Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya? | rumahfiqih.com

Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?

Siti Chozanah, Lc Thu 27 June 2013 10:45 | 1477 views

Bagikan via

Sudah menjadi anggapan yang umum bahwa seorang ibu wajib menyusui anaknya. Apalagi kalau kita membaca ayat-ayat berikut ini :

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. ( Q.S Al-Baqarah : 233)

وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ المَصِير


Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. ( Q.S Luqman : 14)

Namun anggapan umum yang mewajibkan seorang ibu menyusui bayinya belum menjadi kesepakatan para ulama fiqih. Kalau kita telusuri lebih dalam kitab-kitab fiqih madzhab ternyata kita menemukan ada beberapa ulama yang tidak mewajibkan seorang ibu menyusui anaknya.

Bahkan seorang ibu berhak menuntut upah atas penyusuan bayinya sendiri atas suaminya. Apalagi ketika membaca ayat Al-Quran berikut ini :

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya. ( Q.S. Ath-Thalaq : 6)

Ayat ini menjelaskan bahwa seorang ibu berhak meminta upah dari suaminya atas jasa menyusui bayinya sendiri.

Kewajiban untuk memberikan air susu kepada bayi

Jumhur ulama sepakat bahwa bayi yang belum genap usia dua tahun dan membutuhkan air susu ibu wajib hukumnya untuk diberikan. [1] 

Namun mereka berbeda pendapat tentang siapa yang berkewajiban untuk melakukannya. Apakah ibunya yang wajib melakukan radha' , atau bapaknya yang harus melakukan  istirdha'? 

Yang dimaksud dengan radha' adalah pemberian air susu oleh ibunya sendiri. Sedangkan istirdha' adalah meminta jasa wanita lain untuk menyusui bayi, biasanya dengan upah tertentu. Sebagaimana kakek Rasulullah SAW telah meggunakan jasa Halimatussa'diyah untuk menyusi cucunya yaitu Rasulullah SAW.

1. Ibu Wajib  Melakukan Radha'

Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah berpendapat bahwa ibulah yang berkewajiban untuk menyusui anaknya. Kewajiban ini adalah amanah sebagai seorang ibu dihadapan Allah SWT. Sehingga kewajiban ini tidak dipertanggungjawabkan dihadapan seorang hakim.[2]

Al-Malikiyah menambahkan kewajiban baginya saat statusnya sebagai istri dari suaminya atau saat masa thalaq raj’i. Tetapi jika sudah thalaq tiga atau bain tidak wajib bagi ibu untuk menyusui anaknya.[3]

Seorang istri tidak ada hak menuntut upah menyusui ke suaminya selama statusnya adalah sebagai istri. Karena Allah SWT telah memerintahkan seorang istri menyusui anak suaminya. Sehingga rizqi sudah menjadi tanggung jawab sepenuhnya seorang suami. Maka tidak ada keperluan istri yang tidak tercukupi sehingga tidak perlu adanya upah menyusui.[4]

Hal itu didasarkan atas dalil berikut :

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.. (Q.S Al-Baqarah : 233) 

Al-Malikiyah menambahkan upah menyusui menjadi hak seorang ibu jika statusnya adalah janda yang diceraikan oleh suaminya yaitu bapak dari si anak yang ia susui.

2. Ibu Tidak Wajib Melakukan Radha'

Madzhab As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa ibu tidak wajib menyusui anaknya sendiri. Sebaliknya, justru bapaknyalah yang wajib melakukan istirdha' , walaupun ibu anak tersebut pada saat itu mampu untuk menyusui.  

Dalam hal ini tidak ada hak bagi suami membujuk atau memaksa istrinya untuk menyusui anaknya. Maka bila istrinya menolak untuk menyusui anaknya sendiri, menjadi kewajban suami untuk mencarikan wanita yang bisa menyusui anaknya. Dan itu disebut dengan istilah istiridha'. [5]

 

Karena menyusui bukanlah kewajiban bagi seorang ibu, maka mereka berhak meminta upah dari suaminya.Seakan-akan bisa dikatakan menyusui dengan mendapatkan upah seperti proses jual beli.[6]   Sesuai dengan dalil berikut :

 

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya. ( Q.S. Ath-Thalaq : 6) 

Namun pendapat ini sangat asing ditelinga kita yang sudah menganggap itu menjadi sebuah kewajiban bagi seorang ibu. Akan tetapi bukankah Rasulullah SAW tidak disusui oleh ibunya sendiri yaitu Aminah?

Pengecualian 

Namun meski kedua mazhab ini tidak mewajibkan seorang ibu untuk menyusui anaknya sendiri, ada pengecualian dimana pada kondisi tertentu seorang ibu tetap diwajibkan untuk menyusui anaknya. 

1. Pada Saat Melahirkan

Kondisi pertama adalah ketika seorang ibu baru saja melahirkan anaknya. Dalam hal ini dia tetap berkewajiban memberikan kolostrum pada anaknya. 

2. Tidak Ada Wanita Yang Bisa Menyusui

Kondisi kedua yaitu jika memang bapak sama sekali tidak menemukan wanita manapun yang bisa menyusui anaknya.

As-Syafi’iyah menambahkan bahwa seorang ibu tidak diperkenankan menyusui anaknya jika itu akan membahayakan dirinya. Dan suami patut melarangnya sebagaimanaia melarang istrinya keluar rumah tanpa izin suaminya.

Waallahu a’lam bishawab.

 

----------------------------------------------------
[1] Al-Mughni 7/ 627, Nihayatul Muhtaj 7/ 222, Hasyiyah Ad-Dasuqi 2/ 525
[2]Al-Mughni 7/ 627, Nihayatul Muhtaj 7/ 222
[3] Al-Fawakih Ad-Dawani 2/ 100, Hasyiyah Ad-Dasuqi 2/ 525
[4] Ibnu Aabdin 2/ 675
[5] Asnal Mathalib 3/ 445, Nihayatul Muhtaj 7/ 221-222
[6]  Al-Mughni 7/ 627, Nihayatul Muhtaj 7/ 222, Hasyiyah Ad-Dasuqi 2/ 525

Bagikan via


Baca Lainnya :

Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
| 27 June 2013, 10:45 | 5.370 views
Proses Terbentuknya Hukum Fiqih
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 25 June 2013, 02:01 | 5.415 views
Menelusuri Hukum Hiasan Dalam Masjid
| 23 June 2013, 11:00 | 5.089 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc., MA | 21 June 2013, 03:03 | 8.368 views
Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 4.823 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Serba Serbi Qadha Puasa
Siti Chozanah, Lc | 6 July 2018, 11:02 | 232 views
Bolehkah Shalat Berjamaah Ditinggalkan?
Siti Chozanah, Lc | 12 May 2017, 22:32 | 2.360 views
Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir
Siti Chozanah, Lc | 23 January 2017, 04:41 | 5.666 views
Hukum Menghibahkan Seluruh Harta Untuk Ahli Waris
Siti Chozanah, Lc | 15 January 2017, 22:21 | 4.143 views
Sedekah Dengan Harga Perak Dari Timbangan Rambut Bayi
Siti Chozanah, Lc | 4 January 2017, 08:23 | 2.688 views
Memandang Wajah Wanita yang Bukan Mahram
Siti Chozanah, Lc | 17 December 2016, 18:27 | 2.923 views
Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
Siti Chozanah, Lc | 27 June 2013, 10:45 | 1.477 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA16 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc11 tulisan
Isnawati, Lc9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan
Wildan, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Maharati Marfuah Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan