Tantangan Qawaid Fiqhiyyah | rumahfiqih.com

Tantangan Qawaid Fiqhiyyah

Hanif Luthfi, Lc Fri 21 June 2013 03:03 | 6590 views

Bagikan via

Muqaddimah

Bisa dikatakan Qawaid Fiqhiyyah merupakan bukti kemajuan keilmuan Fiqih Islam, dimana para ulama’ selain menuliskan cabang-cabang hukum fiqih, mereka telah menyederhanakan kecenderungan hukum-hukum fiqih itu kepada beberapa kaedah dengan bahasa yang simpel, mudah dihafal dan bisa diterapkan sepanjang masa. Hal itu menunjukkan majunya logika berpikir dari para ulama’.

Qawaid Fiqhiyyah merupakan salah satu cabang ilmu fiqih. Benih Qawaid Fiqhiyyah memang sudah ada dalam al-Quran maupun Sunnah. Hanya saja, belum tersusun dengan baik. Setelah abad ke-4 hijriyyah baru mulai berkembang[1]. Sampai akhirnya banyak ulama’ yang menuliskan cabang ilmu ini ke dalam sebuah kitab tersendiri pada abad ke-7 sampai abad ke-10 hijriyyah.

Maka dari itu, banyak manfaat yang bisa diambil dari belajar Qawaid Fiqhiyyah ini. Diantaranya yang paling nyata adalah memudahkan thalib ilmi dalam memahami hukum fiqih dan menghafalkannya. Sebagaimana ketika ujian sekolah, salah satu cara mempermudah menghafal pelajaran adalah membuat ringkasannya.

Tiga Bentuk Kaedah

Secara umum, ada tiga macam kaedah yang telah ditetapkan oleh para ulama’ dalam keilmuan hukum Islam:

1. Kaedah Istinbath Hukum dan Ijtihad

Kaedah ini berisi metode-metode yang dipakai oleh seorang mujtahid dalam memahami hukum-hukum syariat dari sumbernya, sebelum menetapkan hukumnya. Kaedah ini sering disebut sebagai Qawaid Ushul Fiqih atau Kaedah-Kaedah Ushul Fiqih. Sebagai contoh: Asal perintah adalah wajib, asal larangan adalah haram, dsb.

2. Kaedah Takhrij

Kaedah ini ditetapkan oleh ulama’ hadits dalam menetapkan derajat suatu riwayat hadits, diterima dan tidaknya suatu hadits, al-jarh wa at-ta’dil seorang penyampai hadits. Untuk nantinya diambil sebagai sumber hukum Islam. Kaedah ini sering disebut dengan Ilmu Mushthalah Hadits atau Ushul al-Hadits atau Qawaid at-Tahdits. Sebagai contoh: Hadits mutawatir berfaedah yakin, hadits bisa diterima/ shahih jika memenuhi lima syarat, dsb.

3. Kaedah Hukum-Hukum Fiqih

Kaedah ini biasanya dibuat oleh ulama’ suatu madzhab fiqih, dalam rangka mengumpulkan hukum-hukum fiqih yang serupa atau hampir sama. Selanjutnya ditetapkan sisi keserupaannya untuk ditetapkan kaedah yang mengikat antara hukum-hukum yang serupa tadi. Inilah yang nantinya dikenal dengan sebutan Qawaid Fiqhiyyah.

Tantangan Qawaid Fiqhiyyah

Paling tidak, ada beberapa tantangan yang dihadapi Qawaid Fiqhiyyah saat ini. Diantaranya:

1. Qawaid Fiqhiyyah Perbandingan Madzhab

Penetapan Qawaid Fiqhiyyah biasanya menggunakan metode induktif, dimana beberapa contoh cabang hukum fiqih dikumpulkan lalu ditetapkan kesamaannya untuk dibuat sebuah kaedah.

Secara umum, Qawaid Fiqhiyyah tiap madzhab memang sama. Tetapi ada beberapa cabang kaedah yang berbeda antar madzhab, karena memang ada perbedaan dalam hukum masing-masing madzhab. Sebagai contoh:

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

Kaedah: Asal dari segala sesuatu adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Ini adalah kaedah Jumhur ulama’ dari Maliki, Syafi’i  dan Hanbali[2]. Sedangkan menurut sebagian Hanafiyyah, asal sesuatu adalah haram, kecuali ada dalil yang menyatakan halal[3].

Contoh lagi, kaedah:

الزُخص لا تُنَاط بالمعاصي

Rukhsah atau keringanan dalam syariat itu tidak bisa diperoleh karena suatu maksiat

Kaedah ini banyak dipakai dalam Madzhab Syafi’i dan Hanbali, tetapi tidak dalam Madzhab Hanafi[4]. Contoh nyatanya, qashar shalat boleh dilakukan oleh seorang musafir asal bukan bepergian untuk maksiat. Sedangkan menurut Hanafiyyah, jenis safar tidak mempengaruhi boleh tidaknya suatu rukhsah atau keringanan ibadah.

Tentu ini menjadi tantangan tersendiri dalam menuliskan Kaedah-Kaedah Fiqih lintas madzhab.

2. Contoh-Contoh yang Kurang Berkembang

Salah satu tantangan Qawaid Fiqhiyyah adalah contoh-contoh yang cenderung sama dari dulu. Jika kita buka kitab-kitab Qawaid Fiqhiyyah, maka kebanyakan contohnya memang hanya itu saja. Laiknya contoh dalam pelajaran Nahwu, contoh: qoma zaidun atau dhoroba zaidun amran takkan ketinggalan dalam setiap buku nahwu.

Kadang contoh kaedah sangat jauh dari realita saat ini, khususnya terkait masalah perbudakan. Cukup banyak contoh kaedah fiqhiyyah dalam kasus perbudakan. Contohnya kaedah:

الرِّضَا بِالشَّيْءِ رِضًا بِمَا يَتَوَلَّدُ مِنْهُ

Rela terhadap sesuatu artinya rela terhadap hal-hal yang keluar dari sesuatu tersebut[5]

Imam as-Suyuthi (w. 911 H) memberikan contoh; ketika seseorang menyewakan budak kepada seorang penyewa, ia merelakan budaknya untuk dipukul. Jika budak itu dipukul lantas mati, maka si penyewa tidak akan mendapatkan tuntutan ganti rugi. Karena memang pemilik budak sudah merelakan budaknya untuk dipukul.

Tentu masih banyak contoh lain yang kadang berbeda contoh kasusnya, saat kitab Qawaid Fiqhiyyah dibuat dahulu dengan zaman sekarang.

Seiring berkembangnya zaman, maka seharusnya berkembang pula contoh kekinian yang bisa terjawab oleh Qawaid Fiqhiyyah. Misalnya: Kebijakan menaikkan harga BBM; antara ditunda atau APBN jebol, bahaya manakah yang harus didahulukan untuk dihindari.

Dalam praktek kredit motor dengan sistem bai’ al-murabahah lil wa’id bis syira’. Jika pihak bank langsung memberikan uang kepada nasabah, untuk selanjutnya nasabah yang membeli motor sendiri. Apakah yang dianggap adalah niat dari akad ataukah lafadz dari akad.

Masih banyak lagi contoh kekinian yang sepertinya menarik untuk digali hukumnya dengan Qawaid Fiqhiyyah ini.

3. Otoritas Qawaid Fiqhiyyah

Kaedah Fiqih ini memang hasil ijthad dari para ulama’. Euforia kembali langsung kepada al-Quran dan Sunnah sedikit banyak memberikan dampak akan ketidakpercayaan hasil ijtihad para ulama’, jika tidak disebutkan dalilnya dari al-Quran maupun Sunnah.

Sebuah hukum yang baru, jika dalilnya hanya Qawaid Fiqhiyyah tentu saja dianggap kurang kuat. Sebagai contoh: Seorang yang duduk di masjid untuk i’tikaf, maka harus niat di awal. Dalilnya adalah:

الْأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا

Setiap perkara itu tergantung niatnya[6]

Tentu bagi sebagian orang akan bertanya, mana dalil al-Quran yang menyebutkan harus ada niat dalam i’tikaf? Apakah Nabi dan Salaf Shalih dahulu juga mensyaratkan niat sebelum i’tikaf? Mana hadits shahihnya?

Perlu diketahui bahwa setiap kaedah fiqih biasanya mempunyai landasan dari al-Quran maupun Hadits, baik secara lafadz atau makna.

Pengertian Qawaid Fiqhiyyah

Sepertinya setiap penulis yang membahas Qawaid Fiqhiyyah, sudah menuliskan secara lengkap dan terperinci mengenai pengertian Qawaid Fiqhiyyah, baik secara bahasa maupun istilah. Maka menuliskannya kembali bisa dikatakan tahshil al-hasil atau mengulangi pekerjaan yang sudah selesai.

Tapi, sebagai pengingat kembali ada baiknya dibahas secara sekilas sebagai pembuka belajar.

Secara mudah, Qawaid Fiqhiyyah dimaknai dengan kaedah-kaedah fiqih. Untuk lebih lengkapnya, Qawaid Fiqhiyyah terdiri dari dua kata; Qawaid dan Fiqhiyyah. Qawaid secara bahasa adalah bentuk prular dari Qa’idah, wazan isim fa’il dari qa-‘a-da yang berarti duduk. Qa’idah artinya asas atau pilar[7]. Sebagaiman termaktub dalam surat al-Baqarah: 127 yang berbunyi:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ ...

dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail…

Sebagai tambahan, Meski qa-‘a-da dan ja-la-sa mempunyai makna sama yaitu duduk, tapi kadang ahli Bahasa Arab membedakan keduanya. Qa-‘a-da berarti duduk setelah berdiri. Sedangkan ja-la-sa adalah duduk setelah tiduran[8].

Qa’idah secara istilah adalah hal yang bersifat menyeluruh, yang mencakup banyak bagian dan cabang yang ada di bawahnya[9].

Sedangkan arti fiqhiyah diambil dari kata fiqh yang diberi tambahan ya’ nisbah yang berfungsi sebagai penjenisan atau membangsakan.

Maka, Kaidah-kaidah fikih yaitu kaidah-kaidah yang disimpulkan secara general dari materi fikih dan kemudian digunakan pula untuk menentukan hukum dari kasus-kasus baru yang timbul, yang tidak jelas hukumnya di dalam nash.

Kitab-Kitab Qawaid Fiqhiyyah

A. Madzhab Hanafi

  1. Ushul al-Karkhi, Abu Hasan al-Karkhi (260-340 H) memuat 37 kaidah fikih.
  2. Ta’sis al-Nazhar, Abu Zaid al-Dabusi (w. 430 H) memuat 86 kaidah fikih.
  3. Al-Asybah wa al-Nazhair, Ibnu Nuzaim (w. 970 H) memuat 25 kaidah fikih.
  4. Majami’ al-Haqaiq, Abi said al-Khadimi memuat 154 kaidah fikih.
  5. Majalah al-Ahkam al-Adliyah, Ahmad Udat Basya memuat 99 fikih.

B. Madzhab Maliki

  1. Ushul al-Futiya fi al-Fiqh ’ala Mazhab al-Imam Malik, Ibnu Haris al-Husyni (w. 361 H)
  2. Al-Furuq, al-qurafi (w. 684 H) memuat 548 kaidah fikih.
  3. Al-Qawa’id, al-Maqari (w. 758 H) memuat 758 kaidah fikih.
  4. Idhah al-Masalik ila Qawa’id al-Imam Malik, al-Winsyarisi (w. 914 H) memuat 118 kaidah fikih.

C. Madzhab Syafi’i

  1. Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Izzuddin bin Abd al-Salam (577-660 H).
  2. Al-Asybah wa al-Nazhair, Ibnu al-Wakil (w. 716 H).
  3. Al-Majmu al-Mudzhab fi Qawa’id al-Mazhab, Abu Sa’id al-Ala’i (w. 761 H).
  4. Al-Asybah wa al Nazhair, Taj al-Din Ibnu al-Subki (w. 771 H).
  5. Al-Mansur fi Tartib al-Qawa’id al-Fiqhiyah atau al-Qawa’id fi al Furu, al-Zarkasyi (w. 794 H).
  6. Al-Asybah wa al-Nazhair, Imam al-Suyuthi (w. 911 H) memuat 20 kaidah.
  7. Al-Istighna fi al-Farqi wa al-Istitsna, Badrudin al-Bakri.

D. Madzhab Hanbali

  1. Al-Qawa’id al-Nuraniyah al-Fiqhiyah, Ibnu Taimiyah (661-728 H).
  2. Al-Qawa’id al-Fiqhiyah, Ibnu Qadhi al-Jabal (w. 771 H).
  3. Taqrir al-Qawaid wa Tahrir al-Fawaid, Ibnu Rajab al-Rahman memuat 160 kaidah.
  4. Al-Qawa’id al-Kulliyah wa al-Dhawabith al-Fiqhiyah,Ibnu Abd al-Hadi (w. 909 H).

Selain dari empat madzhab, ada juga kitab Qawaid Fiqhiyyah yang dikarang oleh ulama’ kontemporer; diantaranya:

  1. al-Qawa’id al-Fiqhiyah oleh Ali Ahmad al-Nadawi.
  2. Syarh al-Qawa’id al-fiqhiyah oleh Syekh Ahmad bin Syekh Muhammad Zarqa.
  3. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kuliyyah oleh Muh. Shiddieqy bin Ahmad al-Burnu.
  4. Idhah al-Qawa’id al-Fiqhiyah oleh Syekh Abdullah bin Said Muhammad Ibadi.
  5. Kaidah-kaidah Fikih oleh Asymuni A Rahman (dalam Bahasa Indonesia).
  6. Kaidah Fikih oleh oleh Jaih Mubarok (dalam Bahasa Indonesia).

Tentu ini hanya sebagai muqaddimah saja sebelum membahas lebih jauh kaedah-kaedah fiqih beserta contohnya.

[bersambung inysaallah]


Footnote:

[1] Muhammad Mushtafa az-Zuhaili, al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Madzahib al-Arba’ah, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1427 H), juz 1, h. 5

[2] Muhammad Mushtafa az-Zuhaili, al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Madzahib al-Arba’ah , juz 1, h. 190

[3] Ibnu Nujaim Zainuddin bin Ibrahim bin Muhammad (w. 970 H), al-Asybah wa an-Nadzair, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419 H), h. 57 

[4] Muhammad Mushtafa az-Zuahli, al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Madzahib al-Arba’ah , juz 1, h. 33

[5] Jalaluddin Abd al-Rahman al-Suyuthi (w. 911 H), al­-Asybah wa al-Nazhair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh al-Syafi’i, h. 141

[6] Jalaluddin Abd al-Rahman al-Suyuthi (w. 911 H), al­-Asybah wa al-Nazhair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh al-Syafi’i, h. 8

[7] Ahmad bin Faris bin Zakariyya ar-Razi, Mu’jam Maqayis al-Lughat, (Baerut: Dar al-Fikr, 1399 H), juz 5, h. 109

[8] Abdurrahman bin Shalih Abdullatif, al-Qawaid wa ad-Dhawabith al-Fiqhiyyah al-Mutadhamminah li at-Taisir, (Saudi Arabia: Imadat al-Bahts al-Ilmi, 1423 H), juz 1, h. 33

[9] Jalaluddin Abd al-Rahman al-Suyuthi (w. 911 H), al­-Asybah wa al-Nazhair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh al-Syafi’i, cet. I, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1399 H), h.5

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bahasa Arab dan Pemahaman Syariah
Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA | 20 June 2013, 00:18 | 3.931 views
Almarhum Bukan Gelar
Ahmad Zarkasih, Lc | 19 June 2013, 05:22 | 4.615 views
Sayyid Utsman Mufti Betawi
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 18 June 2013, 08:01 | 5.986 views
Rancunya Bahasa Terjemahan
Ahmad Sarwat, Lc., MA | 17 June 2013, 07:43 | 8.024 views
Teka-Teki Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | 11 June 2013, 08:04 | 6.782 views

more...

Semua Tulisan Penulis :
Kuis Bidah
Hanif Luthfi, Lc | 1 December 2016, 09:58 | 1.455 views
Memahami Persoalan itu Setengah dari Jawaban
Hanif Luthfi, Lc | 18 September 2016, 16:17 | 848 views
As-Shalatu Jamiatun atau as-Shalata Jamiatan, Mana Yang Benar?
Hanif Luthfi, Lc | 8 March 2016, 11:31 | 1.746 views
Ziarah Kubur Nabi itu Haram Menurut Madzhab Hanbali, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc | 8 November 2015, 20:20 | 3.676 views
Siapakah yang Disebut Anak Yatim?
Hanif Luthfi, Lc | 22 October 2015, 17:26 | 2.302 views
Susahnya Mengamalkan Hukum Waris Islam di Indonesia
Hanif Luthfi, Lc | 15 October 2015, 13:54 | 3.044 views
Bertanyalah Dalil Kirim Pahala al-Fatihah Kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)!
Hanif Luthfi, Lc | 3 September 2015, 12:01 | 24.170 views
Wiridan dan Hizib Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)
Hanif Luthfi, Lc | 14 August 2015, 10:00 | 5.021 views
Kekurangtepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 25 June 2015, 11:00 | 4.633 views
Dalil-Dalil yang Dipakai Dalam Membid'ahkan Tarawih Lebih 11 Rakaat
Hanif Luthfi, Lc | 24 June 2015, 11:00 | 4.838 views
Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid'ah?
Hanif Luthfi, Lc | 23 June 2015, 11:00 | 4.909 views
Proses Pensyariatan Puasa Ramadhan
Hanif Luthfi, Lc | 2 June 2015, 12:41 | 3.691 views
Apakah Ada Hadits Dhaif dalam Musnad Ahmad?
Hanif Luthfi, Lc | 13 May 2015, 17:00 | 4.619 views
Apa Saja Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits?
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 21:03 | 5.680 views
Madzhab Fiqih Ahli Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 21 April 2015, 13:36 | 4.963 views
Shalat Jum'at Tidak Ditempat yang Biasa Disebut Masjid, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc | 9 April 2015, 21:21 | 5.988 views
Bolehkah Bagi Musafir, Shalat Jum'at Dijama' Dengan Shalat Ashar?
Hanif Luthfi, Lc | 27 March 2015, 11:02 | 8.162 views
Hadits Nabi Bisa Jadi Menyesatkan
Hanif Luthfi, Lc | 13 March 2015, 11:11 | 8.451 views
Benarkah Ishaq bin Rahawaih Meletakkan Tangan Diatas Dada Saat Shalat?
Hanif Luthfi, Lc | 6 February 2015, 20:54 | 4.827 views
Letak Bersedekap Ketika Shalat: Sebab Perbedaan dan Dalilnya
Hanif Luthfi, Lc | 5 February 2015, 20:21 | 7.863 views
Meletakkan Tangan Diatas Dada Bukan Pendapat Ulama Madzhab Empat
Hanif Luthfi, Lc | 4 February 2015, 19:31 | 8.814 views
Sudah Belajar Ushul Fiqih Tetapi Masih Taqlid
Hanif Luthfi, Lc | 14 January 2015, 06:46 | 5.219 views
Kenapa Imam At-Thabari Didzalimi? (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 30 November 2014, 12:00 | 5.710 views
Imam At-Thabari Yang Terdzalimi
Hanif Luthfi, Lc | 29 November 2014, 12:00 | 6.322 views
Beasiswa Abu Hanifah
Hanif Luthfi, Lc | 27 August 2014, 15:49 | 4.225 views
Kiat-kiat Shalat di Kereta Api
Hanif Luthfi, Lc | 17 July 2014, 08:18 | 8.628 views
Bener tapi Kurang Pener
Hanif Luthfi, Lc | 6 July 2014, 21:32 | 5.558 views
Hari yang Meragukan
Hanif Luthfi, Lc | 29 June 2014, 00:57 | 3.659 views
Ka Yauma atau Ka Yaumi?
Hanif Luthfi, Lc | 10 May 2014, 00:00 | 3.911 views
Ulama Dikenal Karena Tulisannya
Hanif Luthfi, Lc | 7 May 2014, 11:05 | 3.760 views
Why: Siapa untuk Bertanya Kenapa
Hanif Luthfi, Lc | 30 April 2014, 12:20 | 6.193 views
Sujud Dengan Tangan atau Lutut: Khilafiyyah Abadi
Hanif Luthfi, Lc | 5 April 2014, 18:00 | 6.215 views
Jika Dhaif Suatu Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 2 April 2014, 22:32 | 4.297 views
Model Penulisan Kitab Hadits
Hanif Luthfi, Lc | 24 March 2014, 13:41 | 3.459 views
Kartubi : Lahir Hidup dan Wafat di Jawa
Hanif Luthfi, Lc | 12 March 2014, 06:55 | 5.412 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 27 February 2014, 06:00 | 4.776 views
Khilafiyah Dalam Menshahihkan dan Mendhaifkan Hadits: Sebuah Keniscayaan
Hanif Luthfi, Lc | 26 February 2014, 12:00 | 5.387 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag. 2)
Hanif Luthfi, Lc | 19 February 2014, 01:01 | 5.138 views
Sejarah Perjalanan Ilmu Hadits (bag.1)
Hanif Luthfi, Lc | 18 February 2014, 15:00 | 3.726 views
Ustadz Jadi Apa?
Hanif Luthfi, Lc | 28 January 2014, 07:28 | 5.299 views
Menyadarkan Muqallid
Hanif Luthfi, Lc | 25 January 2014, 12:23 | 4.625 views
Qunut Shubuh : Al-Albani VS Ibnul Qayyim
Hanif Luthfi, Lc | 23 January 2014, 05:45 | 9.367 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 2
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 14:38 | 3.915 views
Serupa Tapi Tak Sama: Nama-Nama Ulama bag. 1
Hanif Luthfi, Lc | 18 October 2013, 11:37 | 4.607 views
As-Syathibi: Pakar Bid'ah yang Dituduh Ahli Bid'ah
Hanif Luthfi, Lc | 17 August 2013, 07:32 | 9.803 views
Mata Kaki Harus Menempel?
Hanif Luthfi, Lc | 10 August 2013, 15:35 | 23.461 views
Tantangan Qawaid Fiqhiyyah
Hanif Luthfi, Lc | 21 June 2013, 03:03 | 6.590 views
Puber Religi?
Hanif Luthfi, Lc | 18 May 2013, 20:02 | 5.592 views
Shubuh Wajib Berhenti
Hanif Luthfi, Lc | 24 April 2013, 00:45 | 5.979 views
Menghukumi atau Menghakimi: Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 17 April 2013, 15:12 | 5.245 views
With Us Or Against Us : Corak Fiqih Baru?
Hanif Luthfi, Lc | 1 April 2013, 07:04 | 5.000 views
Antara Kitab Fiqih Sunnah dan Shahih Fiqih Sunnah
Hanif Luthfi, Lc | 14 February 2013, 16:45 | 9.326 views