Sedekah Dengan Harga Perak Dari Timbangan Rambut Bayi | rumahfiqih.com

Sedekah Dengan Harga Perak Dari Timbangan Rambut Bayi

Siti Chozanah, Lc Wed 4 January 2017 08:23 | 875 views

Bagikan via

Dalam sejumlah adat masyarakat di tanah air, banyak kita temukan ritual yang dianggap tidak memiliki latar belakang yang didukung oleh syariat. Hal ini kemudian menjadikan sebagian yang lain meninggalkan ritual tersebut tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Ada sebuah kebiasaan yang perlahan mulai pudar karena dianggap tidak ada dalilnya, yaitu tentang bersedekah dengan harga perak dari timbangan rambut bayi setelah aqiqah.

Secara garis besar, sebenarnya para ulama telah sepakat akan kebolehannya. Setidaknya ada redaksi hadist yang bisa jadi acuan kebolehannya dengan status shahih atau hasan dari sekian banyak hadist yang diperselisihkan, yakni tatkala fatimah R.A melahirkan Hasan R.A:

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: لَمَّا وَلَدَتْ فَاطِمَةُ حَسَنًا قَالَتْ: أَلَا أَعُقُّ عَنْ ابْنِي بِدَمٍ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ احْلِقِي رَأْسَهُ ثُمَّ تَصَدَّقِي بِوَزْنِ شَعْرِهِ مِنْ فِضَّةٍ عَلَى الْمَسَاكِينِ أَوِ الْأَوْفَاضِ» ، وَكَانَ الْأَوْفَاضُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجِينَ فِي الْمَسْجِدِ، أَوْ فِي الصُّفَّةِ، وَقَالَ أَبُو النَّضْرِ: «مِنَ الْوَرِقِ عَلَى الْأَوْفَاضِ ـ يَعْنِي أَهْلَ الصُّفَّةِ ـ أَوْ عَلَى الْمَسَاكِينِ» فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، قَالَتْ: فَلَمَّا وَلَدْتُ حُسَيْنًا فَعَلْتُ مِثْلَ ذَلِكَ

Abu Rafi’  berkata, “Ketika Fatimah melahirkan Hasan, Fatimah berkata, “Tidakkah aku mengakikahi anakku dengan menyembelih seekor hewan?” belaiu menjawab: “Jangan, namun cukurlah rambutnya dan bersedekahlah sebesar timbangan rambutnya dengan perak kepada orang-orang miskin dan aufadl, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sedang membutuhkan di dalam masjid, atau di pelataran masjid.” Abu Nadlr menyebutkan, “Dari perak kepada aufadl, yaitu ahli shuffah, atau kepada orang-orang miskin.” Fatimah berkata, “Ketika aku melahirkan Husain aku melakukan hal yang sama.” ( HR. Ahmad, Baihaqi dan Thabrani)

Kemudian hadist lain dari yang disahihkan oleh al Hakim dalam mustadraknya:

قَالَ صلى الله عليه وسلم: يَا فَاطِمَةُ احْلِقِي رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِي بِزِنَةِ شَعْرِهِ

Rasulullah bersabda: wahai Fatimah, cukurlah kepalanya dan bersedakahlah dengan timbangan rambutnya (HR.Tirmidzi, dan Ibnu Abi Syaibah)

 

Pendapat Para ulama madzhab

Terkait hal ini, jumhur ulama telah sepakat tentang kesunahan bersedekah dengan timbangan rambut bayi dengan harga perak:

ذَهَبَ الْجُمْهُورُ (الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ) إِلَى اسْتِحْبَابِ حَلْقِ شَعْرِ رَأْسِ الْمَوْلُودِ يَوْمَ السَّابِعِ، وَالتَّصَدُّقِ بِزِنَةِ شَعْرِهِ ذَهَبًا أَوْ فِضَّةً عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَفِضَّةً عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ. وَإِنْ لَمْ يَحْلِقْ تَحَرَّى وَتَصَدَّقَ بِهِ.

Mayoritas Ulama (Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah) menilai kesunahan mencukur rambut bayi dihari ketujuh masa kelahirannya serta bersedekah seberat timbangan rambutnya dalam bentuk emas atau perak menurut kalangan Malikiyyah dan Syafi’iyyah dan dalam bentuk perak menurut kalangan Hanabilah, dan meskipun si anak tidak dicukur hendaknya tetap disedekahkan.

 

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ حَلْقَ شَعْرِ الْمَوْلُودِ مُبَاحٌ، لَيْسَ بِسُنَّةٍ وَلاَ وَاجِبٍ، وَذَلِكَ عَلَى أَصْلِهِمْ فِي أَنَّ الْعَقِيقَةَ مُبَاحَةٌ، لأِنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِل عَنِ الْعَقِيقَةِ فَقَال: لاَ يُحِبُّ اللَّهُ الْعُقُوقَ. مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَنْسُكْ عَنْهُ.

وَهَذَا يَنْفِي كَوْنَ الْعَقِيقَةِ سُنَّةً لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّقَ الْعَقَّ بِالْمَشِيئَةِ وَهَذَا أَمَارَةُ الإْبَاحَةِ.

Sedang kalangan Hanfiyyah menilai bahwa mencukur rambut bayi hukumnya mubah tidak sunah atau bahkan wajib, yang demikian karena menurut kalangan ini berdasarkan keberadaan hukum aqiqah itu sendiri yang menurut mereka adalah mubah sebab Rasulullah SAW saat ditanya tentang aqiqah beliau menjawab :

“Allah tidak menyukai kedurhakaan, barangsiapa ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silakan lakukan.” (HR. An Nasai dan al-Hakim).

Perkataan beliau Shallallaahu alaihi wa Sallam, “ingin menyembelihkan” merupakan indikasi yang menunjukkan kemubahanya [1]

Lebih rincinya, berikut pernyataan para ulama dalam kitab fikih masing-masing:

Dalam kitab I’anatu thalibin (syafi’iyah) disebutkan:

وسن أن يحلق رأسه ولو أنثى في السابع ويتصدق بزنته ذهبا أو فضة

Dan disunnahkan mencukur botak rambutnya meskipun bayinya wanita di hari ke tujuh dan bersedekah dari timbangannya dengan emas atau perak[2].

Kemudian dalam syarah mukhtashar khalil (Malikiyah) juga disebutkan:

وَالتَّصَدُّقُ بِزِنَةِ شَعْرِهِ الْمَشْهُورُ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِوَزْنِ شَعْرِ الْمَوْلُودِ ذَهَبًا أَوْ فِضَّةً

Dan bersedekah dengan timbangan rambut bayi, yang masyhur adalah mustahab bersedekah dengannya baik dengan harga emas ataupun perak[3].

Tidak Sampai Kepada Wajib

            Dalam pemaparan di atas, semua ulama sepakat tentang hukum kebolehannya, dimana madzhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah menghukuminya kepada sunnah. Dan Hanafiah hanya sebatas menghukuminya kepada boleh dan bukan termasuk disunnahkan.

            Dengan kata lain, perkara sedekah dengan menimbangnya kepada harga emas atau perak ini tidak sampai kepada kategori wajib untuk dilakukan. Dengan kembali kepada prinsip bahwa sebenarnya syariat ada untuk memudahkan setiap hambaNya. Maka yang tidak mampu dan tidak berkenan untuk melakukan hal tersebut tidak mendapatkan beban untuk mengqadha’ atau menggantinya dengan kaffarah.

            Adapun adat masyarakat yang kemudian menjadikan ritual ini sebagai suatu yang biasa dijalankan, maka sah saja untuk tetap dijaga dan diikuti tanpa harus menganggap mereka yang tidak melakukannya sebagai sebuah tabu atau aib.

Wallahu a’lam bisshowab

 

 

 

 


[1] Al Mausuah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah. 26/107

[2] I’anatu thalibin. 2/384

[3] Syarah mukhtashar khalil. 3/48

Bagikan via


Baca Lainnya :

Hukum Waris: Diskriminasi Islam Terhadap Perempuan?
Firman Arifandi, LLB | 3 January 2017, 02:54 | 1.218 views
Apakah Khamr Itu Najis?
Faisal Reza | 30 December 2016, 00:03 | 649 views
Manhaj Imam Syafii dalam Memahami Al-Quran dan As-Sunnah
Galih Maulana | 29 December 2016, 10:29 | 1.115 views
Ketika Ulama Tidak Mengamalkan Hadits
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 26 December 2016, 13:20 | 990 views
Fiqih Itu Apa Sih?
Muhammad Ajib, Lc | 25 December 2016, 01:36 | 2.839 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Ukuran Sedikit Dari Najis yang Ditolerir
Siti Chozanah, Lc | 23 January 2017, 04:41 | 2.331 views
Hukum Menghibahkan Seluruh Harta Untuk Ahli Waris
Siti Chozanah, Lc | 15 January 2017, 22:21 | 1.165 views
Sedekah Dengan Harga Perak Dari Timbangan Rambut Bayi
Siti Chozanah, Lc | 4 January 2017, 08:23 | 875 views
Memandang Wajah Wanita yang Bukan Mahram
Siti Chozanah, Lc | 17 December 2016, 18:27 | 1.134 views
Wajibkah Seorang Ibu Menyusui Anaknya?
Siti Chozanah, Lc | 27 June 2013, 10:45 | 351 views