Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam | rumahfiqih.com

Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam

Ahmad Sarwat, Lc., MA Sun 18 October 2015 16:24 | 3083 views

Bagikan via

Setiap tahun umat Islam merayakan tahun baru Islam. Aktifitas yang di masa Rasulullah SAW belum pernah dilaksanakan ini memang punya banyak latar belakang. Salah satunya adalah mengingat berdirinya negara Islam pertama di dunia, Negara Madinah.

Hasil musyawarah Khalifah Umar dengan para ahlul hilli wal aqdi menyepakati bahwa hitungan tahun resmi negara dimulai sejak tahun dimana Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah Beliau SAW sendiri sebenarnya tidak di bulan Muharram, melainkan berangkat tanggal 27 Shafar dan tiba di Madinah tanggal 12 Rabiul Awal.

Namun karena tahun dimana beliau SAW hijrah itu disepakati sebagai momentum berdirinya Madinah, maka tidak bisa dipungkiri bahwa memperingati tahun baru Islam pada hakikatnya adalah memperingati hari lahirnya negara Islam Madinah semasa kehidupan Rasulullah SAW. Menang itulah faktanya dan tidak mungkin dipungkiri.

Negara Islam Macam Apa?

Yang harus kita teliti lebih dalam adalah sebuah pertanyaan mendasar, yaitu negara Islam macam apa yang sesungguhnya dibangun oleh Rasulullah SAW ketika itu, sehingga tiap tahun kita memperingati berdirinya?

Sebagian kalangan ada yang memandang bahwa negara Madinah di  masa itu bukan sebuah negara, tetapi hanya semata-mata komunitas kecil atau kelompok masyarakat biasa. Apalagi diketahui bahwa penduduk Madinah saat itu hanya 15 ribuan orang saja.

Namun pendapat ini runtuh dengan sendirinya, ketika kita temukan fakta bahwa tiga syarat utama sebuah negara justru nampak berdiri tegak, yaitu adanya rakyat, wilayah dan pemerintahan. Ditambah lagi adanya pengakuan dari negara lain, seperti Romawi, Persia, Mesir, Yaman, Habasyah, dan negara lainnya.

Adapun jumlah populasi yang katanya hanya 15 ribuan itupun pada dasarnya tidak menjadi penghalang berdirinya sebuah negara. Apalagi mengingat era saat itu masih berada di abad ketujuh masehi, dimana populasi dunia pun masih sangat rendah.

Dan data sejarah menyebutkan bahwa Madinah kemudian mengalami penambahan populasi yang amat signifikan dalam 10 tahun kemudian, karena jumlah penduduknya mencapai dua kali lipatnya menjadi 30 ribuan penduduk.

Piagam Madinah

Hal lain yang juga menarik untuk dibahas adalah disepakatinya Piagam Madinah, dimana negara dibangun di atas landasan sebuah kesepakatan antara banyak unsur masyarakat saat itu.

Diantaranya adalah penduduk asli Madinah yang terbelah dua antara klan besar, Aus dan Khazraj, dimana masing-masing klan itu masih terdiri dari banyak qabilah. Sebagian besar dari mereka kemudian masuk Islam, meski ada beberapa yang mengalami proses hingga akhirnya menjadi muslim.

Selain itu Madinah juga dihuni oleh tiga klan besar yahudi, yaitu Bani Nadhir, Bani Qainuqa' dan Bani Quraidhah. Secara umum mereka tidak masuk Islam, meski sempat memberi inspirasi kepada penduduk Arab Madinah asli tentang prinsip dasar ajaran agama samawi, yang diantaranya tentang konsep kenabian dan informasi kedatangan nabi di Madinah berdasarkan kitab suci mereka.

Mereka semua sepakat untuk mendirikan sebuah negara, dengan sistem dan aturan yang mereka sepakati bersama. Dan untuk itu mereka pun sepakat untuk menjadikan pendatang baru yang bukan asli Madinah, yaitu Nabi Muhammad SAW yang saat itu masih tinggal di Mekkah untuk segera bermigrasi (baca:hijrah) ke Madinah demi menjalankan roda pemerintahan.

Satu hal yang patut kita catat disini adalah fakta bahwa sosok negara 'Islam' Madinah saat itu tidak seperti yang digambarkan oleh mereka yang terbawa opini absurd bahwa negara Islam itu harus steril dari pemeluk agama selain Islam. Justru Madinah di masa Rasulullah SAW didirikan oleh muslim dan non-muslim, Arab dan Yahudi secara bersama-sama dalam sebuah pakta bersama.

Adapun kenapa yang jadi kepala negara adalah Rasululllah SAW, itu adalah hasil kesepakatan semua pihak. Meski tentu saja tiap kelompok menginginkan agar pemimpin Madinah berasal dari unsur mereka.

Kelompok yahudi boleh dibilang agak rancu logika berpikirnya. Bagaimana tidak? 


Mereka jauh-jauh datang dari negeri nenek moyang di Palestina bermigrasi ke Yatsrib yang kemudian diganti namanya menjadi Madinah lalu menetap dan beranak pinak hingga fasih bicara dalam bahasa Arab. Judulnya  tidak lain karena ingin menyambut kedatangan nabi terakhir sesuai petunjuk dari kitab mereka.

Secara tidak langsung keberadaan yahudi di Madinah memperkenalkan karakteristik agama samawi yang tidak dikenal sebelumnya oleh orang Arab. Demikian juga dengan penduduk Madinah yang awalnya penyembah berhala dan beragama bumi, perlahan tapi pasti mulai memahami konsep monotheisme, adanya para malaikat dan kitab-kitab suci, eksistensi para nabi dan rasul, serta keyakinan akan datangnya hari kiamat dengan kehidupan akhiratnya.

Namun justru ketika beradaan nabi yang mereka janjikan itu benar-benar menjelma menjadi sosok seorang Muhammad SAW secara nyata, justru mereka jadi berbalik. Selain tidak mengimani kenabian Muhammad SAW, mereka pun awalnya agak tidak terima kalau justru Rasulullah SAW jadi kepala negara di Madinah.

Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ketika dikalahkan oleh suara mayoritas. 'Roh demokrasi' yang mereka tanamkan ternyata malah berbalik meruntuhkan obsesi mereka untuk menjadi kepala negara di Madinah.

Lepas dari semua itu, yang jadi inti tibanya Rasulullah SAW dan Abu Bakar di Madinah bukan silang pendapat terkait dengan syair thala'al badru alaina. Tetapi yang disepakati bahwa saat itulah beliau SAW bersama dengan penduduk Madinah mendirikan negara Islam pertama.

Seremoninya adalah membangun masjid Nabawi, mempersaudarakan antara muhajirin dan anshar serta meresmikan kesepakatan Piagam Madinah.

Bagaimana dengan hukum yang berlaku di negara Islam Madinah?

Hukum yang diberlakukan berbeda-beda tergantung agama yang dipeluk. Bila beragama Islam maka hukumnya pakai Al-Quran. Sedangkan kepada orang yahudi maka yang diberlakukan adalah Taurat.

Faktanya semua sepakat dengan penerapan hukum yang adil ini, kecuali mereka yang justru bermasalah dengan hukumnya sendiri. Dan rata-rata orang-orang yahudi memang bermasalah dengan hukum dari agamanya sendiri.

Sepanjang turunnya ayat-ayat suci Al-Quran di Madinah, banyak sekali Allah SWT membicarakan keculasan mereka terhadap hukum mereka sendiri, termasuk bagaimana kedurhakaan mereka terhadap nabi-nabi mereka sendiri.

Kalaupun pada akhirnya komunitas yahudi di Madinah punah dan tersingkir, sebenarnya bukan karena negara Islam mensyaratkan sterilisasi. Tetapi yang terjadi sesungguhnya adalah akibat dari pengkhianatan-pengkhianat yang beruntun terus menerus oleh pihak Yahudi.

Biasanya pengkhianatan Yahudi sebelumnya tidak bisa diantisipasi, karena mereka biasa mengadu-domba semua kekuatan politik yang ada dan muncul sebagai pemenang. Tapi kali ini Yahudi Madinah kena batunya. Semua pengkhianatan mereka dan segala kelicikan telah dibongkar oleh Al-Quran langsung.

Apapun siasat yang mereka tempuh, ujung-ujungnya mereka tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab sosial dan tanggung jawab politik, dan khususnya tanggung jawab hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Akhirnya komunitas Yahudi di Madinah lenyap tak bersisa akibat ulah mereka sendiri.

Dan ketegasan hukum atau yang sering kita sebut-sebut sebagai law enforcemen adalah syarat dasar sebuah negara kalau mau eksis dan tetap maju. Semua dibuktikan dalama paparan sejarah yang jujur, bahwa sepeninggal Rasulullah SAW, negara Madinah malah mampu menaklukkan hampir semua peradaban besar di antero dunia di masanya.

Bukan penaklukan lewat pedang, melainkan lewat hati, cinta dan ketinggian peradaban.

Selamat tahun baru Islam 1437 hijriyah.

 

Bagikan via


Baca Lainnya :

Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 2.937 views
Batas Akhir Diperbolehkannya Takbiran Pada Hari Raya Ied
Muhammad Ajib, Lc | 27 September 2015, 08:15 | 1.632 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.523 views
Perbedaan Adalah Sebuah Keniscayaan
Ali Shodiqin, Lc | 7 September 2015, 03:00 | 3.021 views
Ternyata Isbal Haram, Kata Siapa?
Muhammad Ajib, Lc | 5 September 2015, 12:00 | 8.286 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ragam Teknis Terurainya Ikatan Pernikahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 November 2016, 10:05 | 969 views
Sampaikanlah Walaupun Hanya Satu Ayat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 May 2016, 17:20 | 7.184 views
Selamat Jalan Kiyai Ali Mustafa Yaqub
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 April 2016, 08:55 | 7.480 views
Anti Mazhab Tapi Mewajibkan Taqlid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 30 December 2015, 07:15 | 10.389 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.083 views
Istri : Mahram Apa Bukan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 November 2014, 21:17 | 6.783 views
Masak Sih Ikhwan dan Akhawat Boleh Berduaan?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 November 2014, 06:59 | 15.113 views
Ulama Mie Instan Seleraku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 November 2014, 08:55 | 9.465 views
Penerapan Syariat Islam di Nusantara
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 12 August 2014, 04:29 | 6.631 views
Islam di Antara Kebodohan Guru dan Fanatisme Murid
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 August 2014, 06:45 | 8.591 views
Takjil Bukan Kurma, Gorengan Atau Biji Salak
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 26 July 2014, 09:19 | 5.611 views
Imsak : Tidak Makan dan Minum
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2014, 06:15 | 5.224 views
Ibadah Terbawa Suasana
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 July 2014, 04:49 | 4.248 views
Tarawih : Ibadah Ramadhan Yang Paling Banyak Godaannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 July 2014, 07:47 | 4.876 views
Ulama Kok Tidak Bisa Bahasa Arab?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 June 2014, 06:58 | 7.912 views
Suamiku : Surgaku dan Nerakaku
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 1 June 2014, 10:26 | 15.420 views
Memperbaiki Moral Umat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 May 2014, 05:16 | 3.823 views
Kurang Akurat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 13 April 2014, 04:15 | 4.276 views
Mantan Ustadz
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 22 March 2014, 08:27 | 8.695 views
Majelis Ulama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 March 2014, 04:46 | 4.003 views
Ulama : Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 March 2014, 05:19 | 3.621 views
Masih Insyaallah
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 28 February 2014, 06:40 | 5.351 views
Kuatnya Umat Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 24 February 2014, 08:12 | 4.543 views
Mengaku Muttabi' Ternyata Taqlid Juga
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 14 February 2014, 05:19 | 7.761 views
Ketika Rasulullah SAW Sedih, Marah dan Melaknat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 February 2014, 06:04 | 19.367 views
Kembali ke Al-Quran Agar Terhindar Dari Khilafiyah?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 3 February 2014, 06:03 | 6.436 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 10.867 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.283 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.051 views
Berlebihan Dalam Menjalankan Agama
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 16 December 2013, 12:56 | 7.311 views
Mengandung Babi Atau Pernah Menjadi Babi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 December 2013, 09:51 | 8.006 views
Taklid Kepada Bukhari dan Muslim
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 November 2013, 23:19 | 4.878 views
Tafsir Ayat Dengan Ayat : Masih Banyak Kelemahannya
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 23 November 2013, 01:33 | 4.095 views
Lebaran Kita Yang Mahal
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 August 2013, 08:27 | 4.707 views
Dokter, Perawat dan Tukang Obat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 7 August 2013, 14:38 | 6.863 views
Memerangi Mazhab Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 6 August 2013, 19:40 | 6.597 views
Mudharabah = Saling Memukul?
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 19 July 2013, 07:55 | 4.478 views
Asal Jangan Tentang Puasa atau Zakat
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 8 July 2013, 07:19 | 5.030 views
Rahasia Bangun Malam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 4 July 2013, 04:57 | 6.159 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 4.283 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 5.899 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 7.930 views
Basmalah Ketika Menyembelih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 May 2013, 05:34 | 4.041 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.200 views
Mulai Dari Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 5 April 2013, 07:10 | 3.969 views
Istri Bukan Pembantu
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 March 2013, 08:57 | 5.665 views