Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru | rumahfiqih.com

Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru

Ali Shodiqin, Lc Thu 6 August 2015 06:00 | 5472 views

Bagikan via

Keikhlasan seorang guru adalah salah satu kunci keberhasilan pendidikan murid-muridnya. Ilmu yang disampaikan dari keikhlasan hati seorang guru, maka ilmu itu akan menghujam kuat di relung hati para muridnya. Namun jika ilmu yang disampaikan hanya sebatas kata-kata tanpa keikhlasan hati, mustahil ilmu itu akan merasuk ke dalam diri para muridnya.

Ilmu, Sumber Pahala Tiada Henti

Begitu besar pahala yang akan diperoleh oleh seorang guru, namun sayang kebanyakan guru kurang memiliki perhatian dengan hal itu. Lagi-lagi faktor besaran gaji selalu menjadi penghalang seorang guru untuk mendapatkan pahala besar tiada henti dari Allah SWT.

Tidakkah mereka mendengar hadits Rasulullah SAW? Tidakkah mereka merenungkan janji Allah SWT bagi yang mengajarkan ilmu dan ilmunya bermanfaat? Sungguh Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia telah meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akannya”. (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Ya, seorang guru yang dengan ikhlas mengajarkan ilmunya. Lantas ilmu yang dia ajarkan bermanfaat buat orang lain. Maka sungguh dia akan mendapatkan pahala tiada henti walaupun dirinya sudah tidak lagi hidup di dunia ini. Layakkah pahala yang tiada henti itu ditukar dengan besaran gaji?

Belajar Keikhlasan dari Imam Abu Hanifah

Di saat sebagian guru di zaman sekarang sibuk memikirkan besaran gaji, tidak demikian dengan apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah sang pendiri madzhab Hanafi. Ketika sebagian guru sekarang menuntut imbalan gaji atas apa yang dia ajarkan kepada muridnya, maka hal itu tidak pernah terpikirkan sedikitpun di benak Imam Abu Hanifah. Justru beliau yang “menggaji” dan membiayai hidup para muridnya.

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Abu Yusuf, salah seorang murid terdekat dari Imam Abu Hanifah. Dalam kitab Manaqib al-Kardari Imam al-Kardari meriwayatkan sebuah riwayat yang sanadnya sampai kepada Imam Abu Yusuf.

Imam Abu Yusuf berkata: Dahulu aku termasuk orang yang tidak punya harta, kemudian datanglah ayahku ketika aku sedang berada di sisi Imam Abu Hanifah. Kemudian ayahku berkata: “Wahai anakku, janganlah kamu duduk-duduk bersamanya. Sungguh rotinya telah terpanggang (sudah terhidang) sedangkan kamu termasuk orang yang membutuhkan. Kamu hanya duduk-duduk dan tidak melakukan pekerjaan.”

Imam Abu Yusuf berkata: Maka aku memilih patuh kepada ayahku. Kemudian Imam Abu Hanifah bertanya tentangku dan mencari-cariku. Ketika melihatku beliau berkata kepadaku: Apa yang menyebabkan kamu tidak menghadiri majlis ilmu kita? Maka aku katakan kepada beliau: Aku bekerja untuk mencari penghidupan.

Ketika orang-orang sudah pulang, dan aku juga hendak pergi, beliau memberikan sekantung uang kepadaku yang berisi seratus dirham. Beliau berkata kepadaku: Gunakan ini untuk keperluanmu, jika sudah habis bilang kepadaku, dan tetaplah mengikuti halaqoh ilmu.

Beberapa waktu selanjutnya beliau memberiku seratus dirham lagi. Setiap kali habis, beliau selalu memberikan uang kepadaku tanpa harus aku yang memberitahukan kepadanya, seakan-akan beliau tahu kalau uangku sudah habis. Hal tersebut beliau lakukan sampai kebutuhanku terhadap ilmu terpenuhi. Semoga Allah SWT membalas kebaikannya dan mengampuni dosa-dosanya”.

Sungguh keikhlasan Imam Abu Hanifah dalam mengajarkan ilmunya tidak diragukan lagi. Beliau tidak mengambil upah dari murid-muridnya. Justru beliau yang membiayai hidup para muridnya dan menanggung semua kebutuhan hidup mereka agar mereka bisa berkonsentrasi dalam menuntut ilmu. Tidak hanya kepada Imam Abu Yusuf murid terdekat beliau, akan tetapi kepada semua murid beliau yang membutuhkan.

Madzhab Hanafi

Imam Abu Hanifah adalah pendiri madzhab Hanafi, salah satu madzhab fiqih yang masih diikuti oleh sebagian kaum muslimin di zaman ini. Madzhab Hanafi adalah satu dari empat madzhab fiqih yang masih tersisa hingga zaman sekarang ini. Kenapa dikatakan tersisa? Karena madzhab fiqih sebenarnya tidak hanya empat, bahkan jauh lebih banyak, karena setiap ulama yang sudah sampai derajat sebagai seorang mujtahid, biasanya dia akan mendirikan madzhab fiqih sendiri.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu menyebutkan bahwa antara awal abad kedua sampai pertengahan abad keempat hijriah yang dikenal sebagai masa keemasan ijtihad setidaknya ada tiga belas mujtahid yang madzhab-madzhab fiqihnya dibukukan dan pendapat-pendapatnya diikuti oleh kaum muslimin.

Ketiga belas mujtahid tersebut adalah: Imam Sufyan ibn ‘Uyainah di kota Makkah. Imam Malik ibn Anas di kota Madinah. Imam al-Hasan al-Bashri di kota Bashrah. Imam Abu Hanifah dan Imam Sufyan at-Tsauri di kota Kufah. Imam al-‘Auza’i di Syam. Imam Syafi’i dan Imam al-laits ibn Sa’d di Mesir. Imam Ishaq ibn Rahawaih di mota Naisabur. Imam Abu Tsaur, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Daud azh-Zhahiri dan Imam Ibn u Jarir ath-Thabari di kota Baghdad.

Namun dari ketiga belas madzhab besar itu yang tersisa hanya empat madzhab fiqih yang kita kenal sekarang yaitu madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i dan madzhab Hanbali.

Salah satu sebab hilangnya madzhab tersebut dan mulai berkurangnya kaum muslimin yang mengikutinya adalah faktor murid-murid dari imam madzhab tersebut yang kurang dalam menyebarkan madzhab imam-imam mereka.

Siapa yang tidak kenal Imam Malik. Imam darul hijrah. Ulama besar kota Madinah. Bahkan ada ungkapan “tidak ada yang berhak berfatwa, sedangkan ada Imam Malik di kota Madinah”. Bahkan madzhab maliki termasuk salah satu madzhab yang masih dipakai oleh sebagian kaum muslimin sampai zaman sekarang ini.

Ada sebuah statement yang mungkin sangat mengejutkan dari Imam Syafi’i terkait guru beliau Imam Malik. Dalam sebuah riwayat Imam Syafi’i mengatakan:

اللّيْثُ أَفْقَهُ مِنْ مَالِكٍ إِلَّا أَنَّ أَصْحَابَهُ لَمْ يَقُوْمُوْا بِهِ

“al-Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak melaksanakan (penyebaran) fiqihnya”

Tidak diragukan lagi nama besar dari Imam Syafi’i. Tidak perlu ditanyakan lagi kedekatan dan hubungan antara Imam Syafi’i dan gurunya Imam Malik. Namun ternyata Imam Syafi’i berpendapat kalau Imam al-Laits ibn Sa’d lebih faqih daripada Imam Malik. Walaupun kehebatan dan kedalaman ilmu dari Imam al-Laits ibn Sa’d tidak diragukan lagi, namun adakah madzhab fiqih beliau masih bertahan sampai zaman sekarang ini?

Jawabannya adalah tidak. Dan salah satu faktor hilangnya madzhab Imam al-Laits adalah kurangnya militansi dari murid-muridnya untuk menyebarkan madzhabnya.

Imam Abu Yusuf, Murid Yang Loyal?

Berbicara masalah ilmu dari Imam Abu Yusuf maka kita akan mendapati beliau adalah ulama yang sudah mencapai derajat sebagai seeorang mujtahid muthlaq. Artinya beliau memiliki kapasitas untuk mendirikan madzhabnya sendiri. Namun penulis kurang tahu pasti apa alasan beliau tidak mendirikan madzhabnya sendiri, akan tetapi malah menyebarkan madzhab gurunya. Apakah karena faktor sang guru? Guru yang sangat berjasa dalam kehidupan beliau, Imam Abu Hanifah.

Ketika Imam Abu Yusuf menjadi qadhi Daulah Abbasiyah maka madzhab Hanafi semakin diikuti oleh banyak kaum muslimin. Tidak hanya menjadi madzhab resmi Daulah Abbasiyah, di masa berikutnya madzhab Hanafi juga menjadi madzhab resmi Kekhilafahan Utsmaniyyah.

Itulah keikhlasan dari Imam Abu Hanifah dalam mengajarkan ilmunya. Keikhlasan yang patut diteladani oleh para guru di zaman seekarang ini. Keikhlasan yang menjadikan nama Imam Abu Hanifah selalu diingat oleh umat Islam di setiap masa.

Wallahu A’lam Bish shawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 3.303 views
Beda Murid Salaf dengan Murid Sok Salaf
Ali Shodiqin, Lc | 2 August 2015, 16:30 | 8.062 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 4.417 views
Anak Kecil Tidak Mau Shalat, Siapa Yang Berdosa?
Ali Shodiqin, Lc | 30 July 2015, 02:00 | 4.917 views
Yang Tidak Paham Fiqih Dilarang Masuk Pasar
Ali Shodiqin, Lc | 28 July 2015, 04:00 | 4.272 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Imam an-Nawawi mengharamkan Ilmu Kedokteran?
Ali Shodiqin, Lc | 10 November 2015, 06:00 | 5.007 views
Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan
Ali Shodiqin, Lc | 7 September 2015, 03:00 | 5.512 views
Ijtihad di Zaman Nabi SAW
Ali Shodiqin, Lc | 26 August 2015, 10:30 | 12.337 views
Imam Abu Hanifah Tidak Mungkin Salah !
Ali Shodiqin, Lc | 18 August 2015, 12:40 | 5.783 views
Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru
Ali Shodiqin, Lc | 6 August 2015, 06:00 | 5.472 views
Beda Murid Salaf dengan Murid Sok Salaf
Ali Shodiqin, Lc | 2 August 2015, 16:30 | 8.754 views
Anak Kecil Tidak Mau Shalat, Siapa Yang Berdosa?
Ali Shodiqin, Lc | 30 July 2015, 02:00 | 7.362 views
Yang Tidak Paham Fiqih Dilarang Masuk Pasar
Ali Shodiqin, Lc | 28 July 2015, 04:00 | 5.072 views
Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama?
Ali Shodiqin, Lc | 27 July 2015, 12:00 | 4.995 views
Hafal Kitab Suci, Beliau Dianggap Anak Tuhan
Ali Shodiqin, Lc | 26 May 2014, 05:29 | 6.386 views
Nikah Sunnah Nabi, Kok Banyak Ulama Membujang?
Ali Shodiqin, Lc | 16 May 2014, 05:00 | 16.521 views
Islam Bukan Agama Bonsai
Ali Shodiqin, Lc | 9 April 2014, 06:23 | 5.682 views
Rasul Juga Pernah Salah Berijtihad
Ali Shodiqin, Lc | 6 April 2014, 10:33 | 12.184 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA47 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA18 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Maharati Marfuah Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img