Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama? | rumahfiqih.com

Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama?

Ali Shodiqin, Lc Mon 27 July 2015 12:00 | 5802 views

Bagikan lewat

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan para ulama sangat dibutuhkan oleh umat ini. Setelah Rasulullah SAW wafat maka tongkat estafet untuk menjawab semua permasalan umat seputar urusan agama beralih kepada para ulama. Bagaimana tidak? Para ulama adalah ahli waris Nabi Muhammad SAW dan juga ahli waris para nabi yang lain. Hal tersebut sebagaimana yang disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam haditsnya:

إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ

“Sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu”. (HR.al-Bukhari)

Ya, yang diwariskan oleh para nabi bukanlah materi berupa dinar dan dirham, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Karena dalam beragama memang harus didasari dan dilandasi dengan ilmu. Maka tidak heran jika wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca yang merupakan perantara untuk memperoleh ilmu. Bahkan dalam kitab Shahihnya Imam al-Bukhari membuat tema:

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu itu sebelum ucapan dan perbuatan”

Artinya dalam beribadah harus ada landasan ilmu yaitu firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW. Ketika seseorang beribadah tanpa landasan ilmu pasti orang tersebut akan sesat dan tidak diterima amalan ibadahnya. Jadi yang membedakan orang awam dan para ulama adalah ilmu yang ilmu itu sendiri merupakan warisan para nabi.

Ulama Harus Menguasai Semua Ilmu?

Ketika para ulama dikatakan sebagai ahli waris para nabi, lantas siapakah yang berhak menyandang gelar sebagai seorang ulama? Apakah dia harus menguasai semua ilmu agama dulu baru bisa disebut ulama?

Siapakah yang tidak kenal Imam Malik? Seorang ulama yang sangat terkenal di zamannya. Bahkan ketenarannya masih kita jumpai di zaman kita dengan bukti madzhab fiqihnya yang masih dipakai oleh sebagian kaum muslimin.

Siapakah yang tidak kenal Imam Malik? Ulama besar yang menjadi guru dari ulama besar. Ya, Imam Malik adalah guru dari Imam Syafi’i. Tidak ada yang meragukan ‘keulamaan’ Imam Malik. Bahkan ada ungkapan terkenal “Tidak ada yang berhak berfatwa sedangkan Imam Malik ada di Madinah”.

Namun dalam kitab Raudhah an-Nazhir Wa Junnah al-Munazhir Ibnu Qudamah al-Maqdisi menukil sebuah riwayat tentang Imam Malik. Imam Malik pernah ditanya tentang empat puluh permasalahan. Namun tiga puluh enam di antaranya beliau jawab dengan jawaban: “Saya tidak tahu”. Riwayat serupa dapat kita temukan dalam kitab al-Intiqa’ karya Ibnu Abdil Barr.

Seorang ulama besar ditanya tentang empat puluh pertanyaan tetapi tiga puluh enam pertanyaan dijawab dengan jawaban: “Saya tidak tahu”. Itu artinya hanya empat pertanyaan yang berhasil beliau jawab.

Apakah hal itu menghilangkan ‘keulamaan’ Imam Malik? Tidak, justru ‘keulamaan’ Imam Malik yang membuat beliau melakukan itu. Bahkan ketika beliau ditanya: Itu adalah pertanyaan ringan dan mudah. Beliau menjawab: Tidak ada sesuatu yang ringan dalam urusan ilmu, tidakkah kamu mendengar firman Allah SWT?

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat”. (QS.al-Muzammil: 5)

Ilmu Adalah Yang Menjadikan Takut

Apa yang dilakukan oleh Imam Malik menunjukkan keluasan ilmu beliau. Karena beliau tahu bahwa setiap apa yang dikatakan dan dikerjakan pasti akan dimintai pertanggungan jawab darinya. Bagaimana beliau harus bertanggung jawab atas jawaban yang tidak beliau ketahui ilmunya? Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS.al-Isra’: 36)

Sesungguhnya yang pantas bergelar ulama adalah yang ilmunya menjadikannya takut dan memiliki “khasyyah” kepada Allah SWT. Bukan yang kebodohannya menjadikannya berkata apapun tanpa rasa takut kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama”. (QS.Fathir: 28)

Ternyata hal itu tidak hanya dilakukan oleh Imam Malik. Bahkan manusia terbaik setelah Rasulullah SAW juga melakukan hal yang sama. Abu Bakar ash-Shiddiq pernah mengatakan:

أَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي، وَأَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي، إِنْ قُلْتُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ بِرَأْيِي، أَوْ بِمَا لَا أَعْلَمُ

“Bumi mana yang akan aku pijak, langit mana yanag akan menaungiku, jika aku berkata tentang suatu ayat dari kitabullah dengan pendapatku, atau dengan apa yang tidak aku punyai ilmunya?”

Fenomena Ustadz dan Ulama Gadungan

Di zaman sekarang kebanyakan orang hanya menilai penampilan luar. Ketika ada seseorang berpenampilan seperti ustadz, atau mempunyai kemampuan dan kelihaian berbicara di depan umum lantas orang-orang menyebutnya sebagai seorang ustadz atau ulama. Embel-embel sebagai ustadz semakin populer jika dia sudah mengisi acara di televisi. Namun ketika gelar ustadz tidak dibarengi dengan kemampuan ilmu syar’i yang mumpuni, justru bukan memberi pencerahan tetapi malah menyesatkan.

Kepopuleran yang tidak dibarengi dengan ilmu terkadang menjadikan dia gengsi ketika ditanya tetapi tidak bisa menjawab. Walhasil dia akan berusaha menjawab walaupun hanya dengan jawaban ‘ngasal’. Kebodohannya menjadikan dia takut kehilangan gelar jika tidak bisa menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepadanya. Sungguh, kebalikan seratus delapan puluh derajat dengan apa yang dilakukan oleh para ulama sungguhan.

Fenomena munculnya para ulama bodoh memang sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari hamba-hambaNya. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan seorang alim pun, orang-orang akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, maka ketika mereka ditanya mereka akan berfatwa dengan tanpa landasan ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (Muttafaq ‘Alaih)

Beginilah fenomena para ustadz dan ulama bodoh di akhir zaman. Ketakutan mereka kehilangan gelar yang diberikan manusia jauh melebihi ketakutannya kepada Allah SWT, sehingga mereka berani berfatwa tanpa dilandasi oleh ilmu. Kelak, di akhirat mereka akan menanggung dosa atas fatwa-fatwa mereka:

مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ

“Siapa yang diberi fatwa tanpa landasan ilmu, maka dosanya atas orang yang memberi fatwa”. (HR.Abu Dawud)

Belajar Berkata “Saya Tidak Tahu”

Mengatakan “saya tidak tahu” ketika ditanya tentang permasalahan agama yang tidak tahu ilmunya bukanlah sebuah aib. Justru itulah yang dilakukan oleh para ulama. Bahkan hal tersebut menunjukkan kedalaman ilmu para ulama. Ada istilah yang terkenal bahwa jawaban “saya tidak tahu” adalah setengah dari ilmu.

Ketika Sa’id ibn Jubair ditanya tentang sesuatu, maka beliau mengakatan: Saya tidak tahu. Kemudian beliau berkata:

وَيْلٌ لِلَّذِيْ يَقُوْلُ لِمَا لَا يَعْلَمُ: إِنِّيْ عَالِمٌ

“Celakalah seorang yang mengatakan terhadap apa yang tidak dia ketahui: Sesungguhnya aku tahu”.

Itulah Perbedaan antara para ulama sungguhan dengan ulama gadungan. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari para ulama gadungan. Aamiin.

Wallahu A’lam Bish Showab


Baca Lainnya :

Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 5.322 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 5.403 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 June 2015, 11:00 | 6.049 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 6.469 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 6.271 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Imam an-Nawawi mengharamkan Ilmu Kedokteran?
Ali Shodiqin, Lc | 10 November 2015, 06:00 | 5.596 views
Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan
Ali Shodiqin, Lc | 7 September 2015, 03:00 | 6.083 views
Ijtihad di Zaman Nabi SAW
Ali Shodiqin, Lc | 26 August 2015, 10:30 | 18.583 views
Imam Abu Hanifah Tidak Mungkin Salah !
Ali Shodiqin, Lc | 18 August 2015, 12:40 | 6.314 views
Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru
Ali Shodiqin, Lc | 6 August 2015, 06:00 | 6.060 views
Beda Murid Salaf dengan Murid Sok Salaf
Ali Shodiqin, Lc | 2 August 2015, 16:30 | 9.135 views
Anak Kecil Tidak Mau Shalat, Siapa Yang Berdosa?
Ali Shodiqin, Lc | 30 July 2015, 02:00 | 9.036 views
Yang Tidak Paham Fiqih Dilarang Masuk Pasar
Ali Shodiqin, Lc | 28 July 2015, 04:00 | 5.598 views
Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama?
Ali Shodiqin, Lc | 27 July 2015, 12:00 | 5.802 views
Hafal Kitab Suci, Beliau Dianggap Anak Tuhan
Ali Shodiqin, Lc | 26 May 2014, 05:29 | 6.810 views
Nikah Sunnah Nabi, Kok Banyak Ulama Membujang?
Ali Shodiqin, Lc | 16 May 2014, 05:00 | 19.028 views
Islam Bukan Agama Bonsai
Ali Shodiqin, Lc | 9 April 2014, 06:23 | 6.089 views
Rasul Juga Pernah Salah Berijtihad
Ali Shodiqin, Lc | 6 April 2014, 10:33 | 14.464 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA59 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA48 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA23 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc15 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Maharati Marfuah Lc4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:41 | Ashar 15:05 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img