Apakah Ar-Rahman Merupakan Bahasa Arab?
Para ulama ahli bahasa berbeda pendapat tentang lafazh ar-rahman (الرحمن), apakah asli bahasa Arab yang bisa diotak-atik pembetukan dari kata dasar tertentu, ataukah merupakan bahasa asing di luar Arab lalu diarabkan.
1. Bukan Bahasa Arab
Pendapat pertama mengatakan bahwa lafazh Ar-Rahman ini bukan asli bahasa Arab, melainkan bahasa asing di luar Arab yang kemudian di-arab-kan atau istilahnya mu'rarrab. Aslinya dikatakan berasal dari bahasa Ibrani, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang Yahudi.
Sebagai bukti bahwa lafazh Ar-Rahman bukan asli dari bahasa Arab adalah perkataan kalangan musyrikin Mekkah yang menolak sifat Ar-Rahman sebagaimana disebutkan di ayat berikut :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab: "Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (QS. Al-Furqan : 60)
Basmalah kaum musyrikin bukan bismillahirrahmanirrahim, tetapi bismikallahuma (بسمك اللهم). Itulah yang tertulis dalam teks perjanjian Hudaibiyah antara kaum musyrikin Mekkah dengan Nabi SAW. Suhail bin Amr yang mewakili kaum musyrikin Mekkah protes kepada Nabi SAW dan menuntut lafazh bismillahirrahmanirrahim dalam draft perjanjian Hudaibiyah itu dihapus dan diganti dengan lafazh bismikallahumma (بسمك اللهم). Karena lafazh itulah yang diakui oleh kaum musyrikin sejak zaman nenek moyang, sedangkan lafazh bismillahirrahmanirrahim dianggap bukan milik mereka.
Dalam peristiwa pemboikotan (muqatha'ah) ketika masih di Mekkah, keputusan para pemimpin Mekkah untuk mengusir Bani Hasyim ke Syi'ib Ali pun dituliskan dalam selembar kulit yang ditempel di dinding Ka'bah. Dalam kisah itu disebutkan bahwa kulit itu habis dimakan rayap, yang tersisa hanya lafazh : bismikallahumma. Dalam hal ini bukan lafazh bismillahirrahmanirrahim, karena lafazh Ar-Rahman bukan lafazh yang mereka kenal.
Pendapat bahwa lafazh Ar-Rahman ini bukan asli bahasa Arab tidak jadi masalah, karena di dalam Al-Quran ada beberapa kosa-kata yang juga di-arab-kan dari bahasa lain, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Jauzi (w. 597 H) dalam Funun Al-Afnan1 bahwa Ali bin Abi Thalib berkata bahwa di dalam Al-Quran ada banyak bahasa. Ibnu Abbas, Mujahid dan Ikrimah berkata bahwa di dalam Al-Quran ada bahasa selain bahasa Arab. Dan perkataan Said bin Jubair :
ما في الأرض لغة إلا أنزلها الله تعالى في القرآن
Tidaklah ada suatu bahasa di muka bumi ini kecuali Allah SWT menurunkannya dalam Al-Quran.
Di antara kosa kata dalam Al-Quran yang bersumber dari bahsa lain misalnya :
- istabaraq (استبرق) yang diambil dari bahasa Persia,
- nasyiah (ناشئة) dari bahasa Habasyah,
- fusthath (فسطاط) dari bahasa Romawi.
يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ
mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan (QS. Ad-Dukhan : 53)
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (QS. Al-Muzammil : 6)
Al-Imam Al-Ghazali mengatakan tidak jadi masalah apabila di dalam Al-Quran terdapat satu dua kosa kata yang bukan Arab, karena tidak akan menghilangkan identitas ke-arab-an Al-Quran. Bukankah puisi berbahasa Persia tetap disebut sastra Persia, meski di dalamnya tercantum beberapa kata asing? Maka demikian juga dengan Al-Quran.
2. Bahasa Arab
Pendapat kedua mengatakan bahwa lafazh Ar-Rahman ini asli bahasa Arab. Ini merupakan pendapat kebanyakan ulama, termasuk dalam hal ini Al-Imam Asy-syafi'i rahimahullah, dimana mereka mengatakan bahwa semua lafazh yang ada di dalam Al-Quran 100% bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf : 2)
وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
Dan Al-Quran ini dalam bahasa Arab yang terang. (QS. An-Nahl : 103)
Dengan adanya pertentangan ini, maka jalan tengahnya adalah bahwa perkataan Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah dan para ulama yang lain itu tidak salah. Hanya saja secara kebetulan kosa kata yang ada di dalam Al-Quran itu ternyata juga terdapat di dalam bahasa mereka.
yang berasal dari kata rahima (رحم) dan membentuk menjadi ar-rahmah (الرحمة). Lafazh ar-rahman merupakan bentuk shighah mubalaghah yang berarti rahmahnya sangat besar atau sangat agung (عظيم الرحمة).
Banyak ulama yang mengatakan bahwa nama Ar-Rahman ini hanya boleh disematkan hanya pada Allah SWT saja, dengan dasar firman Allah SWT :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. (QS. Al-Isra' : 110)
Selain Ar-Rahman, juga ada nama Allah yang hanya boleh disematkan hanya pada Allah SWT saja, seperti Al-Khaliq, Ar-Raziq dan lainnya. Oleh karena itulah maka yang didahulukan lafadz Ar-Rahman ketimbang Ar-Rahim. Alasannya karena nilainya lebih khusus dari Ar-Rahim.
Disebutkan bahwa orang-orang Arab jahiliyah sebelum Islam sudah mengenal Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakan, bahkan Ka'bah di Mekkah pun dinamakan dengan sebutan rumah Allah (بيت الله). Namun mereka tidak mengenal nama Ar-Rahman. Oleh karena itulah ada ayat yang memerintahkan untuk menyebut Ar-Rahman.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab: "Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). (QS. Al-Furqan : 60)
Selain itu juga ayat yang di atas tadi menjadi bukti bahwa mereka tidak mengenal nama Ar-Rahman, sehingga diperintahkan untuk memanggil nama Ar-Rahman.
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. (QS. Al-Isra' : 110)
Dan sebagai konfirmasinya, ketika naskah Perjanjian Hudaibiyah mau disepakati, Suhail bin Amar sebagai juru runding pihak musyrikin Mekkah meminta agar lafadz bismillahrrahmanirrahim diganti dengan bismikalla-humma.
لا نعرف الرحمن ولا الرحيم
Kami tidak mengenal 'Yang Maha Rahman' dan 'Yang Maha Rahim'. (HR. Bukhari)
[1] Ibnul Jauzi, Funun Al-Afnan fi Uyun Ulumil Quran, hal. 341
Kata 'Allah' disebut juga lafzhul-jalalah (لفظ الجلالة) yang merupakan penamaan unik dimana tidak ada sesuatu pun yang boleh punya nama itu selain hanya Allah saja.
Para ahli bahasa dalam tata bahasa (grammar) Arab berbeda pendapat, apakah lafazh Allah merupakan bentukan dari kata dasar ataukah bukan merupakan bentukan dari kata dasar tertentu.
Pendapat pertama menyebutkan bahwa lafazh Allah itu istilahnya ism jamid (جامد). Sebuah kata yang asli dan bukan merupakan bentukan dari kata dasar tertentu. Sebagaimana kata Musa, Ibrahim atau Daud. Di antara yang berpendapat demikian antara lain : As-Syaf'i, Al-Khattabi, Imam Al-Haramain, Al-Ghazali dan lainnya. Dasarnya sederhana saja.
Adanya alif dan lam pada lafadz Allah itu asli, bukan sebagaimana alif dan lam yang membuatnya menjadi ma'rifah. Sehingga ketika diawali dengan harf munadi seperti 'ya', kita melafadzkannya menjadi Ya Allah. Dimana alif dan lam tetap harus dibaca. Dan ini berbeda ketika ketika mengawali harf mundani pada kata yang alif dan lam nya merupakan tambahan seperti al-hakim, menjadi yal-hakim.
Pendapat kedua mengatakan bahwa lafadz Allah itu musytaq. Maksudnya punya kata dasar yang membentuknya. Kata dasarnya adalah : ta'alluh (تَألُّه). Dimana fi'il madhi dan mudhari'-nya adalah aliha (ألِهَ) - ya'lahu (يَألَهُ) - ilahatan (إلَاهةً) -wa- ta'alluhan (تَألُّهاً).Hal itu sebagaimana qiraat Ibnu Abbas : wa yadzaraka wa ilahataka (ويذرك وإلاهتك). Kata Allah SWT disebut juga dengan istilah lafzhul jalalah (اللفظ الجلالة).
Dan juga merupakan al-ism al-a'zham atau nama yang paling agung. Karena ada banyak sifat yang menempel pada lafazh Allah. Di antara sifat-sifat yang menempel pada lafadz Allah adalah sifat berikut ini :
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ * هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ * هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr : 24)
Selain itu Allah SWT juga punya nama-nama yang baik (asmaul husna) sebagaimana disebutkan dalam Quran :
وَلِلَّهِ الْأَسْماءُ الْحُسْنى فَادْعُوهُ بِها
Dan Allah memiliki nama-nama yang baik, maka serulah dengan menggunakan nama-nama yang baik itu.
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى.
Katakanlah serulah Allah atau serulah Yang Maha Rahman. Dengan apa pun kamu menyeru, Dia memiliki nama-nama yang baik. (QS. Al-A'raf : 80)
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Allah punya 99 nama, siapa yang menghitungnya dia masuk surga.(HR. Bukhari Muslim)
Sebagian ulama menyebutkan bahwa angka 99 itu bukan batasan, melainkan bermakna sebagian. Sebab ada juga yang menyebutkan bahwa nama-nama Allah SWT itu mencapai 5.000 jumlahnya. Rinciannya, 1.000 di antaranya terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Lalu 1.000 yang kedua terdapat di dalam kitab Taurat. Dan 1.000 yang ketiga terdapat dalam kitab Injil. Dan 1.000 yang keempat terdapat di dalam kitab Zabur. Dan 1.000 yang terakhir terdapat di dalam Lauhil Mahfuzh.[1]
Para ulama terpecah dua dalam masalah apakah nama-nama milik Allah itu sifatnya tauqifi atau kah istilahi. Mereka yang berpendapat tauqifi meyakini bahwa untuk memberi nama kepada Allah harus lewat wahyu, baik berupa ayat-ayat Al-Quran ataupun hadits-hadits nabi. Dan tidak dibenarkan dari hasil karangan kita sendiri. Pendapat kedua mengatakan bahwa nama-nama Allah boleh menggunakan apa saja, asalkan layak dan sesuai bagi Allah SWT.
[1] Ibu Katsir, 1/123, Al-Qurtubi
Ar-Rahim merupakan bentuk shighah mubalaghah juga dari rahmah, dan artinya adalah selalu memberi rahmah (دائم الرحمة). Dan kalau dikaitkan dengan ayat sebelumnya yaitu lafadz rabbul ’alamin menjadi tarhib.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa kata ar-rahman lebih tinggi shighah mubalaghahnya dari kata ar-rahim. Abu Ali al-Faris menyebutkan bahwa ar-rahman merupakan lafazh umum untuk semua bentuk rahmah kepada siapa saja, sedangkan ar-rahim adalah bentuk rahmah khusus untuk buat orang mukmin. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Aku itu rahim kepada orang-orang mukmin (QS. Al-Ahzab: 43)
Ibnu al-Anbar dan Az-Zajjah menyebutkan bahwa kata rahman merupakan bahasa Ibrani, sedang kata rahim merupakan bahasa Arab.
Dalam terjemahan Kementerian Agama RI, ar-rahman diterjemahkan menjadi Maha Pengasih, sedangkan ar-rahim diterjemahkan menjadi Maha Penyayang. Ini barangkali dikaitkan dengan kekhususan ar-rahim hanya kepada orang mukmin, dimana Allah bukan hanya memberi tapi juga menyayangi. Sedangkan ar-rahman yang sifatnya lebih umum, menunjukkan bahwa meski orang kafir, namun tetap saja Allah memberi juga, meski tidak diiringi rasa sayang.