With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru? | rumahfiqih.com

With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?

Hanif Luthfi, Lc., MA Mon 1 April 2013 07:04 | 5510 views

Bagikan via

Bersama kami, atau memusuhi kami!

Sebuah slogan yang lumayan masyhur kala Amerika mengobarkan perang melawan teroris. Tak ada abu-abu, tak boleh golput, dan tak ada jalan tengah, juga tanpa wajh al-Jam’i wa at-Tawafuq.

Kecenderung “harus dengan kami” atau “harus seperti kami” rupanya banyak juga kita jumpai dalam kehidupan beragama kita. Tentu memusuhi tidak hanya memerangi dengan senjata, bisa saja mengolok-olok, menghina, merendahkan atau sekedar menyalah-nyalahkan.

Jika shalat tidak dengan tata cara kami maka shalat itu salah, karena tidak shalat sebagaimana Nabi. Jika tidak masuk partai kami, maka sama artinya tidak mendukung dakwah Islam. Jika tidak mendukung sistem khilafah, berarti mengikuti cara kafir. Jika tidak ikut mengutuk dan melaknat pemerintahan Basyar Asad, maka artinya mendukung Syiah. Sederhana tapi berbahaya.

Karakteristik Fiqih Islam

Sayangnya, saat ini kecenderungan “harus dengan kami” atau “harus seperti kami” juga masuk dalam ranah fiqih. Hal itu dapat dilihat dari adanya pemaksaan kebenaran dari sebagian kalangan, dengan menyalahkan pihak yang tidak sepaham.

Kalangan ini menentang adanya ikhtilaf madzhab fiqih, dengan menganjurkan Ijtihad kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena bagi kalangan ini, salah satu sebab adanya perpecahan umat Islam adalah adanya madzhab fiqih. Umat Islam harus bersatu secara Aqidah dan Ibadah, katanya.

Padahal dalam ranah fiqih, ikhtilaf terhadap suatu masalah sudah menjadi hal yang biasa dan memang sudah terjadi sejak awal Islam itu ada. Perbedaan hasil ijtihad bukanlah sesuatu yang asing dan perlu dipersalahkan. Abu Bakar berbeda ijtihadnya dalam memerangi penentang bayar zakat. Umar berbeda ijtihadnya dalam pemanfaatan tanah rampasan perang. Utsman berbeda ijtihadnya dalam dua adzan Jum’at, dan lain sebagainya.

Lanjut lagi, Imam Abu Hanifah berbeda pandangan dalam mengambil dalil hadits Ahad. Imam Malik berbeda cara pandang dalam berhujjah dengan amal Ahli Madinah. Imam Syafi’i tidak banyak menggunakan Istihsan, dan lain sebagainya.

Tak Hanya Belajar Perbedaan Tapi Bagaimana Menyikapi Perbedaan Itu

Menarik untuk digaris-bawahi, ternyata perbedaan-perbedaan hasil ijtihad itu tidak menjadikan mereka lantas berpecah dan bermusuhan. Artinya klaim bahwa perbedaan hasil Ijtihad termasuk adanya madzhab adalah salah satu penyebab perpecahan, tidak sepenuhnya benar. Dan sejarah telah menjawabnya.  Apakah kita temukan, mereka saling memusuhi dan menjatuhkan?

Hal yang terpenting adalah bagaimana menyikapi perbedaan itu.

Para ulama’ salaf terdahulu, mempunyai satu kaidah yang bagus dalam menyikapi perbedaan pendapat.  Sebut saja Imam as-Syafi’i, ungkapan yang masyhur:

كلامي صواب يحتمل الخطأ و كلام غيري خطأ يحتمل الصواب

Pendapatku benar dan mungkin bisa saja salah, sedang pendapat orang lain salah dan mungkin saja benar.

Jika Gayus yang lulusan STAN itu korupsi milyaran rupiah, maka bukannya STAN yang dibubarkan. Jika ada perpecahan karena mengikuti madzhab tertentu dalam fiqih, maka yang patut dipermasalahkan adalah pandangan seorang itu sendiri.

Justru kalau kita lihat lebih jauh, kecenderungan menghindari perpecahan dengan menolak madzhab fiqih itu sama artinya dengan mambuat madzhab baru, madzhab yang anti ikhtilaf, madzhab satu kata, madzhab kaca mata kuda, madzhab yang kami benar dan yang lain pasti salah, madzhab anti-kritik.

Akhirnya “Jika tidak mengikuti kami, maka artinya memusuhi kami”. Jika tidak seperti kami, maka itu salah. Awalnya ingin meredam perpecahan, tapi nyatanya malah memulai perpecahan baru.

Darimana Harus Memulai?

Semakin luas ilmu seseorang, semakin luas juga cakrawala berpikirnya dan semakin luwes dalam menyikapi perbedaan. Paling tidak, ada beberapa tahapan dalam mempelajari Fiqih Islam, mulai dari pemula terus naik kepada jenjang yang lebih tinggi.

Para ulama’ fiqih telah mengarang kitab mereka sesuai dengan jenjang pencarian ilmu seseorang.

Pertama, belajar matan fiqih. Bagi pemula, disarankan memulai belajarnya dengan fiqih yang sederhana. Tujuannya agar ibadahnya benar dahulu. Bagi yang bermadzhab Syafi’i, bisa memulai dengan belajar Fath al-Qarib misalnya.

Kedua, belajar dalil fiqih. Selanjutnya yang dipelajari adalah dalil dari apa yang sudah dipelajari di jenjang pertama. Di jenjang ini, sangat dianjurkan untuk belajar Ushul Fiqih. Tujuannya aAgar tahu bagaimana istidlal dari sebuah dalil. Istidlal atau cara mengambil dalil, kadang malah lebih penting dari dalil itu sendiri.

Ketiga, belajar fiqih perbandingan. Jika sudah matang dalam dalil dan ushul fiqih, maka pelajaran selanjutnya adalah mengetahui perbedaan pendapat para ulama. Jika seseorang dalam mengawali belajar fiqihnya langsung pada perbedaan ulama’, biasanya akan merasa bingung. Kenapa harus beda? Kenapa tidak satu saja?

Keempat, belajar bagaimana menyikapi perbedaan itu. Jika sudah sampai pada jenjang perbangingan fiqih, maka yang dipelajari adalah bagaimana menyikapi perbedaan itu.

<<bersambung>>

Bagikan via


Baca Lainnya :

Adil Tak Selalu Sama Rata
| 31 March 2013, 10:03 | 4.019 views
Kompilasi Hukum Islam (KHI) : Antara Kritik dan Harapan
| 30 March 2013, 14:32 | 5.512 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.724 views
Menulis, Proses Penyelamatan Ilmu
Ahmad Zarkasih, Lc | 26 March 2013, 16:44 | 3.982 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
Aini Aryani, Lc | 25 March 2013, 22:40 | 9.925 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 December 2016, 09:58 | 2.269 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 September 2016, 16:17 | 1.401 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 March 2016, 11:31 | 2.384 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 8 November 2015, 20:20 | 4.213 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 22 October 2015, 17:26 | 2.937 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc., MA | 15 October 2015, 13:54 | 3.607 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc., MA | 3 September 2015, 12:01 | 24.930 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 August 2015, 10:00 | 5.608 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 June 2015, 11:00 | 5.082 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 June 2015, 11:00 | 5.238 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 June 2015, 11:00 | 5.370 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 June 2015, 12:41 | 4.269 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 May 2015, 17:00 | 5.026 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 21:03 | 6.158 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 April 2015, 13:36 | 5.458 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 9 April 2015, 21:21 | 6.566 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 March 2015, 11:02 | 8.591 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 13 March 2015, 11:11 | 9.038 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 February 2015, 20:54 | 5.330 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 February 2015, 20:21 | 8.425 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc., MA | 4 February 2015, 19:31 | 9.378 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 January 2015, 06:46 | 5.661 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 November 2014, 12:00 | 6.106 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 November 2014, 12:00 | 6.746 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 August 2014, 15:49 | 4.693 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 July 2014, 08:18 | 9.039 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc., MA | 6 July 2014, 21:32 | 5.998 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 29 June 2014, 00:57 | 4.095 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 May 2014, 00:00 | 4.300 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc., MA | 7 May 2014, 11:05 | 4.179 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 30 April 2014, 12:20 | 6.671 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc., MA | 5 April 2014, 18:00 | 6.760 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 2 April 2014, 22:32 | 4.769 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 March 2014, 13:41 | 3.946 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc., MA | 12 March 2014, 06:55 | 5.816 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 27 February 2014, 06:00 | 5.152 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc., MA | 26 February 2014, 12:00 | 5.818 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 19 February 2014, 01:01 | 5.543 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 February 2014, 15:00 | 4.092 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 28 January 2014, 07:28 | 5.754 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc., MA | 25 January 2014, 12:23 | 5.056 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc., MA | 23 January 2014, 05:45 | 9.956 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 14:38 | 4.351 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 October 2013, 11:37 | 5.064 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 August 2013, 07:32 | 10.456 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 10 August 2013, 15:35 | 24.110 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 June 2013, 03:03 | 7.034 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 18 May 2013, 20:02 | 6.075 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc., MA | 24 April 2013, 00:45 | 6.430 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 17 April 2013, 15:12 | 5.701 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc., MA | 1 April 2013, 07:04 | 5.510 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 14 February 2013, 16:45 | 9.919 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc14 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA11 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Isnawati, Lc8 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan