Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Allah mengangkat anak.” Maha Suci Allah, bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya. Prof. Quraish Shihab:Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak.” Mahasuci Dia, bahkan milik-Nya (semata) apa yang di langit dan yang di bumi. Semua tunduk kepada-Nya. Prof. HAMKA:Dan mereka berkata, "Allah telah mengambil anak!" Mahasuci Dia, bahkan kepunyaanNyalah apa yang ada di semua langit dan di bumi; semuanya kepada-Nyalah bertunduk.
Ayat ke-116 ini masih sangat erat kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu masih membicarakan kaum yahudi dan juga kaum nasrani.
Kalau pada ayat sebelumnya yaitu ayat ke-115 diangkat tentang ulah kaum yahudi yang mempertanyakan kenapa kaum muslimin sudah tidak lagi mau berkiblat ke Baitul Maqdis, maka di ayat ini Allah SWT menceritakan bagaimana mereka telah menyekutukan Allah SWT dengan menuduh bahwa Allah SWT memiliki anak yaitu Uzair. Dan begitu juga nasrani yang menuduh Allah SWT memiliki anak yaitu Nabi Isa alaihissalam.
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
Ayat ini sebagaimana juga ayat-ayat sebelumnya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan, karena selalu diawali dengan wawul-‘athaf, yaitu huruf yang berfungsi menunjukkan hubungan serta biasa diterjemahkan dengan makna : “dan”.
Padahal kalau dalam struktur kalimat bahasa Indonesia yang baku, awal kalimat itu tidak boleh diawali dengan kata : “dan”. Dalam hal ini kita tidak menemukan huruf wawul-‘athaf diterjemahkan menjadi “dan” dalam terjemahan Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab, namun dalam terjemahan Buya HAMKA kita masih menemukannya.
Lafazh qaaluu (قَالُوا) adalah fi’il madhi dari (قَالَ - يَقُول) yang maknanya berkata. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kaum yahudi dan juga kaum nasrani. Mereka berkata dalam arti secara tegas menyatakan apa yang telah menjadi keyakinan dalam konsep keimanan mereka tentang Allah yang memiliki anak.
Lafazh iitakhadza (اِتَّخَذَ) maknanya : “mengambil” atau bisa juga dimaknai : “menjadikan”, sedangkan waladan (وَلَدًا) artinya anak. dalam terjemahan mengangkat anak atau memiliki anak.
Penggunaan kata anak dalam kaitan ini kadang menggunakan istilah walad (وَلَد) sebagaimana yang digunakan dalam ayat ini, namun beberapa kali juga menggunakan kata ibn (اِبْن) atau dalam bentuk jama’ menjadi abna’ (أَبْنَاءُ), seperti ayat berikut :
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah : 30)
Tentu saja keyakinan bahwa Allah SWT itu punya anak merupakan bentuk penghinaan serta pelecehan, bahkan masuk ke level menyekutukan Allah SWT dengan manusia atau makhluk-makhluknya. Namun entah dari mana mereka mendapatkan pemahaman menyimpang, yang jelas Allah SWT sebutkan bahwa mereka hanya meniru-niru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Lalu siapakah yang dimaksud?
Kalau kita telaah sejarah agama dan kepercayaan, kita temukan ada beberapa peradaban di masa lalu yang memang punya pemahaman bahwa dewa-dewa mereka itu punya ayah :
Mitologi Yunani dan Romawi: Dalam mitologi Yunani dan Romawi, dewa-dewi sering memiliki keturunan dengan manusia atau sesama dewa. Misalnya, Zeus dalam mitologi Yunani memiliki banyak anak dengan berbagai perempuan manusia dan dewi, seperti Hercules.
Mitologi Mesir Kuno: Dalam mitologi Mesir Kuno, Firaun dianggap sebagai inkarnasi dewa Horus, sehingga ada konsep bahwa Firaun adalah anak dewa.
Mitologi Nordik: Dalam mitologi Nordik, dewa-dewi seperti Odin, Thor, dan Freyja memiliki keturunan dengan manusia atau sesama dewa. Misalnya, Odin memiliki anak bernama Baldr dan Thor memiliki anak bernama Magni.
Dalam beberapa mitologi pradaban kuno memang kita temukan jejak konsep tentang seorang dewa yang dianggap sebagai ayah dari semua dewa. Beberapa contoh yang terkenal adalah:
Zeus dalam Mitologi Yunani: Zeus dianggap sebagai Raja para dewa dalam mitologi Yunani dan dipandang sebagai ayah para dewa dan manusia. Ia adalah putra dari Kronos dan Rhea, dan dengan pasangannya yang bernama Hera, Zeus memiliki banyak anak, termasuk Ares, Athena, Apollo, Artemis, dan Hermes.
Odin dalam Mitologi Nordik: Odin, juga dikenal sebagai Wotan dalam mitologi Jermanik, adalah salah satu dewa utama dalam mitologi Nordik. Ia dianggap sebagai ayah para dewa dan manusia. Odin memiliki banyak anak, termasuk Thor, Baldr, dan Loki.
Prajapati dalam Mitologi Hindu: Prajapati adalah salah satu dewa dalam mitologi Hindu yang dianggap sebagai ayah dari semua dewa. Ia dianggap sebagai pencipta dan ayah semesta. Dalam mitologi Hindu, ada banyak dewa dan dewi yang berasal dari Prajapati, termasuk Brahma, Vishnu, Shiva, dan banyak lagi.
Apsu dalam Mitologi Sumeria: Apsu adalah dewa air asal dalam mitologi Sumeria. Ia dianggap sebagai ayah dari para dewa Anunnaki, termasuk Enki (dewa air, kebijaksanaan, dan pengetahuan) dan Enlil (dewa angin, cuaca, dan kekuasaan).
Izanagi dalam Mitologi Jepang: Izanagi adalah dewa pencipta dalam mitologi Jepang. Ia dianggap sebagai ayah dari banyak dewa, termasuk Amaterasu (dewi matahari), Tsukuyomi (dewa bulan), dan Susanoo (dewa badai).
Dyaus Pita dalam Mitologi India Kuno: Dyaus Pita adalah dewa langit dalam mitologi India kuno. Ia dianggap sebagai ayah dari banyak dewa, termasuk Indra (dewa petir dan perang) dan Agni (dewa api).
Atum dalam Mitologi Mesir Kuno: Atum adalah dewa pencipta dalam mitologi Mesir Kuno. Ia dianggap sebagai ayah dari banyak dewa, termasuk Shu (dewa udara) dan Tefnut (dewi kelembapan).
El dalam Mitologi Kanaan: El adalah dewa utama dalam mitologi Kanaan kuno. Ia dianggap sebagai ayah dari dewa-dewa lain, termasuk Baal (dewa petir dan hujan) dan Asherah (dewi kesuburan).
Sedangkan dalam konsep agama samawi, jelas sekali bahwa Allah SWT itu tidak beranak atau diperanak. Lalu mengapa tiba-tiba kaum yahudi dan nasrani jadi terbawa-bawa konsep ketuhanan yang aneh-aneh. Oleh karena itulah dalam Al-Quran khususnya surat Al-Ikhlas secara tegas dan tajam keyakinan sesat macam itu ditolak. Allah SWT berfirman :
Dia (Allah) tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas : 3-4)
سُبْحَانَهُ
Lafazh subhanahu (سُبْحانَهُ) artinya Maha Suci Dia, yaitu Allah SWT. Dan ketika kita menyebut Allah itu Maha Suci, itu adalah ungkapan dalam rangka berlepas diri (التَّبْرِئَة) dan pembersihan (التَّنْزيْه). Maksud berlepas diri itu adalah tidak mau terlibat dari pemahaman keliru serta aqidah menyimpang tentang Allah. Sedangkan pembersihan itu maksudnya mencuci atau membersihkan diri semua kesalahan itu.
Pertanyaannya : kenapa Tuhan harus disucikan oleh manusia? Bukankah tanpa harus disucikan oleh manusia, Tuhan memang sudah suci?
Jawabannya memang benar bahwa Tuhan itu sudah suci, namun itu dalam agama Islam. Sedangkan dalam banyak agama di dunia ini, konsep tentang Tuhan yang mereka kembangkan ternyata tidak terlalu suci, lebih lebih mirip dengan sifat-sifat manusia. Sebut saja misalnya Tuhannya butuh pasangan hidup, sehingga Tuhan itu kawin dengan manusia dan punya banyak anak. Anak-anaknya lalu jadi setengah manusia dan setengah Tuhan.
Agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul punya misi utama adalah mensucikan umat manusia dari cara bertuhan yang lemah penuh kekurangan sebagaimana manusia biasa. Bedanya hanya Tuhan mereka itu punya semacam ‘kesaktian’. Selebihnya sosok Tuhan mereka itu hanya sebatas kehidupan manusia.
Oleh karena itulah maka tag-line dari para nabi itu selalu tidak jauh-jauh dari mensucikan Allah SWT dari segala sifat rendah yang disematkan oleh manusia-manusia yang bodoh dan tidak punya peradaban.
بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Lafazh bal (بَلْ) bisa bermakna banyak, namun dalam ayat ini lebih tepat bila diterjemahkan menjadi : “bahkan”. Sedangkan lahu (لَهُ) berarti : milik-Nya, maksudnya milik Allah SWT. Lafazh maa fi (مَا فيِ) artinya : “apa-apa yang ada di”.
Lafazh as-samawati (السَّمَاوَاتِ) artinya langit namun dalam bentuk jama’, bentuk tunggalnya as-sama’ (السماء) yang berasal dari kata as-sumuw (السمو) yaitu ‘tinggi’. Sehingga apapun yang dirasa tinggi, pantas untuk disebut dengan langit, tanpa dibedakan derajat ketinggiannya, apakah tinggi sekali hingga jaraknya tidak terhingga, ataukan ketinggian yang masih belum terlalu jauh. Semuanya bisa masuk dalam kategori tinggi.
Sebenarnya langit yang disebut dalam Al-Quran ada banyak macamnya, mulai dari langit yang paling dekat yaitu awan hujan, hingga tata surya tempat planet-planet beredar mengelilingi matahari.
Bahkan hingga letak yang teramat jauh seperti sidratil muntaha tempat Nabi SAW menjalankan mi’raj, hingga langit yang dihias dengan bintang-bintang yaitu ruang angkasa yang jarak bentangnnya bisa sampai bertahun-tahun cahaya.
Sekedar informasi saja, bahwa bintang yang paling dekat dengan bumi kita berjarak 4 tahun cahaya. Semua itu termasuk langit dan apa pun yang terdapat di langit itu semua milik Allah SWT.
Lafazh al-ardhi (الأرض) bisa punya beberapa makna yang saling terkait. Bisa bermakna bumi dalam arti planet bumi yang merupakan bola raksasa yang berputar pada porosnya (rotasi) sekaligus berputar mengelilingi matahari (revolusi), atau pun bisa juga bermakna tanah yang kita injak dan kita tanami dengan tumbuhan.
Al-ardh juga bisa dimaknai negeri atau pun juga dimaknai sebagai tempat tinggal, kampung halaman, desa dan juga negara. Di dalam sirah nabawiyah sering kita baca istilah ardhul-yaman maksudnya negeri Yaman, ardhul habasyah maksudnya negeri Habasyah, ardul-arab maksudnya negeri Arab, ardhu-ruum maksudnya negeri Romawi, ardhul-furs maksudnya negeri Persia. Semua itu artinya negeri.
Maka untuk menerjemahkan kata ardhu (أرض) kita harus tahu dulu konteksnya biar tidak keliru dalam memahaminya secara benar.
Ada yang mengatakan bahwa apa yang ada di langit itu maksudnya segala hal yang ghaib atau alam ghaib, sebaliknya apa yang ada di bumi itu maksudnya segala hal yang bisa diketahui atau alam nyata.
كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ
Kata kullun (كُلٌّ) artinya semua dan lahu (لَهُ) artinya kepada-Nya atau kepada Allah. Sebenarnya lafazh aslinya kulluhum (كُلُّهُمْ) yang berarti semua mereka. Namun dhamirhum (هُمْ) tidak mengapa dibuang atau mahdzuf, sehingga meski dibaca hanya kullun saja namun maknanya tetap sama yaitu : “semua mereka”.
Lagi pula dengan membuang dhamir hum, maka yang termasuk ke dalamnya menjadi lebih luas, bukan hanya makhluk yang hidup tetapi juga makhluk yang mati. Pendeknya semua yang ada di langit atau pun juga ada di bumi, baik makhluk hidup ataupun juga benda-benda mati. Semuanya ber-qanit kepada-Nya.
Lafazh qaanitun (قَانِتُونَ) adalah bentuk jama’ dari bentuk tunggalnya qaanit (قَانِت). Secara makna bahasa punya beberapa arti, antara lain berdiri, diam dan juga bisa bermakna taat, patuh dan tunduk.
Lafazh qaanit yang bermakna berdiri (القِيَام) ada disebutkan dalam salah hadits Nabi SAW :
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ
Shalat yang paling baik adalah yang lama berdirinya.
Dan kenapa disebut dengan doa qunut, karena doa itu dilantunkan sambil berdiri, untuk membedakan doa yang dilakukan ketika sujud, rukuk atau duduk tahiyat. Selain yang maknanya berdiri, qaanit juga bermakna diam, sebagaimana sabda Nabi SAW :
Dahulu kami berbicara di dalam shalat, seseorang mengobrol dengan samping kanan kirinya. Hingga turunlah ayat (وَقُومُوا لِلَّهِ قانِتِينَ) maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang dari bercakap-cakap.
Namun dalam konteks ayat ini, lafazh qaanit nampaknya memang lebih tepat bila dimaknai sebagai taat, patuh dan tunduk. Maksudnya segala makhluk Allah itu taat, patuh dan tunduk kepada Allah. Sebagaimana yang disebutkan oleh para mufassir klasik yang masing-masingnya menyebutkan makna qanitun sebagai berikut :
Ibnu Abbas mengatakan makna qanitun adalah (مُطِيْعُون) yaitu orang-orang yang taat.
Ikrimah mengatakan makna qanitun adalah (الطَّاعَة) yaitu ketaatan.
As-Suddi mengatakan bahwa maknanya adalah (كل له مطيعون يوم القيامة) yaitu semua taat kepada-Nya di hari kiamat.
Mujahid mengatakan qanitun itu (طاعة الكافر في سجود ظله) artinya ketaatan orang kafir dalam sujudnya yang merendah.
Qatadah mengatakan qanitun artinya muthiun alias taat.