Mengapa Terjadi Ikhtilaf Dalam Fiqih? | rumahfiqih.com

Mengapa Terjadi Ikhtilaf Dalam Fiqih?

Aini Aryani, Lc Sun 21 April 2013 00:53 | 5041 views

Bagikan via

Dalam penetapan hukum Fiqih hampir selalu terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Hal ini tentu harus dipandang dengan kacamata positif karena inilah khazanah pemikiran luas para ulama. 

Adanya ikhtilaf atau perbedaan pendapat ini menjadikan hukum syariah lebih fleksibel dan aplikatif karena menyuguhkan beberapa opsi hukum dari para ulama yang muktamad. Ikhtilaf ini pula lah yang menjadkan hukum syariah relevan di setiap zaman dan tempat.

Sebab-sebab perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum-hukum syar’i biasanya bersumber dari dalil-dalil yang bersifat dzanni (lawan dari qath’i) atau yang lafadznya mengandung kemungkinan makna lebih dari satu.

Abu Ishak Asy-Syatibi mengklasifikasikan  sebab-sebabnya sebagai berikut:

a. Adanya lafadz mujmal yang melahirkan takwil dan tafsir yang berbeda.

b. Adanya lafadz yang memungkinkan untuk dimaknai secara umum (’am) atau khusus (khas)

c. Perbedaan qiraat dalam bacaan Al-Qur’an, dan perbedaan riwayat yang terjadi dalam Hadits Nabawi.

d. Klaim akan adanya nasakh dan mansukh menurut sebagian ulama, dan tidak adanya nasakh dan mansukh menurut sebagian yang lain. (Abu Ishak Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat Fi Ushul As-Syari’ah, jilid 4, hal. 213, Maktabah at-Tujariyah.)

1. Perbedaan Makna Lafadz Teks Nash

Perbedaan makna ini bisa disebabkan karena lafadz yang ada dalam nash terdiri dari kata yang mujmal (umum), atau karena memiliki arti lebih dari satu makna (musytarak), atau karena lafadz itu meragukan sebab memiliki arti umum dan khusus (’am wal khas), atau lafadz itu meragukan antara ithlaq dan taqyid, atau yang memiliki makna haqiqi atau makna menurut adat kebiasaan (’urf), dan lain-lain.(Ibnu Rusyd Al-Hafid, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, jilid 1, hal. 12, Darul Hadits, Kairo.)

Contoh dari lafadz musytarak antara lain: lafadz al quru’ yang bisa memiliki arti haid dan suci (Al Baqarah :228). Atau lafadz perintah (al-amr) yang bisa bermakna wajib atau anjuran. Serta Lafadz larangan (an-nahyu) yang bisa memiliki makna larangan yang haram atau makruh.

Contoh dari lafadz yang mutaraddid antara ia mengandung makna ithlaq dan taqyid adalah kata ’Raqabah’ (budak). Dalam kasus seseorang yang dikenai kaffarat yamin (melanggar sumpah), Ia diwajibkan untuk memerdekakan budak. Apakah budak yang dimaksud disini adalah budak secara mutlak, ataukah budak yang beragama islam saja?

Sedangkan lafadz yang meragukan (taraddud) adalah lafaz yang memiliki kemungkinan dua makna antara umum atau khusus, contohnya adalah bunyi ayat dalam Al Baqarah: 206 “Tidak ada paksaan dalam agama” Apakah larangan paksaan ini berlaku khusus atas Ahli Kitab yang membayar jizyah saja, ataukah berlaku atas seluruh non-muslim pada umumnya. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 2, hal. 297)

2. Perbedaan Riwayat

Maksudnya adalah perbedaan riwayat hadis. Faktor perbedaan riwayat ada beberapa, diantaranya :

a. Hadis itu diterima (sampai) kepada seorang perawi namun tidak sampai kepada perawi lainya

b. Atau sampai kepadanya namun jalan perawinya lemah dan sampai kepada lainnya dengan jalan perawi yang kuat

c. Atau sampai kepada seorang perawi dengan satu jalan; atau salah seorang ahli hadis melihat satu jalan perawi lemah namun yang lain menilai jalan itu kuat

d. Atau dia menilai tak ada penghalang untuk menerima suatu riwayat hadis. Perbedaan ini berdasarkan cara menilai layak tidaknya seorang perawi sebagai pembawa hadis.

e. Atau sebuah hadis sampai kepada seseorang dengan jalan yang sudah disepakati, namun kedua perawi berbeda tentang syarat-syarat dalam beramal dengan hadis itu. Seperti hadis mursal. (Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, jilid 1, hal. 86-87)

3. Perbedaan Sumber-Sumber Pengambilan Hukum

Dalam mengambil istimbath hukum, ada sebagian ulama yang berlandaskan pada sumber istihsan, masalih mursalah, perkataan sahabat, istishab, saddu dzarai' dan sebagian ulama tidak mengambil sumber-sumber tersebut.

4. Perbedaan Kaidah Ushul Fiqih

Seperti kaidah usul fiqih yang berbunyi "Nash umum yang dikhususkan tidak bisa menjadi hujjah" (al-aam al-makhsus laisa bi hujjah), "pemahaman eksplisit terhadap nash tidak dijadikan hujjah" (al-mafhumu laisa bi hujjah). Kaidah-kaidah ushul ini kadang-kadang menjadi perbedaan di kalangan ulama.

5. Ijtihad Dengan Qiyas

Dari qiyas ini, perbedaan ulama muncul sangat banyak dan luas. Sebab Qiyas memiliki asal (masalah inti sebagai patokan), syarat dan illat. Dan illat memiliki sejumlah syarat dan langkah-langkah yang harus terpenuhi sehingga sebuah prosedur qiyas bisa diterima. Di sinilah muncul banyak perbedaan hasil qiyas, meskipun banyak juga hukum yang dihasilkan oleh qiyas yang menjadi kesepakatan di kalangan mereka.

6. Pertentangan Antar Dalil

Yang di maksud dalam poin ini adalah pertentangan di kalangan ulama mengenai metode dan pemilihan tarjih ketika ada kontradiksi di anatara dalil-dalil yang digunakan dalam istimbath hukum. Misalnya jika ada dua ayat Al-Qur’an yang bertentangan isinya mengenai satu masalah. Atau pertentangan antara isi ayat dan isi Hadits.

Dalam bab ini ada yang berpegang dengan takwil, ta'lil, kompromi antara dalil yang bertentangan (al-jam’u), penyesuaian antara dalil (at-taufiq) misalnya dengan cara takhsis, dan penghapusan (naskh) salah satu dalil yang bertentangan.

Pertentangan terjadi biasanya antara nash-nash atau antar qiyas, atau antar sunnah baik dalam perkataan Nabi dengan perbuatannya, atau dalam penetapan-penetapannya. Perbedaan sunnah juga bisa disebabkan oleh penyifatan tindakan Rasulullah SAW dalam berpolitik atau memberi fatwa.

Menyikapi Perbedaan

Dari sini bisa diketahui bahwa ijtihad ulama tidak mungkin semuanya sama. Meski demikian kita memiliki kewajiban untuk beramal dengan salah satu dari perbedaan ulama. Yang benar, kebanyakan masalah ijtihadiah dan pendapat yang bersifat dzanniyah (pretensi) dihormati dan disikapi sama.

Perbedaan ini tidak boleh menjadi pemicu kepada ashobiyah (fanatisme golongan), permusuhan, perpecahan yang dibenci Allah antara kaum Muslimin yang disebut Al-Qur’an sebagai umat bersaudara, yang juga diperintah untuk berpegang teguh dengan tali Allah.

Para sahabat sendiri berhati-hati dan tidak mau ijtihadnya disebut hukum Allah atau syariat Allah. Namun mereka menyebut, "Ini adalah pendapatku, jika benar ia berasal dari Allah jika salah maka ia berasal dari saya dan dari setan, Allah dan Rasul-Nya darinya (pendapat saya) berlepas diri."

Di antara nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, kepada para pasukannya baik dipimpin langsung atau tidak adalah,

"Jika kalian mengepung sebuah benteng, dan mereka ingin memberlakukan hukum Allah, maka jangan kalian terapkan mereka dengan hukum Allah, namun berlakukan kepada mereka dengan hukummu, karena engkau tidak tahu, apakah engkau tepat dalam menerapkan hukum Allah kepada mereka atau tidak," (HR Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah)

Wallahu A'lam Bishshawab
Aini Aryani, Lc.

 

Bagikan via


Baca Lainnya :

Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.083 views
Menulislah Sebagaimana Para Ulama Menulis
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 April 2013, 05:53 | 4.112 views
Taman Fiqih
Sutomo Abu Nashr, Lc | 14 April 2013, 07:47 | 3.750 views
Galaunya Para Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | 13 April 2013, 17:40 | 4.873 views
Imam Ahmad bin Hanbal Punya Kontrakan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 12 April 2013, 17:24 | 3.845 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Menyentuh Kemaluan, Apakah Membatalkan Wudhu?
Aini Aryani, Lc | 22 June 2016, 04:55 | 2.462 views
Mengapa Kita Harus Menghindari Makanan Haram?
Aini Aryani, Lc | 17 February 2016, 10:10 | 1.047 views
Antara Fatwa dan Taqwa
Aini Aryani, Lc | 16 June 2014, 06:52 | 3.663 views
Beauty Is Pain, Isn't It?
Aini Aryani, Lc | 3 April 2014, 10:20 | 4.017 views
Lupa Baca Bismillah Saat Menyembelih
Aini Aryani, Lc | 7 December 2013, 10:30 | 3.986 views
Taqwa & Fujur (Dua Sisi Yang Berbeda)
Aini Aryani, Lc | 29 November 2013, 22:44 | 3.441 views
Pilih Mana: Ahli Syariah atau Ahli Ibadah?
Aini Aryani, Lc | 19 November 2013, 12:43 | 4.217 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
Aini Aryani, Lc | 12 August 2013, 19:06 | 4.483 views
Belum Qadha' Puasa Hingga Ramadhan Berikutnya, Bagaimana Hukumnya?
Aini Aryani, Lc | 3 August 2013, 16:50 | 4.132 views
Suara Wanita Aurat, Masak Sih?
Aini Aryani, Lc | 30 July 2013, 08:59 | 4.516 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha' atau Fidyah?
Aini Aryani, Lc | 4 July 2013, 06:33 | 5.277 views
Mengapa Terjadi Ikhtilaf Dalam Fiqih?
Aini Aryani, Lc | 21 April 2013, 00:53 | 5.041 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | 3 April 2013, 05:49 | 3.976 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
Aini Aryani, Lc | 25 March 2013, 22:40 | 9.312 views
Halal Haram Menyambung Rambut
Aini Aryani, Lc | 5 March 2013, 08:23 | 3.992 views
Denda Berjima' Saat Haid
Aini Aryani, Lc | 18 February 2013, 09:10 | 3.605 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
Aini Aryani, Lc | 12 February 2013, 14:15 | 3.736 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
Aini Aryani, Lc | 7 February 2013, 09:01 | 3.976 views
Bolehkah Shalat Jjum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar Bagi Musafir
Aini Aryani, Lc | | 1.056 views