Menampar Istri yang Berbuat Nusyuz, Bolehkah? | rumahfiqih.com

Menampar Istri yang Berbuat Nusyuz, Bolehkah?

Firman Arifandi, Lc., MA Fri 29 July 2016 10:49 | 1522 views

Bagikan via

Tak sedikit laki-laki yang kemudian bila mendapati istrinya telah berbuat nusyuz kemudian bergegas bereaksi dengan jurus ringan tangannya alias melakukan tamparan, hal ini mereka lakukan dengan bersandar kepada surat An Nisa’ ayat 34 yang berbunyi :

وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (An Nisa : 34)

Lantas, apakah benar hanya dengan bersandar kepada redaksional ayat tersebut di atas kemudian menjadi legitimasi bagi para lelaki untuk memukul atau menampar istrinya yang tidak mau patuh kepada suaminya, seperti menolak ketika diajak shalat berjamaah, menolak ketika diajak berkumpul, tidak mau memasak untuk suami, dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Hukuman Bagi Istri dalam Ayat Nusyuz Dilakukan Bertahap

Memahami ayat di atas, sebenarnya jika laki-laki menemukan istrinya telah berbuat nusyuz, maka hukuman yang dilakukan adalah bertahap sesuai levelnya dan tidak dibenarkan langsung melakukan hukuman fisik. Dalam tafsir al Maroghi dikatakan:

واللاتي تأنسون منهن الترفع وتخافون ألا يقمن بحقوق الزوجية على الوجه الذي ترضونه فعليكم أن تعاملوهن على النهج الآتي: أن تبدءوا بالوعظ الذي ترون أنه يؤثر فى نفوسهن،  ثم الهجر والإعراض فى المضجع، ثم الضرب غير المبرّح.

Dan wanita-wanita yang diketahui mulai berbuat arogan serta dikhawatirkan tidak menjalankan hak-haknya dalam keluarga dalam perihal yang diridhoi, maka bagi kalian (para suami) agar menyikapinya dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: memulai dengan nasehat yang dapat membuatnya sadar, kemudian pisah ranjang dan memalingkan diri darinya di atas ranjang, kemudian memukulnya dengan pukulan yang tidak keras.

Hal ini juga diterangkan dalam oleh Imam Al Muzani dalam kitabnya Mukhtashor al Muzani :

وَفِي ذَلِكَ دَلَالَةٌ عَلَى اخْتِلَافِ حَالِ الْمَرْأَةِ فِيمَا تُعَاتَبُ فِيهِ وَتُعَاقَبُ عَلَيْهِ فَإِذَا رَأَى مِنْهَا دَلَالَةً عَلَى الْخَوْفِ مِنْ فِعْلٍ أَوْ قَوْلٍ وَعَظَهَا فَإِنْ أَبْدَتْ نُشُوزًا هَجَرَهَا فَإِنْ أَقَامَتْ عَلَيْهِ ضَرَبَهَا

Dan di dalamnya (surah An Nisa’ : 34) adalah petunjuk pada konsekuensi dalam setiap kondisi wanita kapan mereka ditegur dan dihukum bila ditemukan pada mereka indikasi yang mengkhawatirkan baik dari perbuatan atau perkataan, maka ditegur lebih dahulu, jika tetap berbuat nusyuz maka pisah ranjang, dan bila masih berbuat demikan maka pukullah.

Dari kedua referensi di atas maka jelaslah bahwa hukuman fisik bagi istri berupa pukulan itu hanya berlaku bagi mereka yang level nusyuznya sudah kepalang meradang, serta telah melewati dua step sebelumnya.

Batasan Dibolehkannya Memukul Istri

Jika istri masih berbuat nusyuz atau durhaka dan telah dilakukan dua step sebelumnya, maka dibolehkan bagi suami untuk memukulnya. Namun syariat tetap membatasi kebolehan memukul ini, dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan:

وَقَوْلُهُ: {وَاضْرِبُوهُنَّ} أَيْ: إِذَا لَمْ يَرْتَدِعْن بِالْمَوْعِظَةِ وَلَا بِالْهِجْرَانِ، فَلَكُمْ أَنْ تَضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ قَالَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ: "واتَّقُوا اللهَ فِي النِّساءِ، فَإِنَّهُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَلَّا يُوطِئْنَ فُرُشكم أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ، فَإِنْ فَعَلْن فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبا غَيْرَ مُبَرِّح، وَلَهُنَّ رزْقُهنَّ وكِسْوتهن بِالْمَعْرُوفِ.

Dan firman-Nya: dan pukullah mereka, atau: apabila istri-istrimu tidak tergoyahkan (nusyuznya) dengan nasehat dan pisah ranjang, maka dibolehkan bagimu memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Sebagaimana telah ditetapkan dalam sahih Muslim dari Jabir dari Nabi SAW: sesungguhnya beliau bersabda dalam haji wada’ : Bertaqwalah kepada Allah dalam masalah wanita, karena mereka adalah penolong (kalian dalam mengarungi hidup). Hak kalian atas mereka yaitu, mereka tidak boleh memasukkan seorang pun ke dalam tempat tidur kalian; orang yang kalian benci, jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak berbekas. Hak mereka atas kalian adalah agar kalian memberi rizki dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik.”

Begitu juga para fuqaha’ dalam mengomentari masyruiyahnya suami memukul istri yang nusyuz, mayoritas mereka mensyaratkan agar tidak memukul dengan pukulan yang keras, tidak pula membekas, tidak menyebabkan luka, tidak berulang kali, tidak membuat memar atau patah tulang, dan jangan melakukan pukulan yang menyebabkan kematian karena tujuan utamanya adalah untuk membuatnya menjadi wanita baik.

Imam Dardir dari Malikiyah mengatakan:

لاَ يَجُوزُ الضَّرْبُ الْمُبَرِّحُ وَلَوْ عَلِمَ أَنَّهَا لاَ تَتْرُكُ النُّشُوزَ إِلاَّ بِهِ، فَإِنْ وَقَعَ فَلَهَا التَّطْلِيقُ عَلَيْهِ وَالْقِصَاصُ

Dilarang melakukan pukulan yang melukai meski sangat diyakini bahwa sang istri tak akan berhenti berbuat nusyuz kecuali dengan jenis pukulan tersebut, maka jika diketahui suami berbuat demikian, sang istri berhak mengajukan talaq dan bagi suami berlaku qisas.

Imam al Mawardi dalam Al Hawi Al Kabir juga menegaskan:

وَأَمَّا الضَّرْبُ فَهُوَ ضَرْبُ التَّأْدِيبِ وَالِاسْتِصْلَاحِ، وهو كضرب التعزيز لَا يَجُوزُ أَنْ يَبْلُغَ بِهِ أَدْنَى الْحُدُودِ، وَيَتَوَقَّى بِالضَّرْبِ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ: أَنْ يَقْتُلَ أَوْ يُزْمِنَ أَوْ يُدْمِيَ أَوْ يَشِينَ

Dan pukulan (untuk nusyuz) yaitu pukulan untuk mendisiplinkan dan mengevaluasi, yakni semacam pukulan yang sangat ringan dan tidak boleh melampaui batas terendah dari hudud, dan harus dijauhkan dalam memukul kepada empat hal: pukulan yang membunuh, melumpuhkan, melukai, atau membuatnya menjadi buruk.

Memukul atau Menampar wajah

Dalam hal ini ulama sepakat kepada pelarangannya, ada sebuah hadist yang menjadi landasan pendapat mereka:

عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْقُشَيْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟، قَالَ: «أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، أَوِ اكْتَسَبْتَ، وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ»، قَالَ أَبُو دَاوُدَ: " وَلَا تُقَبِّحْ أَنْ تَقُولَ: قَبَّحَكِ اللَّهُ "- رواه أبو داود

Dari Hakim bin Muawiyah dari Bapaknya Dia berkata : Aku berkata pada Nabi: Wahai Nabi hak seorang istri salah satu kami yang menjadi kewajiban suami itu apa saja? Nabi menjawab : Kewajiban seorang suami kepada istrinya yaitu memberi makan ketika Engkau makan, memberi pakaian ketika Engkau memakai pakaian atau bekerja, tidak memukul wajahnya, tidak menghina, tidak meninggalkan istri melainkan masih di dalam rumah. Berkata Abu Daud: jangan menghina dengan mengatakan: Semoga Allah memperburukmu” (HR. Abu Daud)

Alat yang Boleh Digunakan untuk Memukul

Para ulama juga membatasi alat yang boleh digunakan untuk memukul istri yang nusyuznya sudah keterlaluan. Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa benda yang boleh dijadikan sebagai alat pemukul adalah kayu siwak atau sejenisnya, saputangan yang dilipat, atau dengan tangannya. Serta dilarang memukul menggunakan tongkat, cambuk, atau kayu keras, karena tujuan utamanya adalah menasehati dan mendisiplinkan.

Tidak Memukul Adalah Pilihan Terbaik

Ada sebuah hadist riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih berbunyi :

وَعَنْ إِيَاسِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي ذُبَابٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَاَل رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم :لاَ تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللَّه. فَجاءَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم، فَقَالَ : ذَئِرْنَ النِّساءُ عَلَى أَزْوَاجِهِنَّ، فَرَخَّصَ فِي ضَرْبهِنَّ فَأَطَافَ بِآلِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نِّسَاءٌ كَثِيْرٌ يَشْكُوْنَ أَزْوَاجَهُنَّ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم :لَقَدْ أَطَافَ بِآلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيْرِ يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ أُولِئكَ بِخِيَارِكُمْ) .رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بإسنادٍ صَحِيْحٍ(

Dari lyas Ibn Abdullah Ibn Abu Dzubab ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian memukul hamba-hamba Allah yang perempuan. Umar RA. lalu datang kepada Rasulullah SAW: Para istri itu berani menentang pada suami-suaminya. Oleh sebab itu Beliau SAW memberikan kelonggaran untuk memukul mereka. Selanjutnya beberapa kaum wanita berkeliling mendatangi keluarga Rasulullah untuk mengadukan para suaminya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Banyak kaum wanita mendatangi keluarga Muhammad untuk mengadukan perihal suami nereka. Maka bukannya suami-suami yang sedemikian itu yang termasuk orang-orang pilihan di antara kalian. (HR Abu Daud dengan sanad yang sahih)

Menyikapi hadist di atas Imam Syafi’i dalam mukhtashor al Muzani berkata:

وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ قَوْلُهُ - عَلَيْهِ السَّلَامُ - قَبْلَ نُزُولِ الْآيَةِ بِضَرْبِهِنَّ ثُمَّ أَذِنَ فَجَعَلَ لَهُمْ الضَّرْبَ فَأَخْبَرَ أَنَّ الِاخْتِيَارَ تَرْكُ الضَّرْبِ. ولو ترك الضرب كان أحب إلي.

Sabda Rasulullah SAW sebelum turunnya ayat (tentang nusyuz) berpotensi kepada legitimasi memukul istri-istri mereka, kemudian beliau mengizinkan, selanjutnya beliau memberitahu bahwa yang paling baik untuk dipilih adalah meninggalkan pemukulan. Dan tidak memukul adalah yang paling aku sukai.

Selanjutnya imam Ahmad bin Hanbal juga menekankan hal yang sama dengan berkata:

الأْوْلَى تَرْكُ ضَرْبِهَا إِبْقَاءً لِلْمَوَدَّةِ

Yang paling utama adalah meninggalkan pemukulan terhadap istri agar kasih sayang tetap terjaga.

Penulis juga berpendapat, selama masih bisa dibangun komunikasi yang baik, maka sebaiknya yang dilakukan terhadap istri adalah senantiasa menasehatinya, dan disinilah sebenarnya kesabaran suami diuji, mampukah dia menjadi sosok suami terbaik seperti disebutkan dalam hadist riwayat Ahmad:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya (HR. Ahmad)

Wallahu a’lam bisshowab

 

 

 

Bagikan via


Baca Lainnya :

Sifat Shalat: Berdiri Bagi yang Mampu
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 19 July 2016, 10:28 | 2.566 views
Khutbah Idul Fitri 1437 H; Tauladan Nabi Yusuf as Untuk Hidup yang Harmonis
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 5 July 2016, 12:46 | 3.684 views
Menyentuh Kemaluan, Apakah Membatalkan Wudhu?
Aini Aryani, Lc | 22 June 2016, 04:55 | 4.153 views
Perjalanan Pulang Ke Indonesia Menjelang Ramadhan; Ikut Awal Puasa Negara Setempat Atau Indonesia?
Firman Arifandi, Lc., MA | 4 June 2016, 17:48 | 3.108 views
Wajah Santun Dakwah Nabi Muhammad
Ahmad Zarkasih, Lc | 3 June 2016, 10:45 | 4.965 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Jika Dalil Kita Selalu Bertentangan
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 February 2018, 20:15 | 5.658 views
Tradisi Masyarakat Bisa Menjadi Dalil Dalam Agama?
Firman Arifandi, Lc., MA | 27 September 2017, 12:00 | 6.560 views
Ayat-ayat Hukum Terancam Expired?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2017, 10:30 | 1.978 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 February 2017, 01:03 | 6.524 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 February 2017, 01:45 | 4.701 views
Kembali Kepada Al-quran dan Hadist, Seperti Apa?
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 January 2017, 16:07 | 4.923 views
Hukum Waris: Diskriminasi Islam Terhadap Perempuan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 3 January 2017, 02:54 | 3.084 views
Diharamkan Melakukan Hal yang Belum Pernah Dilakukan Nabi?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 November 2016, 09:24 | 3.102 views
Menampar Istri yang Berbuat Nusyuz, Bolehkah?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 July 2016, 10:49 | 1.522 views
Perjalanan Pulang Ke Indonesia Menjelang Ramadhan; Ikut Awal Puasa Negara Setempat Atau Indonesia?
Firman Arifandi, Lc., MA | 4 June 2016, 17:48 | 3.108 views
Qawaid Fiqhiyyah Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 April 2016, 09:11 | 2.146 views
Qawaid Fiqhiyyah (Islamic Legal Maxim) Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 20 April 2016, 06:14 | 3.457 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA12 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Isnawati, Lc9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc6 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan
Wildan, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Maharati Marfuah Lc0 tulisan