Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah? | rumahfiqih.com

Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?

Hanif Luthfi, Lc Sun 8 November 2015 20:20 | 3581 views

Bagikan via

Setelah pulang dari pergi haji, ada salah seorang tetangga teman saya punya pandangan menarik. Menurutnya, ziarah kubur Nabi itu haram hukumnya, begitu juga dengan ziarah kubur ulama.

Sebagai buktinya, saat dia berhaji, para Askar (Polisi Arab Saudi) berteriak-teriak, ketika ada jamaah haji yang berhenti sejenak di depan makam Nabi, “Haram! Haram! Haram!”. Benarkah pandangan itu?

Ada beberapa point yang akan kita bahas disini. Pertama, benarkah bahwa setiap apa yang dilarang di dua kota suci Makkah dan Madinah saat ini, berarti diharamkan agama? Kedua, benarkah bahwa ziarah kubur Nabi itu diharamkan oleh para ulama?

Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi Milik Ummat Islam

Memang ada beberapa kalangan menjadikan Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi sebagai patokan beragama. Segala sesuatu yang terjadi disana dijadikan dalil terhadap suatu amalan.

Tak heran, apa yang dilarang oleh polisi di depan makam Nabi, dijadikan dalil tentang keharaman ziarah kubur Nabi. Seseorang yang berhasil menjadi pengajar di masjid al-Haram atau masjid Nabawi sekarang ini, dianggap sebagai ulama paling alim, yang paling pantas mengeluarkan fatwa.

Padahal jika menilik sejarah, dua masjid ini sejatinya adalah milik semua ummat Islam dunia. Kedua masjid itu tak hanya milik golongan tertentu saja. Dan bukan milik kerajaan Arab Saudi.

Hingga pada tanggal 23 September 1932 M, Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Saud berhasil menguasai Hijaz. Dia berhasil menyatukan kawasan syibh al-jazirah sehingga memproklamirkan berdirinya kerajaan Arab Saudi, atau disebut al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Saudiyyah. Tanggal 23 September ini diperingati tiap tahunnya dengan sebutan al-yaum al-wathani.

Ketika Bani Saud berkuasa di Hijaz, segala peraturan yang ada di dua masjid itu diatur oleh penguasa baru ini. Termasuk siapa saja yang boleh mengajar disana dan siapa yang boleh menjadi Imam shalat. Peraturan-peraturan itu tentu ada plus-minusnya.

Maka, apa yang dilarang di dua masjid ummat Islam sekarang ini, tak mesti berarti representasi dari larangan agama Islam yang disepakati keharamannya. Karena kebetulan sekarang kedua masjid itu sedang dikelola oleh Kerajaan Bani Saud.

Benarkah Ziarah Kubur Nabi Haram?

Kedua, benarkah bahwa ziarah ke kubur Nabi itu haram, termasuk kepada jamaah haji?

Sebelum membahas hukumnya, kita coba pahami perkataan dari para polisi di depan masjid Nabawi ini. Mereka berkata; “Haram, haram, haram!”.

Apakah mereka melarang ziarah ke kubur Nabi, atau melarang berlama-lama berdiri di depan kubur Nabi, karena akan menimbulkan kemacetan?

Jika larangan itu maksudnya adalah larangan ziarah kubur Nabi, dan larangan itu secara resmi ditetapkan pemerintah Arab Saudi sekarang, maka justru hal itu sangat bertentangan dengan pandangan mayoritas ulama, termasuk seluruh ulama madzhab Hanbali.

Abu Ya’la al-Hanbali (w. 458 H): Seharusnya Khadimul Haramain Mengajak Para Jamaah Haji Untuk Ziarah ke Kubur Nabi

Salah seorang ulama berpengaruh madzhab Hanbali abad ke-5; Abu Ya’la al-Farra’ dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyyah menjelaskan bahwa salah satu tugas khalifah adalah menunjuk wali haji/ kementrian bidang haji.

Salah satu tugas dari wali haji itu adalah mengajak para jamaah haji untuk ziarah ke kubur Nabi. Beliau menyebutkan:

فإذا عاد بهم سار على طريق المدينة لزيارة قبر رسول الله - صلى الله عليه وسلم-، رعاية لحرمته، وقياما بحقوق طاعته. وإن لم يكن ذلك من فروض الحج فهو من مندوبات الشرع المستحبة، وعادات الحجيج المستحسنة

Ketika selesai haji, wali haji bertugas mengajak para jamaah haji ke Madinah untuk ziarah kubur Nabi. Hal itu demi menjaga kehormatan Nabi, dan mengamalkan ketaatan kepadanya.

Meski ziarah kubur Nabi bukan termasuk fardhu haji, tetapi hal itu termasuk kesunnahan syariat yang disukai, dan termasuk kebiasaan jamaah haji yang bagus. (Abu Ya’la al-Farrra’ al-Hanbali w. 458 H, al-Ahkam as-Sulthaniyyah, h. 111).

Jika pemerintah Arab Saudi sekarang melarang ziarah kubur Nabi, justru malah bertentangan dengan perintah dari ulama Hanbali terdahulu.

Mayoritas Ulama Salaf Hanbali Menganjurkan Ziarah Kubur Nabi

Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali (w. 620 H)

Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hanbali (w. 620 H) bisa dikatakan ulama yang representetatif dalam mewakili madzhab Hanbali. Dalam kitabnya al-Mughni beliau menyebutkan:

فصل: ويستحب زيارة قبر النبي - صلى الله عليه وسلم -قال: «ما من أحد يسلم علي عند قبري، إلا رد الله علي روحي، حتى أرد عليه السلام»

Disunnahkan ziarah kubur Nabi Muhammad Shallaallahu alaihi wa sallam. (Ibnu Quddamah al-Hanbali w. 620 H, al-Mughni, h. 3/ 477)

Abdurrahman Bahauddin al-Maqdisi al-Hanbali (w. 624 H)

Ulama madzhab Hanbali yang lain adalah Syeikh Abdurrahman Bahauddin al-Maqdisi al-Hanbali (w. 624 H). Beliau menyebutkan dalam kitabnya al-Umdah:

ويستحب لمن حج زيارة قبر النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وقبري صاحبيه -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا-

Disunnahkan bagi orang yang berhaji untuk ziarah ke kubur Nabi Muhammad dan dua shahabatnya; Abu Bakar dan Umar bin Khattab (Abdurrahman bin Ibrahim al-Maqdisi al-Hanbali w. 624 H, al-Uddah, h. 231)

Syamsuddin Abu al-Faraj al-Hanbali (w. 682 H)

Syeikh Syamsuddin Abu al-Farraj al-Hanbali (w. 682 H) juga persis menyebutkan kesunnahan ziarah kubur Nabi. Berikut kutipannya:

مسألة (فإذا فرغ من الحج استحب زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم وقبر صاحبيه رضي الله عنهما) تستحب زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم

Ketika seorang telah selesai ibadah haji, disunnahkan untuk ziarah ke kubur Nabi Muhammad dan dua shahabatnya; Abu Bakar dan Umar (Syamssuddin Abu al-Faraj al-Hanbali w. 682 H, as-Syarh al-Kabir, h. 3/ 494).

Ibrahim ibn Muflih al-Hanbali (w. 884 H)

Ibnu Muflih al-Hanbali (w, 884 H) dalam kitabnya al-Mubdi’ menyebutkan:

(وإذا فرغ من الحج استحب له زيارة قبر النبي - صلى الله عليه وسلم)

Ketika selesai haji, maka disunnahkan untuk ziarah ke kubur Nabi Muhammad (Ibn Muflih al-Hanbali w. 884 H, al-Mubdi’, h. 3/ 236).

Alauddin al-Mardawi al-Hanbali (w. 885 H)

Al-Mardawi al-Hanbali (w. 885 H) bahkan berani menyimpulkan bahwa semua ulama madzhab Hanbali sepakat bahwa ziarah kubur Nabi itu hukumnya sunnah, baik Hanbali terdahulu maupun belakangan. Beliau menyebutkan:

فإذا فرغ من الحج: استحب له زيارة قبر النبي - صلى الله عليه وسلم - وقبر صاحبيه هذا المذهب وعليه الأصحاب قاطبة، متقدمهم ومتأخرهم

Setelah selesai haji, maka sunnah hukumnya ziarah kubur Nabi. Ini adalah pendapat madzhab Hanbali dan semua ulama Hanabilah, baik yang terdahulu maupun yang belakangan. (Alauddin al-Mardawi al-Hanbali w. 885 H, al-Inshaf fi Ma’rifat ar-Rajih min al-Khilaf, h. 4/ 53).

Imam al-Mardawi (w. 885 H) ini memang terkenal dalam madzhab Hanbali, sebagai ulama yang mengumpulkan semua riwayat dari pendapat Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H). Lantas beliau pilih mana yang dianggap kuat dari semua riwayat itu. Beliau kumpulkan dalam kitab al-Inshaf fi Ma’rifat ar-Rajihi min al-Khilaf.

Musa bin Ahmad al-Hajawi al-Hanbali (w. 968 H)

Ulama Hanbali lain adalah Musa bin Ahmad al-Hajawi (w. 968 H). Beliau menyebutkan:

فصل إذا فرغ من الحج استحب له زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم وقبري صاحبيه رضي الله عنهما

Setelah selesai melakukan ritual ibadah haji, maka jamaah haji disunnahkan untuk ziarah ke kubur Nabi Muhammad dan kubur dua shahabatnya; Abu Bakar dan Umar. (Musa bin Ahmad al-Hajawi al-Hanbali w. 968 H, al-Iqna, h. 1/ 395, lihat pula: Zad al-Mustaqni’ fi Ikhtishar al-Muqni’, h. 94).

Ibnu an-Najjar al-Hanbali (w. 972 H)

Ulama Hanbali lainnya yang menyatakan bahwa ziarah kubur Nabi itu hukumnya sunnah adalah Syeikh Ibn an-Najjar al-Hanbali (w. 972 H). Beliau menyatakan:

وسن دخول البيت بلا خف وبلا سلاح وزيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم وقبر صاحبيه رضي الله تعالى عنهما فيسلم عليه

Disunnahkan ziarah kubur Nabi Muhammad dan dua shahabatnya; Abu Bakar dan Umar. Lalu mengucapkan salam kepadanya. (Ibn an-Najjar al-Hanbali w. 972 H, Muntaha al-Iradat, h. 2/ 171)

Mar’i bin Yusuf al-Karmi al-Hanbali (w. 1033 H)

Hampir sama yang dinyatakan oleh Syeikh Mar’i bin Yusuf al-Hanbali (w. 1033 H):

وسن: زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم وقبري صاحبيه رضوان الله عليهما

Disunnahkan ziarah kubur Nabi Muhammad dan kubur dua shahabatnya (Mar’i bin Yusuf al-Karmi al-Hanbali w. 1033 H, Dalil at-Thalib, h. 110)

Manshur bin Yunus al-Buhuti (w. 1051 H)

Manshur bin Yunus al-Buhuti al-Hanbali (w. 1051 H) dalam ketiga kitabnya; ar-Raudh al-Murbi’, Syarh Muntaha al-Iradat dan Kasyaf al-Qina’ menyampaikan kesunnahan ziarah kubur Nabi:

ويستحب زيارة قبر النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وقبر صاحبيه - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

Disunnahkan ziarah kubur Nabi dan dua shahabatnya. (Manshur bin Yunus al-Buhuti w. 1051 H, ar-Raudh al-Murbi’, h. 283).

(و) يستحب له (زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم وقبر صاحبيه رضي الله تعالى عنهما)

Disunnahkan ziarah kubur Nabi dan dua shahabatnya. (Manshur bin Yunus al-Buhuti w. 1051 H, Syarh Muntaha al-Iradat, h. 1/ 593).

فصل وإذا فرغ من الحج استحب له زيارة النبي - صلى الله عليه وسلم - وقبري صاحبيه أبي بكر وعمر

Setelah selesai dari haji, maka disunnahkan untuk ziarah Nabi dan kubur kedua shahabatnya; Abu Bakar dan Umar (Manshur bin Yunus al-Buhuti w. 1051 H, Kasyaf al-Qina’, h. 2/ 514).

Mushtafa bin Saad ar-Rahaibani al-Hanbali (w. 1243 H)

Sampai kepada ulama Hanbali abad ke-13 juga menyampaikan kesunnahan ziarah kubur Nabi. Syeikh Mushtafa bin Saad al-Hanbali (w. 1243 H) menyebutkan:

فصل (وسن زيارة قبر النبي - صلى الله عليه وسلم - وقبري صاحبيه) أبي بكر وعمر

Disunnahkan ziarah kubur Nabi dan dua shahabatnya (Mushtafa bin Saad al-Hanbali w. 1243 H, Mathalib Ulin Nuha, h. 2/ 440)

Ulama Hanbali Sepakat Kesunnahan Ziarah Makam Nabi Setelah Haji

Dari paparan pernyataan berbagai ulama Hanbali diatas, kita dapati kesimpulan awal, hampir semua ulama madzhab Hanbali menyatakan bahwa ziarah makam Nabi dan kedua shahabatnya bukanlah hal yang dilarang, bukan pula perbuatan syirik.

Malah ziarah makam Nabi itu hukumnya sunnah, dan sudah menjadi tugas khadimul haramain / pelayan dua kota suci untuk mengajak jamaah haji berziarah ke kubur Nabi dan dua shahabatnya; Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Apakah dengan begitu, para ulama Hanbali diatas pantas digelari Kuburiyyun? Para penyembah kuburan? Semoga kita tak mudah termakan propaganda dan jargon.

Lantas siapakah ulama Hanbali panutan polisi Arab Saudi, yang melarang-larang ziarah kubur Nabi? Bagiamana dengan pandangan madzhab fiqih lain? Bagaimana pula dalil-dalilnya? Insyaallah pada tulisan berikutnya kita bahas. Wallahua’lam

Bagikan via


Baca Lainnya :

Nabi SAW Tidak Anti Kepada Non-Muslim
Ahmad Zarkasih, Lc | 5 November 2015, 05:26 | 3.018 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.206 views
Hakikat Memperingati Tahun Baru Islam
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 October 2015, 16:24 | 3.083 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 2.937 views
Batas Akhir Diperbolehkannya Takbiran Pada Hari Raya Ied
Muhammad Ajib, Lc | 27 September 2015, 08:15 | 1.632 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.337 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 753 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.640 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.581 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.206 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 2.937 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.047 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 4.873 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.560 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.772 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.843 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.604 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.551 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.573 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.864 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.892 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.080 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.351 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.758 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.772 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.737 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.152 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.634 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.257 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.147 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.532 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.471 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.569 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.852 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.693 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.113 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.134 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.221 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.378 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.339 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.702 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.312 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.066 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.652 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.227 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.552 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.284 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.839 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.520 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.695 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.343 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.505 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.508 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.910 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.158 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 4.919 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.211 views