akan menambah-nambahi rakaatnya.

Bahkan beliau meminta untuk membaca Syarah dari al-Muhadzdzab. Syarah terpopuler dari al-Muhadzdzab karya as-Syairazi (w. 476 H) ini adalah kitab al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi (w. 676 H).

Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam kitab al-Majmu’  malah menyebutkan:

فصلاة التراويح سنة بإجماع العلماء ومذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات

Shalat tarawih itu hukumnya sunnah sebagaimana kesepakatan para ulama. Dalam madzhab kami, shalat tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali salam. (Yahya bin Syaraf an-Nawawi w. 676 H, al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab, h. 4/ 31)

Maka, apakah tepat pemaknaan dari Syeikh al-Albani terhadap perkataan Imam Jalaluddin as-Suyuthi? Sepertinya tidak.

Penutup

Ada beberapa point sebagai penutup tulisan ini. Diantaranya:

Pertama, sebenarnya terserah saja, mau shalat malam bulan Ramadhan 20 rakaat, 36 rakaat atau hanya 11 rakaat saja. Mau tidak shalat sunnah juga silahkan. Para ulama dahulu cukup longgar membahas masalah ini.

Kedua, sejak dahulu memang para ulama berbeda pendapat. Tapi dalam perbedaan pendapat semacam ini, hampir tidak ditemukan dari perkataan mereka, bahwa pendapatnyalah yang paling sesuai dengan nash, selain itu tak sesuai dengan nash.

Ketiga, jika ditanya ‘Ikut ulama atau ikut nash shahih?’ Maka, sebelum menjawabnya kita patut pastikan lagi. Ulama yang seperti apa dan nash yang bagaimana?

Bisa jadi, sebenarnya bukan masalah nashnya. Tetapi pemahaman akan nash itu sendiri. Pemahaman terhadap nash yang shahih tentu tak selalu benar. Tinggal siapa yang memahami, dan bagaimana memahaminya.

Keempat, jikapun shalat malam bulan Ramadhan lebih dari 11 rakaat itu dianggap tak ada tuntunannya dan dianggap bid’ah oleh Syeikh al-Albani (w. 1421 H), masih banyak ulama muktabarah lain yang pendapatnya bisa dibandingkan.

Kelima, setiap perkataan seseorang bisa diambil atau ditinggalkan, kecuali perkataan Nabi Muhammad. Termasuk juga, pemahaman seseorang terhadap perkataan Nabi itu bisa diambil atau ditinggalkan. Waallahua’lam bisshawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 5.051 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 5.154 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 5.370 views
Ijtihad Unik dalam Fiqih Puasa Madzhab Zahiri
Sutomo Abu Nashr, Lc | 21 June 2015, 13:59 | 4.408 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.489 views

more...

Semua Tulisan Penulis :