Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART I) | rumahfiqih.com

Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART I)

Firman Arifandi, Lc., MA Fri 22 June 2018 12:59 | 1242 views

Bagikan via

A.Pendahuluan

       Ilmu fiqih merupakan suatu disipin ilmu yang kini posisinya mulai nampak dirasakan sangat esensial dalam alur kehidupan beragama bahkan bermasyarakat. Perbedaan zaman, letak geografis, dan karakter individu serta komunitas dalam perjalanannya, memaksa fiqih mengalami  evolusi. Pasca wafatnya Rasulullah SAW serta para sahabat radiyallahu ‘anhum, belum ada formulasi tentang metode penetapan hukum Syariah yang paten. Hingga  munculah sejumlah madzhab ulama dengan produk hukumnya masing-masing yang tak sedikit berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tokoh-tokoh madzahib tersebut menawarkan kerangka metodologi, teori, dan kaidah-kaidah ijtihad yang menjadi pedoman mereka dalam menetapkan sebuah hukum.

       Dengan berjalannya waktu, dalam abad pertengahan, metode tersebut diteruskan oleh para pengikut dan murid-muridnya sehingga menjelma menjadi sebuah metode mutlak untuk menggali sumber hukum. Hal tersebut memberikan corak dan warna tersendiri bagi perkembangan Islam dari masa ke masa.

       Dalam konteks kekinian, muncul polemik tentang eksistensi serta urgensi madzhab dalam fiqih dengan berbagai macam perspektifnya. Sekalipun sangat dominan yang memilih untuk bermadzhab, tak sedikit yang menyatakan bermadzhab adalah pilihan yang keliru. Hal ini penting untuk dikaji dengan berbagai macam pendekatan, termasuk pendekatan sejarah. Tak bisa dipungkiri, madzhab berdiri karena perbedaan hasil ijtihad. Hal ini bukanlah faktor yang menunjukkan kelemahan hukum Islam, justru sebenarnya memberikan pandangan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dan tidak memberikan tekanan.

B. Pokok Permasalahan

       Sebagai tolak ukur dalam makalah ini, sejumlah pokok permasalahan akan dirumuskan, di antaranya adalah :

  1. Pengertian ringkas tentang fiqih dan madzhab
  2. Bagaimanakah latar belakang dan sejarah munculnya konsentrasi ilmu fiqih dan madzhab fiqhiyyah?
  3. Apakah penyebab perbedaan ijtihad dan munculnya madzahib?
  4. Urgensi bermadzhab dalam pendekatan sejarah

C. Pembahasan

1. Pengertian Fiqih dan Madzhab

          Fiqih menurut bahasa bermakna faham atau tahu. Sementara secara istilah, makna fikih mengalami perubahan secara berangsur-angsur dalam tiga periode :

Periode pertama : Fiqih bermakna pemahaman terhadap semua ilmu agama tanpa klasifikasi apapun, dalam kata lain segala hal yang mencangkup segmentasi dalam agama seperti aqidah, ibadah, fadail a’mal dan muamalat menjadi cangkupan dalam definisi fiqih. Hal ini berlaku dalam periode risalah atau ketika diutusnya Rasulullah hingga kepada era sahabat.

Periode kedua : fiqih secara istilah bermakna hukum syar’i yang berkaitan dengan amaliyah selain aqidah. Paham definisi ini berlaku sepanjang pertengahan abad kedua hijriah. Dalam hal ini, disiplin ilmu akhlaq ataupun tasawwuf termasuk dalam lingkup definisi fiqih.

Periode ketiga : dalam era ini fiqih bermakna segala hukum yang berkaitan dengan ibadah dan muamalat tanpa segmen yang lain. definisi ini berlaku sejak era kebangkitan Ijtihad. Maka sebagian ulama usul mendefinisikan istilah fiqih sebagai : ilmu yang berfungsi untuk mengetahui hukum syar’i bagi mukallaf dengan kategori 5 hukum. Imam Syafi’i Rahimahullah mendefinisikan Fiqih dengan : ilmu tentang hukum-hukum syar’iyah amaliyah yang diambil dari dalil-dalil yang tafsil (terperinci/jelas).

Sementara kata madzhab berasal dari bahasa Arab yaitu ism makan atau kata  keterangan tempat, diambil dari kata dzahaba yang artinya pergi. Maka, madzhab secara bahasa artinya tempat pergi atau jalan.

Secara istilah dalam ushul fiqih, madzhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syar’I yang rinci serta dari berbagai kaidah dan landasan (ushul) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

2. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Fiqih

Apabila ditelaah kembali dari definisi fiqih di periode pertama, sejarah mengungkapkan belum terbentuk 5 hukum yang mendasari syariat Islam yaitu wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah secara pemahaman aplikatifz. Maka sudah barang tentu, hukum-hukum tersebut merupakan produk Ijtihad pasca era kenabian. Itu artinya, fiqih mengalami evolusi dalam perjalanannya dari satu era ke era yang lain.

            Dr. Muhammad Taj Abdurrahman Al-‘Arusy dalam kitabnya al-fiqhu al-islamiy fii miizaani-t-tarikh, membagi periode fiqih kepada lima bagian, yaitu : Periode Rasulullah dan khulafau-r-rasyidin, periode berdirinya faham Fiqih, periode kebangkitan ilmu Fiqih dan terbukanya pintu Ijtihad, periode taqlid setelah ditetapkannya tokoh madzahib, dan terakhir adalah periode kesadaran bermazhab serta terbukanya kembali pintu Ijtihad.

            Sementara Dr. Abdul Wahab Khollaf membagi periode perjalanan Fiqih kepada 5 era dengan klasifikasi berbeda, yaitu : periode Risalah, periode Sahabat, periode kodifikasi, keemasan dan munculnya Imam-imam Mujtahidin, periode taqlid, terakhir periode gerakan tasyri’ kontemporer.

Melihat kepada klasifikasi periodikal tersebut, kita coba untuk membahas perjalanan sejarahnya dengan menggabungkanya pada jenis-jenis periode yang esensial sebagai berikut.

 

  • Periode Risalah

          Era ini berlangsung hanya sepanjang kurang lebih 22 tahun dan sekian bulan namun dampaknya sangat terasa hingga saat ini. Karena dalam periode ini dua sumber pedoman dalam Islam dihasilkan, yakni Al-qur’an dan sunnah. Masa risalah ini dibagi kepada dua tahap, yakni periode Makkah dan periode Madinah. Periode Makkah lebih berkonsentrasi pada pelurusan aqidah, berjalan selama dua belas tahun. Sekalipun ada ayat-ayat tentang hukum yang diturunkan, namun esensinya masih dalam rangka revolusi aqidah jahiliyah menuju penghambaan kepada Allah.  Sementara periode Madinah, adalah masa hijrah nabi dari Makkah ke Madinah hingga masa wafatnya. Dalam periode ke dua risalah ini, jumlah muslimin mulai bertambah banyak. Maka konsentrasi wahyu saat itu adalah lebih menekankan pada penerapan hukum baik yang menyangkut masalah Ibadah ataupun muamalah. Ayat-ayat tentang hudud, pernikahan, jual beli, hak waris, dan lain-lain turun dalam era ke dua ini. Secara keseluruhan, pada periode ini yang memegang otoritas atas hukum adalah Rasulullah SAW sendiri, sehingga dalam memutuskan suatu permasalahan, kaum muslimin dan para sahabat langsung berkonsultasi kepada baginda rasul.

 

  • Periode Sahabat

Diawali dengan wafatnya baginda Rasulullah SAW pada tahun ke 11 Hijriah, hingga pada akhir abad pertama hijriah. Era ini juga dikenal dengan era tafsir tasyri’ dan terbukanya pintu istinbath atas hukum suatu kejadian yang tak tertera dalam nash. Tidak semua sahabat memiliki otoritas menentukan sebuah hukum dalam era ini. Hanya orang-orang terpilih yang direkomendasikan untuk menjadi konsultan dengan ketentuan tak tertulis seperti durasi hidupnya bersama Rasul yang terhitung lama, faham yang kuat terhadap asbabun nuzul ayat-ayat qur’an dan hadist, serta menghafal keduanya, juga mereka-mereka yang dekat dan sering berkonsultasi kepada rasulullah. Di antara sahabat-sahabat yang menjadi mufti adalah : keempat khulafaur rasyidiin di Madinah, serta Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin ‘Umar dan ‘Aisyah. Di Makkah : Abdullah bin Abbas, di Kufah : Ali bin Abi Tholib dan Abdullah bin Mas’ud. Di Bashrah : Anas bin Malik dan Abu Musa Al-‘Asyari. di Syam : Muadz bin Jabal dan Ubadah bin Shomt. Serta di Mesir : Abdullah bin Amru bin ‘ash. Pada awalnya kebanyakan para mufti ini berada di Madinah dan keputusan-keputusan non-nushus diputuskan dengan ijma’, namun dengan meluasnya kekuasaan Islam, maka merekapun menyebar dan ijtihad secara individupun mulai dibuka. Pada era inilah sumber landasan hukum juga bertambah menjadi : al-Qur’an, as-sunnah, dan Ijtihad para sahabat.

Dalam era ini ada sejumlah efek tasyri’ yang menjadi catatan penting, diantaranya adalah :

  • Adanya interpretasi terhadap hukum-hukum yang tertulis dalam Nash baik itu padaal-Qur’anataupun as-sunnah. Dengan melihat pada metode bahasa, korelasi kejadian dan asbabun-nuzul.
  • Ditulisnya al-Qur’an
  • Banyaknya fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat dari hasil ijtihad mereka. Hal ini karena qodiyyah yang diperlukan tidak termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah secara gamblang.
  • Perpecahan kelompok atas latar belakang politik yang kemudian hadir dengan qodiyah fiqhiyyah yang justru menunjukkan karakter kelompok masing-masing. Berawal dari kejadian terbunuhnya sayyidina Utsman bin ‘Affan RA. Kemudian dibaiatnya Sayyidina Ali RA yang kemudian terjadilah perebutan dengan Muawiyah bin Abi Sufyan RA. Berakhir dengan tahkim di antara keduanya. Dari situ muslimin terpecah ke dalam tiga golongan : Khawarij, Syi’ah, dan Jumhur muslimin selain dua golongan tersebut.

Khawarij adalah golongan yang kecewa atas metode kepemimpinan ‘Utsman, juga kecewa dengan Ali yang dianggap mengalah atas khilafah yang diambil Muawiyah, serta kecewa atas cara Muawiyah yang mengambil khilafah dengan kekuatan. Maka  mereka keluar dari ketiganya. Efeknya, mereka tidak mengambil hukum yang pernah dinukil dari fatwa Ali, Utsman dan Muawiyah Radiyallahu ‘Anhum, dan riwayat hadist dari mereka, bahkan dari sahabat-sahabat lain yang dekat dan fanatik ketiganya.

Syiah adalah golongan yang pada awalnya memandang Ali RA adalah sahabat yang paling berhak atas khilafah dibanding yang lain. karena dia adalah sahabat yang diwasiatkan oleh rasulullah SAW atas kepemimpinan. Golongan ini sendiri kemudian ikut terpecah kepada Kisaniyah, Zaydiyah, Ismailiyah, dan Ja’fariyah. Sebagaimana khawarij, syiah bahkan tidak mengambil qodiyyah dari jumhur sahabat, serta hadist-hadist yang diriwayatkan oleh rasul dari para sahabat. Mereka lebih selektif kepada riwayat dan qodiyah ahlul bait.

Jumhurul muslimin adalah mereka yang selain khawarij dan Syiah. Mereka bersikap netral dan menerima semua qodiyah dan riwayat yang dari para sahabat.

 

Referensi:

Taj Abdur Rahman Al-‘Arusy. الفقه الإسلامي في ميزان التاريخ. 2003. Hal.8 - 13

Mohammad Bin Ibrahim. الاجتحاد و العرف. Darussalam. Cairo. 2009. Hal

abdul wahhab Khollaaf. خلاصة تاريخ التشريع الإسلامي. Darul qolam.kuwait. 2003. Hal 8 - 49

Bagikan via


Baca Lainnya :

Sembelihan Ahli Kitab Zaman Sekarang Masihkah Dihalalkan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 19 June 2018, 13:49 | 1.392 views
Fatwa Ulama Seputar Puasa di Negara Dengan Durasi Siang yang Panjang
Firman Arifandi, Lc., MA | 11 June 2018, 10:15 | 376 views
Perbedaan Jual Beli Salam dan Ishtishna
Isnawati, Lc., MA | 16 March 2018, 12:08 | 8.759 views
Jika Dalil Kita Selalu Bertentangan
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 February 2018, 20:15 | 6.984 views
Imam Suyuthi dan al-Itqon
Galih Maulana, Lc | 24 January 2018, 16:28 | 7.652 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Jika Makmum dan Imam Berbeda Niat Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 26 August 2018, 21:07 | 1.431 views
Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2018, 20:34 | 3.129 views
Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 25 June 2018, 13:11 | 1.009 views
Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 22 June 2018, 12:59 | 1.242 views
Sembelihan Ahli Kitab Zaman Sekarang Masihkah Dihalalkan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 19 June 2018, 13:49 | 1.606 views
Fatwa Ulama Seputar Puasa di Negara Dengan Durasi Siang yang Panjang
Firman Arifandi, Lc., MA | 11 June 2018, 10:15 | 467 views
Jika Dalil Kita Selalu Bertentangan
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 February 2018, 20:15 | 7.253 views
Tradisi Masyarakat Bisa Menjadi Dalil Dalam Agama?
Firman Arifandi, Lc., MA | 27 September 2017, 12:00 | 8.231 views
Ayat-ayat Hukum Terancam Expired?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2017, 10:30 | 2.518 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 February 2017, 01:03 | 10.136 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 February 2017, 01:45 | 7.068 views
Kembali Kepada Al-quran dan Hadist, Seperti Apa?
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 January 2017, 16:07 | 6.007 views
Hukum Waris: Diskriminasi Islam Terhadap Perempuan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 3 January 2017, 02:54 | 3.777 views
Diharamkan Melakukan Hal yang Belum Pernah Dilakukan Nabi?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 November 2016, 09:24 | 3.633 views
Menampar Istri yang Berbuat Nusyuz, Bolehkah?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 July 2016, 10:49 | 2.012 views
Perjalanan Pulang Ke Indonesia Menjelang Ramadhan; Ikut Awal Puasa Negara Setempat Atau Indonesia?
Firman Arifandi, Lc., MA | 4 June 2016, 17:48 | 3.605 views
Qawaid Fiqhiyyah Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 April 2016, 09:11 | 3.180 views
Qawaid Fiqhiyyah (Islamic Legal Maxim) Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 20 April 2016, 06:14 | 4.366 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA46 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA18 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Azizah, Lc0 tulisan
Wildan, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Maharati Marfuah Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan