Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis | rumahfiqih.com

Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Tue 5 July 2016 12:46 | 1968 views

Bagikan via

الله أكبر (x9) لا إله إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد .

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ، أشهد أنى إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله ، أدى الأمانة وبلغ الرسالة ، ونصح الأمة ، وجاهد في الله حق جهاده ، وتركنا على المحجة البيضاء، ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد، فيا أيها المسلمون، أصيكم وإياي بتقوى الله وطاعته في كل وقت لعلكم تفلحون. قال تعالى : { يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون}.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Idul Fitri ini ibarat agenda pertemuan tahunan bagi kita ummat Islam, terkhusus bagi kita masyarakat Palembang dan sekitarnya, utamanya yang tinggal di komplek ini. Ini adalah perkumpulan terbesar bagi kita, setelah kita dipertemukan dalam pertemuan kecil harian melalui ibadah shalat lima waktu, dan kita juga kadang bertemu dalam agenda mingguan berupa hadir dalam shalat jumat berjamaah.

Pagi ini kita berjumpa dengan sesama, yang mungkin sebelumnya kita jarang atau bahkan tidak pernah bertemu disini, di masjid ini, dalam agenda harian atau mingguan. Alhamadulillah, syukur kepada Allah swt, jika memang ternyata perkara wajib belum bisa mempertemukan kita dalam satu tempat, maka setidaknya kita pernah berkumpul disini dalam menjalankan perkara sunnah.

Kita khawatir jangan-jangan selama ini perkara maksiat dan dosa lebih banyak membuat kita tertarik untuk berkumpul bersama, dan lebih semangat  lagi, sehingga masjid yang ada disini seakan tertinggal/terabaikan. Naudzubillah min dzalik.

Dengan terus berharap bahwa mudah-mudahan Allah swt menguatkan langkah kaki kita kedepan untuk bisa terus bertemu di masjid ini, baik dalam agenda harian berupa shalat berjamaah lima waktu, juga dalam pertemuan mingguan berupa shalat jumat, juga dalam agenda-agenda lainnya yang ada di masjid ini.

Allahu akbar 3x

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Pada hari yang mulia ini umat Islam di barbagai belahan dunia beramai-ramai melantunkan kata-kalimat takbir, tahmid dan tahlil sebagai wujud rasa bahagia dalam menyambut hari kemenangan. Mereka semua berbahagia karena sebulan penuh telah berhasil melawan hawa nafsu serta mengisi detik-detik waktunya dengan berbagai macam bentuk kebaikan yang akan mendekatkan diri mereka kepada Allah swt. Berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, memperbanyak tilawah Al-Quran, berdo`a, beristighfar, berinfaq, bersedekah, menjalin hubungan silaturrahim, dan lain sebagainya, seraya berharap semua kebaikan tersebut diterima oleh Allah swt dan dapat memperpanjang catatan amalan kebaikan kita yang akan diperlihatkan di akhirat kelak.

Meskipun demikian ada satu hal yang harus diketahui bahwa kebahagiaan yang terpancar di raut wajah hari ini memiliki dua kemungkinan, sebagian dari mereka ada yang berbahagia karena memang sedang menyambut kemenangan dirinya sendiri, sementara sebagian yang lain ada pula yang berbahagia tapi sekedar ikut merayakan kemenangan orang lain. Dalam hal ini kita memang tidak dianjurkan untuk menilai orang lain, kita hanya dituntut untuk merenungkan diri kita masing-masing apakah kita sekarang benar-benar sedang merayakan kemenangan diri kita sendiri, ataukah sedang ikut berbahagia dalam menyambut kemenangan orang lain. Kita semua berharap semoga Allah swt memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada kita bersama, bukan kebahagiaan yang semu.  Amin.

Allahu akbar 3x

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

 

Di pagi hari yang damai ini, mari sejenak kita kembali mengenang salah satu cerita yang Al-Quran tuliskan, untuk bisa menjadi sumber inspirasi kita dalam hidup ini, yaitu salah satu potongan cerita sejarah kehidupan nabi Allah yang mulia, yang oleh Rasulullah saw disebut sebagai manusia mulia anak dari manusia mulia anak dari manusia mulia anak dari manusia mulia, dialah nabi Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim alaihimus salam.

 

Delapan puluh tahun hilang dari keluarga (walaupun ada riwayat lain yang mengatakan kurang dari sana) semenjak nabi Yusuf dibuang ke dalam sumur belum juga membuat rasa iri itu hilang dari dada saudara-saudaranya. Dan dalam waktu yang bersamaan selama delapan puluh tahun itu pula nabi Yusuf menuliskan kisahnya seorang diri, dalam sedih yang mengiris hati, terseok-seok, hingga takdirnya menjadi salah satu penguasa Mesir yang tinggal di Istana.

 

Dalam ketidaktahuan saudara-saudaranya, setelah delapan puluh tahun itu, akhirnya mereka sampai kepada nabi Yusuf yang sudah menjadi pejabat negara, nabi Yusuf tahu bahwa mereka itu adalah saudara-saudaranya yang dulu membuangnya ke dalam sumur. Mereka datang dengan membawa hajat agar diberi makanan pokok, guna melanjutkan kehidupan dalam suasana kemarau panjang. Alhamdulillah hajat pun dipenuhi.

 

Beberapa waktu kemudian mereka datang kembali bersama Binyamin, dengan sedikit “sandiwara” akhirnya orang-orang istana mengumumkan bahwa shuwa al-malik (piala raja) hilang dicuri. Siapa yang mencurinya maka dialah yang harus bertanggung jawab. Padahal piala raja itu sengaja diletakkan dikeranjang yang dibawa oleh Benyamin. Mula-mula yang diperiksa adalah saudara-saudara yang dulunya membuang nabi Yusuf ke dalam sumur, dan barang itu tidak ada, lalu tiba akhirnya keranjang Benyamin yang diperiksa, dan persis piala itu ada  disana.

 

Dalam kegelisan setelah digledah tersebut, masih sempat-sempatnya mereka (saudara-saudara nabi Yusuf) berkomentar pedas:

 

 قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ

“Jika memang dia (Binyamin) mencuri, maka sungguh dulu saudaranya (maksudnya Yusuf) juga pernah mencuri”

 

Mendengar kata-kata pedas dari saudaranya itu, nabi Yusuf hanya bisa mengelus dada, bahwa 80 tahun dari hilangnya nabi Yusuf, rasa iri dan dengki di hati saudara-saudaranya  belum juga hilang, memang dahulu kala “katanya” Yusuf pernah mencuri patung milik kakeknya untuk dihancurkan, atau “katanya” nabi Yusuf pernah mencuri makanan untuk memberi makan orang fakir, sekali lagi semua kabar itu yang bersifat “dugaan” tidak terbukti sama sekali, sehingga wajar jika nabi Yusuf tidak terima dengan tuduhan keji seperti itu, namun kekesalan nabi Yusuf as itu oleh Al-Quran digambarkan dengan dengan sangat baik sekali:

 

 فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ

“Maka nabi Yusuf menyembunyikan kekesalannya didalam hati dan tidak menampakkannya kepada mereka”

 

Nabi Yusuf cukup berkata didalam hatinya:

 

 قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ  

“Memang kalian mempunyai kedudukan (sifat) yang buruk, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu terangkan itu”

 

Demikian, secara ringkas Al-Quran mengabadikannya dalam QS. Yusuf: 77.  Dari cerita ini setidaknya ada tiga poin penting yang bisa kita ambil di pagi ini:

 

Pertama: Ujian hidup beragama itu beragam. Selama ini kita sudah sangat sadar sebenarnya bahwa seorang muslim itu jika sudah baligh/sampai umur, maka ketika itu dia diberi banyak beban, didalam istilah fikih dia disebut dengan mukallaf/dibebani. Semenjak saat itu hidup bebas tanpa batas karena alasan masa kanak-kanak sudah selesai. Dalam tahap ini agama sudah memperlakukan seorang muslim sebagai manusia dewasa, dimana segala prilakunya akan dimintai pertanggung jawaban.

 

Allah swt dalam QS. Al-Insyiqaq: 6, berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan bersusah payah menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya”

 

Pertemuan kita dengan Allah swt itu pasti, tidak ada keraguan didalamnya, meragukanya artinya keimanan kita belum sempurna, sejarah kehidupan manusia yang penuh kesusahan dalam menyelesaikan beban-beban itulah yang nanti akan ditanya, pasti ditanya, jika kita berhasil menyelesaikan beban-beban itu dengan baik, walaupun terseok-seok disana-sini, maka hasilnya adalah kenikmatan abadi yang Allah swt siapkan di syurga sana.

 

Kita sadar betul, misalnya, bahwa shalat dan puasa itu adalah beban bagi seorang muslim/ah, menjalankanya memang harus bersusah payah, semua orang yang berpuasa itu lapar, haus, capek, namun bagi yang yakin betul akan pastinya berjumpa dengan Allah swt setidaknya akan membuat mereka takut, karenanya mereka  mau berkorban jiwa dan waktu, dan bersusah-payah untuk melaksanakanya, sembari berharap kehidupan yang baik untuk akhirat. Namun jika beban-beban itu tidak bisa diselesaikan dengan baik, lantaran tidak mau berkorban untuk bersusah-payah dalam menjalankannya, maka untuk yang seperti ini Allah swt juga sudah menyiapkan adzab yang sangat pedih.

 

Untuk itu, menjalankan agama ini memang harus bersumber dari hati yang paling dalam agar hasilnya baik, agama adalah pilihan, siapa yang ingin beriman maka berimanlah dan barang siapa yang ingin kafir maka silahkan, begitu kata Allah swt, namun tanggung sendiri nanti akibatnya ketika berjumpa dengan Allah swt. Malaikat Jibril as sekali waktu juga pernah berpesan kepada baginda dimana pesan itu juga sebenarnya untuk semua kita ummatnya: “Hiduplah sesuka mu, namun ingat kamu pasti mati, dan cintailah siapa saja yang kamu mau, namun ingat kalian pasti berpisah, dan berbuatlah sesuka hatimu, namun ingat kalian pasti bertemu Allah swt”.

 

Nabi Yusuf as adalah salah satu dari dua belas orang anak laki-laki nabi Ya’qub, sejarawan mencatat bahwa hanya beliau sendirilah yang dipilih oleh Allah swt untuk mengemban beban tambahan menjadi nabi dan rasul. Bayangkan dari kecil beliau sudah bersusah payah, bahkan terseok-seok memegang ajaran agama, beban agama yang kita pikul sekarang belum seujung kuku dari beban agama yang diemban oleh beliau dan para nabi yang lain.

 

Jangan cengeng menjadi muslim, diuji dengan shalat tidak kuat, diuji dengan puasa tidak kuat, diuji dengan zakat tidak kuat. Untuk perkara yang wajib terkadang kita tidak kuat melakukannya, namun untuk perkara mubah; menonton bola, ke pasar berjam-jam, rekreasi mendaki gunung nun jauh itu sanggup untuk dilakukan. Dan terkadang, naudzubillah, justru untuk perkara makruh dan haram banyak juga diantara kita yang sanggup, sigap dan berani terang-terangan melakukannya.

 

Mudah-mudahan hasil didikan ramadhan tidak hilang begitu saja sembari terbenamnya bulan ramadhan. Mudah-mudahan semangat ke masjid tidak hilang, semangat membaca Al-Quran setiap hari tidak hilang, semangat berbagi makanan dan harta tidak hilang, kejujuran semakin terpatri kedalam jiwa, kesabaran semakin bertambah, daya juang semakin tinggi dan keikhlasan semakin terjaga.  

 

Allahu akbar 3x

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

 

Kedua: Konflik bersaudara itu memang ada. Orang tua boleh sama, namun setiap anak akan membawa tabiatnya sendiri. Sekali waktu Yusuf berkata kepada ayahnya Ya’qub as:

 إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

“(ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."

 

Mimpi itu hadir ketika Yusuf masih kecil, belum baligh, sebelas bintang yang dimaksud oleh Al-Quran adalah isyarat untuk sebelas saudara Yusuf yang lainnya, sedang matahari dan bulan adalah isyarat untuk ayah dan ibunya. Setelah Ya’qub mendengar cerita mimpi anaknya tersebut, dalama firasat seorang nabi, Ya’qub meyakini bahwa nanti Yusuf ini akan menjadi orang besar, dimana kelak saudara-sauranya bahkan ayah dan ibu sendiri akan sujud/hormat kepadanya.

 

Untuk itu, Ya’kub berpesan, janganlah kiranya mimpi ini diceritakan kepada yang lain, termasuk jangan juga diceritakan kepada saudara-saudara yang lain, karena hati manusia siapa yang tahu, dan bahwa syaitan bisa saja berbisik sepanjang waktu, agar muncul rasa iri dan dengki terhadap saudara sendiri yang difirasati akan sukses dikemudian hari.

 

Dalam kehidupan ini, memang tidak semuanya harus ditampakkan, bersikaplah biasa-biasa saja, bukan karena pelit, hanya karena ingin menjaga hati dan perasan orang lain agar tetap stabil, karena setiap orang yang diberi kenikmatan itu berpotensi untuk diri dan didengki oleh yang lain. Terlebih didunia media sosial sekarang ini, tidak semua harus ditampakkan disana, tidak semua foto harus di posting, tidak semua menu makanan diperlihatkan, dan tidak semua kemesrahan serta kesuksesan harus dipertontonkan, biasa-bisa saja, karena segala apa yang ad dengan kita ini hanyalah pemberian dan titipan Allah swt serta ujiannnya, yang kapanpun bisa diambil olehNya, dan yang pasti Allah swt akan meminta pertanggungjawaban untuk semua kenikmatan dan fasilitas hidup yang kita pakai di bumi ini.

 

Imam At-Thabrani meriwayatkan sebuah pesan Rasulullah saw yang cukup bijak:

 

استعينوا على قضاء حوائجكم بكتمانها فإن كل ذي نعمة محسود

“Minta tolong kalian semua dalam hal menyelesaikan hajat hidup kalian dengan menyembunyikannya, karena sungguh orang-orang yang diberi kenikmatan itu akan diri dan didengki”    

 

Selanjutnya berbagi kenikmatan adalah salah satu cara berikutnya untuk meredam sifat iri dan dengki dari sesama, karenanya salah satu tujuan zakat, infak dan shadaqah itu adalah untuk menciptakan keseimbangan sosial dimasyarakat, jangan sampai orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin, ketimpangan sosial seperti ini berpotensi menyulut api kebencian dan peperangan antara kaum kaya vs kaum tidak berdaya.

 

Memang berbagi menu berbuka puasa itu sangat sederhana, namun dampak dan hasil dari perilaku berbagi itu, walaupun ala kadarnya, sangat luar biasa. Akan tetapi sayang beribu kali sayang barang kali tidak banyak yang mau berbagi menu berbuka, jika berbagi hal yang kecil ini saja kita tidak kuasa, maka ini isyarat bahwa bibit-bibit iri dan dengki itu menjamur disekeliling kita.

 

 Allahu akbar 3x

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

 

Ketiga: Perihal kesalahan dan dosa sesama saudara, maafkan saja. Dipisahkan dari orang tua, dibuang ke sumur, delapan puluh tahun hidup sendiri hingga berdarah-darah dan masuk penjara, ini semua akibat persekongkolan saudara sendiri yang dirasakan oleh nabi Yusuf as., namun sedikitpun tidak ada terbersit niat untuk balas dendam tehadap saudara sendiri, munkin nabi Yusuf as mewarisi sifat mulia Habil anaknya nabi Adam as, saat dimana Qabil berniat ingin membunuhnya karena iri dan dengki, namun Habil dengan penuh sadar berujuar:

 

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

"Sungguh kalau kamu (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku (Habil) untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (QS. Al-Maidah: 28)

Mengomentari ayat ini, patut disimak sebuah hadits Rasulullah saw dalam riwayat Imam Ahmad, dari kesaksian sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa Rasululllah saw pernah bersabda:

"إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي"

“Akan tiba suatu saat nanti zaman yang penuh fitnah, orang yang duduk saat itu lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang berlari”

. قَالَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ دَخَلَ عَلَيَّ بَيْتِي فَبَسَطَ يَدَهُ إليَّ لِيَقْتُلَنِي

Lalu sahabat Saad bin Abi Waqqash bertanya: “Bagaimana jika ada orang yang masuk rumahku dan dia hendak membunuhku?” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab:

"كُنْ كَابْنِ آدَمَ"

“Jadilah seperti anak Adam (Habil)”

Memang sulit bagi kita untuk memastikan kapan terjadinya zaman yang penuh fitnah itu. Namun para ulama tafsir selalu menyandingkan hadits ini dan hadits-hadits yang senada lainnya dengan ayat Al-Quran yang menceritakan tragedi pembunuhan dua bersaudara; Qabil dan Habil. Mungkin ini isyarat yang difahami oleh para ulama bahwa zaman fitnah itu adalah zaman dimana sesama saudara saling caci, saling benci, saling iri, saling hasut, saling adu mulut, saling ribut, hingga sampai pada tahap saling membunuh.

Lebih lanjut, dalam waktu yang bersamaan Al-Quran juga menyebut bahwa sesama muslim umumnya adalah bersaudara, walau tidak dilahirkan dari rahim yang sama (QS. Al-Hujurat: 10), walau bersaudara namun akhir-akhir ini sangat terasa sekali aroma permusuhan sesama kita, seakan mudah sekali mulut kita berucap bahwa si fulan salah, si fulan begok, si fulan sesat, si fulan kafir, hanya kelompok kami yang benar, hanya kelompok kami yang boleh berfatwa, dst.

Ini zaman dimana “ribut” dinomorsatukan ketimbang saling memahami, ini zaman dimana perkara khilaf dijadikan perkara ijma’, sehingga suatu kelompok yang bebeda degan kelompoknya pasti dianggap salah. Ini zaman dimana “orang lain” lebih dicintai ketimbang saudara sendiri, ini zaman dimana pedang lebih mudah menggorok saudara sendiri ketimbang musuh yang jelas-jelas nyata.

Cerita Habil adalah cerita dimana yang terbunuh jauh lebih mulia dari pada yang membunuh. Pun begitu dengan cerita nabi Yusuf as, ini adalah cerita dimana orang yang diri dan didengki jauh lebih sukses ketimbang mereka yang membenci. Sesama saudara, Habil lebih memilih jalur damai walaupun sebenarnya Habil berada dalam pihak yang benar. Sesama saudara nabi Yusuf as memilih memaafkan ketimbang membalas dendam, walaupun sebenarnya nabi Yusuf as benar.

 

Akhirnya persis di ayat ke 100 dari surat Yusuf, Al-Quran mempertegas:

 

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ  

“dan ia (Yusuf) menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud/hormat kepada Yusuf. dan Yusuf berkata: "Wahai ayahku Inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”

 

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

------------------------------

  • Disampaikan pada khutbah Idul Firi 1437 H, di masjid Qiblatin, Palembang, Sumatera Selatan.
  • Jika hanya memakai satu kali khutbah maka setelahnya boleh langsung ditutup dengan doa. Namun jika memakai dua kali khutbah, maka khutbah yang kedua samakan saja dengan khutbah kedua yang sering dipakai dalam shalat jumat.

Bagikan via


Baca Lainnya :

Menyentuh Kemaluan, Apakah Membatalkan Wudhu?
Aini Aryani, Lc | 22 June 2016, 04:55 | 2.588 views
Perjalanan Pulang Ke Indonesia Menjelang Ramadhan; Ikut Awal Puasa Negara Setempat Atau Indonesia?
Firman Arifandi, LLB | 4 June 2016, 17:48 | 1.690 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 3.365 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.479 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.235 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 December 2016, 06:29 | 836 views
Peruntukan Daging Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 September 2016, 15:47 | 1.601 views
Beberapa Hal yang Disukai Dalam Penyembelihan Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 September 2016, 09:13 | 1.579 views
Menjual Kulit dan Memberi Upah Panitia Qurban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 September 2016, 10:34 | 1.756 views
Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 August 2016, 11:47 | 2.156 views
Sifat Shalat: Membaca Doa Iftitah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 August 2016, 11:45 | 1.612 views
Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 1.157 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 1.968 views
Tiga Kelompok Manusia di Bulan Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 June 2016, 09:15 | 2.479 views
Israk dan Mikraj Dalam Tinjauan Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 6 May 2016, 05:00 | 2.235 views
4 Hal Terkait Niat Puasa Ramadhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 30 April 2016, 12:05 | 2.164 views
Nafkah Istri dan Orang Tua, Mana yang Harus Diutamakan?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 18 March 2016, 22:07 | 1.853 views
Jadilah Seperti Anak Adam (Habil)
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 March 2016, 10:21 | 1.165 views
Tanda Tangan Mewakili Tuhan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2016, 09:00 | 1.386 views
Darah Karena Keguguran, Istihadhah atau Nifas?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 25 November 2015, 00:00 | 1.772 views
Belum Aqiqah Tidak Boleh Berqurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 September 2015, 15:11 | 4.523 views
Patungan Siswa Apakah Bisa Disebut Qurban?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 September 2015, 12:13 | 3.984 views
Shalat Dhuha Berjamaah, Bolehkah Hukumnya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 August 2015, 12:06 | 3.887 views
Hanya Tahu Hak dan Lupa Kewajiban
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 August 2015, 06:00 | 2.170 views
Bagaimana Cara Mandi Wajib Yang Benar?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 13 August 2015, 12:24 | 4.895 views
Wasiat Harta Al-Marhum
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 August 2015, 11:34 | 2.041 views
Harus Qadha Dulu Baru Boleh Puasa Syawal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 August 2015, 12:20 | 2.741 views
Siapa Saja Yang Wajib Kita Nafkahi?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 July 2015, 12:44 | 2.892 views
Perempuan: Tarawih Di Rumah atau Di Masjid?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 June 2015, 05:00 | 4.064 views
Qiyamul Lail, Tarawih dan Tahajjud
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 22 June 2015, 06:00 | 4.918 views
Melafazkan Niat Puasa Sesudah Sholat Tarawih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 June 2015, 13:45 | 4.117 views
Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 September 2014, 11:26 | 36.103 views
Tafsir Pendidikan: Bismillah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 September 2014, 10:52 | 4.910 views
Menunggu Hasil Sidang Itsbat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 June 2014, 09:04 | 3.419 views
Mengapa Langsung Iqamah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 April 2014, 05:00 | 10.861 views
Aqad dan Resepsi
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 27 March 2014, 11:19 | 4.900 views
Mengapa Bagian Istri Lebih Sedikit Ketimbang Saudara?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 March 2014, 05:06 | 4.461 views
Label Halal Makanan, Pentingkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 3 March 2014, 06:20 | 4.523 views
Imam Malik bin Anas; Ulama High Class
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 February 2014, 05:56 | 4.818 views
Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 9 February 2014, 06:00 | 7.830 views
Haruskah Membiayai Walimah Dengan Harga Yang Mahal?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 February 2014, 06:02 | 4.141 views
Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 1 February 2014, 06:00 | 4.161 views
Ijab dan Qabul
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 January 2014, 07:25 | 6.524 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 21 January 2014, 08:44 | 4.478 views
Tidak Semua Harus Menjadi Mujtahid
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 28 December 2013, 01:01 | 4.122 views
Huruf Waw dan Pengambilan Hukum Fiqih
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 14 December 2013, 17:16 | 3.967 views
Lahir Sebelum Enam Bulan Usia Pernikahan, Bagaimanakah Perwaliannya?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 October 2013, 06:24 | 8.695 views
Madzhab Ustadz
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 26 October 2013, 13:02 | 4.857 views
Edisi Tafsir: Wanita Baik Untuk Laki-Laki yang Baik
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 24 October 2013, 05:26 | 13.928 views
Hak Waris Anak Dalam Kandungan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 11 October 2013, 07:49 | 4.075 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 2 August 2013, 08:03 | 3.509 views
Suntik: Apakah Membatalkan Puasa?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 July 2013, 14:25 | 4.365 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.856 views
Nasihat Cinta Dari Seorang Guru
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 7 June 2013, 06:54 | 4.442 views
Percobaan Akad Nikah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 4 May 2013, 11:15 | 4.531 views
Main Hape Saat Khutbah Jumat
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 23 April 2013, 06:55 | 5.516 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.912 views
Habis Aqad Nikah Langsung Talak
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 29 March 2013, 08:42 | 4.164 views
Sholatnya Orang Mabuk
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 February 2013, 15:59 | 4.576 views
Tanda Orang Faham (Faqih) itu Pendek Khutbahnya
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 15 February 2013, 10:42 | 5.100 views
Sholat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah, Seberapa Penting?
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 8 February 2013, 10:17 | 35.185 views
Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam Penjelasan al-Quran
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 10 January 2013, 18:28 | 4.495 views