Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda? | rumahfiqih.com

Mengapa Kita Tidak Boleh Berbeda?

Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA Tue 21 January 2014 08:44 | 4749 views

Bagikan via

Bicara masalah fiqih, maka sudah barang tentu kita akan berhadapan dengan banyak perbedaan. Bahkan perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan yang ada.

Sudah banyak tulisan yang mengangkat masalah perbedaan ini, tulisan sederhana ini hanya bagian dari dari usaha agar ummat ini sadar dengan adanya perbedaan ini, bahwa ber-fiqih- memang sepertinya wajib berbeda.

Sebagian pengusung jargon 'harus satu kata' kadang kala meyandarkan pendapat mereka pada ayat berikut:

وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ، إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu (QS. Hud: 118-119)

Sekilas dari ayat ini kita fahami bahwa berbeda itu bukan sebuah perilaku yang baik, terbukti bahwa pada ayat tersebut disebut bahwa hanya orang-orang yang diberi rahmat yang tidak akan berbeda.

Imam As-Syathiby menegaskan bahwa perbedaan yang bersumber dari para mujtahid dalam masalah fiqih tidak termasuk dalam katagori ayat di atas. Kalimat 'kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu' sering digunakan untuk menunjuk makna sahabat.

Dalam masalah fiqih, para sahabat sendiri yang notabenenya adalah orang-orang yang diberi rahmat oleh Allahpun berbeda pendapat. Untuk itulah Imam As-Syathiby menjelaskan bahwa celaan terhadap perbedaan pendapat itu bukan pada wilayah fiqih yang diampuh oleh para mujtahid kita.

Bahkan kalangan yang tidak menghendaki perbedaan dalam ber-fiqihpun dalam kenyatanya mereka juga berbeda. Hal ini mempertegas bahwa memang kita harus berbeda.

Perbedaan itu sendiri akan ada pada setiap kondisinya, bukan hanya ketika tidak ada dalil, tapi kadang kala justru perbedaan itu ada ketika ada dalil, dan sepertinya akan ada juga perbedaan dalam penerapan dalil itu sendiri.

1. Al-Khilaf Inda ‘Adam Ad-Dalil (Berbeda Ketika Tidak Ada Dalil)

Perbedaan fiqih itu sendiri sering muncul disa’at tidak ada dalil yang khusus dalam sebuah perkara. Sebut saja contoh dalam kasus ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa, bagaimana hukumnya?

Dalam hal ini setidaknya para ulama terbagi ke dalam empat kelompok besar: Ada yang berpendapat bahwa mereka harus mengganti puasa saja, ada juga yang berpendapat mereka harus membayar fidyah saja, ada juga yang berpendapat bahwa mereka harus mengganti puasa dan juga membayar fidyah, ada juga yang membedakan anatara ibu hamil dengan ibu yang menyusui.

Perbedaan ini ada karena memang secara khusus tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an maupun hadits, untuk itulah semua ulama akan beralih jalannya dengan meggunakan dalil qiyas.

2. Al-Khilaf Ma’a Wujud Ad-Dalil (Berbeda Ketika Ada Dalil)

Kita mungkin masih menerima alasan bahwa perbedaan itu karena tidak adanya dalil, tapi ternyata hal yang sama juga terjadi disa’at adanya dalil.

Kita ambil contoh pada masalah wudhu’, apakah kaki masuk bagian anggota badan yang harus dicuci (disiram dengan air) atau hanya cukup di usap saja seperti kita mengusap kepala?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, dan perbedaan justru terjadi ketika adanya dalil. Dalilnya adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 6)

Para imam Qiro’at kita berbeda pendapat dalam bacaan ayat ini. Ibnu Amir, Nafi’, dan Al-Kisa’i membaca “waarjulakum” dengan harokat fathah (di atas) pada huruf lam, sedangkan Ibnu Katsir, Abu Amr, dan Hamzah membacanya dengan “waarjulikum” dengan harokat kasroh (dibawah).

Dari model bacaan inilah maka mayoritas ulama lebih memilih pendapat yang membacanya dengan harokat fathah (di atas), maka dalam berwudhu kaki harus dibasuh (disiram), sedang sebagian ulama lainnya lebih memilih pendapat yang membacanya dengan harkat kasroh (di bawah), maka mereka berpendapat bahwa dalam berwudhu’ kaki cukup diusap saja atau disapu sama seperti kita menyapu kepala.

Dan begitu seterusnya, ada banyak contoh bagaimana perbedaan itu justru hadir ketika ada dalilnya. Baik dalil Al-Qur’an maupun dalil dari hadits nabi.

3. Al-Khilaf Atsna’ Tathbiq Ad-Dalil (Berbeda Dalam Penerapan Dalil)

Hal ini biasanya terjadi pada qiyas dalam menentukan illah suatu masalah, para ulama menyebut metode ini dengan; Tahqiq Al-Manath, Tanqih Al-Manath dan Takhrij Al-Manath.

Kita ambil contoh misalnya, ketika ada hadits yang menjelaskan bahwa Rasul SAW mewajibkan kaffaroh (Memerdekaan budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh fakir miskin) bagi orang yang melakukan hubungan suami istri di siang Ramadhan.

Maka dalam hal ini jumhur ulama mengatakan bahwa illah kaffaroh itu adalah hubungan suami istri di siang Ramadhan, namun ternyata dalam mazhab Maliki mereka berpendapat bahwa illah-nya bukan hanya itu, tetapi illah-nya adalah intihaq hurmati Ramadhan (Merusak kehormatan bulan Ramadhan).

Maka dalam mazhab ini makan dan minum siang hari dibulan Ramadhan akan dijatuhi hukuman yang sama, yaitu membayar kaffaroh satu dari tiga diatas (Memerdekaan budak, puasa dua bulan berturut-tururt, atau memberi makan enam puluh fakir miskin), karena alasan sama yanitu peri laku ini (makan dan minum) tersebut sudah merusak kehoratan bulan Ramadhan.

Begitulah akhirnya perbedaan itu sudah pasti ada, dan sepertinya memang perbedaan semacam ini tidak dilarang oleh Allah, asalkan dalam menyikapi perbedaan ini yang kita cari adalah keridhoaan Allah dengan mencari jalan keluarnya dari kitab maupun sunnah, dan metodologi yang digunakan dalam fiqih adalah metodologi yang sejalan dengan apa yang sudah Allah dan Rasul-Nya gariskan. Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)” (QS. An-Nisa’: 59)

Sebagian ulama menilai bahwa ini adalah ayat yang secara langsung mengindikasikan bahwa perbedaan fiqih itu sudah pasti ada dan ‘boleh ada’, jika seadainya perbedaan itu tidak boleh ada tentunya tidak akan ada ayat yang berbunyi: “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu”.

Dan jika tidak boleh berbeda pendapat tentunya hal itu juga tidak boleh terjadi pada generasi sahabat, namun yang kita lihat malah sebaliknya para sahabat juga berbeda pendapat dalam fiqih, jika mereka saja sudah berbeda, mengapa kita tidak boleh berbeda?

Wallahu a’lam bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 January 2014, 18:21 | 5.976 views
Memerangi Mazhab (Lagi)
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 15 January 2014, 18:22 | 11.312 views
Meninggal Bersama dalam Kecelakaan, Bagaimana Pembagian Warisnya?
Ahmad Zarkasih, Lc | 10 January 2014, 16:25 | 3.328 views
Ulama dan Bukan Ulama : Beda Kelas
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 10 January 2014, 08:04 | 5.549 views
English Please
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 9 January 2014, 04:59 | 4.394 views

more...

Semua Tulisan Penulis :