Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal? | rumahfiqih.com

Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Sat 1 August 2015 12:20 | 3064 views

Bagikan via

Ramadhan sudah berlalu, namun kita berharap bahwa hasil didikan Ramadhan tidak berlalu begitu saja. Jangan juga ada kesan bahwa keluarnya kita dari Ramadhan seakan lepasnya kuda dari kandangnya yang lari kesana-kemari seakan lepas dari semua beban derita selama ini.

Bulan Syawal telah datang yang ditandai dengan hari raya Idul Fitri kemarin, alhamdulillah kita semua kompak berlebaran ditahun ini, berharap bahwa kebersamaan ini akan terus ada ditahun-tahun yang akan datang. Di bulan Syawal ada sunnah baik yang hampir setiap kita mengetahuinya walaupun tidak semua kita mau dan mampu melaksanakannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah haditsnya bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun” (HR. Muslim)

Ini ibarat langkah awal bagi kita untuk menjaga tradisi baik setelah Ramadhan, tentunya selain berharap bisa mendapatkan nilai pahala yang dijanjikan. Enam hari yang dimaksud tidak harus berurutan, boleh terpisah asalkan enam hari ini semuanya dikerjakan dalam bulan syawal.

Terkait pahala setahun, jika kita ibaratkan bahwa satu kebaikan yang dikerjakan akan bernilai sepuluh kebaikan, maka puasa ramadhan yang kita kerjakan setidaknya minimal akan mendapatkan nilai sepuluh bulan berpuasa, sedangkan enam hari puasa syawal yang dikerjakan akan dibalas dengan kebaikan yang setara dengan enam puluh hari/bulan, maka jadilah dia pahala satu tahun, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa nilai ibadah pada puasa ramadhan kita bisa melebihi kebaikan seribu bulan.

Dalam memaknai hadits diatas muncul pertanyaan apakah puasa sunnah Syawal itu boleh dilakukan sebelum melunasi hutang puasa/qadha atau tidak boleh? sejauh ini ada semacam kekhawatiran bagi sebagian masyarakat bahwa puasa yang mereka lakukan itu menjadi tidak sah, lantaran selama ini mereka belum melunasi hutang puasanya.

Penulis yakin bahwa orang yang sengaja tidak berpuasa tanpa sebab khusus pada Ramadhan kemarin rasa-rasaya tidak mungkin dia akan mengerjakan puasa Syawal. Paling tidak mereka yang memiliki hutang puasa tersebut adalah orang-orang yang memang aslinya mendapat rukhshah/keringanan untuk tidak berpuasa karena sebab khusus, lalu kemudian terkadang setelah lebaran niat puasa Syawal lebih dulu ada sebelum niat melunasi hutang puasa.

Secara umum sebenarnya permasalahan ini masuk dalam pembahasan apakah boleh puasa sunnah (tidak hanya puasa sunnah Syawal) sebelum melunasi hutang puasa Ramadhan yang tertinggal. Dalam hal ini setidaknya ada tiga pendapat para ulama:

Pendapat Pertama

Ini adalah pendapat para ulama fikih dari madzhab Imam Abu Hanifah. Mereka berpendapat bahwa boleh hukumnya dan sah bagi siapa saja yang melaksanakan puasa sunnah walaupun hutang puasanya belum dilunasi, termsuk didalamnya bahwa boleh melasksanakan puasa sunnah Syawal walaupun masih ada beberapa hari hutang puasa belum terbayarkan.

Imam Al-Kasani dalam kitabnya Al-Badai’ wa As-Shanai’ menegaskan bahwa kewajiban membayar hutang puasa ramadhan itu mempunyai waktu yang panjang dan longgar/alwajib ala at-tarakhi, tidak harus dikerjakan pada bulan Syawal, tapi waktunya bisa kapan saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“dan barang siapa yang sakit dan berada dalam perjalan (lalu dia berbuka) maka dia (harus menggati puasa tersebut) pada hari-hari lainnya” (QS. Albaqarah: 185)

Dalam ayat diatas tidak ada waktu khusus yang Allah swt perintahkan, Allah swt hanya memesankan agar puasa yang ditinggalkan tersebut harus dibayar, masalah waktu pembayarannya sangat longgar.

Ditambah dengan hadits Aisyah ra dalam penuturannya bahwa:

كان يكون عليّ الصوم من رمضان، فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان

“Saya pernah punya hutang puasa ramadhan dan saya belum melunasinya kecuali di bulan Sya’ban” (HR. Bukhari)

Ketika Aisyah ra pernah melunasi hutang puasanya di bulan sya’ban rasanya mustahil bagi seorang Aisyah ra ditahun itu tidak pernah puasa sunnah; tidak puasa sunnah syawal, tidak puasa Arafah, tidak puasa Asyura, tidak puasa senin kamis, dst.

Pendapat Kedua

Pendapat kedua dalam permasalahan ini adalah boleh mengerjakan puasa sunnah sebelum melunasi puasa wajib tapi hal seperti ini agak kurang disukai/ ma’a al-karahah. Ini adalah pendapat para ulama dari madzhab Maliki dan Syafii.

Imam Ad-Dardir menyebutkan itu didalam kitabnya As-Syarhu Al-Kabir jilid 1 hal. 518-519, bahkan lebih tegas lagi Imam Ad-Dasuqi menyebutkan bahwa baik puasa sunnah tersebut bahkan sampai pada level sunnah muakkadah, tetap kurang disukai untuk dilakukan selagi masih ada puasa wajb yang belum dikerjakan atau dilunasi.

Begitu juga pandangan para ulama madzhab As-Syafii terkait hal ini, bahwa boleh mengerjakan puasa sunnah sebelum melunasi puasa wajib, walaupun hal ini agak kurang disukai/makruh.

Alasan pendapat ini secara sederhana bahwa kurang etis rasanya megakhirkan yang wajib dan mendahulukan yang sunnah, padahal seharusnya yang wajib harus diprioritaskan terlebih dahulu, baru setelah itu diikuti dengan yang sunnah. Terlepas bahwa memang benar ada sebagian dari kewajiban yang mempunyai waktu luas, sehingga agak terkesan longgar, tidak sempit, tapi tetap saja yang utama adalah segera melunasi yang wajib agar diri segera terlepas dari taklif/beban hutang kewajiban.

 Pendapat Ketiga

Terkait apakah boleh melaksanakan puasa sunnah sebelum melunasi puasa wajib, maka pendapat ketiga menegaskan bahwa hal tersebut tidak boleh, bahkan ada yang sangat tegas menilainya haram. Ini adalah pendapat dari sebagian ulama Hanabilah, seperti yang ditulis oleh Imam Abu An-Naja dalam kitabnya Al-Iqna’ jilid 1 hal. 316.

Adapun Imam Ahmad sediri disinyalir mempunyai dua riwayat, satu riwayat menyebutkan tidak boleh, dan dalam riwayat lainnya boleh, demikian penjelasan Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hal. 86

Dasarnya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abu Hurairah:

من أدرك رمضان وعليه من رمضان شيء لم يقضه لم يتقبل منه، ومن صام تطوعا وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنه لا يتقبل منه حتى يصومه

 “Siapa yang mendapati Ramadhan dan dia masih mempunyai (hutang) kewajiban berpuasa darinya yang belum dia penuhi maka tidak diterima amalan puasanya, dan barang siapa yang berpuasa sunnah sedangkan dia masih mempunyai hutang puasa ramadhan yang belum dilunasi maka tidak diterima puasa sunnahnya. (HR. Ahmad)

Lebih lanjut, Said bin Jubair pernah ditanya oleh seseorang apakah dia boleh berpuasa sunnah di bulan Dzulhijjah padahal dia masih menanggung hutang puasa wajib, dijawab oleh Said bin Jubair:

يبدأ بالفريضة

“(hendaknya) dia memulai dari yang wajib”

Abu Hurairah juga pernah ditanya yang demikian, beliau pun menjawab:

لا بل ابدأ بحق الله فاقضه، ثم تطوع بعد ما شئت

“Tidak, akan tetapi mulailah dengan melunasi hak Allah swt lalu setelah itu kerjakanlah (puasa) sunnah sesukamu”

Pun begitu jika hal ini diqiyaskan dengan perkara haji, sebagaimana tidak boleh melaksanaan haji sunnah (dengan cara menghajikan orang lain) sebelum dia sendiri melaksanakan haji wajib terlebih dahulu, begitu juga dengan perkara puasa.

Namun bagi mereka yang berpendapat bahwa boleh mengerjakan puasa sunnah walaupun masih mempnyai hutang puasa wajib menilai bahwa hadits diatas tidak kuat untuk dijadikan dalil, terlebih bahwa menurut penilaian sebagian ulama, hadits tersebut diatas dhoif/lemah karena keberadaan perawi yang bernama Ibnu Al-Hai’ah.

Adapun sebagian atsar/perkataan para sahabat juga tidak serta-merta bisa dijadikan dalil pengharaman, karena bisa jadi kalimat pelarangan tersebut bukan berarti tidak boleh atau tidak sah namun itu hanya untuk sebuah keutamaan saja, bahwa baiknya cepat selesaikan hutang puasa wajib, bukan tidak boleh puasa sunnah.

 Terkait dalil qiyas yang disebutkan tentunya antara puasa dan haji punya banyak perbedaan, salah satunya dari sisi waktu, bahwa ibadah haji mempunyai waktu yang tertentu dan waktunya sangat sempit, berbeda dengan qadha puasa yang waktunya sangat luas dan longgar, sehingga mengqiyaskan puasa dengan haji dianggap kurang tepat/qiyas ma’a al-fariq.

Yang Lebih Utama

Dari pembahsan diatas dapatlah kita simplkan bahwa sebagian besar ulama membolehkan untuk berpuasa sunnah walaupun masih mempunyai hutang puasa wajib, hanya sebagian ulama Hanabilah saja yang tidak membolehkan.

Namun agar kita keluar dari perdebatan diatas memang baiknya dan yang lebih utama sebisa mungkin secepatnya membayar hutang puasa terlebih dahulu baru kemudian kita atur agar bisa berpuasa sunnah sesuai dengan kemampuan kita. dan terkait puasa sunnah Syawal memang baiknya segera lunasi dahulu hutang puasa baru segera diikuti dengan enam hari puasa syawal.

Namun jika mau sedikit megakhirkan qadha puasa dan langsung berpuasa sunnah Syawal maka yang dekian sah menurut mayoritas ulama, dan insya Allah tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal yang tadi disebukan diawal pembahasan. Wallahu a’lam bisshawab.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Anak Kecil Tidak Mau Shalat, Siapa Yang Berdosa?
Ali Shodiqin, Lc | 30 July 2015, 02:00 | 3.412 views
Yang Tidak Paham Fiqih Dilarang Masuk Pasar
Ali Shodiqin, Lc | 28 July 2015, 04:00 | 3.393 views
Tidak Bisa Jawab Pertanyaan, Berarti Bukan Ulama?
Ali Shodiqin, Lc | 27 July 2015, 12:00 | 2.962 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 3.195 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.385 views

more...

Semua Tulisan Penulis :