Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja? | rumahfiqih.com

Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?

Firman Arifandi, Lc., MA Sun 7 July 2019 20:34 | 4795 views

Bagikan via

Sudah menjadi polemik musiman antar sesama muslim di zaman sekarang dimana hari pelaksanaan puasa arafah antar negara bisa berbeda dengan Saudi. Ketidaksamaan ini kerap muncul karena ru’yah di setiap negara yang kerap berbeda. Di sisi lain, ada penekanan dalil disunnahkannya berpuasa arafah. Dari situ, ada yang mengikuti berpendapat bahwa puasa arafah adalah hari dimana orang-orang yang berhaji sedang wuquf, sehingga bagi mereka cukuplah mengikuti tanggal sembilan Dzulhijjahnya Saudi Arabia.

Adapula yang berpendapat bahwa penekanan puasa arafah adalah di tanggal 9 Dzulhijjahnya, sehingga sangat memungkinkan bagi setiap negara berbeda dalam hari pelaksanaanya karena perbedaan ru’yah.

Dari permasalahan di atas, setidaknya bisa kita petakan pembahasan kita kepada beberapa hal:

1. Apakah Arafah itu isyarat terhadap hari wuqufnya para jamaah haji di padang arafah atau lebih kepada isyarat waktu (9 Dzulhijjah)?

2. Jika penekanannya kepada waktu maka patokannya adalah hilal, lalu apakah penentuan hilal di seluruh dunia itu cukup satu atau bisa berbeda?

I. puasa arafah apakah mengarah kepada momentum wuquf atau tanggal 9 dzulhijjah?

Dalam hal ini para ulama juga sudah berbeda pendapat, masing-masing datang dengan dalil-dalilnya.

A. Kelompok yang berpendapat bahwa hari Arafah adalah hari yang bertepatan dengan momentum dimana para jamaah haji sedang wuquf di Arafah.

Di antara ulama kontemporer yang berpedoman pada pendapat ini adalah Dewan Fatwa lajnah Daimah untuk kerajaan Saudi Arabia . Seperti yang tertera dalam pertanyaan yang masuk dalam fatwa mereka sebagaimana berikut :

س1: هل نستطيع أن نصوم هنا يومين لأجل صوم يوم عرفة؛ لأننا هنا نسمع في الراديو أن يوم عرفة غدا يوافق ذلك عندنا الثامن من شهر ذي الحجة؟

ج1: يوم عرفة هو اليوم الذي يقف الناس فيه بعرفة ، وصومه مشروع لغير من تلبس بالحج، فإذا أردت أن تصوم فإنك تصوم هذا اليوم، وإن صمت يوما قبله فلا بأس

Tanya: “Bolehkah kami melakukan puasa di sini, di luar Arab Saudi selama 2 hari untuk hari Arafah, karena kami di sini mendengar di radio bahwa hari Arafah adalah besok yang bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah menurut pemerintah kami?”

Jawab: “Hari Arafah adalah hari yang mana manusia melakukan wukuf di Arafah . Puasa hari Arafah disyariatkan bagi orang yang tidak sedang sibuk dengan ibadah haji. Kalau Anda mau berpuasa, maka Anda berpuasa pada hari ini. Kalau Anda berpuasa sehari sebelumnya, maka tidak apa-apa.

Dalil

Secara umum dalil yang mereka pakai adalah berikut:

عن عبدالعزيز بن عبدالله بن خالد بن أَسِيْد، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «يوم عرفة اليوم الذي يعرف فيه الناس»

Dari abdul Aziz bin Abdillah bin khalid bin asid, bahwa Nabi SAW bersabda: hari arafah adalah hari dimana manusia berkumpul di arafah (HR Abu Daud)

عن عائشة رضي الله عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «عرفة يوم يعرف الإمام، والأضحى يوم يضحي الإمام، والفطر يوم يفطر الإمام»

Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: arafah adalah hari dimana imam (pemerintah) melakukan wukuf, dan Idul adha adalah hari dimana imam menyembelih qurban, dan fitr adalah hari dimana imam mulai makan (tidak lagi berpuasa) (HR Baihaqi)

Melalui hadist tersebut di atas, diambil kesimpulan hukumnya oleh para ulama yang meyakini bahwa hari arafah itu adalah hari dimana orang-orang sedang wukuf, dan hari puasa itu adalah hari dimana orang-orang secara mayoritas sedang berpuasa.

Bantahan : pendapat tersebut dibantah dalam kitab syarh sunan Syafi’iy oleh imam Ar Rafi’iy bahwa yang dimaksud dengan “puasanya orang-orang” dalam redaksi hadist tersebut adalah orang-orang di masing-masing negara. Dan maksud dari “arafah adalah di saat orang-orang wukuf” maksudnya adalah jika segolongan orang wukuf tidak bersamaan dengan orang-orang pada umumnya di arafah maka dipandang keliru dan mereka tidak dilazimkan mengqadha’nya .

Dalil selanjutnya yang dipakai kelompok pertama ini juga adalah “Ijma para ulama sedunia” yang menganggap bahwa keberangkatan haji disesuaikan dengan kalender Saudi Arabia yang telah menentukan tanggal pelaksanaan wukuf di Arafah.

Bantahan : Sebenarnya jika menggunakan dalil Ijma’ juga bisa terbantahkan, bahwa dalam pandangan ulama ushul, Ijma’ atas perkara yang sudah lebih dahulu terjadi ikhtilaf di dalamnya maka tidak bisa diterima sebagai sebuah kesepakatan hukum menurut ulama ushul fiqih .

ولا يصح الإجماع مع وجود الخلاف منها

Tidak dibenarkan Ijma’ dengan adanya perselisihan di dalam perkaranya.

B. Kelompok yang meyakini bahwa hari Arafah lebih berindikasi kepada tanggal 9 Dzulhijjah

Di antara para ulama kontemporer yang ada pada pendapat kedua ini adalah Syekh Utsaimin yang juga tak lain adalah sebagai mufti kerajaan Saudi, yang menyatakan bahwa hal ini tergantung kepada mathla’ setiap negara :

وبناء على هذا صوموا وأفطروا كما يصوم ويفطر أهل البلد الذي أنتم فيه سواء وافق بلدكم الأصلي أو خالفه، وكذلك يوم عرفة اتبعوا البلد الذي أنتم فيه.

“Atas dasar demikian, maka berpuasalah kalian dan berbukalah sebagaimana puasa dan berbukanya penduduk negeri yang kalian tempati. Baik itu sesuai negeri kalian yang asli ataukah menyelisihinya. Demikian pula hari Arafah, maka ikutilah negeri yang kalian tempati .”

Dalil

Adapun dalil yang dipakai oleh kelompok kedua ini adalah berikut:

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

Dari istri-istri Nabi berkata: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya , serta senin dan kamis pada setiap bulan. (HR. Abu Daud & nasai)

Hadist tersebut di atas dianggap merupakan hadist yang lemah menurut Az Zaila’I, tapi dianggap Shahih oleh As Suyuthi bahkan oleh Al Albani.

Rasulullah "Terbiasa" melaksanakan Puasa Arafah Pada 9 Dzulhijjah, Sementara Beliau SAW Baru Berhaji Pada Tahun ke 10 H dan Wafat di 11 H

Selanjutnya dari hadist di atas juga difahami bahwa Rasulullah “Terbiasa” berpuasa arafah, makna terbiasa menunjukan bahwa puasa arafah telah dilakukan nabi berkali-kali, sementara jika arafah diidentikkan dengan wukuf sangatlah tidak tepat, karena dalam sejarah, nabi hanya melakukan haji sekali saja dalam hidupnya, dan beberapa bulan setelah haji, kemudian nabi SAW wafat. Artinya, bisa jadi jauh sebelum nabi berangkat haji, telah membiasakan puasa arafah di tanggal 9 dzulhijjah.

Pernyataan di atas diperkuat oleh hadist dari Dari Ummul Fadhil bintil Harits RA

أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

Bahwa manusia berselisih tentang hari Arafah pada puasa Nabi SAW. Sebagian mereka berkata: “Beliau berpuasa.” Sebagian lain berkata: “Beliau tidak berpuasa.” Maka Ummul Fadhel mengirimkan segelas susu kepada beliau dalam keadaan beliau berada di atas unta beliau. Maka beliau meminumnya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkomentar tentang hadits di atas:

قوله في صوم النبي صلى الله عليه و سلم هذا يشعر بأن صوم يوم عرفة كان معروفا عندهم معتادا لهم في الحضر

Lafadz "mereka berselisih tentang puasa Nabi SAW” Ini memberikan pemahaman bahwa puasa hari Arafah itu sudah dikenal di kalangan mereka, dan juga dibiasakan oleh mereka ketika hadir di rumah.” (Fathul Bari: 4/237).

Yang menjadi penguat bahwa arafah adalah bermakna tanggal 9 Dzulhijjah dan bukan makna wukuf yakni tatkala kita membuka definisi dan merujuk kepada pendapat para ulama salaf tentang makna arafah sebagaimana berikut:

Ibnu Qudamah:

فأما يوم عرفة: فهو اليوم التاسع من ذي الحجة

sedangkan hari arafah adalah hari kesembilan dari Dzulhijjah

Syaikhul Islam Zakariya Al Anshari

سن صوم يوم عرفة، وهو تاسع ذي الحجة

disunnahkan puasa hari arafah, yakni hari ke sembilan Dzulhijjah .

Badruddin al-Ayni menyatakan:

وأما عرفة فإنها تطلق على الزمان وهو التاسع من ذي الحجة وعلى المكان وهو الموضع المعروف الذي يقف فيه الحجاج يوم عرفة

“Adapun Arafah, maka ia dikatakan untuk menamai waktu, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah, dan juga bisa dikatakan untuk menamai tempat, yaitu tempat yang dikenal yang mana jamaah haji melakukan wukuf pada hari Arafah di tempat itu. ”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al Asqallani :

لستة أيام متوالية من أيام ذي الحجة أسماء الثامن يوم التروية والتاسع عرفة والعاشر النحر والحادي عشر القر والثاني عشر النفر الأول والثالث عشر النفر الثاني

“Ada 6 hari berturut-turut di bulan Dzulhijjah yang mempunyai nama khusus. Tanggal 8 Dzulhijjah adalah hari Tarwiyah. Tanggal 9 adalah hari Arafah. Tanggal 10 adalah hari Nahr. Tanggal 11 adalah hari Qarr. Tanggal 12 hari Nafar Awal dan tanggal 13 adalah hari Nafar kedua.”

Imam Nawawi dalam Mengomentari Hadist pendukung pendapat pertama:

قَال أَصْحَابُنَا: وَليْسَ يَوْمُ الفِطْرِ أَوَّل شَوَّالٍ مُطْلقًا وَإِنَّمَا هُوَ اليَوْمُ الذِي يُفْطِرُ فِيهِ النَّاسُ بِدَليل الحَدِيثِ السَّابِقِ، وَكَذَلكَ يَوْمَ النَّحْرِ، وَكَذَا يَوْمَ عَرَفَةَ هُوَ اليَوْمُ الذِي يَظْهَرُ للنَّاسِ أَنَّهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، سَوَاءٌ كَانَ التَّاسِعَ أَوْ العَاشِرَ

“Telah berkata sahabat kami (Syafiiyah): Tidaklah hari berbuka itu bermakna hari pertama bulan Syawal secara muthlaq. Ia adalah hari dimana orang-orang berbuka padanya dengan dalil hadits sebelumnya (yaitu : ‘Berbuka kalian di hari kalian berbuka’). Begitu pula dengan hari penyembelihan . Begitu pula dengan hari ‘Arafah, ia adalah hari yang nampak bagi orang-orang bahwasannya hari itu adalah hari ‘Arafah. Sama saja apakah itu hari kesembilan atau hari kesepuluh bagi tempat lain .

yang lebih sepele adalah makna arafah dalam ‘Al-Qamus’ al-Muhith:

ويومُ عَرَفَةَ : التاسِعُ من ذي الحِجَّةِ . وعَرَفَاتٌ : مَوْقِفُ الحاجِّ ذلك اليَومَ على اثْنَيْ عَشَرَ مِيلاً من مكَّةَ

“Hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan Arafat adalah tempat wukufnya jamaah haji di hari itu yang berada 12 mil dari Makkah .

II. Hilal harus satu atau boleh berbeda?

Permasalahan seputar Hilal rasanya sudah sangat sering dibahas, bila dipetakan, tentu juga kita akan menemukan dua kelompok besar:

1. Wihdatul mathla’ : kelompok yang meyakini bahwa hilal itu satu dan global, dimana bila satu negara telah melihat hilal, maka wajib bagi seluruh penduduk dunia ikut ru’yahnya.

2. Ikhtilaful mathali’ : kelompok yang meyakini bahwa hilal bisa berbeda di setiap wilayah sebagaimana disebutkan dalam hadist kuraib:

عنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ فَقَالَ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ ، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلالَ فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلالَ ؟ فَقُلْتُ : رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ، فَقَالَ : أَنْتَ رَأَيْتَهُ ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَ: لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاثِينَ أَوْ نَرَاهُ ، فَقُلْتُ : أَلا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ ؟ فَقَالَ: لا ، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dari Kuraib: “Sesungguhnya Ummu Fadl binti al-Harits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib:” Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan)?” Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”.Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” Jawabku: “Ya! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”. Ia berkata: “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawal) “. Aku bertanya: “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (penglihatan) dan puasanya Mu’awiyah?” Jawabnya : “Tidak! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami (HR Muslim)

Pendapat Ibnu Abidin Tentang Perbedaan Qurban karena Berbeda Mathla’

يُفْهَمُ مِنْ كَلَامِهِمْ فِي كِتَابِ الْحَجِّ أَنَّ اخْتِلَافَ الْمَطَالِعِ فِيهِ مُعْتَبَرٌ فَلَا يَلْزَمُهُمْ شَيْءٌ لَوْ ظَهَرَ أَنَّهُ رُئِيَ فِي بَلْدَةٍ أُخْرَى قَبْلَهُمْ بِيَوْمٍ وَهَلْ يُقَالُ كَذَلِكَ فِي حَقِّ الْأُضْحِيَّةِ لِغَيْرِ الْحُجَّاجِ؟ لَمْ أَرَهُ وَالظَّاهِرُ نَعَمْ؛ لِأَنَّ اخْتِلَافَ الْمَطَالِعِ إنَّمَا لَمْ يُعْتَبَرْ فِي الصَّوْمِ لِتَعَلُّقِهِ بِمُطْلَقِ الرُّؤْيَةِ، وَهَذَا بِخِلَافِ الْأُضْحِيَّةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا كَأَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ يَلْزَمُ كُلَّ قَوْمٍ الْعَمَلُ بِمَا عِنْدَهُمْ فَتُجْزِئُ الْأُضْحِيَّةُ فِي الْيَوْمِ الثَّالِثَ عَشَرَ وَإِنْ كَانَ عَلَى رُؤْيَا غَيْرِهِمْ هُوَ الرَّابِعَ عَشَرَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Difahami dari perkataan mereka dalam kitab Haji bahwa perbedaan mathla’ dianggap sebagai faktor yang diterima, maka tidak diwajibkan konsekuensi apapun bagi mereka jika negara lain melihat hilal sehari sebelum hari di Mekkah. Dan apakah bisa dianggap hal serupa untuk kasus udhiyyah bagi selain yang berhaji? Aku kira demikian secara dhahir. Karena perbedaan mathla’ tidak dianggap dalam puasa kecuali karena keterkaitannya dengan ru’yah. Dan ini tak berbeda dengan udhiyyah, dan yang jelas bahwasanya hal tersebut sama seperti waktu shalat, dimana diwajibkan bagi setiap kaum melakukannya sesuai waktu yang berlaku di tempatnya, maka boleh berkurban di hari ke tiga belas sekalipun dalam ru’yah negara lain adalah hari ke empat belas. Wallahu a’lam .

Melihat dua madzhab besar dalam mathla’ sekiranya bisa sedikit ditarik kesimpulan bahwa pendukung pendapat yang menyatakan bahwa hari arafah adalah hari wukuf adalah mereka yang juga mendukung wihdatul mathla’ atau ru’yah global. Sementara pendukung bahwa arafah adalah sembilan Dzulhijjah adalah mereka yang meyakini ikhtilaful mathali’ alias ru’yah lokal yang berbeda-beda.

Sebagai sebuah penutup dan kesimpulan, penulis melihat ini adalah sebuah bagian dari ikhtilaf dalam ranah fiqhiyyah yang sekiranya setiap orang harus mampu legowo dengan pilihan orang lain yang bisa saja berbeda. Sebagaimana penulis yang memiliki kecondongan bahwa pendapat para ulama terkait Arafah adalah hari ke sembilan dari bulan Dzulhijjah dan tidak harus berpatokan kepada hari dimana orang-orang sedang wukuf adalah lebih rajih dibanding pendapat yang lain. Wallahu a’lam bishowab

referensi:

Fatawa lajnah daimah 10/393

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah al-Majmu’ah al-Ula: 4052 (10/393-4)

imam Abul Qasim Ar Rafi’iy. syarh musnad As Syafi’I. 2/12

imam Al Jashos. Al fushul fil Ushul.  3/311

Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin: 19/25

Ibnu Qudamah. Almughni. 4/446

Zakariya AL Anshari. Fathul wahhab. 1/145

Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari: 8/183

Ibnu hajar Al Asqallani. Fathul Bari: 3/575

imam Nawawi. Al Majmu;  5/27

Al-Qamus al-Muhith: 1080

Hasyiyah Ibnu Abidin. 2/394

Bagikan via


Baca Lainnya :

Berilmu Sebelum Berutang
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 27 August 2018, 08:40 | 819 views
Jika Makmum dan Imam Berbeda Niat Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 26 August 2018, 21:07 | 970 views
Fiqih Pinjam-meminjam
Muhammad Abdul Wahab, Lc | 23 August 2018, 21:49 | 2.228 views
Keluarga Yang Dapat Pahala Qurban, Siapa Saja?
Aini Aryani, Lc | 18 August 2018, 18:08 | 741 views
Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2018, 20:34 | 2.955 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Hari Arafah Ikut Waktu Wuquf atau Ikut Isbat Tiap Negara Saja?
Firman Arifandi, Lc., MA | 7 July 2019, 20:34 | 4.795 views
Tradisi Manaqiban dan Haul Menurut Salafushhalih
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 July 2019, 05:47 | 653 views
Haramkah Menggelar Doa Akhir dan Awal Tahun Menyambut Muharram
Firman Arifandi, Lc., MA | 9 June 2019, 05:53 | 655 views
Bolehkah Tabarrukan ke Makam Rasulullah dan Shalihin?
Firman Arifandi, Lc., MA | 8 May 2019, 06:04 | 420 views
Jika Makmum dan Imam Berbeda Niat Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 26 August 2018, 21:07 | 4.979 views
Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 25 June 2018, 13:11 | 2.819 views
Fiqih dan Madzhab dalam Frame Sejarah (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 22 June 2018, 12:59 | 5.026 views
Sembelihan Ahli Kitab Zaman Sekarang Masihkah Dihalalkan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 19 June 2018, 13:49 | 4.660 views
Fatwa Ulama Seputar Puasa di Negara Dengan Durasi Siang yang Panjang
Firman Arifandi, Lc., MA | 11 June 2018, 10:15 | 2.115 views
Jika Dalil Kita Selalu Bertentangan
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 February 2018, 20:15 | 9.934 views
Tradisi Masyarakat Bisa Menjadi Dalil Dalam Agama?
Firman Arifandi, Lc., MA | 27 September 2017, 12:00 | 11.767 views
Ayat-ayat Hukum Terancam Expired?
Firman Arifandi, Lc., MA | 16 August 2017, 10:30 | 3.501 views
Jenis Gerakan yang Membatalkan Shalat
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 February 2017, 01:03 | 16.863 views
Nikah Tanpa Wali: Dari Madzhab Hanafi Hingga Implementasinya Dalam UU Pernikahan di Pakistan
Firman Arifandi, Lc., MA | 1 February 2017, 01:45 | 15.003 views
Kembali Kepada Al-quran dan Hadist, Seperti Apa?
Firman Arifandi, Lc., MA | 14 January 2017, 16:07 | 7.888 views
Hukum Waris: Diskriminasi Islam Terhadap Perempuan?
Firman Arifandi, Lc., MA | 3 January 2017, 02:54 | 4.977 views
Diharamkan Melakukan Hal yang Belum Pernah Dilakukan Nabi?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 November 2016, 09:24 | 4.506 views
Menampar Istri yang Berbuat Nusyuz, Bolehkah?
Firman Arifandi, Lc., MA | 29 July 2016, 10:49 | 2.844 views
Perjalanan Pulang Ke Indonesia Menjelang Ramadhan; Ikut Awal Puasa Negara Setempat Atau Indonesia?
Firman Arifandi, Lc., MA | 4 June 2016, 17:48 | 4.331 views
Qawaid Fiqhiyyah Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART II)
Firman Arifandi, Lc., MA | 21 April 2016, 09:11 | 8.786 views
Qawaid Fiqhiyyah (Islamic Legal Maxim) Sebagai Formulasi Hukum: Sejarah, Urgensi, dan Sistematikanya (PART I)
Firman Arifandi, Lc., MA | 20 April 2016, 06:14 | 8.031 views
PENULIS :
Ahmad Zarkasih, Lc106 tulisan
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA57 tulisan
Hanif Luthfi, Lc., MA52 tulisan
Ahmad Sarwat, Lc., MA47 tulisan
Isnan Ansory, Lc, MA26 tulisan
Firman Arifandi, Lc., MA21 tulisan
Sutomo Abu Nashr, Lc20 tulisan
Aini Aryani, Lc19 tulisan
Galih Maulana, Lc16 tulisan
Muhammad Abdul Wahab, Lc13 tulisan
Ali Shodiqin, Lc13 tulisan
Isnawati, Lc., MA9 tulisan
Muhammad Ajib, Lc., MA9 tulisan
Siti Chozanah, Lc7 tulisan
Tajun Nashr, Lc6 tulisan
Faisal Reza4 tulisan
Ridwan Hakim, Lc2 tulisan
Muhammad Aqil Haidar, Lc1 tulisan
Muhammad Amrozi, Lc1 tulisan
Maharati Marfuah Lc1 tulisan
Luki Nugroho, Lc0 tulisan
Nur Azizah, Lc0 tulisan
Wildan Jauhari, Lc0 tulisan
Syafri M. Noor, Lc0 tulisan
Ipung Multinigsih, Lc0 tulisan
Solihin, Lc0 tulisan
Teuku Khairul Fazli, Lc0 tulisan

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img