Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku | rumahfiqih.com

Tidak Boleh Potong Rambut dan Kuku

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Tue 30 August 2016 11:47 | 2156 views

Bagikan via

Bagi mereka yang mempunyai niat berqurban, penting juga untuk memperhatikan beberapa sabda Rasulullah saw berikut ini, juga sabda-sabda beliau yang lain yang mempunyai kemiripan secara redaksi, diantaranya:

«إذَا دَخَلَ الْعَشْرُ فَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا»

“Jika sudah masuk sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah, dan salah satu diantara kalian ada yang ingin berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) dari rambutnya dan kulitnya” (HR. Muslim )

«إذا دخل العشر وعنده أضحية يريد أن يضحي، فلا يأخذن شعرا، ولا يقلمن ظفرا»

“Jika sudah masuk sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah dan salah satu diantara kalian ada yang ingin berqurban, maka janganlah dia sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan jangan pula dia sekali-kali memotong kukunya” (HR. Muslim )

«إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره»

“Jika kalian melihat hilal Dzulhijjah, dan diantara kalian ada yang ingin berqurban, maka hendaklah dia menahan (tidak memotong) sebagian rambutnya kukunya” (HR. Muslim)

Ketiga hadits diatas semuanya melewati jalur dari Ummu Salamah, dengan beberapa perbedaan kecil secara redaksional lafazh hadits. Mengomentari hadits-hadits diatas, Imam An-Nawawi, salah seorang ulama yang bermadzhab As-Syafii, juga sebagai penulis kitab yang menjelaskan hadits-hadits dalam kitab Shahih Muslim (13/138), memaparkan bahwa para ulama berbeda pendapat perihal hukum memotong rambut dan kuku bagi siapa yang ingin berqurban:

Imam Said bin Musayyib, Rabiah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian (kecil) ulama dari madzhab As-Syafii berpendapat bahwa haram hukumnya bagi dia yang ingin berqurban untuk memotong rambut dan kukunya, sehingga dia menyembelih hewan qurbannya.

Namun pendapat Imam As-Syafii dan para ulama syafiiyah yang lainnya bahwa memotong rambut dan kuku bagi dia yang ingin berqurban hukumnya hanya sebatas makruh tanzih bukan haram.

Sedangkan pendapat Imam Abu Hanifah bahwa hukumnya tidak makruh, boleh-boleh saja. Dan pendapat Imam Malik, sekali waktu ada riwayat yang menjelaskan bahwa hukumnya tidak makruh (boleh), lain waktu ada riwayat yang mengatakan bahwa hukumnya makruh, dan pada lain kesempatan ada juga riwayat yang menjelaskan bahwa hukumnya haram.

Lebih lanjut, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dalil mereka yang berpendapat bahwa haram hukumnya memotong rambut dan kuku (bagi mereka yang ingin berqurban) adalah hadits-hadits diatas. Sedangkan Imam As-Syafii dan yang lainnya bersandarkan pendapatnya kepada penjelasan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, berkata:

كُنْتُ أَفْتِلُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يقلده ويبعث به ولايحرم عَلَيْهِ شَيْءٌ أَحَلَّهُ اللَّهُ حَتَّى يَنْحَرَ هَدْيَهُ

“Dahulu, aku (Aisyah) memintal tali untuk kalung hewan qurban Rasulullah saw, lalu kemudian Rasulullah saw mengalungkannya dan mengutusnya (ketempat penyembelihan) dan tidak ada hal yang diharamkan oleh Rasulullah saw apa yang sudah dihalalkan oleh Allah swt hingga beliau (Rasulullah saw) menyembelih hewan qurbannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Gabungan dari hadits Ummu Salamah dan hadits Aisyah ini pada akhirnya membuahkan kesimpulan, khususnya bagi Imam As-Syafii dan para ulama lainnya yang berpendapat bahwa hukum tidak memotong memotong rambut dan kuku bagi mereka yang ingin berqurban adalah sunnah, dan meninggalkannya adalah makruh tanzih bukan haram.

Dan hikmah dari dianjurkannya untuk tidak memotong rambut dan kuku, baik rambut kepala, ketiak, kumis, bulu kemaluan, dan rambut/bulu anggota badan lainnya,  tulis Imam An-Nawawi lebih lanjut adalah, agar supaya anggota badan tetap lengkap/sempurna untuk dibebaskan dari api neraka,  namun ada juga yang berpendapat bahwa yang demikian dimaksudkan agar menyerupai orang yang sedang berihram (haji), dimana mereka juga dilarang untuk memotong rambut dan kuku selama dalam kondisi ihram (haji), walaupun penyamaan ini dinilai lemah.

Berikut teks asli dari Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Al-Muslim, jilid 13, hal. 138-139:

 [1977] قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِذَا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحى فلايمس من شعره وبشره شيئا) وفى رواية فلايأخذن شعرا ولايقلمن ظُفُرًا وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِيمَنْ دَخَلَتْ عَلَيْهِ عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ فَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ وَرَبِيعَةُ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَدَاوُدُ وَبَعْضُ أصحاب الشافعى أنه يحرم عليه أخذ شئ مِنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ فِي وَقْتِ الْأُضْحِيَّةِ  وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَصْحَابُهُ هُوَ مَكْرُوهٌ كَرَاهَةَ تنزيه وليس بحرام وقال أبو حنيفة لايكره  وقال مالك فى رواية لايكره وَفِي رِوَايَةٍ يُكْرَهُ وَفِي رِوَايَةٍ يَحْرُمُ فِي التَّطَوُّعِ دُونَ الْوَاجِبِ

وَاحْتَجَّ مَنْ حَرَّمَ بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيُّ وَالْآخَرُونَ بِحَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كُنْتُ أَفْتِلُ قَلَائِدَ هَدْيِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يقلده ويبعث به ولايحرم عَلَيْهِ شَيْءٌ أَحَلَّهُ اللَّهُ حَتَّى يَنْحَرَ هَدْيَهُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ قَالَ الشَّافِعِيُّ الْبَعْثُ بِالْهَدْيِ أَكْثَرُ مِنْ إِرَادَةِ التَّضْحِيَةِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لايحرم ذَلِكَ وَحَمَلَ أَحَادِيثَ النَّهْيِ عَلَى كَرَاهَةِ التَّنْزِيهِ قَالَ أَصْحَابُنَا وَالْمُرَادُ بِالنَّهْيِ عَنْ أَخْذِ الظُّفُرِ والشعر النهى عن إزالة الظفر بقلم أوكسر أَوْ غَيْرِهِ

وَالْمَنْعُ  مِنْ إِزَالَةِ الشَّعْرِ بِحَلْقٍ أَوْ تَقْصِيرٍ أَوْ نَتْفٍ أَوْ إِحْرَاقٍ أَوْ أَخْذِهِ بِنَوْرَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَسَوَاءُ شَعْرُ الْإِبْطِ وَالشَّارِبِ وَالْعَانَةِ وَالرَّأْسِ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ شُعُورُ بَدَنِهِ قَالَ إبراهيم المروزى وغيره من أصحابناحكم أَجْزَاءِ الْبَدَنِ كُلِّهَا حُكْمُ الشَّعْرِ وَالظُّفُرِ وَدَلِيلُهُ الرواية السابقة فلايمس مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا قَالَ أَصْحَابُنَا وَالْحِكْمَةُ فِي النَّهْيِ أَنْ يَبْقَى كَامِلَ الْأَجْزَاءِ لِيُعْتِقَ مِنَ النَّارِ وَقِيلَ التَّشَبُّهُ بِالْمُحْرِمِ قَالَ أَصْحَابُنَا هذا غلط لأنه لايعتزل النساء ولايترك الطِّيبَ وَاللِّبَاسَ وَغَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَتْرُكُهُ الْمُحْرِمُ

Penjelasan yang demikian juga akan ditemuka pada kitab fiqih Raudhah At-Thalibin (3/210), juga karangan Imam An-Nawawi, dalam kitab Imam Ar-Ramli, Nihayah Al-Muhtaj (8/132), juga dalam kitabnya Imam Al-Khatib As-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj (6/124), dst.

Lebih jelas, Imam Al-Mawardi, juga salah satu ulama dari madzhab As-Syafii, dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir, jilid 15, hal. 73-74, bahwa para ulama berbeda pendapat terkait hukum mengamalkan hadits larangan memotong rambut dan kuku bagi mereka yang ingin berqurban kedalam tiga pendapat:

Hukumnya Sunnah

Ini adalah pendapat dalam madzhab As-Syafii, bahwa hadits-hadits diatas maknanya dipalingkan ke makna sunnah bukan wajib, untuk itu maka sunnah hukumnya bagi siapa yang ingin berqurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya selama 10 hari pada bulan Dzulhijjah, kalaupun ada yang memotong rambut atau kukunya maka hukumnya makruh bukan harm.

Hukumnya Wajib

Ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih, bahwa hadits-hadits diatas maknanya adalah wajib, mengambil/memotong rambut dan kuku bagi siapa yang ingin berquran hukumnya harram, karena menyerupai mereka yang sedang berihram (haji).

Hukumnya Mubah

Maksudnya adalah memotong rambut dan kuku bagi mereka yang ingin berqurban hukumnya bukan sunnah bukan juga makruh. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, alasannya adalah keadaan mereka itu tidak sama dengan mereka yang sedang dalam kondisi ihram. Sehingga, jangankan hanya sebatas memotong rambut dan kuku, mereka yang tidak sedang dalam kondisi ihram itu halal baginya untuk berhubungan suami istri, apalagi hanya sebatas memotong rambut dan kuku.

Berikut teks aslinya dari kitab Al-Hawi Al-Kabir:

وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الْعَمَلِ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَذَاهِبَ:

أَحَدُهَا: - وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ - أنه مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ دُونَ الْإِيجَابِ، وَأَنَّ مِنَ السُّنَّةِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ أَنْ يَمْتَنِعَ فِي عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ مِنْ أَخْذِ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ، فَإِنْ أَخَذَ كُرِهَ لَهُ وَلَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ. وَهُوَ قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ.

وَالْمَذْهَبُ الثَّانِي: هُوَ قَوْلُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْوُجُوبِ وَأَخْذُهُ لِشَعْرِهِ وَبَشَرِهِ حَرَامٌ عَلَيْهِ، لِظَاهِرِ الْحَدِيثِ وَتَشْبِيهًا بِالْمُحْرِمِ.

وَالْمَذْهَبُ الثَّالِثُ: - وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ - لَيْسَ بِسُنَّةٍ وَلَا يُكْرَهُ أَخْذُ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ احْتِجَاجًا بِأَنَّهُ مُحِلٌّ، فَلَمْ يُكْرَهْ لَهُ أَخْذُ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ كَغَيْرِ الْمُضَحِّي، وَلِأَنَّ مَنْ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ الطِّيبُ وَاللِّبَاسُ لَمْ يَحْرُمْ عَلَيْهِ حَلْقُ الشَّعْرِ كَالْمُحِلِّ.

Takwil Hadits

Masih menurut penjelasan Imam Al-Mawardi, dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir (15/74), bahwa yang dimaksud dengan hadits:

فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“… maka jangalah kamu meyentuh (memotong) rambut dan kulitnya”

Ada dua penakwilannya menurut Imam As-Syafii: Pertama: Bahwa yang dimaksud dengan as-sya’ru  adalah rambut kepala, sedangkan yang dimaksud dengan al-basyrah adalah rambut/bulu badan. Kedua: Bahwa yang dimaksud dengan as-sya’ru adalah rambut kepala dan rambut/bulu badan, sedangkan yang dimaksud dengan al-basyrah adalah memotong kuku.

Berikut teks aslinya:

فَإِذَا ثَبَتَ أَنَّهُ سنةٌ فَفِي قَوْلِهِ: " فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا بَشَرِهِ شَيْئًا " تَأْوِيلَانِ ذَكَرَهُمَا الشَّافِعِيُّ: أَحَدُهُمَا: إِنَّهُ أَرَادَ بِالشَّعْرِ شَعْرَ الرَّأْسِ، وَبِالْبَشَرَةِ شَعْرَ الْبَدَنِ، فَعَلَى هَذَا لَا يُكْرَهُ تَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ. وَالتَّأْوِيلُ الثَّانِي: إِنَّهُ أَرَادَ بِالشَّعْرِ شَعْرَ الرَّأْسِ وَالْبَدَنِ، وَبِالْبَشَرَةِ تَقْلِيمَ الْأَظْفَارِ

Sehingg wajar saja jika seorang Imam Al-Khatib As-Syarbini, menuliskan dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj (6/124 ):

وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ شَعْرُ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ وَالشَّارِبِ وَالْإِبِطِ وَالْعَانَةِ وَغَيْرِهَا، بَلْ سَائِرُ أَجْزَاءِ الْبَدَنِ كَالشَّعْرِ كَمَا حَكَاهُ فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ عَنْ إبْرَاهِيمَ الْمَرْوَزِيِّ: وَاسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ مَا كَانَتْ إزَالَتُهُ وَاجِبَةً كَخِتَانِ الْبَالِغِ وَقَطْعِ يَدِ السَّارِقِ، وَالْجَانِي بَعْدَ الطَّلَبِ، وَمَا كَانَتْ إزَالَتُهُ مُسْتَحَبَّةً كَخِتَانِ الصَّبِيِّ.

Bahwa kesunnahan untuk tidak memotong rambut dan kuku juga berlalu untuk angota badan lainnya, baik rambut kepala, jenggot, kumis, rambut/bulu ketiak, rambut/bulu kemaluan, dll, pengecualiannya hanya jika anggota badan tersebut wajib dipotong seperti khitannya orang yang sudah dewasa, atau memotong tangan seorang pencuri, dan pelaku kriminal lainnya, atau memotong bagian yang sunnah untuk dipotong, seperti khitannya seorang bayi.

Dengan demikian bahwa yang dimaksud dengan larangan memotong rambut dan kuku itu adalah untuk mereka yang ingin berqurban, bukan untuk hewan qurbannya. Sedangkan terkait hukum tidak memotong rambut dan kuku tersebut, disini para ulama berbeda pendapat, antara sunnah, wajib dan mubah. Wallahu a’lam apakah ada penjelasan lain dari yang sudah kami tulis diatas atau tidak. Sementara waktu baru ini yang kamu dapati.

Wallhu A’lam Bisshawab