Mulai Dari Menulis | rumahfiqih.com

Mulai Dari Menulis

Ahmad Sarwat, Lc., MA Fri 5 April 2013 07:10 | 3990 views

Bagikan via

Menulis adalah salah satu dasar kecakapan para ulama di masa lalu. Sosok ulama di masa lalu memang selalu identik dengan karya tulis. Sampai bisa dikatakan bahwa hari ini tidak lah kita mengenal mereka dan ilmu mereka, kecuali lewat tulisan abadi yang pernah mereka goreskan.

Menjadi pertanyaan menarik, mengapa mereka begitu produktif menuliskan ilmu sehingga bisa punya puluhan bahkan ratusan kitab?

Salah satu versi jawaban yang sangat saya sukai karena ilmu berlimpah yang mereka miliki. Bila tidak dituliskan, dikhawatirkan ilmu itu nanti akan terlupakan, atau hilang seiring dengan wafatnya yang bersangkutan, sehingga malah hanya akan menjadi sia-sia belaka.

Maka demi untuk mengabadikan ilmu, ditulislah semua ilmu itu lewat tinta para ulama. Sampai ada ungkapan bahwa tinta para ulama itu lebih tinggi nilainya dari darah para syuhada.

Kesimpulan saya, menuliskan ilmu saat itu menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka yang berlimpah dengan ilmu, selain tentu saja juga untuk menangguk pahala abadi yang terus mengalir dari tulisan mereka.

Buat kita hari ini tentu ada banyak keuntungan. Salah satunya kita berkesempatan mewarisi beribu bahkan berjuta kitab yang mereka dituliskan. Itu artinya, kita juga mendapatkan ilmu yang telah mereka rintis dan mereka temukan di masa lalu, di masa lebih dari 1000-an tahun yang lalu.

Alhamdulillah, warisan itu masih tersimpan rapi di berbagai perpustakaan dunia, baik dalam bentuk manuskrip atau pun buku modern yang diterbitkan secara komersial.

Menulis Ilmu di Masa Kini

Di masa sekarang ini, para ulama di timur tengah sana pun masih giat menuliskan ilmu mereka. Kita menemukan berbagai kitab ilmu agama yang ditulis oleh ulama kontemporer. Rupanya tradisi menuliskan ilmu yang dimiliki masih tetap berlangsung hingga kini, walaupun dengan nilai yang sedikit berbeda.

Sayangnya apa yang terjadi di timur tengah itu belum terjadi di negeri kita. Memang terasa ada geliat penjualan buku-buku agama yang semakin menguat. Buktinya pameran buku-buku Islam nampak ramai dikunjungi orang. Para saudagar penjual buku agama mengaku dapat untung berlimpah.

Namun kalau kita jujur mengamati, rata-rata yang beredar sekedar terjemahan dari bahasa Arab. Adapun karya orisinil yang benar-benar ditulis oleh ulama Indonesia, masih bisa dihitung dengan sebelah jari.

Menulis Buku Agama : Sebuah Tantangan

Fenomena inilah yang menjadi tantangan tersendiri buat para calon ulama anak bangsa. Memang ada banyak faktor kenapa kita agak jarang mendapati tulisan asli para ulama negeri ini. Di antaranya yang paling mendasar adalah kurangnya jumlah para ulama.

Kalaupun ada kita temukan sosok ulama, kebanyakan memang masih agak kurang punya ‘nyali’ untuk menuliskan ilmunya. Barangkali karena mereka sangat tawadhdhu’ serta amat menyadari kadar dan kualitas keilmuan yang dimiliki masih sangat terbatas.

Namun kesadaran atas terbatasnya ilmu yang dimiliki bukan satu-satunya alasan dari kurangnya karya di bidang penulisan. Ada alasan lain yang lebih masuk akal, yaitu kurang terbiasanya mereka menuliskan ilmu yang mereka miliki.

Meski Indonesia berlimpah dengan lembaga pendidikan calon ulama, seperti pesantren, madrasah dan kampus-kampus Islam, tetapi ada yang perlu sedikit dicermati.

Nampaknya lembaga-lembaga pendidikan keislamam itu lebih sering mengasah kemampuan para siswanya di bidang keorganisasian, kesenian, olah-raga dan ketimbang mengasah kemampuan intelektualitas mereka dalam bentuk karya tulis. Bahkan dala hal dakwah, jelas sekali bahwa yang lebih diasah adalah kemampuan dari segi verbal ketimbang kemampuan dari segi penulisan.

Maka tidak heran kalau kita lebih sering menemukan pesantren yang santrinya menjadi juara lomba pidato, lomba debat, lomba nasyid atau lomba-lomba yang titik tekannya lebih kepada bahasa verbal.

Masalah Habit

Suatu pekerjaan yang secara teori bisa dikerjakan dan sebenarnya mudah, tetapi kalau jarang-jarang dilakukan, jatuhnya tetap akan jadi susah juga. Demikian juga dengan menulis. Kebanyakan orang bukannya tidak bisa menulis, tetapi cuma tidak terbiasa.

Seorang mahasiwa fakultas syariah LIPIA pernah terus terang bertanya kepada saya tentang kiat-kiat menulis. Dia agak heran, setiap kali mau menulis, pasti dilanda kebingungan harus mulai dari mana. Laptop yang sudah menyala setengah jam di depan mata itu tetap saja layarnya berwarna putih, karena belum satu pun huruf dituliskan.

Kepada mahasiswa itu saya bilang,”Bukankah setiap 3 bulan di LIPIA ada ujian mid-semester dan ujian akhir semester?.

Dia menganggukkan kepala seraya membenarkan pertanyaan saya. “Nah, sebenarnya antum itu sudah jadi penulis”, begitu tutur saya tegas.

Mendadak tergurat seberkas tanda tanya di wajahnya, pertanda ketidak-pahaman atas statemen saya. Maka saya lanjutkan,”Begini ya akhi. Setiap kali antum ikut ujian, apa yang antum lakukan?”.

“Ya, menjawab soal-soal di kertas jawaban ujian,” jawabnya masih bingung.

“Jawaban yang antum tulis itu, dalam bentuk jawaban pilihan ganda atau jawaban atas pertanyaan essay?”, lanjut saya.

“Hmm, biasanya sih soal essay yang lebih banyak, walaupun kadang ada juga pilihan berganda”, jawabnya.

“Berarti ketika antum menjawab soal-soal essay itu, antum sudah menulis, kan?”, tanya saya lagi. “Iya, lah saya menulis”, jawabnya polos.

“Ketika menjawab soal-soal ujian itu, kira-kira berapa lembar halaman yang antum tuliskan?”, tanya saya serius. “Wah, kadang sih bisa sampai tujuh delapan lembar, tergantung soalnya juga sih”, jawabnya lagi. “Malah saya pernah minta tambah kertas jawaban, karena jawabannya agak panjang”, tambahnya.

“Nah itu dia maksud saya dari tadi. Sebenarnya antum itu sudah jadi penulis, setidaknya ketika menjawab soal-soal ujian, antum adalah penulis”, ujar saya.

“Jadi jangan lagi antum merasa tidak berbakat atau tidak potongan untuk jadi seorang penulis. Justru antum itu sudah jadi penulis”, ujar saya lagi.

“Coba pikir baik-baik. Kalau dijumlahkan total, di fakultas syariah itu antum kuliah 8 semester, maka setidaknya antum pernah menulis 16 kali selama masa kuliah. Dan hitungan 16 kali itu masih dikalikan lagi dengan jumlah mata ujian yang harus diikuti. Anggaplah mata ujian itu ada 10 pelajaran, maka setidaknya selama kuliah seorang mahasiswa fakultas syariah sudah pernah menghasilkan 160 kali karya tulis ilmiyah”.

Maka saya teruskan saja apa yang mengalir di kepala, “Seandainya ujian itu boleh nyontek, dalam arti boleh buka buku (openbook), demi untuk mendapatkan keaslian jawaban dan juga ketepatan dalam menetapkan kitab-kitab rujukan, maka kualitas jawaban ujian itu sudah setara dengan karya tulis ilmiyah. Setidaknya ada 160 makalah yang sudah terlahirkan tanpa sengaja, cukup dengan menjawab soal ujian”.

Mahasiswa itu mulai mengangguk-anggukan kepala, pertanda mulai paham maksud saya.

“Dan itu berarti secara teori, menulis itu bukan hal yang mustahil. Buktinya, hasilnya memang ada secara fakta”, tambah saya.

“Jadi masalahnya cuma tinggal membiasakan diri saja, ya ustadz?, dia balik bertanya.

"Tepat sekali. Intinya, bagaimana kita menciptakan iklim dengan atmosfir dimana menulis bukan lagi sekedar tugas kuliah, tetapi menulis menjadi sebuah hobi, habit, dan bahkan menjadi sebuah kebutuhan”, ujar saya sambil mengakhiri pembicaraan.

Mahasiswa itu mengangguk-angguk makin keras dan makin sering. Berarti sudah semakin paham.

“Ya ya ya. Jadi begitu ya ustdz. Wah syukran banget nih atas pencerahannya. Saya jadi ingin segera menulis nih,” jawabnya mengakhiri pembicaraan.

Taffadhdhal bismillah wa bi izdnillah”, jawab saya. Dia berpamitan pulang sambil berjalan dengan menegakkan dada.

Media Aktualisasi Diri

Dari semua pembicaraan saya dengan mahasiswa itu di atas, sebenarnya berhasilnya seseorang menulis itu karena ada faktor pemicunya, yang dalam hal ini karena faktor tugas kuliah. Jadi ada semacam 'pemaksaan' untuk menulis.

Kalau mahasiwa tidak ikut ujian dan tidak menulis jawabannya di lembaran jawaban, mana bisa dapat nilai? Dan kalau nilainya jeblok, tentu tidak akan lulus kuliah. Dan untuk pulang ke kampung halaman karena DO, pasti malu hati.Jadi mau tidak mau, memang harus menulis.

Lalu masalahnya, apakah mahasiwa itu masih masih bisa terus menulis kalau sudah lulus atau sudah di luar tugas kuliah?

Jawabnya tergantung pada banyak hal. Salah satunya tergantung dari adakah motivasi lain, selain hanya karena urusan menjawab soal-soal ujian. Lalu hal-hal apa yang kira-kira bisa menjadi salah satu faktor pemicu?

Ada banyak sebenarnya, tetapi salah satunya adalah keberadaan sebuah media, yang bisa membuat banyak orang membaca hasil tulisan kita. Media itu dibutuhkan karena menjadi sarana untuk mengaktualisasi diri.

Tetapi jangan dulu dikaitkan dengan urusan ujub, riya atau sum’ah. Tentu bukan itu tujuan dibutuhkannya media. Tetapi aktualisasi diri menjadi salah satu faktor penting untuk memicu semangat penulis pemula.

Dan media itu ada banyak ragamnya. Yang paling sederhana adalah lewat media online. Sedikit banyak media online telah banyak membantu para penulis pemula untuk memulai langkah awal.

Dan kalau sudah agak banyak karya tulisnya dan punya percaya diri yang lebih, tentu tidak ada salahnya kalau diterbitkan dalam bentuk buku yang sesungguhnya. Buat penulis pemula, merupakan momen paling penting ketika buku hasil karyanya diterbitkan, walaupun barangkali belum ada yang beli.

Wallahul musta'an

Bagikan via


Baca Lainnya :

Pengkhianat Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 4 April 2013, 05:00 | 4.242 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | 3 April 2013, 05:49 | 4.040 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 4.935 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.180 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 3.441 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 1.006 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 7.218 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 7.513 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 10.409 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.098 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 6.814 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.145 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 9.514 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 6.656 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 8.617 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 5.636 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.240 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.264 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 4.896 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 7.933 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 15.449 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 3.843 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.295 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 8.714 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.018 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.636 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.362 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.558 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 7.783 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 19.389 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 6.452 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 10.887 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.300 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.082 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.327 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.021 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 4.894 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.117 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 4.752 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 6.876 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 6.617 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.491 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.043 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.180 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.297 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 5.915 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 7.951 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.058 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.216 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 3.990 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 5.693 views